Tuesday, 27 October 2015

Cerpen Terbaru : SILENT LOVER

Cerpen Terbaru Oktober 2015


***
Hujan turun lagi. Cukup deras, berangin pula. Sampai-sampai kaca jendela kamarku pun ikut basah terkena cipratan air hujan. Berbulir-bulir dan berembun seperti permukaan gelas berisi air es yang kubiarkan meleleh.
Hari ini Sabtu. Tanggal 16. Hujan pun turun dengan sama derasnya seperti beberapa tahun yang lalu.
Tahun dimana Raka tak lagi datang mengunjungiku. Sudah hampir tiga tahun tapi aku masih bisa mengingat wajahnya dengan baik. Juga semua kebiasaannya.
Raka yang memiliki mata coklat terang dengan bulu mata yang lentik itu selalu datang pukul setengah tujuh malam. Ia akan menungguku di depan pagar dengan kedua tangan yang selalu dimasukkan ke dalam saku celana. Kecuali jika ia membawakan sesuatu untukku. Ah, Raka. Aku tak pernah menemukan cokelat yang memiliki rasa sama seperti yang pernah kamu berikan padaku! Aku sangat rindu rasanya, terutama dengan kehadiranmu. Aku sangat rindu.
Kami bertemu pertama kali di sebuah mall yang cukup jauh dari rumahku. Aku tersasar dan terpisah dari ibu. Itu kali pertama aku ke mall dan tak tahu dimana jalan keluar. Aku ketakutan dan orang-orang pun tak ada yang membantuku. Padahal aku sdah berusaha bertanya pada mereka, namun tak ada yang peduli. Entah, mungkin mereka tak mengerti apa yang aku tanyakan.
Lalu Raka datang! Dia menenangkanku dan membantuku bertemu dengan ibu. Sejak saat itulah aku suka padanya. Hebatnya lagi, Raka pun menunjukkan rasa tertariknya padaku dengan meminta nomor handphoneku. Kami semakin dekat hingga akhirnya Raka memintaku jadi kekasihnya.
Itu adalah moment terindah sekaligus paling mustahil di dalam hidupku! Ada seorang pemuda tampan yang menyukaiku! Bayangkan saja, aku yang selalu dijauhi teman sebaya, bukan siswi yang populer atau siswi yang pintar sekalipun, juga tak cantik, tapi bisa disukai oleh seorang Raka yang bertubuh tinggi dengan mata seindah Zayn Malik! Gadis-gadis yang jauh lebih cantik dariku pun pasti banyak yang berlomba mendapatkan hatinya.
Tapi dewi Amor berpihak kepadaku. Sekalipun kami bertemu lewat momen yang memalukan, tapi itu tak berpengaruh pada simpati Raka. Bayangkan saja aku menyasar di mall dan menangis tersedu-sedu karena kehilangan ibu. Jika aku masih berusia empat tahun, itu bukan kejadian yang memalukan, namun saat itu aku sudah berusia 16 tahun! Syukurlah, Raka pemuda yang benar-benar baik, juga sangat menyayangiku apa adanya. Sekalipun aku kurang pergaulan dan tak bisa melakukan apa-apa dengan benar.
Hujan masih turun dengan deras, bulir-bulir air hujan pun masih menetes di kaca jendela kamarku. Kurogoh sesuatu dari kolong tempat tidur, sebuah kotak bekas sepatu yang kubungkus dengan kertas kado motif hati berwarna pink. Isinya semua benda kenanganku bersama Raka.
Jantungku selalu berdegup kencang saat membukanya, dengan perut yang melilit dan keringat dingin yang membasahi tengkukku. Persis seperti pertama kali mendapatkan benda-benda itu darinya. Yang berbeda hanya rasa yang muncul dari dalam hatiku saja, saat menerimanya dari tangan Raka hatiku dipenuhi rasa hangat yang indah. Aku bahagia.
Berbanding terbalik dengan rasa yang aku rasakan saat ini. Dingin, juga sepi. Sudah tiga tahun dan aku tak bisa melihat senyumnya lagi untukku.
Benda yang pertama kulihat adalah secarik kertas bergaris dengan tepian bekas robekan, saat itu Raka menyobek buku tulisnya dan menulis ‘I always loving you’ dengan sangat rapi di atasnya. Aku sangat tersanjung membacanya. Berkali-kali kubaca kertas itu untuk meyakinkan diri bahwa apa yang telah aku baca itu benar. Hatiku berbunga-bunga sangat sadar bahwa tulisan itu memang benar adanya, Raka mengatakan bahwa ia selalu mencintaiku.
Pandanganku beralih pada beberapa kartu ucapan berwarna-warni di bawah kertas itu,  isinya juga ungkapan sayang Raka, pujiannya padaku dan harapannya denganku di masa depan.
