Sunday, 3 January 2016

Cerber Mami Hayday-Papi Pokemon "FILOSOFI ABAH MERTUA"



Suatu sore yang temaram. Papi Pokemon lagi duduk-duduk santai di beranda depan. Sambil menekan-menggeser layar ponsel, nampak wajahnya setingkat lebih cerah terkena radiasi layar handphonenya. Saking asyik sampai menyadari jika abah mertua sedang mengintai dari kejauhan gelagat mencurigakan mantunya tersebut.

"HAYOLOHH! Lagi ngapain?!!" abah mertua menepuk pundak Papi Pokemon sampai terkejut jumpalitan.

"Ini...anu eh, anu...Bah eh..." Papi Pokemon gelagapan, bagai anak SMP ketahuan nonton bokep di kolong meja.

"Kamu lagi nonton JAV nyak? Ngaku? Ngaku?!" Tuduh abah mertua.

"Duh. Enggak! Gak! Enggak Bah!"

"Halah! Dari tadi Abah pantau, situ senyum-senyum sendiri liat hapenya..." Abah ngedipin matanya seakan mengajak negosiasi. "Abah bagi liat boleh? Hehe..." kali ini giliran Abah yang masang senyum-senyum ngarep.

"Abah!!" Pekik Papi, tapi dengan sigap abah membekap mulut papi Pokemon. "Jangan teriak-teriak atuh Kasep! Kedengeran sama Ambu bisa nyaho Abah!" ujar abah sambil mengawasi sekitar dengan siaga. Memastikan tak ada orang yang dimaksud. "Kalau ketahuan Ambu, bisa-bisa Abah dikurung di WC bareng kecoak terbang. Hih!" Abah berbisik ngeri ke telinga Papi.

Duh, rupa-rupanya kebiasaan mami Hayday yang suka mengurung suami di WC bareng kecoak terbang itu turunan dari ibunya sendiri, yakni ambu. Papi dan abah mengelus dada kompak, merasa senasib sepenanggungan.

"Anu, Bah... sejujurnya ini bukan lagi nontonin JAV, tapi lagi baca komik. Hehe.."

"Komik teh naon? Komik nyang obat batuk uhuk-uhuk itu nyak?" Tanya abah polos.

"Aeh, naha Abah mah ketinggalan jaman..." sekarang struktur kalimat bahasa Sunda papi Pokemon sudah lebih baik. Tidak terbalik meletakkan kata pelengkap 'mah' dan 'atuh' lagi.

"Yang disebut komik teh cerita bergambar, nah di dieu contona..." seru papi sambil nunjukin contoh komik yang dibacanya dari tadi. SUATU KEMULIAAN  DI TENGAH PERJUANGAN PERTAUBATAN.

Beberapa kedipan mata kemudian.

"Gimana, Bah? Lucu? Bikin Abah berasa muda kembali?" tanya papi Pokemon antusias.

Abah mertua hanya mengangguk-angguk biasa, tapi nampak jelas jika abah tengah berusaha keras untuk memahami inti cerita komik tersebut. Ternyata selera humor angkatan 60-an dan 90-an sudah jauh berbeda.

"Bagus, bagus sih.." sahut abah sambil mengembalikan ponsel.

Setelah itu abah hanya diam. Papi Pokemon pun diam. Keheningan pun melanda sepasang lelaki dengan status Mertua dan Menantu ini.

NGEEEEEEEENGGGGG.

Suara motor RX King lewat memecah keheningan yang mereka ciptakan.

"Anu..." Papi Pokemon mulai memberanikan diri membuka obrolan, "....kata orang-orang, Abah ini guru nya?" Sebait dialog basa-basi pun terlontar.

"Ho-oh. Abah ini guru, ngajar Geografi." Jawab abah.

"Enak, Bah.. jadi Guru?" Papi pun mulai kepo. Soalnya baru detik ini dia tahu jika mertuanya adalah seorang Guru Geografi, padahal sudah beberapa bulan menjadi anggota keluarga, tapi tak tahu apa apa tentang seluk-beluk jati diri mertua sendiri. Dasar. Menantu level anak magang emang.

"Jadi guru mah susah-susah-difficult. Selain ngajar ya dituntut peranan sebagai pendidik juga, jadi orang tua pengganti bagi muridnya di sekolahan. Mesti sabar juga, nanggepin anak-anak bandel susyah diatur.."

"Duh. Berat pisan ternyata tugas guru teh. Abdi kira tinggal ngajar, kasih PR, terus ngasih nilai. Udah. Gak ada nu kitu-nu kieu begitu yang Abah bilang barusan..."

