Sunday, 16 September 2018

Di Malam Lamaran itu, Saya Enggak Suka Sama Kamu, lho!

Di Malam Lamaran itu, Saya Enggak Suka Sama Kamu, lho! - Momen terbaik saya di tahun 2018? Momen itu terekam jelas dalam sebuah potret diri yang agak buram. Ekspresi saya menggambarkan semua perasaan yang saat itu ada dalam hati. Rasa takut, kecewa, waswas, curiga...berbaur dengan secuil harapan yang masih tersisa. Apakah keputusan yang sama ambil ini sudah benar?


Foto itu diambil oleh saudara sepupu si dia, katanya untuk dokumentasi keluarga. Sesaat sebelum keluarganya meminta saya pada bapak, untuk dihalalkan. Kenapa saya pilih foto itu sebagai foto yang mewakili momen terbaik saya di tahun 2018? karena...sini-sini, saya ceritain kenapa...

Di akhir tahun 2017 saya berdoa dengan khusyuk, "Semoga tahun depan saya lebih berbahagia." Tapi rupanya malah berbanding terbalik, baru trimester satu saja saya sudah nangis sampai termehek-mehek lebih dari dua kali. 

Pertama, gagal menikah karena saya janda yang ditolak calon mertua. Haha.
Kedua, Mamah saya meninggal. Di saat yang hampir berbarengan, lelaki lain yang katanya mau terima saya, status saya dan endebrew-endebrewnya juga pergi untuk 'selamanya', karena secuil masa lalu yang dia korek-korek sendiri.

Sudah selesai? Belum. Saya juga kena denda karena mengirimkan naskah yang sudah diACC di salah satu penerbit, ke penerbit lain. Saat itu saya merasa sangat bodoh, kok bisa-bisanya lupa sama naskah sendiri. Melayanglah tabungan saya yang sudah susah payah dikumpulkan, untuk menebus kepikunan yang sudah saya buat. 

Sedih, nyesek. Saya sendirian, mau curhat sama siapa? Kalaupun ada yang mau dengar, saya jadi segan sendiri karena kurang pandai bicara, saya takut yang dengar curhat saya malahan sakit kepala karena enggak ngerti curhatan macam apa yang sedang saya lakukan. Aduh, baru sampai tahap niat mau curhat saja saya sudah puyeng sendiri...malah makin stres rasanya. 

Karena saya enggak mau depresi, saya putuskan untuk bangkit walaupun cuma sendirian. Rapopo, matahari saja sendirian tetap kece dan tangguh, kok! Begitu cara saya menyemangati diri sendiri, walau diam-diam dalam hati rapuh syekaleee. Bagaimanapun juga, saya butuh pendamping hidup.

Saya Nekat Banget

Iya, nekat. Saya mengambil keputusan besar untuk menerima lamaran dari seorang pemuda yang sama sekali enggak saya suka. Lucu sih, waktu itu sebenarnya saya sedang ta'arufan dengan lelaki lain dari Jawa Tengah dan chemistry-nya sudah mulai dapet tapi kok malah mau sama yang ini?

Sejak mengizinkan dia untuk datang melamar, saya seperti kehilangan kesadaran. Saya menapak tanah, tapi rasanya melayang. Saya ketemu dia dan pergi memilih cincin tunangan, rasanya kayak lagi main-mainan saja. Bebenah rumah, angkat-angkat kursi dan perabotan supaya ruangan depan bisa menampung banyak tamu, hati saya masih terasa aneh.

Sambil gelar karpet saya ngomong sendiri di dalam hati, "Ini beneran mau dilamar? kalo saya batalin aja, bakal kesinggung enggak, ya?" "Memangnya mereka bakalan sayang sama anak saya? Mereka bakalan nerima punya mantu janda?". Terus menerus pertanyaan aneh berputar-putar dalam kepala saya. Tapi saya masih ingat untuk pakai gamis terakhir yang dijahit oleh almarhumah mamah, beliau yang paling tahu semua peristiwa yang saya alami, dan sangat berharap saya segera bertemu lelaki yang jadi imam sehidup semati. Walau ruhnya sudah dalam genggaman Allah, tapi saya merasa gamis ini menjadi pengganti pelukan mamah.  

Selepas isya, dia benar-benar datang bersama rombongan untuk melamar. Dia menepati janji. 

Selama prosesi ini dan itu, saya cuma menunduk sambil berdzikir dalam hati, meminta Allah tenangkan hati saya, meminta Allah untuk menetapkan hati saya, hilangkan ragu karena saya sudah tak bisa mundur lagi. Inilah lelaki yang dari dulu saya harapkan, melamar langsung pada bapak alih-alih ngajak pacaran. Apalagi dengan status saya yang seperti ini. Semoga Allah ridho.

