Friday, 11 March 2016

Si Puteri Cikal yang Suka Berkhayal



Alkisah, di suatu tempat disaat langit mulai gelap dan rembulan yang nyaris penuh baru seperempat tinggi kubah bumi, tangis nyaring memenuhi atmosfir udara dalam kamar sederhana. Seorang bayi kecil mungil terlahir, diiringi tangis haru biru seluruh keluarga. Keesokan harinya, si kecil yang berambut tebal tersebut resmi berjuluk "Puteri Cikal". 

Si bayi bongsor bermata bulat itu lantas tumbuh menjadi gadis kecil yang periang, senang tertawa dan bermain-main. Dibesarkan bersama ayah yang gemar mendongeng, ibu yang suka mengajaknya main rumah-rumahan, pasar-pasaran dan juga berbagai permainan simulasi rumah tangga lainnya, telah membuat pabrik imajinasi terbangun megah dalam benak si Puteri Cikal.

Saat usia pre-school, gemar bermain sendiri sebagai puteri raja, atau chef di hotel bintang lima. Tak jarang juga ia bermain peran sebagai penyanyi cilik semacam Maissy atau Chiquita Meidy, yang menyanyi di layar kaca dengan centilnya. Pernah suatu ketika, si Puteri Cikal bermain peran sebagai pengantin yang menikah dengan pangeran tampan dari negeri dongeng. Naas, pernikahan romantis di tepian sungai itu diwarnai bencana, karena sang mempelai wanita digigit buaya dan terpaksa ia harus terpincang-pincang melanjutkan prosesi pernikahan.

Bagaimana kisah selanjutnya si mempelai? entahlah, ibu Puteri Cikal memanggilnya untuk makan siang. Tamat sudah kisah pengantin sampai disitu. 

Saat bersekolah bersama anak-anak tetangga yang sebaya, Puteri Cikal gemar bermain salon--tentu saja ia yang menjadi pelanggannya, dikeramas, disisir, dikepang-kepang dan berbagai 'treatment salon' lainnya. Ia paling suka rambutnya dimain-mainkan, karena rasanya bikin ngantuk. Hehe


Si Puteri Cikal yang Suka Berkhayal

Selepas sekolah dasar, Puteri Cikal masuk ke sekolah lanjutan pertama dekat rumah. Sudah menginjak usia puber dan tak terlalu suka lagi bermain peran masak-masakan atau puteri-puterian. Ia tetap bermain peran namun di tempat yang tepat, bersama teman yang juga memiliki kegemaran yang sama. Teater sekolah.

Kala itu Puteri Cikal sudah mulai mengenal ballpoint dan buku tulis sebagai sarana imajinasi, menggunakan keduanya untuk mencatat tiap ide cerita yang berhamburan. Sekitar 5 novelet lahir saat usianya belum genap 15 tahun. Tapi cuma novelet versi buku tulis dan disebar luas via teman sekolahan saja. Mereka meminjam bergiliran dan itu cukup membanggakan.

Puteri Cikal mulai mengirimkan naskah cerita saat ia berusia 18 tahun, masih mengenakan seragam putih abu dan naskahnya ditolak. Tak patah arang, ia mencoba memperbaiki tulisannya dan membuat cerita yang lebih padat konflik. Tapi belum berani mengirimnya lagi ke penerbit, antara trauma dan malas sebenarnya. Hihi

3 tahun kemudian, di sebuah grup menulis ia melihat info sebuah penerbit yang mencari naskah fiksi. Realbooks namanya. Tanpa ragu Puteri Cikal mengirimkan naskah tulisannya dan tak menunggu-nunggu kabar (karena lupa). Tak disangka, sekitar sebulan kemudian ada email dari penerbit tersebut yang membawa kabar gembira, naskahnya diACC!

Bukan main girang hati si Puteri Cikal, hasilnya berkhayal menjadi nyata! Beberapa bulan kemudian, terbitlah novel pertamanya. Cover yang imut, ukuran saku dan luar biasa bangga!


Novel Perdana


Novel Aku, Kamu atau Mipa? menjadi tonggak sejarah besar baginya. Setelah novel perdananya terbit, belasan judul terlahir mulus dari pabrik imajinasi si Puteri Cikal. Hingga saat ini, tak kurang dari limabelas judul novel terdokumentasikan. Ditambah lagi 5 antologi cerpen (bersama teman sesama penulis) dan sebuah novel indie turut meramaikan dokumen khayal si Puteri Cikal.

Tak sia-sia kegemarannya berkhayal dan berimajinasi sejak kecil, saat ia dewasa hobinya itu ternyata bisa mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Walau tidak berlimpah, tapi Alhamdulillah semua harus disyukuri supaya rezeki makin berlipat ganda. Aamiin.

*** 

Itulah sepenggal kisah tentang aku, si Puteri Cikal dari 3 bersaudara. Sejak kecil kegemaranku memang berkhayal dan main-main. Tapi syukur Alhamdulillah, tak sia-sia kelakuan absurdku saat kecil, karena bisa kutuangkan ke dalam coretan-coretan yang lantas kususun menjadi naskah utuh. Ini adalah mimpiku, menjadikan khayalan dan angan-angan menjadi kisah nyata -dalam sebuah novel-, manis sekali rasanya!

Saat ini aku sudah memiliki seorang anak, kebiasaanku berkhayal tak usai malah justru makin menjadi. Keinginanku menulis dan terus menulis tak bisa dibendung, selain bisa memuaskan hasratku berimajinasi, aku juga bisa mendapatkan pundi Rupiah. Tak hanya untuk beli susu si kecil namun juga segala tektek bengeknya.

Tak bosan kupanjatkan Alhamdulillah, kusyukuri nikmat dan karunia ini. Pabrik imajinasi dalam kepalaku terus beroperasi, mencetak lembar demi lembar kisah baru setiap hari. Aku si Puteri Cikal yang Suka Berkhayal tak akan berhenti, aku ingin terus berimajinasi dan menulis. Kelak, si kecil pun akan kuajari bagaimana caranya mewujudkan khayalan menjadi nyata. Akan kuajak dia untuk terus merangkai mimpi, karena tak ada yang lebih indah daripada mimpi yang menjadi nyata. 

11 comments:

  1. Waaa hebat, limabelas novel dan lima antologi! Dan masih akan bertambah lagi. Keren mbak, semoga bisa terus berkarya ya :)

    Semoga sukses GA nya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insyaallah harus terus bertambah Bun, mumpung masih semangat. Hehe

      Aamiin!

      Delete
  2. Kerreeennn... produktif mbak
    Aku novel yg ditulis di buku sudah amburadul semua ggtahu di mana...

    ReplyDelete
    Replies
    1. punyaku masih ada nih di rumah, bukunya udah kuning. heheh

      Delete
  3. Produktif sekali mbaknya... gimana cara mengelola produktivitas seperti itu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan turutin mood yang ngajak males, hehe

      Delete
  4. Terima kasih banyak atas sharingnya mba.

    Sukses selalu.

    Salam dari Bandung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, sama-sama.

      Salam kenal juga dari Banjar ^^

      Delete
  5. Kereeen...sudah punya novel. Semangat menulis terus ya mb Nuniek :)

    ReplyDelete