"Nah, ini...ini, eta mah pemikiran seperti ini yang membelakangi kodrat.." Abah mulai serius meladenin kekepoan mantunya yang kurang terpelajar itu. "Menurut peribasa Cina Selatan: Guru entu patokan, harus digugu dan ditiru hal positifnya. Nah, eta!"

Papi Pokemon mengangguk, baru kali ini dia mendengar peribasa dari daratan Cina Selatan seperti itu. Cina Selatan pun nampaknya masih sangat asing, apa RRC membelah diri jadi beberapa bagian? Entah, hanya guru Geografi yang tahu.

"Lantas, kamu punya prestasi naon wae? di bidang pendidikan." Sekarang gantian abah yang balik bertanya.

"Nggg...apa ya?" Papi mulai bingung. Mau bilang Sarjana lulusan Cumlaude, fasih tiga bahasa (Inggris, Indonesia dan bahasa kalbu), bisa salto sambil kayang dan tidur sambil merem, takut nanti dikira sombong, riya, atau pamer.

"Pernah menang lomba? Atau ikut kegiatan ekstrakurikuler apa gitu? Masak gak ada sama sekali?" Abah pun mulai curiga. Jangan-jangan suami pilihan anaknya ini mantan terong-terongan yang doyan nongkrong di mall dan selfie-selfie pamer gigi yang dipagerin.

"Kalo pernah ikut Jambore Pramuka kemping di hutan, tapi malah kesasar pas nyari kayu buat api unggun, dan pulang-pulangnya malah kena tipes. Itu masuk berprestasi enggak, Bah?"

UHUK..

Abah keselek ludahnya sendiri. Tak kuasa mendengar jawaban spontan mantunya. Cemen banget. Pramuka apaan, yang kesasar dan penyakitan kek begitu. Cih...

Abah lantas berkomentar dengan mengutip kata-kata mutiara cendikiawan Skotlandia Utara: "Seorang Anak Pramuka sejati itu kayak pohon kelapa yang dari pucuk janurnya, buah, batang dan akarnya memberi manfaat." Bukannya malah kesasar dan nyusahin orang-orang!

"Terus...anak Pramuka sejati itu bagai pohon kelapa yang walaupun diterpa angin badai tetap tegak, teguh, kokoh berdiri di muka bumi." Bukannya malah kena angin malam dingin langsung keok penyakitan. Lanjut Abah lagi, yang menyadur pepatah kuno Bangsa Cekoslowakia itu.

Papi Pokemon bergeming, sadar diri. Hancur berceceran sudah citranya sebagai mantan Pramuka Siaga.

"Coba ceritakan kronologis kejadiannya. Kok bisa-bisanya anak Pramuka cemen begitu?" Desak Abah malah penasaran, bak seorang polisi intel menginterogasi maling ayam. Dan papi Pokemon pun mulai mendongeng kisah aib Pramukanya tersebut

"Jadi begini..."

*flashback ke beberapa tahun lalu, masa-masa Papi Pokemon masih berseragam SMP dulu*

"Apa-apaan ini?! Nama regu Pramuka kalian terlalu cemen! Jangan bikin malu sekolahan kita."

"Tapi, Pak..."

"SEMUT MERAH? Apaan? Ganti!! Ganti yang lebih sangar! Yang lebih komersil!" Bentak Pak Martinus yang mukanya mendadak merah padam setelah membaca secarik kertas bertuliskan nama Regu yang aku sodorkan tadi.

"Ta.. tapi, Pak. SEMUT MERAH punya makna filosofis yang dalem. Liat aja, biarpun kecil-kecil, imut, tapi mereka kompak, terus kalo gigit suka bikin gatel..." kataku berusaha meyakinkan kembali Pak Martinus agar setuju. 

Aku mengajukan SEMUT MERAH sebagai nama regu, yang akan mengikuti Jambore Pramuka antar SMP sekecamatan. Kusenggol Gondes, supaya dia turut berkata-kata meyakinkan Pak Martinus. "Kalo SEMUT MARABUNTA, gimana Pak?" potong Gondes kemudian. Iya. Saat itu kami berdua adalah anak SMP pecandu National Geographic episode: Killer Insect.

Tapi...apalah. Nampaknya yang hobi nonton dokumenter semut pembunuh itu ya cuma kami-kami ini. Aku dan Gondes.

