Tuesday, 31 May 2016

Cerpen Remaja : Seminggu Menuju Tahun Baru


Senin, 25 Desember.
Malam Natal, saat teman-teman Kristianiku tengah berkumpul penuh kebahagiaan dengan semua sanak keluarga, biasanya aku akan menyelinap keluar pada tengah malam. Untuk apa? Untuk melihat apakah ada setangkai bunga di depan gerbang rumah.
Sejak aku tahu ada mitos cinta sejati yang akan memberikan setangkai bunga tiap tengah malam selama satu minggu, menuju tahun baru. Dimulai dari malam Natal dan berakhir di malam tahun baru. Mitosnya, seseorang yang memberikan bunga itu berarti seseorang yang bersungguh-sungguh dengan perasaannya dan hubungan yang terjalin setelah tahun baru itu akan menjadi hubungan yang kekal hingga kakek nenek.
Tapi tak pernah ada setangkai bunga pun yang kudapati di depan gerbang, bahkan selama bertahun-tahun sejak kudengar mitos itu. Jika kupikir-pikir lagi betapa bodohnya aku, menunggu hingga lewat tengah malam untuk seseorang yang tak pernah ada. Kupikir aku cukup manis untuk ditaksir seorang anak cowok, tapi nyatanya tidak. Aku tak punya siapapun yang menyukai atau bahkan menaksirku sama sekali. Aku ini jomblo. Sejak lahir hingga aku berusia 17 tahun.

