Saturday, 29 September 2018

Saya Ingin Kembali ke The Lodge Maribaya Bersama Huawei Nova 3i

A place to remember...sebenarnya ada banyak banget sih tempat yang membawa kenangan untuk saya dan bikin saya geregetan pengen balik lagi kesana. Tapi enggak segereget tempat yang satu ini, The Lodge Maribaya. 

Kenapa The Lodge Maribaya? Karena disana saya menemukan banyak pelajaran yang penting banget untuk keberlangsungan hidup saya sebagai makhluk sosial (buset bahasanya, haha). Tapi serius, perjalanan kesana tempo hari bikin pikiran saya terbuka lebar, saya berusaha untuk jadi orang yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

sumber apkasi

Sepulangnya dari Maribaya, saya putuskan untuk menghilangkan sifat “Kumaha engke we, lah!”  alias “Gimana nanti aja, deh!” yang sudah bikin saya kesusahan berkali-kali. Semacam kesombongan  yang bahkan bukan menyusahkan saya sendiri, orangtua, adik-adik dan bahkan anak saya sendiri juga seringkali kesusahan gara-gara kebiasaan itu.

The Lodge Maribaya pertengahan tahun 2017, waktu itu long weekend dan keras kepalanya saya nekat bener pergi kesana, walau sudah dengar gambaran padatnya lokasi wisata di hari libur panjang. 

Padat pengunjung? Pasti.

Susah kendaraan? Pasti. 

Tapi saya enggak peduli, dong! Sepadat apa sih memangnya? Enggak masalah lah berdesak-desakan sebentar mah demi foto-foto heits di IG. Selama toilet umum masih banyak disana, saya enggak peduli mau setengah hari desak-desakan juga. Iya, bagi saya yang beseran ini, mengantri dan desak-desakan tak lebih mengerikan daripada kebelet pipis tapi toiletnya enggak ada.
Saya enggak bawa kendaraan pribadi, selain Banjar-Bandung itu lumayan jauh buat seorang emak-emak (penakut dan panikan) untuk berkendara sendiri, saya juga enggak bisa nyetir motor, apalagi mobil. Jadi bhay! Saya naik kendaraan umum, sampai ke The Lodge. Sempat terpikir, pulangnya susah kendaraan apa enggak? Dan PD-nya saya malah berkata, “Lah, masa iya enggak ada trayek angkutan umum nyampe malam? Ini tempat ramai, lho!”. Kalau ternyata enggak ada pun saya yakin betul, banyak Gr*bCar dan G*car yang siap jemput. Kumaha engke we, lah!

Allah langsung menegur kesombongan saya dengan The Lodge Maribaya jadi lautan manusia! Edas weh pokonamah, itu kepala manusia sudah macam kacang ijo buat ospek saking banyaknya. Gengsi mengaku, saya hajar terus merangsek masuk ke area The Lodge. Sebelah tangan memegangi si bocah supaya enggak hilang, sebelahnya lagi memeluk erat kamera yang beratnya bikin bahu kesemutan, kepala puyeng karena tegang dan pengen pulang. Untunglah adik dan temannya yang ikut enggak perlu dipegangin takut ilang, sudah gede soalnya. Haha. 

Niat hati ingin segera berfoto narsis di rumah pohon atau ayunan langit, apa daya belum punya tiket jadi belum pede mengantri (padahal antrian sudah macam ular naga panjangnyaaa). Saya pun berpisah dengan adik, saya menunggu di dekat antrian rumah pohon, sementara adik dan temannya pergi ngantri tiket ke loket yang lokasinya di bawah. 

Apakah penantian beli tiket saya berjalan aman dan damai? Nope. Anak saya meringis-ringis kebelet pipis dan itu berarti saya harus segera cari toilet sebelum pertahanan anak saya jebol. Sudah tenang karena di dekat area rumah pohon ada toilet, tapi pas disambangin ternyata ‘DITUTUP’. Rasanya saya ingin ngamuk sambil pamacan, aing maung!

Dengan ngedumel, saya pun menuju ke area rumah makan di bawah. Anak saya pegangin pake tangan kanan, tas kamera saya peluk pake tangan kiri dan gamis keinjek-injek sama orang di belakang, antara kesal dan takut jatuh tersungkur gegara itu, makin emosi lah saya rasanya. Huhu, saat itu saya belum sadar kalau kejadian ini saya alami karena “Kumaha engke we, lah!” yang jadi andalan saya buat ngeles. Hicks.

