Jangan Percaya Becak di Malioboro

Pict SlameTography
Jangan Percaya Becak di Malioboro - Tanggal 25 November 2018 kemarin, saya dan suami mampir di Jogjakarta dalam perjalanan pulang dari Surabaya. Sebelum berhenti di Jogja, saya sudah berhenti di berbagai tempat, sih. Haha. Berhenti buat ngopi, lah. Makan, lah. Sampai nongkrong sejenak di salah satu warung makan di area Telaga Sarangan, aihh betah deh disana, pemandangannya oke, udaranya sejuk dan disana saya juga mencoba sate landak. Agak geli, tapi penampilannya persis banget sate ayam walaupun lebih kecil potongannya, bumbunya pakai bumbu kacang dan ditaburi potongan daun jeruk. Rasa dagingnya lembut, seperti daging ayam.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan, melewati jalanan berkelok-kelok kayak di Puncak yang kece banget. Kami juga melewati The Lawu Park, Karanganyar. Pengen banget berhenti disana buat foto-foto, tapi takut terlalu lambat kami pulang, batal jadinya. Huhu, enggak tahu kapan bisa kesana lagi. Semoga suatu saat ada rezeki buat kembali lagi, deh!

Memang tujuan kami awalnya pengen jalan-jalan di Malioboro, sambil beli brem yang gambar suling. Padahal beli online juga bisa, ya? tapi entahlah, kalau beli langsung di tempatnya jauh lebih berkesan, rasanya juga jadi lebih spesyel *sugesti aja sih, hihi.

Sampai di Jogja sudah hampir magrib, jam lima kurang lebih dan karena malam Minggu jadi penuh banget di Malioboro. Buat nyari parkiran pun susah, ada sih taman parkir itu cuma karena enggak ngerti sistemnya kayak gimana, akhirnya cari tempat parkir yang di pinggir jalan saja. Maklum lah ya, kebiasaan di Banjar mah enggak mainan taman parkir-taman parkir gitu, lha tempat parkir pinggir jalan juga masih banyak yekan. Huhu.

Pict Kulineran com
Setelah putar-putar lokasi di sekitar Malioboro, ternyata enggak ada yang kosong dan terpaksa pakai bantuan dari bapak-bapak yang langsung 'peka' bahwa kami butuh parkiran. Dia carikan tempat parkir dengan tarif 20 ribu per 4 jam, padahal jelas-jelas rambu di belakang dese itu mobil cuma 5000 doang. Hmm. Bapaknya juga bilang kalau parkir sudah dapat becak satu gratis, buat keliling-keliling ke produksi bakpia sampa produsen kaos supaya lebih murah.

Tapi karena saya memang maunya jalan-jalan di Malioboro aja, enggak mau keliling kesana-kesini, ditolak deh itu becaknya dan si bapaknya bilang apa coba? "Duh, kalau enggak pakai becak, enggak bisa parkir, Bu." dengan ekspresi kecewa, tapi kecewanya agak ngeselin gimana gitu...Kami sudah paham sih, ini pasti ada semacam kemitraan (lah) sama tukang becak disana dan okelah, daripada enggak dapat parkir, mendingan naik becak keliling-keliling sore hari kan lumayan seru.

"Jadi nanti saya dapet becak gratis, Pak?"
"Oh enggak, becak bayar beda lagi."

Lah, udah beda lagi dese ngomongnya. Pasti bakalan ada hal yang enggak beres dah nanti...secara, saya sudah sering dengar kalau becak sekitar Malioboro itu pasang tarif suka Afghan, alias sadis. Atau sejumlah drama lainnya yang bikin mood enggak beres. Tapi yaa gimana ya, kalo aja ketemu parkir kosong...

Bener aja, setelah dusta becak gratis yang ternyata berbayar, bertambah lagi kedustaan dengan yang didatangi adalah toko oleh-oleh, bukannya tempat produksi bakpia dan belanjaan saya diliatin dooong sama tukang becaknya. Risih enggak, sih? dia juga tanya, kenapa saya enggak beli bakpia. Lah, saya emang enggak mau makan bakpia, saya kan maunya brem doang. Terus kenapa? -___-

Cus lagi kita, dia lewat jalan memutar dong biar bisa ke toko kaos padahal saya dan suami udah bilang enggak perlu karena memang enggak niat beli-beli kaos, saya maunya beli brem ajaaaaa. Dia sampai berhenti lho di depan tokonya itu, "Disini kalo mau beli kaos murah," gitu. Padahal harganya ya sama aja dengan toko lain di sebelahnya, 100 ribu dapat 6, ada yang 35 ribuan dst. Hilih...

Saya sudah bete, tapi saya tahan-tahan karena enggak tahu kapan mau kembali lagi ke Malioboro. yekan? Enggak mungkin dihabiskan dengan misuh-misuh terus. 

Akhirnya kami diturunkan di Malioboro, sebelum kaki saya menyentuh tanah sama sekali, babang becaknya sudah ngomong, "Mbak ongkosnya sekalian parkir tadi. Dibayar sekarang." begitu. Baiklaaah, suami pun basa-basi nanyain berapa kira-kira ongkos becaknya karena memang duekeeet buangettt, jalan kaki pun enggak akan capek sebenarnya. Tadinya saya dan suami niat pengen kasih 20 ribu, karena ya masa iya cuma kasih 10 ribu? kan yang naik duo jumbo, kasihan lah. Tapi dikasih duapuluh pun ternyata babang becaknya enggak mau ibuk-ibuk, huhu dan maunya 30 ribu aja karena suami nyodorin selembar 50 ribu. Becaknya enggak mau kasih kembalian, malah nyengir-nyengir sinis sambil terus-terusan ngomong "Duhh, gimana ya? Hmm gimana ya?". Rasanya ingin saya sleding aja, KZL banget sama ekspresi dan semua dustanya!!!

