Monday, 15 February 2016

Untuk Air Mata, 26 Tahun yang Lalu

Untuk air mata, 26 tahun yang lalu.


Selamat jumpa air mata, masih ingatkah akan tanggal 16 Februari 1990? 

Kala itu adzan Isya baru saja berkumandang, mungkin kerongkongan muadzin masih terasa kencang setelah menyerukan panggilan shalat, dan lelehan mutiara mulai mendesak ke pelupuk mata. Ada yang salah dengan sesuatu di dalam perut, terasa seakan ada sesuatu yang terlepas dari gendongan dalam tubuh.


Iya, bayi yang dikandung selama sembilan bulan--lebih dua entah tiga minggu, sepertinya benar-benar ingin keluar. Mungkin sudah waktunya, kali ini bukan rayuan palsu seperti bulan-bulan yang lalu. Kontraksi seakan mau keluar, tak tahunya hanya bohongan. Jadilah repot bolak-balik rumah sakit bersalin. Hehe.

Ternyata benar saja, tak kurang dari setengah jam kemudian si jabang bayi lahir dengan selamat. Berjenis kelamin perempuan dan bongsor. Tangisnya keras dan nyaring, rambutnya tebal dan air mata mengalir haru di pelupuk mata ibu.

Saat itu air mata menjadi tamu yang menyempurnakan suasana, ucapan Alhamdulillah mengiringi kelahiran si bayi 'mungil'. Air mata mengiringi kumandang adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri. Syahdu, sekalipun orangtua tak lengkap hadir kala itu. Karena ayah berdinas di luar kota dan terkaget-kaget keesokan hari saat tahu kandungan ibu sudah lenyap, gantinya seorang perempuan kecil dalam bedongan berwarna merah muda.

Lagi-lagi air mata mengalir keluar, bersaing berlomba siapa terbanyak antara air mata dan ucapan hamdalah. Doa-doa dipanjatkan supaya si bayi jadi perempuan muslim yang solehah dan memupuk imannya dengan baik, agar subur dan makmur hidup serta matinya kelak. 

Hari ini, 26 tahun kemudian. Air mata kembali mengalir, si bayi bongsor sudah tumbuh dewasa. Insyaallah perempuan muslim dari kulit sampai ke hati. Sekalipun belum solehah betul, tapi setidaknya sedang proses menuju kesana. 

Terima kasih air mata, terima kasih menemani sejak detik pertama menjejakkan kaki di dunia hingga saat ini dan masa yang akan datang. Air mata bahagia, haru, tangis dan entah apa lagi. Air mata menyempurnakan perasaan, mengikat kenangan menjadi sakral dan tak terlupakan.


Salam hangat,



aku.

5 comments:

Review Pemakaian Softlens N8 Ice Grey

Review Pemakaian Softlens N8 Ice Grey - Beberapa tahun belakangan saya sudah hampir enggak pernah pakai lensa kontak lagi, karena merasa s...