Sunday, 4 October 2015

Cerita Bersambung Remaja : Drops of Love (bagian 10 TAMAT)





_10_
Jangan Una, kumohon.


***
Tubuh Una menolak jantung barunya. Darah yang kini mengaliri seluruh urat nadi Una membuatnya seakan ditusuk jarum dan menyiksanya dengan cara yang jauh lebih sakit daripada cara apapun juga.
Bukan hanya menyakiti Una, namun juga Raihan.
Firasatnya benar. Sesuatu memang tengah terjadi pada Una, dibalik semangatnya untuk keluar rumah sakit. Paksaannya untuk menonton bioskop dan makan pasta. Di balik bibirnya yang membiru..
Raihan hanya bisa duduk terpekur di atas kursi tunggu rumah sakit yang keras dan dingin. Pandangannya kosong, serta hatinya begitu sesak. Jika biasanya ia akan menangis jika keadaannya seperti ini, tapi sekarang ia tak bisa menangis.
Ia tak mau menangis karena ia mengingat air mata yang terlihat begitu sakit menyusuri kedua belah pipi Una. Tak ada yang menguatkannya untuk tidak menangis, tapi mengingat perjuangan Una di dalam sana itu sudah cukup menguatkan Raihan.
Tapi, apakah Una tengah berjuang di dalam sana? Una begitu putus asa!
“Raihan, Una.. dia mau ketemu kamu..” panggil mami Una. Matanya bengkak dan suaranya bergetar.
Ia adalah orang yang paling panik dan paling histeris melihat Una kembali ke rumah sakit dengan keadaan tak sadarkan diri, tapi ia tak menyalahkan Raihan. Ia malah menangis dengan begitu sakit dan putus asa.
Raihan tak meminta maaf, karena ia tahu kalimat maaf tak akan berguna saat itu.
“Gi-gimana keadaan Una tante?” tanya Raihan, sebelum membuka pintu kamar ruang rawat.
Ia ingin menguatkan hatinya terlebih dahulu sebelum melihat keadaan Una sebenarnya dengan kedua belah matanya sendiri. Tapi mami Una tak menjawab, ia malah memalingkan muka dengan tangis yang masih terdengar dengan jelas.
Raihan menangkap keengganan menjawab itu sebagai sebuah jawaban yang buruk.
Perlahan Raihan mendorong pintu berkaca buram di hadapannya, melangkahkan kaki kanan terlebih dulu dengan hati yang terasa ciut. Bathinnya berdoa agar apa yang dilihatnya tak akan membuat tanggul air matanya jebol.
Tapi ternyata doanya tak terkabul. Keadaan Una begitu mengkhawatirkan.
Selang-selang yang terhubung pada kotak-kotak dengan layar di sebelah tempat tidur, ujungnya menancap di berbagai bagian tubuh Una. Ia juga mengenakan alat bantu nafas.
Ah, karena AC dan pasta itu keadaan Una semakin memburuk! Oh, Khuzna.. Una..
Raihan mendekat dengan langkah yang kaku, seperti robot. Wajahnya kaku, seperti patung. Hatinya membatu, seperti ‘The Thing’. Tapi matanya buram dan mengalirkan air mata saat melihat manik hitam di mata Una meliriknya dengan susah payah.
Gadis itu berusaha mengangkat tangan kirinya untuk mengajak Raihan mendekat, tapi tak bisa. Raihan pun segera tanggap dengan meraih tangannya dan mendekap di dada. “Una, sembuh.. aku mohon..” ratapnya.
Tapi Una menggeleng dengan sangat pelan, ya ia menggeleng. “Aku enggak bisa..” bisiknya.
Raihan menggeleng keras dan mengecup punggung tangan Una yang masih membiru. Tetes-tetes air bening jatuh dari dagu Raihan dan membekas pada seprai putih yang menutupi tempat tidur Una.
Raihan melihat Una bergumam lagi, tapi ia tak bisa mendengarnya. Raihan pun mendekatkan telinganya, tepat di depan bibir Una, agar ia bisa mendengar semua yang gadis itu katakan dengan sangat jelas.
“Sepertinya aku akan segera pergi..” bisiknya dengan susah payah.
Raihan mengerjap-erjapkan bola matanya mendengar kalimat itu, ia ingin menyangkal, ingin bertanya dan ingin menangis meraung-raung. Tapi sebentar, ia ingin mendengar Una mengatakan semuanya dulu. Ia ingin memberikan kesempatan agar Una bisa mengatakan apa yang ada dalam kepalanya agar Raihan bisa memberikan jawaban yang paling tepat.
“.. kamu salah tentang perasaanku Raihan, Januar memang berkesan untukku.. tapi beda dengan kamu..”
Ah ya, Januar lagi.
“.. aku suka kamu Raihan.. sukaku padamu berbeda dengan Januar..”
Ya, karena Una mencintai Januar,