Saat itu jangankan cinta, suka dengan dia pun belum. Tapi hati saya mulai terasa hangat saat melihat respon keluarga besarnya, sikap mereka begitu terbuka menerima saya tanpa banyak tanda tanya. Bukan cuma menerima saya, tapi juga menerima anak saya. Sungguh, ketakutan terbesar saya hancur sendirinya melihat ketulusan yang ditunjukkan keluarga besar si dia. Masyaallah, Masyaallah.

Setelah prosesi lamaran selesai, dia dan keluarga pulang, saat itulah saya baru menapak bumi. Kesadaran saya kembali sepenuhnya dan sesegukan saya menangis. Iya..iya..lebay, tapi saya pikir ini waktu yang tepat untuk saya lebay. Bagaimana tidak? setelah semua yang saya alami, tangis dan rasa sakit yang menyambut tahun 2018, mulai berganti kebahagiaan. Persis seperti doa yang saya panjatkan dulu.

Begitulah, setiap kali saya melihat foto itu...selalu terbayang semua peristiwa yang sudah saya lewati dan betapa saya bersyukur telah nekat menerima si dia. Yang kurang lebih sebulan saya kenal. Jodoh memang unik. Hehe.

Momen-Momen Berkesan Sepanjang 2018

Dua bulan kemudian saya pun menikah. Bersama dia, yang ngotot banget untuk memperjuangkan saya walau sudah berkali-kali bilang enggak usah. Dia, yang bikin saya mati kutu karena ketahuan mensenyapkan status WAnya. Dia, yang saya omelin habis-habisan tapi malah ketawa dan bilang marahnya saya lucu.


Dulu pas dilamar saya enggak suka sama dia, eh sekarang malah jadi cinta banget, aduh...diapain sih saya ini? Haha.

Menikah dengan pak Bos (panggilan sayang, nama adalah doa, betul?) membawa saya ke kehidupan yang baru. Keluarga besar dari pihak bapak dan mamah mertua yang ramai, sepupu-sepupu yang akrab, ponakan-ponakan yang riweuh dan selalu saja ada peristiwa seru yang terjadi. Duh sayang banget saya enggak sempat mengabadikannya satu per satu. Maklum lah, HP saya kadang suka shock dan ngelag kalau tiba-tiba buka kamera setelah standby (enggak dipakai) agak lama...Ahahah.

Kalaupun saya berhasil abadikan momennya, tapi adaaaa saja yang kurang. Semacam cahayanya yang buram, noise yang bikin foto jadi kelihatan banget diambil pakai kamera pas-pasan, dan efek bokeh yang...ah sudahlah. Harapan mah bikin detail photography ala-ala, tapi hasilnya jauh panggang dari api. Alakadarnya banget!

Okelah, mungkin bisa kali ya oprek-oprek kamera DSLR atau mirrorless biar hasilnya fotonya kece. Tapi masalahnya adalah...saya ini gaptek dan kamera DSLRnya juga enggak punya. Jadi apa yang mau dioprek cobaaa?

Lagian kalau kamera-kamera yang dipakai sama para mastah blogging dan fotografi itu bukan main-main harganya, enggak akan terkejar dengan honor nulis saya yang segitu-gitunya. Hihi. Coba kalau ada ponsel yang kameranya itu sama kualitasnya kayak kamera profesional, dan harganya masih terjangkau rakjat djelata macam saya ini. Terus kalau bisa sih enggak usah pakai oprek-oprek dan setting ini itu supaya bisa dapet hasil foto yang ciamik...ada enggak ya?

Huawei Nova 3i HP-nya Emak yang Pingin Kekinian

Ternyata ada sodarah-sodaraaaah! Huawei Nova 3i adalah ponsel stylish yang kemampuan kameranya sudah dibekali dengan Artificial Intellegence alias AI alias kecerdasan buatan. Jadi, ponsel ini memiliki kamera beresolusi tinggi yang sudah cerdas dari sononya, bisa hasilnya foto ala-ala photography master tanpa perlu ribet setting ini itu. Bukan cuma satu doang, tapi empat kamera dengan AI gaisss!

Untuk kamera depannya ada kombinasi dua lensa 24MP dan 2MP, sementara untuk kamera belakang adalah lensa 16MP dan 2MP. Hmm, saya sebagai emak yang suka narsis dan selfie-selfie, bisa kembali ke masa kejayaan selfie nih. Eh, hihi.