Jadinya kurang ikhlas rasanya karena becaknya kok semacam sengak dan judes gitu. Entah juga dia malas berbaik-baik sama saya karena enggak beli bakpia banyak-banyak. Jadi dia enggak dapat bonus dari toko oleh-oleh yang tadi kami datangi. 

Lah, memangnya gitu? Suudzon bukan, nih?

Begitulah, hampir semua becak disana semacam bermitra dengan toko oleh-oleh, toko kaos dan sejenisnya. Job desc mereka untuk membawa wisatawan ke toko, dari jumlah belanjaan yang wisatawan beli, sebanyak 10-20% adalah bonus untuk babang becak. Enggak heran kalau kemudian harga bakpia, brem, dan berbagai buah tangan lainnya harganya bikin nepuk jidat, karena memang sudah dinaikkan untuk bonus mitra becak si toko oleh-oleh ini. Contoh, bakpia yang satu dusnya hanya 15-20 ribu jadi berkisar antara 30 hingga 40 ribu Rupiah.

Tapi, aktivitas naik menaikkan harga ini bukan cuma karena wisatawan yang dibawa babang becak, wisatawan yang datang sendiri dan pakai mobil bagus juga bakalan kena harga berkali lipat, lho. Ini saya baca di salah satu forum online dan banyak yang mengiyakan, berarti bukan gosip-gosip belaka. 

Bete hati saya sedikit  terobati saat saya dan suami mencicipi seporsi sate...entah apa nama satenya saya enggak tau, hahah. Satu porsinya 20 ribu karena pakai lontong dan enak juga, walau enggak bisa disebut enak bangettt tapi not bad lah. Kami makan di bangku yang disediakan di trotoar, jadi pedagang satenya itu lesehan gitu di bawah, di antara bangku satu dengan bangku lainnya ada ibu-ibu pedagang sate. 

Kompasiana
Saya niatnya pengen foto ala-ala gitu di bangkunya, tapi urung karena banyak orang. Enggak enak aja rasanya pose-pose di depan banyak orang, background foto orang lalu lalang dan enggak kelihatan bau-bau Malioboronya alias percuma aja foto di bangku doang mah di Banjar juga bisa

Begitulah, saya dan Paksyu cuma foto wefie berdua alakadarnya, dan pas mau pulang saya minta kami foto bareng full body dengan minta bantuan orang lain, Paksyu enggak mau. Jangan repotin orang, katanya. Padahal minta tolong sejepret doangan paling berapa detik gitu, tapi tetap Paksyu enggak izinin. Dan saya ngambek dong, enggak jadi foto-foto lagi, hahahah. Sifat buruk...iyaa iyaa.

Lepas Magrib, kami pulang dan Alhamdulillah sampai di Banjar pukul 2 pagi. Gilingan, hampir 24 jam perjalanan. Hihi. 

Walau persinggahan kami di Malioboro enggak sesuai dengan ekspektasi, tapi saya enggak kapok dan malah ingin balik lagi suatu saat nanti. Tapi dengan beberapa tips untuk mengantisipasi hal-hal tak diinginkan yang bisa terjadi, salah satunya ya babang becak dan dustanya itu. Berikut tipsnya : 

- Parkir di taman parkir. Ini untuk yang bawa kendaraan pribadi, supaya enggak perlu susah-susah cari parkiran. Lebih aman dan tarif parkirnya juga jelas. 

- Deal tarif becak sebelum naik. Kalau mau keliling pakai becak, pastikan sudah tau jauh dekatnya rute yang akan dilalui. Caranya dengan lihat Google Maps atau tanya-tanya sama teman yang sudah pernah keliling daerah Maliboro. Deal tarif becak dulu, jangan naik dulu dan bayar belakangan karena bisa-bisa dibawa muter-muter dan tarif jadi bengkak. Memang enggak semua tukang becak kelakuannya minus begini, tapi berhati-hati dan selalu siap antisipasi enggak pernah merugikan, betul?

- Jangan percaya becak tarif 5 ribu. Pas saya dan suami makan sate, ada bapak-bapak yang nawarin becak tarif 5 ribu untuk keliling produsen bakpia dan oleh-oleh Jogja. Jangan percaya, kata mereka yang pernah gunakan jasanya, tarifnya bertambah setelah selesai keliling-keliling. Secara logika saja 5 ribu Rupiah buat keliling-keliling siapa yang mau kerjain, kan? Capek bor! 

- Selalu bawa tongsis atau tripod. Pokoknya kalau jalan-jalan lagi, saya harus bawa tongsis/tripod. Biar enggak drama ngambek lagi karena foto doang. Kasian Paksyu saya ngambekin mulu. Huhu. 

Demikian 'secuil' curahan hati saya tentang singgahnya kami di Malioboro. Semoga tulisan saya ini bisa bermanfaat, yes? Jangan lupa baca artikel lainnya, misal Cara Membuat Es Buah Spesial. Terima kasih sudah membaca. 

Comments

Popular posts from this blog

Review Downy Parfum Collection Mystique : Wanginya Awet Sampai 2 Minggu

Pengalaman Pakai Masker Kefir Selama 1 Bulan

Review Ellips Hair Vitamin Shiny Black : Beneran Hitam dan Berkilau