Setelah anak pipis dengan sukses di tempatnya, kepanikan lain bikin saya jantungan. Saya kepisah sama adik!

Tinggal telpon keleus, gitu aja pusing.

Masalahnya, ponsel saya ngedrop dan saya titip di tas adik, juga dompet. Karena saya bawa kamera, saya malas bawa tas sendiri dan otomatis semua barang penting dititip ke adik. Ya itu dia...gimana nanti aja, memangnya apa yang bakalan terjadi? Terpisah karena anak mau pipis, kondisi pengunjung super padat tanpa alat komunikasi, enggak terlintas dalam benak saya. 

Alhamdulillah, Allah masih mempermudah saya ketemu lagi dengan adik. Kami ketemu dengan cara yang dramatis ala-ala sinetron, saling punggung-punggungan di antara lautan manusia, pas menengok langsung ada efek slow motion, lah ini dia!

Saya sudah hilang selera buat foto di rumah pohon, biarlah tiketnya hangus saya tak peduli. Soalnya anak saya enggak mau ngantri, mukanya sudah bosan dia. Huhu. Jadilah cuma adik dan temannya saja yang mau ngantri untuk foto di ayunan langit sementara saya foto-foto di restoran yang di tepi lembahnya itu loooh. Adik dan temannya gantian ngantri biar enggan bete dan temannya ngintil saya ke restoran. Foto-foto lah kami disana, dia saya fotoin...jepret! tjakep. 


Burem parah, hahah

Giliran saya yang minta difoto, jepret! Burem. Jepret! Bokehnya gagal. Jepret! Jepret! Kenapa enggak ada yang beres? “Maaf Teh, saya gaptek. Hehe...” dan saya tiba-tiba pengen nyanyi lagunya Dewi Persik, ingin ku teriaaaak, ingin ku menangis...seandainya kameranya sudah cerdas dari sononya, enggak perlu diatur-atur manual supaya enggak overlight, enggak burem, atau gelap...seandainya.

Sudah selesai sesi foto-foto, hujan dong! Walau enggak lama, tapi tanah becek dan banyak kubangan air. Mau pulang, tapi belum dapat foto yang bagus, huhu. Pas banget ketemu spot yang okelah buat foto, full memori! Ternyata isi memory card belum dipindah ke laptop, ribuan foto dari berbagai momen masih berdesakan disana, cuma 8 Gb pula kapasitasnya.

 Daripada bete jadilah pakai kamera HP yang jahat banget efeknya, bibir dan beberapa bagian wajah jadi agak item karena efek beauty-nya yang berlebihan. Mau ambil foto lagi, gerimisnya lumayan deras dan pada takut Hpnya kenapa-kenapa kena air. Yasudahlah, ya. Apa mau dikata...

Perjalanan pulang kami juga enggak mulus sist, ponsel punya adik dan temannya sama-sama drop. Dengan sisa-sisa baterai memesan Gr*b dan enggak ada yang pick karena traffic di Maribaya super duper padeeet! Tarifnya saja dari 50k jadi 250k. Gelo bener! Mulai khawatir, apalagi pas tahu sudah enggak ada angkot yang lewat dan cuma bisa pakai ojek dengan tarif yang luar biasa. 

FYI, macetnya itu bikin kami yang jalan kaki lebih cepat daripada mereka yang naik mobil. Iya, kami akhirnya jalan kaki sampai ketemu pangkalan ojek dengan tarif yang lebih manusiawi, nyaris 5 km! Sepanjang perjalanan kami cuma ngobrol, sesekali cekikikan menertawakan kebodohan kami (saya) yang nekat, enggak punya powerbank, duit pas-pasan. Kasihan anak jadinya, saya sudah dzolim banget waktu itu, huhuhu.

Alhamdulillah, syukur ada orang baik hati yang ajak kami untuk bareng sama Lembang, atau seenggaknya sampai tempat dimana kita bisa ketemu kendaraan umum. Walau istrinya judes bener dan enggak rela kaki berlumpur kami naik ke mobilnya, tapi si suami bener-bener orang yang baik hati. Makasih banyak, Paaak!

Pukul sembilan malam, saya dkk baru sampai penginapan. Dengkul lemes, badan dingin, perut keroncongan dan duit tinggal selembar. Niat saya refreshing, kacau balau gara-gara “Kumaha engke we, lah!” Anak bocah diajak jalan jauh, enggak rewel tapi saya benar-benar merasa berdosa sama dia. Andai saya enggak gimana nanti aja-an, mungkin kondisinya enggak bakal seperi ini. 

