Selamat Hari Ayah, Pa!

Selamat Hari Ayah!


12 November adalah Hari Ayah Nasional.

Timeline Facebook, Twitter semuanya penuh dengan ucapan selamat merayakan Hari Ayah, aku juga enggak mau ketinggalan. Yaa walau sedikit tertinggal sih, hehe.

Keluargaku bukan tipikal keluarga romens ala sinetron televisi, yang kalau ada hari-hari spesial untuk ibu dan ayah, bikin acara khusus, ada kue tart, ada hadiah-hadiah terus saling mengucapkan selamat dan peluk-peluk mellow. Enggak, terus terang saja kadang aku sekeluarga bahkan lupa tanggal-tanggal seperti itu, lupa tanggal Hari Ibu terlebih Hari Ayah. Aku bisa ingat hari spesial ini ya karena ada Google yang baik ingetin semua tanggal penting Nasional dan Internasional. Maklum, tiap hari buat kami itu hari spesial untuk keluarga, eaaakkkk!

Bicara tentang Hari Ayah, aku juga mau ikut berbagi tentang ayahku sendiri. Lelaki yang kupanggil bapa, usianya 55 tahun karena terlahir pada tahun 1960, beliau dititipi amanah untuk merawat dan mendidikku saat umurnya 30 tahun, setahun setelah kehilangan putra sulungnya yang meninggal selang satu jam setelah dilahirkan.

Bisa dibilang aku ini anak pengganti, pengobat hati dan itu yang bikin bapa sedikit over protective sama aku. Memang enggak bisa dibilang dididik dengan keras, tapi enggak juga dimanjakan. Bapa mendidikku dengan gaya yang santai, banyak bercanda dan banyak banget tawa selama aku bersama mamah bapa. Tapi ternyata dalam ajarannya yang santai itu banyak ilmu yang beliau transfer untukku, terutama ilmu kepenulisan. Beliau inilah guru menulisku yang pertama. Ilmu menulis pertama yang diberikan itu bikin tulisan kapital pakai mesin ketik, waktu itu aku pas umur 7-8 tahunan.


Kenapa umur segitu aku sudah pegang mesin ketik? soalnya waktu itu aku sering baca naskah-naskah karya bapa dan tertarik untuk bikin yang sejenis. Bapa tahu aku suka baca dan tertarik, nah diajarin deh bikin cerpen, cerpen pertamaku itu judulnya "Dompet Icha". Ceritanya cuma empat paragraf dan bapa bilang bagus. Padahal ceritanya sama sekali enggak bagus dan aku juga engga paham jalan ceritnya. Hehe

Bapa enggak mendidik langsung dan arahin aku untuk menulis itu gimana-gimana, tapi beliau ajari aku dengan belikan banyak majalah, dari mulai Mangle, tabloid Nova dan enggak ketinggalan majalah Bobo bahkan Donal Bebek. Banyak cerpen, cerbung dan semua aku lahap. Sedikit-sedikit aku tahu banyak tema, macam-macam konflik cerita dan semua tektek bengeknya. Bapa yang paling mendukung hobiku ini, bahkan saat aku jadi calo praktek tulis bahasa Indonesia buat teman-teman satu angkatanku, bapa mendukung penuh. Hitung-hitung latihan nulis, katanya. ^3^

Akhirnya...tiga tahun setelah lulus SMA aku berhasil nerbitin satu novel dengan judul Aku, Kamu & MIPA terbitan Realbooks. Bangga banget, dan dari sana semangat nulisku terus terpacu hingga berhasil menelurkan novel-novel lainnya, lagi...lagi...lagi dan lagi. Judulnya apa saja? silahkan googling (nyombong dikit, mueheheh).

Yapp, aku bisa menerbitkan banyak buku dan cita-citaku pengen lihat namaku terpampang di toko buku Nasional terwujud, karena bapa, karena didikan bapa, karena kebaikan hatinya izinkan aku yang baru delapan tahun pegang mesin ketiknya dan bikin tulisan absurd. Bapa yang belikan banyak majalah, pinjamkan banyak ensiklopedia, banyak kumcer Sunda, kumcer Femina...Secara enggak langsung bapa sudah arahkan aku menjadi aku yang saat ini. 
Freelancer Novelis yang nyambi blogger amatiran :p

Terima kasih.

 Selamat Hari Ayah, pa!
Sehat selalu, maaf aku belum bisa jadi anak yang berbakti, tapi cintaku sama bapa full deh!

Open PO : Teenlit Romance : WA 082321738010

Comments

Popular posts from this blog

Review Downy Parfum Collection Mystique : Wanginya Awet Sampai 2 Minggu

Pengalaman Pakai Masker Kefir Selama 1 Bulan

Review Ellips Hair Vitamin Shiny Black : Beneran Hitam dan Berkilau