Thursday, 21 January 2016

Menatap Mata Tunalaras

Menatap Mata Tunalaras - Tunalaras adalah sebutan bagi penyandang disabilitas mental, yakni orang yang memiliki kesulitan untuk mengendalikan emosi dan juga tak bisa bersosialisasi dengan baik dengan lingkungannya. Autisme, adalah salah satunya dan menjadi 'fenomena' baru di sekitar kita. Autisme itu sendiri adalah kelainan genetik yang menyerang sistem syaraf, membuat penderita autisme kehilangan kemampuan untuk mengontrol emosi dan juga kemampuan bersosialisasi.

Anak autis suka melakukan kegiatan yang berulang-ulang (misalnya bolak-balik menutup dan membuka pintu hanya untuk memuaskan diri atau membuat gambar-gambar imajiner di udara), juga tak bisa mengendalikan emosi baik itu saat merasa senang atau merasa sedih. Jangan bilang saya sok tahu tentang anak autis, karena adik bungsu saya adalah seorang autis.

Mayang Laila Hidayati

Sejak tahun 97 hingga sekarang ini Mayang menjadi titipan spesial dari Allah untuk keluarga saya, tidak mudah memiliki keluarga yang 'istimewa', karena tidak semua orang menerima kaum disabilitas dengan mata terbuka dan hati yang lapang. Bahkan saudara kami sendiri. 

Satu hal yang paling menyakitkan hati adalah...saat saudara mengatakan adik saya gila. Karena menurut dia (dan banyak orang di luar sana), autis itu gila. Tidak! autis bukan gila! Tolong bedakan ya mana sulit bersosialisasi dan gangguan jiwa. Saya juga sulit bersosialisasi, apalagi setelah tahu hidup dengan internet lebih low risk, makin jarang saya bersosialisasi, berarti saya juga gila dong -_-

Ah ya, salah satu yang membuat anak autis terlihat 'istimewa', mereka menolak untuk menatap mata. Bahkan ibu mereka sendiri.

Menatap mata adalah salah satu cara untuk membuat ikatan batin, apalagi dengan ibu sendiri. Berbicara, memeluk, mencium dan bercanda pun menjadi beberapa hal yang dihindari anak autis. hal itu membuat seorang autis menjadi asing, teramat asing. Bahkan dalam keluarganya sendiri!

Dari kecil sudah dilakukan banyak terapi, terutama terapi untuk membuat ia mau berinteraksi dengan kami, keluarganya. Salah satunya dengan tatapan mata. Terapi yang biasa kami lakukan adalah berbicara dengan jarak muka yang dekat, sekitar 30 centimeter dan selalu membuat Mayang menatap mata kami, mengajarinya menatap mata kami saat bicara. 
Sejak kami pindah ke Banjar, sifat Mayang berubah menjadi lebih tenang dan tak seemosi dulu saat ia masih kanak-kanak. Dokter mengatakan bahwa terapinya berhasil, Alhamdulillah ada kemajuan walau Mayang masih menolak menatap mata kami lama-lama.

Sekarang ada teknologi untuk membuat anak autis mampu meningkatkan kontak sosial mereka. Aplikasi besutan Samsung dan Autism Speak Canada, merangsang kemampuan interaksi bagi anak autis dan merupakan sejenis permainan challenge yang melibatkan kamera ponsel.

Nah, dalam penggunaan aplikasi ini setidaknya dimainkan 15-20 menit, dan ada enam misi. Nah, jika anaknya mampu menyelesaikan semua misi ini, diharapkan kemampuan berinteraksinya akan mengalami kemajuan. Dalam aplikasi ini anak penyandang autis akan diberi tantangan, yakni tantangan untuk membentuk ekspresi wajah. Bisa berupa wajah senang, wajah sedih, wajah marah dan sebagainya. Selain itu ada juga tantangan yang lain. Misalnya adalah tantangan menggambar wajah melalui foto yang disediakan dalam album.

aplikasi look at me untuk anak autis
Samsung Look at Me for autism


Berdasarkan survey yang sudah dilakukan, ternyata aplikasi ini membantu sekitar 60% dari 20 anak penyandang autis. Mereka mengalami kemajuan yang cukup memuaskan dalam interaksi sosial dalam penggunaan selama 8 minggu atau 2 bulan.

Saya juga mendownload aplikasi ini di ponsel, karena sekarang aplikasi Samsung Look at Me! ini tak hanya disediakan untuk Samsung saja, melainkan untuk ponsel android minimal versi 4.0 juga lho! Nah, untuk aplikasinya sekitar 36MB sementara untuk konten game-nya sendiri didownload terpisah dengan memori sebesar 700MB. Pastikan memori ponsel kosong yaaa...