"Dengerin ya, anak-anak manis yang baru aqil baligh...coba liat deh nama regu temen kamu yang lain. Mereka tuh pakai nama binatang yang sangar. Kayak: Macan, Beruang, Singa, Kobra, Naga. Lah... kalian mau pakai SEMUT MERAH? SEMUT MARABUNTA??"

"Kagak mecing. Pokoknya, NO WAY!"

"Lagian...semut itu kalo di lagu Susan ft. Kak Ria Enes suaranya 'owe-owe-owek' letak machonya di sebelah mana?!"

"Begini saja deh. Nama regu kalian Bapak ganti jadi Regu Serigala. Gimana, keren kan?" Bujuk Pak Martinus, memberi solusi pada kami yang tengah kehilangan orientasi dalam memberi nama Regu Pramuka.

"Gimana men-temen. Serigala? Sah? Sah?"

Anggota reguku hanya mengangguk tanda setuju. Akhirnya, jadilah nama Regu kami berlima menjadi Regu SERIGALA.

*****

"Setop. Setop. Tunggu dulu!" Potong Abah Mertua.

"Padahal nama SEMUT MERAH punya filosofis yang sangat sakral. Berdasarkan filosofi negeri Venezuela Timur: Semut Merah itu gesit, kompak, setia kawan, pemberani tak takut mati. Indah sekali filosofinya. Bahkan saking terpedayanya, dulu Abah pernah mau kasih nama anak berupa: SEMUT MERAH. Tapi ternyata Ambu gak sudi. Gak mau punya anak namanya Semut Merah." tuturnya panjang lebar, sedikit bernostalgia.

"Siapa gerangan Pak Martinus itu? Berani benar dirinya merendahkan filosofi Semut Merah?" Abah pun gusar.

Pak Martinus adalah Pembina Pramuka. Desas-desus yang beredar mengatakan, dulu dia gagal seleksi masuk Polisi Militer. Imbasnya, saat ia jadi Kakak Pembina Pramuka, jadinya mendidik anak Pramuka asuhannya bergaya Militer. Ciri khas Pak Martinus adalah kalo ngasih komando aba-aba berbaris, teriakannya nyaris suara menggonggong. "HADAP KIRIII, GUKK! LENCANG KANAAAAN GUKK! BALIK BADAAAAN GUK! GUK! GUKKK!" Sejenis itu.

Kemudian Papi Pokemon pun melanjutkan kembali kisahnya.

*****

Akhirnya kamipun sepakat memakai nama Serigala sebagai nama regu kami. Serigala... nama regu yang terlalu ganteng, buat kami yang personilnya rata-rata kurang ganteng. Apalagi setelah sekian tahun kemudian happening sinetron alay dengan judul SERIGALA GANTENG-GANTENG. Makin menyesal-lah kami.

Aku, Gondes, dan 3 orang siswa yang punya nama paling unik seantero sekolahan tergabung dalam Regu serigala yang akan kemping di Jambore Pramuka besok. Gondes adalah teman karibku. Kemana-mana kami selalu berdua. Dimana ada Gondes, disitu ada aku. Saking begitunya, bahkan orang-orang sekitar mengira kami homo. Padahal, jelas tentu pasti saja tidak. Dulu aku mengidolakan Dian Sarto Wardoyong, kurang laki apa aku ini?

Selanjutnya ada Arsa Pakiding, Si Mesum. Arsa ini tinggal di daerah sekitar lokalisasi. Wajar saja, pikirannya menjadi kotor karena pengaruh lingkungan. Hobinya adalah bikin gelembungan dari sisa kondom bekas yang di buang sembarangan. Iya! Jorok!

Kemudian ada Misel Lolongan yang misterius. Dia anak yang tak pernah ketahuan masuk dan pulang sekolahnya kapan. Tahu-tahu udah ada di kelas, tahu-tahu udah pulang. Gak tau deh, kok bisa tahu-tahu tetibaan gitu orangnya. Misterius abis.

Dan terakhir, ada Silvanata Suwageri Pandu Puja Sakti, anak yang punya nama sepanjang kereta api, tapi bodinya mirip truk gandeng bergelambir gitu. Anyway Busway sepanjang apapun nama kamu di Akte Kelahiran, tetep aja nama panggilan pendek. Kayak kasus temen aku yang satu ini, dia dipanggilnya cuman 'Puput" doang. Iya, lakik banget panggilannya, PUPUT.

*****

"Cukup. Berhenti dulu!" Abah menginterupsi cerita Papi Pokemon.

Dan seperti yang sudah sudah. Abah berfilosofis again. Kali ini mengambil quote Pujangga Britania Raya yaitu William Shakespeare: “Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi.”