Lihat deh, warna Huawei Nova 3i juga syantiek sekali! Irish purple yang elegan banget, belum lagi kalau kena cahaya, beuhh! Lapisan tipis yang teksturnya khusus di bawah lapisan kaca bagian belakang ponsel ini bakalan bikin warna gradiasi yang cantik, unik banget deh!

Saya pengen dong HP yang kayak begini, yang kalau misal kita bawa-bawa itu bikin orang melirik dan mikir, "Itu HP apaan ya? Cantik banget kayak yang punya..." ahahah. Ya begitulah, soalnya saya juga suka begitu. Kalau enggak sengaja lihat yang HPnya menarik, suka bertanya-tanya gitu. Merk apaan ya? Kameranya bagus enggak kira-kiranya? Suka full storage melulu kayak punya saya enggak, ya? sambil melas. Hihi.



Ngomong-ngomong soal full storage (bahkan walau sudah pakai memory card) rupanya Huawei Nova 3i ini punya storage 128 Gb lho! Wagelaseehhh! Itu mah mau nyimpen foto selfie sampai berapa ribu pun bisa, mau install aplikasi edit video premium juga hayu-hayu aja. Ini sih ponsel mid-end dengan storage terbesar yang ada tahun ini. Keren banget!

Kalau storage-nya besar, saya jadi bisa unduh permainan-permainan yang memakan banyak storage tanpa perlu hapus-hapus aplikasi lainnya. Grafiknya juga dijamin smooth dan real banget karena GPU Turbo yang ada dalam Huawei Nova 3i, sekadar Mobile Leg*nds doang mah, libassss! Bisa main Dar*ness Ri*es juga tanpa pake ngelag atau patah-patah kayak Anisa Bah*r. Pokoknya mau main game grafis level dewa pun bisaaaaa.

Widih, gaya banget ya saya sebagai emak-emak mainannya game grafis tinggi. Anu, itu pak Bos yang main, saya cuma nonton saja sambil dengerin beliau ngedumel pas permainannya jadi agak tersendat gara-gara ngelag atau grafisnya kasar. Saya sih mainannya semacam Color R*ng, Pop Bl*st dan sejenisnya, yang MBannya cuma dikit dan grafisnya mengenaskan. Hahahah. Kasian kali emak ini.

Tapi seandainya Huawei Nova 3i ini bisa jadi milik saya, bye-bye game rakjat djelata, saya mau main game yang pokoknya enggak bisa dimainin sama HP yang saya punya sekarang *tekadkuat

Eh enggak deng, HPnya mau saya pakai supaya saya bisa lebih produktif, baik itu ngeblog, nulis dan jualan online. Secara, bisa hasilkan foto ciamik supaya barang jualan terlihat profesional dan bisa merekam momen-momen spesial yang sering banget terlewat karena ponsel yang ngambekan, hasilnya juga enggak akan butek kayak foto saya di atas ituuu dan bikin pak Bos senang karena bisa main game sesuka hati dia tanpa ada drama menguras emosi. Tapi boong! Saya enggak mau pak Bos install game disini...nanti dia lupa sama saya gara-gara keasyikan main game. Huh.



10 comments:

  1. Teh, harus jatuh dulu sebelum akhirnya bangkit... Selamat buat pernikahannya ya Teh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya banget, huhu
      makasih ya mbak :*

      Delete
  2. Lika-liku perjuangannya berakhir dengan indah ya teh. Akhirnya, alhamdulillah.

    Ini Huawei Nova 3i wagelaseeh banget speknya. Udah storagenya 128GB, kameranya juga mantul. Depan 24, belakang 16 sama 2 :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sis, Alhamdulillah syekali..

      mupeng bingit yak HPnya, hihi

      Delete
  3. Selamat mbak Nuniek. Btw hape Huawei Nova 3i ini emang bikin mupeng ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak mbak, hehe

      iya nih..keren banget soalnya

      Delete
  4. Semoga langgeng terus pernikahannya until jannah yah teteh dan akangnya
    bajunya ikut mewakilin kehadirannya almh bunda di sana,
    andai saja bisa diabadikan momen penting tersebut pakai Huawei Nova 3i tentu bakalan lebih berkesan yah tehhh hehee
    Yah, smoga aja saaat sudah hadir adeknya Fathir, sudah bisa memegang Huawei Nova 3i nya yah teh
    Smungudt terus
    Good Luck Tetehh

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, seandainya waktu itu sudah memiliki HUawei Nova 3i...hihi
      makasih ya sistaaa doanya

      Delete

Minuman untuk Sakit Tenggorokan yang Praktis

Minuman untuk Sakit Tenggorokan yang Praktis - Beberapa hari yang lalu, Pak Bos ngeluh katanya tenggorokan dia sakit dan mulai meler, fix ...