Saya akan mencoba menggunakan aplikasi ini untuk Mayang, semoga setelah beberapa bulan penggunaan, Mayang semakin mampu bersosialisasi dengan baik, membuka dunianya menjadi lebih luas dan melihat betapa indahnya hidup setelah mengizinkan kami--keluarganya, mengajak ia bergabung bersama dalam satu keutuhan. Aamiin.

25 comments:

  1. Saya juga orang yang lebih suka berinteraksi melalui internet, Mbak
    Ada yang bilang juga saya aneh,,, wkwkwk
    Lebih suka berkomunikasi dengan gadget dan bercerita melalui sosial media
    Kalau saya alasannya satu, Mbak... lebih baik ngeblog daripada ngumpul tapi cuma bergosip... heheh


    @witri_nduz

    ReplyDelete
    Replies
    1. ngahahah, iya mbak.
      aku kerja dengan internet, dibilangnya anti sosial dan pengangguran. Wew

      Delete
  2. titip salam buat Mayang ya mbak. semoga mbak dan keluarga selalu diberi hati yang penuh cinta untuk Mayang :)

    ReplyDelete
  3. Pada tulisan saya untuk pekan kedua LBI ini, pada catatan kaki saya memberikan catatan bagaimana sekarang ini saya tidak sanggup menulis tentang disabilitas mental.

    Karena di keluarga saya, ada penyandang tunalaras bahkan menurut dokter ponakan saya itu memiliki semua syndrome tingkat akhir.

    Err.. agak sulit jelasinya.

    Tapi, keluarga kami bisa menerima dan bersyukur.
    Setidaknya di keluarga kami sudah ada yang dipastikan masuk surga :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya paham kok...semua orang yang memiliki keluarga difabel pasti punya bond yang kuat, ikatan batin yang gak perlu diucapkan. Sama-sama paham dan maklum, yappp insyaallah, mereka akan masuk surga tanpa hisab dan juga bisa jadi tiket kita buat masuk surga juga. insyaallah..

      Delete
  4. aku juga jarang besosialisasi. lebih seneng di rumah internetan :D beuh itu tega amat yang bilang begitu. kurang pemahamannya.maen samain aja. aplikasinya oke tuh.

    @gemaulani

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita generasi internet lah, ngapain keluar rumah kalau cuma nongki-nongki gosip gak jelas

      Delete
    2. Setuju nih kalau gajelas mending dirumah aja, ngeblog biar prduktif, kalo bersosialisasi baru nuh :D

      @umimarfa

      Delete
    3. Ngahahahah, kupikir aku doang yang mikir begitu :p

      Delete
  5. Aku berusaha untuk memgimbangkan antara sosialisasi di dunia empiris. Berinteraksi dg realitas dan dunia maya
    misalnya dg ikut kegiatan masyarakat sekitar tempat aku tinggal dan ikut kegiatan sosial di kampung halaman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, tergantung pribadi masing-masing mas.
      Saya kurang suka bersosialisasi bukan berarti jadi antipati juga kok :D

      Delete
  6. Alhamdulillah..
    Mayang sudah bisa berinteraksi

    ReplyDelete
  7. salam buat Mayang mbak,,semogadengan menggunakan aplikasi itu mayang bisa bersosialisasi dengan lebih baik,,
    amin

    ReplyDelete
  8. amin tapi jangan pake aplikasi aja tapi dibimbing bersosialisasi secara nyata karena interaksi gadged dan dunia nyata berbeda.

    @guru5seni8
    http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dong mbak, setiap akhir Minggu diajak pergi ke CFD. ^^

      Delete
  9. Sekarang ini kebanyakan orang pegang gadget terus-terusan di bilang autis. Padahal kadang mereka nggak tau kalau yang pegang gadget terus-terusan itu juga buat kerja. *curcol*

    Semoga Aplikasinya memberi hasil positif buat Mayang ya, Mbak.:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheh, iya, pegang gadget karena ladenin orang beli di olshop kita :p

      aamiin

      Delete
  10. kadang melihat mereka begitu semangat menjalani hidup. Terkadang kita malah mengeluh, bener gak sih kak?

    ReplyDelete
  11. semoga ad abanyak perkembangan yang baik kedepannya yaa.. semangaat
    @mutmuthea

    ReplyDelete
  12. waw...karena tema pekan kedua saya jadi tahu macam-macam app untuk difabel mbak.

    tfs ya.

    ReplyDelete

Prive Uri-Cran Itu Solusi Anyang-Anyangan yang Betul. Bukan Minum Air Soda!

Prive Uri-Cran Itu Solusi Anyang-Anyangan yang Betul. Bukan Minum Air Soda! - Pernah dengar enggak sih kalau lagi sakit anyang-anyangan i...