Friday, 11 December 2015

Cerpen Misteri : 2 Mata Mira

creepy pasta indonesia
Aku tak suka Mira, aku tak suka semuanya tentang dia. Rambutnya yang keriting kusut masai, kulitnya kering dengan warna hitam terbakar matahari, seragamnya lusuh kekuningan dan ia bukan anak yang asyik untuk di-bully. Saat aku dan gengku mengejek dia, ia hanya duduk diam dengan kepala tertunduk. Begitu pula saat kuhamburkan isi tasnya yang kumal itu, Mira tetap diam. Setelah aku dan ketiga sahabatku meninggalkan dia karena bosan, barulah ia beranjak lambat membenahi perlengkapan tulisnya, lambat sekali seperti seekor keong!

Heran aku, bagaimana bisa anak orang miskin seperti dia sekolah di SMA swasta ini? Dengan biaya per bulan yang mahal dan pergaulan antar siswa yang bak selebriti. Kalau aku jadi dia, aku pasti akan bunuh diri saja karena malu. Tapi untungnya nasibku sangat baik, aku cucu dari pemilik yayasan yang menaungi sekolah ini. Tak perlu lah aku merasa minder, disini aku malah menjadi penguasa, bisa kulakukan apapun yang aku mau.
“Luna! Lihat tuh si Mira cengok sendirian dekat halte,” seru Juwita, otomatis aku menoleh ke arah yang ia tunjukkan.
Benar saja Mira si anak lusuh itu tengah duduk sendirian dengan kepala menunduk, rambutnya yang kusut menutupi sebagian mukanya. Entah dia menunggu bis, entah menunggu jemputan tak kasat mata. Mira itu memang anak perempuan yang sangat absurd, aku sering bingung apa dia itu manusia apa bukan?
“Ganggu yuk?”
“Diapain lagi dia? Aku haus nih, males ah!” tolak Hani, Juwita dan Ruwi mengangguk. Pertanda mereka juga malas mengganggu si anak aneh itu.
Kupelototi mereka bertiga, dasar tidak setia kawan! Tak paham apa jika aku masih ada dendam pribadi dengan Mira? Kesal hatiku saat akan kusiram dia dengan segelas jus, tangannya yang hitam legam terangkat dan menepis cup jusku, otomatis jus jambu merah itu malah balik menyiram tubuhku serta membuat seragamku berwarna merah muda.
“Ikut aku kerjain dia atau enggak ada nongkrong di cafe malam ini!” ancamku.
Ketiganya langsung menuruti apa mauku, mereka memang lemah jika kuancam dengan nongkrong di tempat keren dan makanan gratis. Ah, tak melulu makanan gratis sih, terkadang aku juga membelikan baju baru dan pulsa untuk membeli paket internet. Itulah kenapa Hani, Juwita dan Ruwi begitu setia menjadi temanku, karena jika tak menurut apa kataku, berarti mereka tak akan dapat jatah jajanan lagi.
Jadilah aku beserta ketiga sobatku berjalan menuju halte, mengabaikan beberapa siswi yang menyapaku dengan ramah dan manis-manis. Cih, mereka juga pasti ingin jadi temanku.
“Heh Mira! Nunggu jemputan setan kamu ya?” tanyaku melucu, ketiga kawanku tertawa.
Si anak aneh bergeming, aku menyeringai sambil berkacak pinggang. Kulangkahkan kakiku makin dekat ke tempat Mira duduk, lalu kucubit lengannya sedikit, kulihat ia meringis dan menoleh padaku. Hitam, pekat. Irisnya terlhat lebih besar daripada kebanyakan orang, seperti mengenakan circle lens ala Korea, hanya saja Mira tak terlihat imut-imut, ia malah terlihat menyeramkan.
Aku memundurkan tubuh, sedikit kaget dan agak takut juga melihat bola mata Mira. Selama dua tahun sekelas dengannya, nyaris tak pernah kulihat mata Mira dengan jelas, biasanya anak ini hanya menunduk, tak pernah mengangkat muka walau ditanya oleh guru, apalagi saat ku-bully.
Tiba-tiba Mira batuk, bukan sekali dua kali, melainkan berkali-kali dan cipratan dahaknya mengenai tubuhku! Aargh, menjijikan! Tanpa banyak basa-basi kulayangkan tanganku ke belakang batok kepalanya dan Mira terdorong ke depan, dahinya terantuk tiang halte dengan keras. Ia meringis kesakitan, latah aku ikut meringis.
Tabrakan antara dahi dan tiang halte menimbulkan bunyi yang cukup keras, rasanya pasti benar-benar sakit! Tapi entah kenapa aku puas melihatnya. Suruh siapa ludah dan dahak penyakitannya itu memercik ke bajuku?
 “A-apa?” sepertinya aku mendengar Mira bergumam, suaranya parau dan tak jelas. Sampai-sampai harus kuminta dia bicara sekali lagi, “Gadis sombong, apa salahku sampai kau lakukan itu?”
“Kamu panggil aku apa?!”
“Gadis sombong. Ah!” pekik Mira tertahan, kutarik rambutnya yang keriting kusut itu sampai ke belakang. Panas hatiku ia menyebutku sombong.
Kulihat iris matanya yang hitam itu makin melebar, sungguh! Melebar sampai-sampai hampir semua bola matanya terlihat hitam pekat! Aku takut melihatnya, kesombongan yang mengokohkan keberanianku untuk menyakiti Mira tiba-tiba sirna. Luruh seperti es krim yang meleleh di bawah terik matahari.
Kulihat dengan jelas bola mata Mira sekarang total hitam, berkilat seperti marmer dan aku seakan ditarik ke dalam 2 bola mata Mira. Kenapa? Ada apa ini? Aku tak bisa melepaskan tanganku yang mencengkeram rambutnya, seakan sekarang justru rambut gimbal Mira yang mencengkeram tanganku. Yakin sekali kurasakan helai demi helai rambut gimbal Mira berubah, menjadi tentakel lengket yang menghisap tanganku sampai tak bisa kulepaskan.
“A—akk....”
Tak ada sepatah kata pun yang bisa keluar dari mulutku, tenggorokanku disumbat dengan sesuatu yang tak kasat mata. Aku ingin menjerit kencang saat kulihat sesuatu keluar dari dalam bola mata Mira, entah apa aku tak tahu. Rupanya seperti makhluk mengerikan dengan kedua rongga mata yang kosong melompong, hanya lubang hitam menganga.
Tuhan!
Makhuk itu menjulurkan tangannya yang kerempeng dan menarikku masuk!
Tidak!
Sesaat aku tak sadar apa yang terjadi berikutnya, karena kegelapan menyelimuti pandanganku dan tubuhku seakan terjepit diantara dua tebing yang bergerak menghimpit. Ketika kubuka mata, jantungku seakan berhenti berdetak. Kenapa aku bisa melihat sosokku sendiri?
Iya!
Aku bisa melihat sosokku yang menyeringai jahat, dengan tangan yang masih mencengkeram rambut seseorang di hadapannya. Seseoang di hadapannya, ya aku sendiri!
Tunggu, tunggu.
Jangan katakan jika sekarang aku menjadi Mira!
“Inilah yang seharusnya kamu rasakan gadis sombong.”
Kalimat yang meluncur dari bibirku, atau ‘bibirku’ terdengar begitu dingin. Begitu mengerikan dan mistis.
Jika aku disini, lantas siapa di hadapanku? Jika aku dalam posisi Mira, lantas siapa di posisiku itu? 