"Mau dia namanya Lolongan, Pakiding, Gondes, Suwageri, atau apalah itu. Apapun panggilannya yang penting dirinya bisa nunjukin siapa dirinya sebenarnya."

"Iya, tul..." Papi membetul-kan ucapan puitis Abah.

Kemudian ceritapun dilanjutkan lagi.

*****

Nah jadi kami berlima inilah personil Regu Serigala yang akan turut serta mewakili kemping di hutan bersama anak-anak Pramuka yang lainnya. Aku yang tak punya pengalaman apa-apa dibidang kepramukaan eh.. malah didaulat jadi Pinru (Pemimpin Regu) dihadapan Pak Martinus sama yang lainnya. Jadi Pinru kan tanggung jawabnya gede, Kampret!

Singkat cerita, besoknya..

Jambore Pramuka anak-anak Esempe sekecamatan yang dimaksud pun terjadi. Tepat di hutan di balik bukit belakang sekolah. Acaranya sudah dimulai. Tapi sial! Si Misel anak misterius itu tak datang, bahkan kami tak dapat konfirmasi dimana, sedang apa, dengan siapa dirinya sekarang. Padahal kan masing-masing anggota regu mendapat jatah barang bawaan untuk tim. Si Misel ini bertugas membawa kastrol (anak gunung dan pesantren tradisional pasti tahu ini apaan), lah kalau si Misel enggak datang, kami masak pakai apa? pakai batok kelapa? Selain itu regu juga diminta menunjukkan 'Yell-yell' nya, kan kalau berlima bisa pakai formasi Power Ranger. Sekarang kami sisa berempat, terpaksa pakai formasi F4 (baca: Ef-Se') dan pakai lagu opening Meteor Garden sebagai yell-yell kami.

Sore harinya. Tak afdhol kemping seorang Pramuka tanpa kehadiran api unggun. Iya, api unggun mah trademark-nya orang kemping. Jadi, kami diminta nyari ranting pohon untuk dijadiin bahan bakar api unggun. Tapi jangan memotong pohon kayu yang masih hidup, soalnya kami-kami ini anak Pramuka bukannya pemalak liar alias illegal logging. Kami harus menjaga nama baik Pramuka yang paling azasi, yaitu cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.

Ternyata mennyari ranting pohon yang sudah kering itu sulit. Daripada mencari bahan bakar api unggun, jauh lebih gampang mencari bahan bakar api neraka. Tinggal cari orang orang munafik berdosa dan setan-setan terkutuk. Biasanya di semak belukar atau tempat-tempat sepi banyak nih, IYKWIM, mueheheh.

Tanpa sadar, kami berempat regu serigala, malah ceroboh masuk ke dalam hutan. Terlalu jauh sampai terpisah dari regu lain. Tak tahu arah, tak tahu kemana arah jalan pulang, aku tanpamu butiran...EH! Mungkin ini yang dimanakan 'kesasar' itu. DEGH. Dan hari mulai gelap. CELAKA TIGA BELAS!

*******

"Berenti. Berenti dulu bentaran..." Lagi lagi Abah memotong cerita. Lagi lagi dia berfilosofi. "Pepatah Montenegro Utara mengatakan: "Sejauh-jauhnya kita kesasar, jangan lupakan jalan pulang.", papi Pokemon hanya mesem-mesem sambil melanjutkan kisahnya.

******

"Tenang.. tenang, jangan panik!" sebagai pimpinan regu Serigala, aku berusaha menenangkan suasana.

"Iya. Selow. Aku bawa Kompas kok. Kita masih punya harapam buat balik pulang!" Seru Gondes.

"Tumben kamu bertindak sportif, Ndes.." Puji Arsa pada Gondes. Abaikan pujiannya yang tak sinkron dengan situasi, karena Arsa tidak pandai memuji.

Kami pun melingkari kompas tersebut. Honestly,meskipun dengan kompas kita bisa tahu mana Utara mana Selatan, tapi tak seorang pun dari kami berempat yang ingat dimana Basecamp kempingnya. Di Barat Daya kah? Menuju Timur Laut kah? Tenggara? Tak ada yang tahu.

Setelah sadar jika kompasnya tak berguna, kami telah membuang banyak waktu dan harisemakin gelap. Mana tak ada dari kami yang membawa senter. Kami pun bergandengan tangan dan menyusuri hutan dengan meraba-raba. Sekitar lima belas menitan kami berjalan merangsek semak belukar. Sampai akhirnya ada salah seorang dari kami yang nyeletuk. "Eh kenapa kita gak minta bantuan pake priwitan ajah?"

