Friday, 13 November 2015

Balas Dendam dan Curcol Dalam Cerita Fiksiku



Dari semua jenis kegiatan yang ada, ada beberapa kegiatan yang aku suka dan aku lakukan. Menulis cerita fiksi, membaca ragam tema buku, handycraft dan gaming. Gaya gitu yak suka gaming, padahal game yang aku mainkan cuma game online semacam Criminal Case, Candy Crush Saga dan Hayday. Hihi.

Tapi dari keempat kegiatan tersebut yang paling aku suka itu ya menulis cerita fiksi. Aku sama sekali enggak pernah mimpi bisa mengambil keputusan bekerja sebagai penulis. Dulu aku sama saja kayak perempuan 90an kebanyakan, mimpi dan cita-cita angkatan 90 itu kalau enggak jadi Sailormoon yang pacarnya Tuxedo Bertopeng ya jadi Power Ranger Pink. *eh. Enggak, maksudnya cita-cita mainstream kayak jadi dokter, pramugari, polwan dan bahkan ilmuwan. 

Waktu SD masih dengan bangga mengusung cita-cita itu, yakin kalau dewasa kelak jadi salah satu dari profesi tersebut. Pas SMP, pelajaran mulai bikin puyeng, SMA, pelajarannya bikin ayan mendadak. Pas kuliah? barulah sadar bahwa jalan menuju semua cita-cita itu sama sekali enggak mudah. Apalagi kemampuan belajar ternyata enggak seiring langkah dengan tingkat kesulitan pelajaran, berguguranlah satu per satu perempuan 90an, termasuk aku. Menyerah untuk jadi ilmuwan.


Apaan pengen jadi ilmuwan? nilai eksak saja enggak pernah lebih dari 70, padahal itu sudah bela-belain nyogok anak terpinter pakai supply cimol dan teh manis gratis selama sebulan. :'(


 Nah, dalam masa-masa kesulitan terhimpit nilai eksak yang mengkhawatirkan, ada beberapa mata pelajaran yang bikin aku merasa hidupku tak sia-sia. Pelajaran bahasa. Baik itu bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, aku enggak pernah merasa keberatan dengan semua tugas dan praktek lisannya sekalipun. Ya bisa dibilang sedikit over PD juga dengan bahasa. Pelajaran yang dipandang sebelah mata karena enggak pakai rumus dan teori-teori ruwet seruwet masa lalu. Tapi nyatanya walau pelajaran yang enteng, banyak tuh yang enggak bisa menghapal KBBI, ejaan yang disempurnakan, menyusun kalimat majemuk bertingkat, mengaplikasikan majas simile, dan angkat tangan untuk bikin tulisan fiksi.

Suka bahasa, suka menulis. Aku memang enggak hebat-hebat banget sampai jadi KBBI berjalan atau Ms EYD, tapi seenggaknya aku bisa self editor-in naskahku sendiri dan ngecek ejaan yang kurang tepat, atau penulisan yang tak sesuai kaidah berbahasa (Eaak bahasaku mantav bener!).

Saat menulis aku temukan sesuatu yang enggak bisa aku dapatkan di dunia nyata, dalam cerita fiksi aku jadi sutradara untuk hidupku dan tokoh-tokoh buatanku. Sejak SMP aku bisa berpacaran dengan semua aktor ganteng yang kusuka, Martin Ricca, Nicholas Saputra sampai Adam Levine. Aku bisa liburan ke Lombok, Bali, Disneyland dan Hawaii, bisa kubuat cabe-cabean jadi insyaf setelah kena azab Illahi dan bikin pasangan paling ieuwww pisah ranjang seenak udelku.

Tapi cuma dalam kisah fiksiku saja. Hehe.

Menulis fiksi jadi ajang curhatku, catatan mimpi-mimpi dan meluapkan emosi yang dirasa. Enggak jarang aku lebur diri sendiri jadi salah satu tokoh, dan banyak kejadian yang nyata di hidupku kutuliskan di dalam cerita. Orang yang bersinggungan langsung dengan kejadian itu aku tulis juga di cerita, tapi tentu saja dengan perubahan nama, tempat dan beberapa polesan lain biar enggak mirip orang yang nulis diary.

Aku bisa meluapkan kekesalanku terhadap sesuatu, kebencianku terhadap seseorang, rasa kagum, mengabadikan momen bahagia dan semua yang terjadi dalam diriku di dalam sebuah cerita fiksi. Tak perlu curhat pada seseorang yang suatu saat bisa mengatakan rahasia itu ke orang lain. Dengan menulis semuanya dalam cerita, maka semua aman dan tersamarkan karena enggak ada yang tahu, mana sih kisah yang benar-benar terjadi dalam hidupku dan mana cerita yang benar-benar cuma rekaanku sendiri? Semua itu hanya aku yang tahu. :D
Open PO : Teenlit only 29K : WA 082321738010

14 comments:

  1. o iya gitu?
    yang terakhir tuh novelnya ada gun gun gun apa gitu. mantan ya teh? :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. gun itu artinya pistol, meh..masa abang gak ngerti
      :3

      Delete
    2. bodo amat, teteh ngeles mulu kayak perangko kurang garem :p

      Delete
    3. tapi teh... matrin ricca itu siapa ya?

      Delete
    4. abang gak gaul, itulohhh Pedro amigos x siempre

      Delete
    5. uda liat gedenya banyak bulu dadanya hiii...

      Delete
  2. Hais jadi ilmuwan mimpinya sama euy :0

    ReplyDelete
  3. pengen blajar nulis skripsi eh...fiksi sama mbak kharisma nieh...boleh yaaa?

    ReplyDelete
  4. hehehe jadi kapan aku dimiliki yax...

    ReplyDelete
  5. Menulis memang hrs pandai mengolah mimpi menjadi inspirasi. Semoga menang GA nya

    ReplyDelete
  6. Suka dan setuju banget sama paragraf terakhir :) "Aku bisa meluapkan kekesalanku terhadap sesuatu, kebencianku terhadap seseorang, rasa kagum, mengabadikan momen bahagia dan semua yang terjadi dalam diriku di dalam sebuah cerita fiksi. Tak perlu curhat pada seseorang yang suatu saat bisa mengatakan rahasia itu ke orang lain." Judul novel duetnya anti-mainstream *sukaa

    ReplyDelete
  7. Pantesaaaaan, dulu temen ae sering banget curhat ke ae, tapi sekarang menjaga curhatnya (mungkin mau bikin nopel sendiri). ^_^

    ReplyDelete

Prive Uri-Cran Itu Solusi Anyang-Anyangan yang Betul. Bukan Minum Air Soda!

Prive Uri-Cran Itu Solusi Anyang-Anyangan yang Betul. Bukan Minum Air Soda! - Pernah dengar enggak sih kalau lagi sakit anyang-anyangan i...