Kapan masa depan itu? Apakah tiga tahun dari saat itu sudah termasuk masa depan? Kenapa tak ada satu pun harapannya yang menjadi kenyataan?
Kuambil kartu berwarna ungu dan kubuka lipatannya.
Aku akan selalu bersamamu, juga mencintaimu. Hingga masa yang akan datang..” bibirku menyunggingkan senyum. Membaca tulisan Raka membuatku teringat ekspresi wajahnya saat memberikan kartu-kartu ini. Ia terlihat tenang, juga mempesona. Senyumannya sangat indah, tak ada yang memiliki senyuman seperti itu selain dia.
Lalu dua tangkai bunga mawar yang sudah kering dengan sempurna. Mawar yang ia berikan di suatu malam. Ia tersenyum dan mengulurkan kedua tangkai bunga berwarna merah itu padaku, membiarkan aku untuk menghirup aromanya dan berterima kasih. Raka pun pernah memberikan cokelat yang rasanya sangat enak, bungkusnya masih aku simpan hingga saat ini. Lihat! Terlipat dengan rapi dan tak kusut sedikit pun. Jika kucium, masih ada wangi manis cokelat dari bungkusnya.
Ah, Raka! Seandainya aku bisa melihatmu tersenyum lagi untukku. Terasa jauh lebih manis dari cokelat yang kamu berikan..
Tubuhku menggigil. Rambut halus di tanganku meremang. Hujan yang begitu deras membuat suhu semakin menurun dan membuat tubuhku yang hanya mengenakan daster lengan pendek kedinginan. Kuraih cardigan yang tersampir di kursi meja belajar dan segera kukenakan, sekarang sudah lebih baik. Aku bisa bernostalgia lagi dengan Raka, kekasih pertamaku.
Hubungan kami singkat, tak lebih dari tiga bulan. Tapi kenangan di antara kami begitu banyak dan hampir tak muat di memoriku. Jika aku tak sering-sering menyusun kembali kenangan kami, bisa-bisa ada kenangan yang hilang.
Semua pesan singkatnya masih ada di dalam handphone. Kusimpan di dalam folder yang khusus. Dari mulai pesan “Hai!” yang pertama kali memulai hubungan kami hingga pesan yang mengakhiri hubungan kami.
Hubungan yang terpaksa diakhiri. Bahkan tanpa ucapan selamat tinggal yang layak.
“Raka kecelakaan. Ini temannya pakai handphone Raka.” Jantungku seakan mati saat membaca pesan itu. Pesan terakhir yang aku dapat dari kekasihku, Raka.
Aku mencoba mencari tahu keadaannya, mencoba mencari tahu dimana dia dirawat? kenapa kecelakaan itu bisa terjadi? kenapa Raka tak pernah sembuh untuk membalas pesanku?
Aku masih sangat penasaran dengan keadaannya hingga saat ini. Karena aku peduli. Karena aku mencintainya sepenuh hati!
Esoknya nomor Raka mati. Tak aktif. Setiap hari kukirimi ia pesan dan berharap satu saat akan ada keajaiban. Pesan itu terkirim dan Raka membalasnya.
Tapi semuanya hanya harapanku saja. Harapan yang tak pernah menjadi kenyataan. Sudah tiga tahun dan tak ada satu pun pesanku yang berhasil terkirim.
Menangis? Tentu! Aku sangat mencintai Raka dan kudengar ia kecelakaan, ia tak lagi membalas pesanku serta nomornya pun mati. Aku takut hal yang sama pun terjadi padanya!
Setiap hari aku merasakan khawatir yang menggila di dalam hati, setiap hari aku pun merasakan kecewa yang mendalam karena harus kehilangan seseorang yang telah memberikan warna indah di dalam hariku yang kelabu.
Aku ingin mencarinya. Tapi kemana? Aku tak tahu Raka tinggal dimana, bahkan sekolahnya pun aku tak tahu! Tak banyak cerita tentang kehidupan pribadi masing-masing diantara kami. Itulah salahnya. Aku kehilangan kabar Raka karena ketidak tahuan akan sesuatu sepele yang berakibat sangat fatal.
Sudah tiga tahun dalam penantian tanpa harapan, namun tak menyerah. Lelah dan bosan menunggu, tapi aku tetap melakkan hal itu. Untuk menunggu Raka, atau apapun itu yang membuatku tahu kabarnya saat ini!
Tuhan baik sekali padaku. Akhirnya Ia menjawab semua doa yang kupanjatkan. Tadi pagi aku bertemu dengan Raka.
Tapi bukan Raka yang aku kenal.
Tadi pagi aku juga melihat senyumannya yang indah.
Tapi tidak seindah senyuman yang ia berikan padaku tiga tahun yang lalu.