"Oh! Ada benernya juga! Jadi ini toh fungsi tali slempangan Pramuka ada priwitannya!" Seruku girang, diamini juga oleh personil Laskar Serigala lainnya. Akhirnya kami meniup-niup priwitan sekencang-kencangnya, berharap ada yang dengar dan datang untuk menolong kami. 

Tanpa bergerak dari tempat masing-masing, kami terus berjuang menyelamatkan diri dengan meniup-niup peluit dengan kencang, bergantian. Karena yang pakai peluit hanya pinru saja, alias aku. Peduli amat itu peluit diicip banyak bibir,  ganti-gantian, yang penting bunyi. "Eh.. kalo kita bikin kegaduhan kayak gini di tengah hutan, terus yang denger bunyi priwitan kita bukan orang? Tapi malah Beruang Grizzly yang lagi kelaperan gimanaa??!" celetuk salah satu dari kami.

*DEGH*

Sepotong kalimat barusan bener-bener bikin jantung kami berasa mau copot.

"WUAAAAAAAAA!!!! AKU MAU PULAAANGGG!!! AKU GAK MAU MATI!!!!"
Salah satu Serigala berteriak histeris dan kami tahu benar, suaranya sefals itu asalnya dari Puput. Puput yang dari tadi diam saja, sekarang malah cengeng mau pulang. Ternyata dibalik bodinya yang segede gambreng, tersimpan nyali yang imut-imut.

"Diem, Put! Suara kamu malah bikin Wewe Gombel bangkit dari tidurnya!" Seru Gondes berniat mendiamkan Puput yang nangis kejer. Kamvret. Omongannya Gondes kagak pakai saringan. Sekarang kita semua pada ketakutan sama Wewe Gombel ketimbang didatangi beruang.

Namun tiba-tiba seberkas cahaya datang dari sebelah kanan hutan mengejutkan kami. Wewe Gombel-kah? Jack the Ripper kah? Slenderman? Lucy the Killer? Annabelle? syieeettt, memori papi Pokemon di masa kini bercampur-campur dengan kenangan masa lalu, bikin cerita jadi absurd. Oh! Itu cahaya senter!

Ada seseorang menghampiri kami. Dia malaikat penyelamat kami. Dia....

MISEL LOLONGAN!

*****

"Berenti. Berenti dulu bentaran..." Lagi lagi Abah memotong cerita.

"Itu Misel Lolongan? Ngapain di hutan? Kan dia gak ikut kemping?" Abah dilanda rasa penasaran yg memuncak. 

Rupanya Misel lagi berburu Babi Hutan bareng Paman-pamannya. Misel yang mendengar suara peluit kami segera datang untuk menolong kami. Akhirnya Regu Serigala bisa balik ke perkemahan dengan selamat sentosa. Pulang-pulang dari kemping, eh Papi Pokemon abege kena Tipes. Ya aduuh..

"Tapi, Bah... masih ada misteri yang tersisa dari kejadian kesasar itu.." sela Papi Pokemon sebelum mengkhatamkan kisahnya.

"Apa itu wahai menantu magangku?"

"Setelah kami balik ke perkemahan. Acara api unggunnya udah dimulai. Api unggun menyala membara, kami duduk mengitari api unggun bersama yang lain sambil mendengarkan cerita-cerita horor Kakak Pembina..."

"...Gondes berbisik, 'Eh tadi pas di hutan siapa yang nyeletukin ide bunyiin priwitan?'"

"Lho? Bukan kamu, Ndes?"

"Bukan ih. Aku tanya Puput sama Arsa juga gak ada yg ngaku..." kata Gondes penuh keyakinan.

"LAN.. LANTAS SIAPA DONG??!"

Ngik ngik ngik ngik.

****TAMAT****

4 comments:

  1. HADIR! LEADER LASKAR SEMUT MERAH HADIR! SAYA DATANG DENGAN DAMAI!

    ReplyDelete
  2. Kocaaaaakkkk...!!!!!! :D ngakak sendiri bacanya. Lucu kali ya, punya mertua yng bisa ngasih filosofi rasa geografi gitu. Ngalir inspirasinya. :D

    ReplyDelete
  3. Hahaha segitunya terobsesi sampai komando pun jadi pake guk guk.

    ReplyDelete

Dengan Jarvis Store Semua Bisa Jualan Online!

Sebenernya sih saya ini punya bakat dagang, dari turunan mamah itu semuanya pedagang. Mamah saya juga pinter jualan, apa aja (yang halal) b...