Malam beranjak larut dan pukul 12 sebentar lagi tiba, aku masih terjaga entah untuk alasan apa, padahal aku sudah tak mengharapkan setangkai bunga di depan gerbang atau apapun. Karena aku tahu itu semua sia-sia. Aku tidak secantik yang ayah dan bunda katakan, aku tidak seelok pujian paman dan bibi, aku juga tidak sejelita Tiffani atau Amanda, yang terlihat seperti boneka Barbie hidup, idola SMAku.
“Srek!”
“Hah!”
Segera kuluruskan punggung dan kutajamkan pendengaran saat kudengar bunyi aneh dari semak-semak di depan rumah, tanaman hias yang digunakan sebagai pemanis pagar itu seperti bersentuhan dengan seseorang yang bergerak menempel ke pagar. Penerangan lampu sepuluh watt di atas gerbang tak cukup membantu, aku jadi ketakutan sendiri mengingat bahwa sekarang sudah tengah malam dan tak pernah ada siapapun yang datang ke rumah pada jam-jam seperti ini.
Jangan-jangan...pencuri!
“Ah! Ada orang!” pekikku tertahan saat melihat sesosok tubuh terbungkuk-bungkuk berjalan perlahan melewati gerbang, ia membawa sesuatu di belakang tubuhnya.
Bunga, orang itu membawa bunga dan bunga itu...mawar langka milik bunda!
Orang itu benar-benar pencuri rupanya, ia mengambil bunga mawar yang sangat disayangi bunda seperti ia menyayangi aku. Mawar yang ia dapatkan dari ayah saat pulang dinas dari pelosok, bunga mawar indah dengan kelopak yang besar-besar dan hanya satu tahun sekali berbunga. Tak heran jika mawar yang cukup sulit untuk dibudidayakan itu jadi incaran banyak orang, terutama tangan jahil yang ingin gratisan. Seperti orang itu!
Tanpa pikir panjang, aku segera keluar dari dalam rumah dan meraih sapu lidi bergagang panjang yang biasa digunakan untuk menyapu halaman, berjingkat-jingkat kulangkahkan kaki menuju gerbang, menguatkan hati untuk berteriak maling keras-keras agar tak ada lagi yang berani mencuri mawar milik bunda. Sesaat kupikir orang itu sudah kabur, tapi ternyata dia masih mondar-mandir di depan gerbang seperti orang bingung.
Jarak antara aku dengan orang itu sekarang hanya sekitar dua meter dan aku tersembunyi di balik bayangan pohon mangga yang ditanam dekat gerbang, disini aku berdiri siaga dengan sapu lidi di tangan, mata menatap awas ke sosok itu yang sekarang terlihat jelas di bawah lampu. Dia...
“Bruno?” desisku tak percaya.
Jadi pencuri mawar bunda itu Bruno? Dia teman sekelasku dan anak paling cuek sedunia. Kami sering sekali satu meja saat ujian karena nama kami begitu berdekatan. Brenda dan Bruno. Sejak SMP kami sekelas, SELALU! Tapi tak pernah ada satu patah kata pun yang terucap dari bibirnya, iya untuk mengobrol denganku atau sekedar untuk bersapa saja.
Bruno berkulit gelap yang eksotis, tubuhnya tinggi dengan bahu yang lebar dan punggung yang bagus, maklum lah dia anak klub taekwondo dan kudengar-dengar sudah beberapa kali juara daerah, wajar saja dia punya penampilan fisik yang begitu gagah. Psst, Bruno ini pandai main gitar juga loh! Lengkap sudah, cakep, atletis dan pandai main gitar. Tak heran kalau Tiffani dan Amanda, juga cewek-cewek cantik lainnya saling baku hantam demi perhatian dan cintanya.
Bruno mungkin membenciku, entah karena apa. Itulah kenapa ia tak pernah menyapaku walau selalu sekelas selama lima tahun. Aneh sekali, saking bencinya padaku sampai-sampai mencuri bunga mawar milik bunda? Ada apa ini?
“Bruno...” kuberanikan diri menyapanya dan sosok itu mendongak, ia memang Bruno dan terlihat sangat kaget melihatku di hadapannya.
Sekitar dua detik ia tergagap tak jelas dan ia menjatuhkan bunga yang dipegang lantas berlalu kabur. Aku terdiam, masih terheran-heran tapi tak mau banyak menduga lagi. Bunga yang dibawa Bruno memang mawar langka, sejenis milik bunda tapi bukan. Bunga mawar ini dibungkus plastik dan dililit pita cantik berwarna pink.
“Apa-apaan ini?” gumamku sambil memungut bunga yang dicampakkan Bruno.
Bunganya masih segar dan aromanya begitu memabukkan, aku tiba-tiba teringat bahwa bunga milik bunda belum mekar sesempurna mawar ini. Apa Bruno membawa mawar ini dari suatu tempat dan berniat memberikannya pada seseorang? Seperti layaknya mitos seminggu menuju tahun baru.
Tapi untuk siapa? Ada dua orang gadis sebayaku disini, Maya anaknya pak RT dan putrinya dokter gigi yang tinggal di ujung gang, entahlah. Aku malah berpikir bahwa mawar ini untukku, saking jomblonya aku...padahal Bruno pasti kebetulan saja lewat disini, mungkin ia tengah menimbang-nimbang kalau bunga ini lebih baik diserahkan diam-diam atau langsung saja. Bukan untukku loh, bukan.
Hatiku pedih mengingat tahun-tahun sebelumnya aku selalu berharap ada setangkai bunga di depan gerbang, dan tak pernah ada. Sekalinya muncul seseorang yang membawa bunga, ternyata bukan untukku dan aku membohongi diri dengan menyangka bahwa bunga ini untukku. Akhirnya kuputuskan untuk meletakkan bunga mawar ini di tempat ia dicampakkan oleh Bruno, lebih baik aku kembali masuk kamar dan tidur. Lupakan khayalan bodoh tentang mitor seminggu menuju tahun baru ini. Mustahil.