“Aku cinta kamu Raihan, kamu yang buat hidupku lebih indah..” bisik Una. Raihan tersentak dan mengangkat kepalanya, menatap mata Una sejurus dan yakin sekali jika ia melihat bibir Una yang masih biru menyunggingkan senyuman.
“U-Una..”
“Aku bahagia kamu juga sama denganku, aku bahagia kamu juga menyukaiku.. kita sama Raihan, kita saling melengkapi..”
“Sayang waktuku enggak lama lagi..”
“Hei! Enggak! Kamu itu akan sembuh Una! Kita akan pergi ke bioskop lagi, makan pasta.. mancing bareng.. semuanya yang kamu mau Una! Semuanya!”
“Enggak..” sangkal gadis itu dengan mata yang terpejam.
Raihan menggigit bibir. Ia takut sekali mata yang tengah terpejam itu tak akan terbuka lagi!
“Una, aku mohon.. semangat.. kamu pasti sembuh!” Raihan mengusap kepala Una dengan tangan yang bergetar. Lambat-lambat Una membuka mata, tersenyum lagi.
“Jantungku enggak cocok Raihan, kamu tahu kan? Itu berarti aku akan segera pergi.. aku titip kelomang ya? Jaga mereka..”
“Kelomang?”
“Iya, kelomang Una dan Raihan..” dada Raihan terasa penuh sesak dengan rasa sedih. Kenapa seakan tak ada harapan lagi? Harapan selalu ada!
Una tak berkata apa-apa lagi. Benda yang memantau detak jantung Una terlihat menunjukkan detakan yang pelan. Sangat pelan.
Dada Una naik turun, nafasnya pendek dan ia sangat kesusahan.
Selama beberapa saat mereka berdua terdiam, larut dalam fikiran masing-masing. Asyik dengan khayalan mereka yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama. Tetap hidup untuk saling membahagiakan satu sama lain.
Tapi sepertinya itu tak akan pernah terjadi, baik Una maupun Raihan tahu persis takdir apa yang akan dihadapi sesaat lagi. Sekalipun mencoba menepis dan menyangkalnya, mencari secercah harapan untuk menolaknya, namun ternyata tak bisa.
“Pancing itu Raihan..” Una bersuara lagi. Lebih keras daripada sebelumnya.
“Aku mau pancing itu agar kita bisa memancing bersama.. aku pakai punyaku, dan kamu pakai pancing coklat itu..” Raihan tercekat mendengar penuturan Una.
“Aku sedih waktu kamu marah karena aku mau pancing itu..”
“Ah! Aku enggak marah karena kamu Una! Bukan karena kamu mau pancing itu! aku fikir.. aku fikir kamu mau pancing itu karena mirip sama pancing Januar..” sangkal Raihan segera.
Una menggeleng dengan susah payah, matanya menatap Raihan dengan sinar yang masih tersisa di dalamnya. Perlahan tapi pasti sinar mata yang Raihan kagumi itu meredup.
“Aku hanya mau mancing bareng kamu.. aku mau buat sisa umurku jadi makin indah..”
“Una, maafkan aku... aku malah bersikap kekanak-kanakan sama kamu! Aku malah ngambek dan enggak mau bertemu kamu! aku menyesal Una, aku menyesal...kumohon, semangat Una! kamu pasti bisa hidup!”
“..izinkan aku menebus semua kesalahanku kemarin, jangan buat aku menderita Una..” rengek Raihan, sekarang ia sudah menangis.
Tak ada rasa malu lagi di dalam dirinya, yang ada hanya rasa takut kehilangan yang begitu besar. Juga rasa penyesalan yang tak sedikit pun bisa berkurang dari dalam hatinya. Una hanya ingin bersama dengan dirinya, memancing bersamanya dan Raihan malah marah?
Raihan memang cengeng, tapi tak seharusnya ia kekanak-kanakan.
“Raihan, jangan menangis lagi.. kamu itu lelaki sejati, lelaki yang aku suka.. selamanya..” Una mengangkat tangannya dan mengusap air mata Raihan, hanya sesaat karena tangannya kemudian terkulai lemas.
Pemuda yang masih menangis itu langsung menstop tangisnya dan menggeleng. Ia menggigit bibir dan menguatkan hati. “Una..” panggilnya.
Gadis itu tak bergeming, manik matanya pun tak terlihat lagi.
“Una, aku mohon..”
“Una.. kamu tidur?”
“Bangun Una..”  ditepuknya pipi Una dengan lembut selama beberapa kali, tapi gadis berwajah manis itu tak membuka mata, tak memberi isyarat apapun.
Salah satu monitor mengeluarkan bunyi pip yang panjang.
Bunyi paling mengerikan yang pernah Raihan dengar.
Bunyi yang mengantarkan gadis yang ia sayangi, pergi.
***

2 comments:

Prive Uri-Cran Itu Solusi Anyang-Anyangan yang Betul. Bukan Minum Air Soda!

Prive Uri-Cran Itu Solusi Anyang-Anyangan yang Betul. Bukan Minum Air Soda! - Pernah dengar enggak sih kalau lagi sakit anyang-anyangan i...