The Lodge Maribaya, sukses pula jadi a place to remember versi saya. 

Andai Saat itu Saya Bersama Huawei Nova 3i

Semua pasti jadi lebih baik seandainya saya memiliki Huawei Nova 3i. Kok, bisa?

Bisa. Pasti bisa.

Walaupun don't judge a book by its cover, tetap saja hal pertama yang jadi perhatian adalah penampilan. Irish purple menjadi warna super cantik yang bikin Huawei Nove 3i mencuri hati siapapun, apalagi kaum hawa, terutama saya yang memang demen warna ungu. Ada lapisan dengan tekstur khas di bawah lapisan kacanya yang bikin gradiasi warna super cantik saat kena cahaya. 
Belum lagi tampilannya yang memang desain ponsel zaman now banget, bezeless yang bikin layar ponsel kelihatan lega banget tanpa batas, apalagi layarnya memang sudah lebar sih, 6,3 inchi guys! Buat saya yang senang nonton Youtube dan mainan game, ini layar sudah juara banget. Enggak sempit. Hehe.

Kalau pakai Huawei Nova 3i, saya enggak bakal kena drama habis baterai sampai terpisah dari ‘rombongan’ lagi karena baterainya yang 3.340 mAh, bisa banget stand bye sampai sehari semalam. Bahu juga enggak harus kesemutan dan pegal-pegal karena menenteng kamera besar, cukup ponsel ini dalam genggaman yang cuma 169 gram (termasuk baterai, loh!), kita sudah bisa mengabadikan ribuan momen luar biasa dengan hasil jepretan macam kamera profesional!



Ponsel ini juga jadi jawaban buat yang buta banget sama teknik fotografi, karena sudah dilengkapi dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) yang bikin kita bisa ambil foto sekali jepret, hasilnya ala master fotografi berkat adanya Quad AI Camera, empat kamera AI 24 MP + 2 MP di bagian depan dan 16 MP + 2 MP di belakang. Tak perlu setting ini itu, sudah dapat foto jernih, warna tajam, dan efek bokeh yang kece abis. Psst, bisa bikin QMOJI 3D loh! Itu, yang bikin wajah kita jadi avatar yang uchul banget dan bisa meniru gerakan kita. Canggih, ya?

QMOJI 3D

Tahu enggak, sih? Memori internalnya 128 Gb dan saya enggak perlu takut kehilangan momen gegara memori kamera yang penuh kayak kemarin di The Lodge. Plus, GPU turbo yang bikin tampilan grafis jadi smooth banget, mendekati real dan dipakai main game tentunya memuaskan banget. Anak saya pasti anteng deh walau diajak ngantri.

Harganya? ini Smartphone termurah di kelasnya dengan storage 128GB!



Saya bener-bener pengen kembali ke The Lodge Maribaya, bersama Huawei Nova 3i. Saya ingin memperbaiki perjalanan pertama saya kesana yang kacau karena ponsel dan kamera yang enggak banget. Tidak akan ada drama terpisah dari adik karena baterai ngedrop, enggak ada bahu pegal karena kamera 8 Gb segede gaban, The Lodge Maribaya terjepret dengan maksimal tanpa ada buram atau pencahayaan yang buruk, foto-foto sepuasnya tanpa takut full memory, bahkan bonusnya saya bisa bikin anak betah ngantri sebab main game dengan grafis dewa. Saya juga lebih percaya diri dan kekinian berkat desain ponsel yang kece abis ini.

2 comments:

  1. Besok waktu kesana sambil ajak akangnya juga ya teh heheee
    Itu nggak kebayang lautan manusia berkumpul jadi satu bisa napas atau besesek teh? heee
    Semoga disemogakan bisa kesana lagi sembari pepotoan kece pakai kamera smartphone Huawei Nova 3i nya ya teteh
    Good Luck tehh

    ReplyDelete
  2. Tempat penuh kenanganku yaa pantai, teh...


    ReplyDelete

Minuman untuk Sakit Tenggorokan yang Praktis

Minuman untuk Sakit Tenggorokan yang Praktis - Beberapa hari yang lalu, Pak Bos ngeluh katanya tenggorokan dia sakit dan mulai meler, fix ...