“Ambillah, itu untukmu...” suara Bruno mengagetkanku.
“E-eh, a-aku...aku enggak mau dikasihani. Aku cuma kasihan lihat bunga ini dibuang, padahal cantik sekali. Aku tahu kok ini bukan untukku, i-ini...ambil dan berikan sama cewek yang kamu suka...” cerocosku menahan malu.
“Enggak Brenda, aku enggak kasihani kamu...aku, aku emang udah niat mau kasih bunga itu untuk kamu, kayak tahun-tahun yang lalu...” suara Bruno merendah di akhir kalimat, seperti sangat malu untuk mengucapkan hal itu.
“Apa?”
Bruno diam, ia menunduk dan terlihat seperti kebingungan dan ingin mengatakan hal lain. Tapi sepertinya aku yang harus lebih banyak bicara, aku penasaran kenapa dia tak pernah mengajakku bicara di sekolah?
“Maaf selama ini aku enggak pernah ngomong sama kamu, maaf aku cuek banget sama kamu. Jangan pikir aku benci kamu, enggak. Aku cuma...”
“Cuma apa?” selaku tak sabar. Bruno mendongak dan menghela napas, ia kembali menunduk saat bertemu tatap denganku. Aku malu sendiri jadinya.
“Aku suka kamu sejak kita SMP Brenda, aku bela-belain minta tukar kelas demi bisa sekelas terus sama kamu...”
“Bohong!” tukasku segera, ucapan Bruno terdengar semacam bualan saja.
“Enggak Brenda, serius! Aku terlalu pengecut untuk bilang kalau aku suka kamu...untuk bicara sama kamu saja aku enggak bisa, aku...” ia tak melanjutkan ucapannya dan aku jadi bingung harus bicara apa.
“Tadi kamu bilang, seperti tahun-tahun yang lalu? Maksudnya?”
“Tiap tanggal 25 Desember aku selalu datang kesini, sampai tanggal satu Januari. Aku selalu bawa bunga tapi aku enggak berani simpan bunganya agar kamu liat...”
“...aku selalu berdiri disana...” Bruno menunjuk tiang listrik, gelap dan memang cocok untuk bersembunyi. “...aku selalu liat kamu keluar tengah malam dan kecewa karena enggak ada apapun yang kamu harapakan ada disini,”
“Iya, aku pikir aku bisa dapat setangkai bunga setiap hari sampai tahun baru dari orang yang benar-benar suka padaku, tapi ternyata enggak ada.”
“Ada Brenda! Aku orangnya yang mau berikan bunga tiap malam untuk kamu, hanya saja aku terlalu pengecut, kalau saja sejak dulu aku nekat mungkin perasaanku enggak akan sepedih ini selama bertahun-tahun...”
Kami berdua terdiam, asyik dengan pikiran masing-masing dan menebak-nebak. Kemudian Bruno terdengar mendengus, ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat-erat.
“Brenda, aku tahu ini kedengerannya gila tapi aku suka banget sama kamu sejak SMP dan aku pengen banget jadi pacar kamu, aku...aku pengen jadi seseorang yang selalu jagain kamu, yang selalu perhatiin kamu, sayangin kamu,”
“Tapi kamu enggak pernah ngomong sama aku, mana mungkin aku percaya sama kamu?”
“Lima tahun aku suka sama kamu, diam-diam dan enggak pernah sekali pun aku suka cewek lain...aku memang pengecut, cuma bisa berdiri awasi kamu dari jauh tiap malam Natal sampai tahun baru, padahal aku punya sesuatu yang kamu inginkan, bunga dan...cinta.”
Tak terasa air mataku menitik, aku memang tak mengenal si cowok populer ini tapi aku merasa ia tulus. Kupeluk ia lembut dan Bruno membalas pelukanku dengan erat.
“Jangan dulu dijawab, izinkan tiap malam aku datang lagi kesini dengan membawa bunga dan tahun baru nanti, semoga kamu sudah punya jawaban tentang perasaanku ini,” tutur Bruno.
Aku tersenyum dalam pelukannya, aku sudah punya jawaban untuk kamu Bruno. Lelaki yang selama bertahun-tahun membawa bunga seminggu menuju tahun baru, walau belum sempat ia sampaikan hingga saat ini. Tak perlu meminta bukti apapun, toh Bruno sudah selama ini memendam perasaannya, ia juga anak yang baik juga berprestasi.
Ternyata impianku jadi kenyataan, bunga-bunga indah hingga tahun baru tiba. Bruno, si cuek bebek yang tak pernah menyapaku sama sekali, ternyata menaruh hati padaku. Ah, unbelievable but this is cute!
Banjar 041015

*Cerpen ini ada dalam buku antologi terbitan AE Publishing (terbit 2015)

*Silahkan copast, tapi mohon sertakan sumber.

Punya akun Wattpad? Suka baca cerita romens? Yuk follow Rosalien90 Insyaallah tiap hari Minggu update cerita pendek/cerita bersambung teenlit romance. Sekarang -> Endless Blue

6 comments:

  1. Aiiih! romantisnya.. hihihi

    Teh, aku jadi pengen baca bukunya Teteh deh! biar semangat nulis cerpen lagi.. dah lamaaa banget ga nulis cerpen, dah kaku banget padahal dulu nulis cerpen juga hasilnya masih biasa-biasa aja. sekarang jadi makin parah T.T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaaa, aku juga begini-begini ajaaa..kalau mau kita sharing aja yukk nanti kubagi di inbox softcopy cerita buatanku, ntar tukeran

      Delete
  2. Salam kenal mbak Nuniek. Dateng2 langsung baca cerpennya nih. Ala2 drakor gitu ya. Cuek. Tapi nggak taunya suka. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ihirr, mbaknya main kesini. Hihi
      biasa laaah anak muda mah cinta-cintaanya begitu, cuek cuek tapi mau :p

      Delete