Tadi pagi aku melihat Raka membawa kartu berwarna lembut.
Tapi bukan kartu berisi ucapan cintanya padaku. Karena ia memberikannya pada seorang gadis yang berjalan di sampingnya.
Sesaat hatiku penuh dengan rasa bahagia karena melihatnya lagi, rasa rindu yang menumpuk selama tiga tahun membuncah. Melihatnya di depan mata, tetap tampan seperti dulu, namun ada gadis lain di sebelahnya.
Sesaat kemudian hatiku meledak hingga rasa kecewa yang aku rasakan berceceran kemana-mana. Kuharap sepotong hatiku yang berisi harapan dan rasa kecewa yang akhirnya kurasakan sampai di tangan Raka yang terbuka. Tapi nampaknya ia tak mendapatkan potongan hatiku, bahkan tak melihatku. Padahal jarak kami tak lebih dari tiga meter. Ia di depanku, memeluk pinggang gadis itu dengan mesra. Ia membisikkan sesuatu di telinganya dan membuat gadis itu tersipu malu.
Aku sangat iri.
Raka melakukan hal yang tak pernah ia lakukan padaku. Memelukku dan berbisik di telingaku.
Bagaimana rasanya jika lengan Raka memeluk tubuhku? Pasti sangat nyaman.
Bagaimana rasanya jika Raka membisikkan sesuatu di telingaku? Pasti sangat.. namun aku segera tersadar. Aku tak akan bisa mendengar bisikan apapun, orang yang berteriak-teriak di telingaku pun tak akan membuatku mendengar apa yang mereka katakan!
Aku jadi geli sendiri dengan khayalanku.
Sudah kubilang kan Tuhan sayang padaku? Ia tak mau aku terus menunggu seseorang yang telah mengkhianatiku.
Hujan sudah berhenti dan sebaiknya aku segera mengakhiri semua nostalgiaku dengan Raka. Hubungan kami sudah berakhir. Aku tak perlu bersusah hati lagi untuk mengkhawatirkan Raka. Ia baik-baik saja, bahkan jauh lebih baik tanpaku.
Kurasakan tepukan di bahuku. Aku menoleh dan melihat ibu tersenyum. Beliau menggunakan tangannya untuk membuat isyarat yang mengajakku makan, Kujawab ajakan ibu dengan isyarat tangan pula. Kukatakan bahwa aku akan segera makan setelah selesai beres-beres. Membereskan kenanganku bersama Raka. Ibu mengangguk dan keluar kamar.
Kuhela nafas dan kututup kotak sepatu yang berisi semua kenanganku dengan Raka. Aku mencintainya dengan sepenuh hati, tapi sepertinya ia tidak. Ia menjauhiku dengan cara yang sangat kekanakan. Membuatku khawatir setengah mati sementara ia bahagia dengan gadis lain.
Apa sulitnya mengatakan putus? aku yang kurang pergaulan ini mengerti maksud kata itu.
Ya, mungkin karena bersamaku hanya penuh kesunyian. Tak ada satu pun ucapan yang keluar dari mulutku selain lenguhan tak jelas yang pasti membat siapapun merasa hilang rasa. Aku ingin mengatakan sesuatu padanya, tapi aku tak mampu. Aku tak bisa.
Kukira Raka mengerti dan merasakan, kesunyianku adalah satu-satunya hal yang bisa aku tunjukkan padanya sebagai pengganti ucapan I Love You.
Tapi sudahlah. Kini aku sudah tahu semuanya.
Sebaiknya aku mencari seseorang yang benar-benar memahami kesunyian yang selalu mengelilingi hidupku. Mungkin jika ia adalah seseorang yang juga hidup di dalam kesunyian, ia akan memahami perasaanku yang tak bisa bicara ini.
Aku tunawicara, juga tunarungu.
Tapi aku ingin dicintai dengan seluruh kekurangan juga kelebihanku. Kuharap suatu saat ada yang bermurah hati memberikan ruangan di hatinya untuk kutempati. Entah kapan. Tapi semoga..
***
 Sebenarnya ini bukan cerpen yang baru kubuat, cerpen ini dibuat tahun 2013 untuk event Kisah Sang Mantan dari Diva Press dan aku enggak lolos.  Kemarin buka-buka email lama dan nemu ini, nostalgia banget. Hehe. Semoga suka ya...

Ah iya, jangan lupa tonton book trailer novel terbaruku disini:
Ada pulsa untuk teman-teman yang mereview novelnya lho!

1 comment:

  1. wah, kok gue jadi baper gini, yah, bacanya. Duh... hahahaha

    ReplyDelete

Model dan Jenis Sepatu Boots Wanita Masa Kini

Model dan Jenis Sepatu Boots Wanita Masa Kini  Model dan Jenis Sepatu Boots Wanita Masa Kini - Boots yang dulunya identik dengan k...