Apakah kami bertukar jiwa?
Bagaimana bisa?
Atau leluconku selama ini memang benar adanya? Bahwa Mira memang bukan manusia.
Tanpa banyak bicara lagi ‘aku’ mengeratkan jambakannya dan setengah menyeret membawaku ke tepian halte. Dengan tenaga kuda ia melemparkanku ke tengah jalan, yang tengah ramai tentunya.
Baru saja tersadar bahwa aku berada di tengah jalanan yang padat, sebuah kendaraan melaju kencang tepat ke arahku.
GELAP.

Banjar 24 Agustus 2015 

Baca juga --> Cerpen Keceh

*Liatin parodinya Teaser AADC 2 dong setelah penantian panjang puluan tahun akhirnya dibuatin juga sekuelnya, hihi...

3 comments:

  1. yak mainkan dinada C minor... jreng jreng jenggggg

    MIRASANTIKAAA~~~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah, maaf maaf maaf lupa ganti akun arrrggghhhhh

      Delete
  2. Konflik anak SMA begitu ya :D saling mengintimidasi. apalagi kalau ada si kaya :))

    itu akhirnya ketabrak ya si Mira?

    ReplyDelete

Prive Uri-Cran Itu Solusi Anyang-Anyangan yang Betul. Bukan Minum Air Soda!

Prive Uri-Cran Itu Solusi Anyang-Anyangan yang Betul. Bukan Minum Air Soda! - Pernah dengar enggak sih kalau lagi sakit anyang-anyangan i...