Sunday, 4 October 2015

Cerita Bersambung Remaja : Drops of Love (bagian 9)





_9_
Jangan katakan ini terakhir, Una


***
Sudah lebih dari dua jam Raihan berdiri di depan pintu berkaca buram itu. Berdiri dengan tegak serta kedua tangan menggantung begitu saja di sebelah tubuhnya. Sepasang matanya menatap nanar, berusaha melihat ruangan di balik kaca buram.
Semakin keras ia berusaha, semakin kabur pandangannya. Ia tak bisa melihat apa yang ada di dalam ruangan itu dengan jelas. Ia melihat orang berlalu lalang di dalamnya, tapi tak tahu apa yang tengah mereka lakukan di dalam sana.
Raihan menghela nafas dan menunduk lesu. Ia ingin mendongak dan melihat lampu di atas kepalanya berubah menjadi hijau tanda operasinya sudah selesai. Tapi ia tak berani mendongakkan kepalanya.
Ia sudah berkali-kali berharap semoga hal itu terjadi, akan tetapi lampu ruang bedah itu masih saja berwarna merah. Seakan-akan menegaskan bahwa keadaan di dalam sana tengah berada di dalam satu keadaan sangat genting, seakan tengah ada pertempuran besar. Ada beberapa meriam besar yang memuntahkan bola mesiu raksasa, atau rentetan senjata otomatis yang akan menghabisi nyawa siapapun yang masuk ke dalam sana.
Meledak dan berdesing.
Tapi tentu saja tidak ada benda-benda itu di dalam ruangan bedah. Tak ada suara apa-apa. Itu hanya fikiran Raihan saja.
“Raihan, kamu belum makan..” suara mami Una terdengar begitu lembut. Selembut sentuhannya pada bahu Raihan.
Ia hanya menoleh dan tersenyum lirih. Ia menggeleng untuk menolak sekaligus menegaskan bahwa ia sama sekali tak merasa lapar. Bagaimana bisa ia merasa lapar saat hatinya berada di ambang kematian?
Ya, Una. Hatinya tengah berada di dalam sana. Berada diantara pisau bedah, alat bantu nafas dan juga obat bius.
Bagaimana jika Una tersadar ketika operasi itu tengah dilakukan? Hal seperti itu sering terjadi di dalam dunia medis. Rasanya sangat sakit dan mengerikan!
Sudah cukup dengan jantungnya yang bermasalah, jangan sampai Una mendapatkan siksaan lain yang membuatnya semakin sakit.
“Ah, “ desah Raihan sambil memegangi dadanya.
Ada rasa ngilu yang menyayat hati sedetik yang lalu. Bagaimana jika operasi bedah jantungnya gagal? Bagaimana jika Una.. tak bisa tersenyum lagi untuk selamanya?
“Raihan, jangan terlalu memaksakan diri.. ayo duduk.. tunggu bersama kami..” lagi-lagi mami Una memintanya untuk pergi dari depan pintu ruang bedah.
Lagi-lagi pula Raihan menolak. Ia akan tetap berdiri di sini, ia ingin menjadi orang pertama yang bertanya pada dokter yang mengoperasi Una, bertanya tentang kondisi gadis rumit yang ia sayangi itu.
Mami Una pun menyerah, ia pergi tapi tak lama kemudian menyodorkan satu kaleng susu coklat. Raihan menolak tapi ia memaksa. “Terima kasih tante,”
“Iya, minum yaa. Biar enggak terlalu lemas..” ujarnya sambil kembali ke tempat duduk.
Raihan membuka bagian atas kaleng dan meminum seteguk isinya. Rasa coklatnya yang khas memenuhi indera pengecapnya. Terasa sangat nikmat, tapi tak mengena di hati Raihan.
Hatinya masih terasa hambar.
Senseless.
“Raihan, sampai kapan mau kayak begini?” tanya Sandra.
Gadis bertubuh bongsor itu sekarang ikut berdiri di sebelahnya. Setelah lebih dari dua jam Raihan menanti seperti patung dan menanti pintu ruangan itu terbuka. Entah tiga, atau empat jam. Entah lebih. Diliriknya Sandra, ia tengah menoleh ke arahnya, ujung bibirnya terangkat sedikit.
“Sampai operasi Una selesai..” jawab Raihan datar.
Sekarang datarnya suara Raihan mengalahkan nada bicara Sandra. Hatinya ternyata membuat ia bisa berkata dengan nada yang begitu dingin, apakah Sandra juga setiap hari merasakan dingin di hatinya?
Setiap hari dia berbicara dengan nada yang sama. Tegas, datar, tanpa ekspresi.
“Lihat!” seru Sandra sambil menunjuk lampu yang dipasang di atas pintu ruangan operasi.
Raihan ikut mendongak dan jantungnya berhenti berdetak sesaat. Lampunya berubah hijau! Berarti operasinya sudah selesai!! Sekarang tinggal menunggu dokter bedahnya keluar dan ia bisa segera mengetahui keadaan gadisnya!
Papi dan mami Una pun sudah berdiri berdekatan dengan Raihan, juga Sandra. Gadis itu entah kapan berada di rumash sakit, mungkin setelah menerima telpon dari maminya Una ia memutuskan untuk menunjukkan kepeduliannya dengan datang dan menunggui operasi Una.
Ketika team dokter yang selesai membantu cangkok jantung Una keluar dari ruangan, langsung saja tercengang diberondong pertanyaan beruntun dari keempat orang yang begitu antusias menyambut mereka  tepat di depan ruangan tersebut.
Salah satu dokter yang merupakan ketua team bedah hari itu menjawab pertanyaan keluarga Una dengan sabar, ia tak tersenyum tapi ia ramah. Wajahnya terlihat masih tegang.
“Operasinya berhasil dengan baik, kita lihat sampai besok malam.. semoga dia bisa melewati masa kritis..” ujarnya sambil melepaskan masker yang menutupi sebagian muka.
Papi dan mami Una saling merengkuh bahu, dan isaknya terdengar. Raihan sendiri sudah langsung merasa begitu lemas. Diliriknya Sandra. Gadis itu terlihat tegar dan tak bergeming.
Raihan yakin dia juga merasa khawatir, dia itu sebenarnya sangat perhatian dan juga begitu penuh kasih sayang, ia sangat peduli pada Raihan juga Wawan sekalipun ia tak bisa memiliki ekspresi lain di wajahnya. Sudah tentu ia juga akan merasa khawatir dengan Una, sekalipun ia tak begitu mengenalnya.
“Raihan, kamu enggak apa-apa?” tanya Sandra tiba-tiba. Raihan tercekat dan menggeleng. “Enggak.”
“A-aku sepertinya harus duduk..” sambungnya sambil segera memburu kursi tunggu.
Didaratkannya pantat di atas kursi berlubang-lubang kecil itu, rasanya dingin dan keras. Menegaskan perasaan yang tengah memenuhi hati Raihan. Una akan dipindahkan ke tempat rawat khusus, menunggu dia melewati masa kritis dan menunggu tubuhnya bereaksi dengan jantungnya yang baru.
Jika tubuhnya bisa beradaptasi, sudah tentu Una akan bisa mendapatkan waktu hidup di dunia ini jauh lebih lama lagi, tapi jika tidak? Ah, semoga saja cocok!
Una itu berhak untuk mendapatkan kebebasan dengan jantung yang normal.
***
“Raihan bangun! Una sadar!!” dengan sekali sentakan Raihan terbangun dan langsung berdiri, tapi ia langsung mengaduh ketika kepalanya menubruk dagu Sandra.
Gadis bongsor itu mengaduh sembari memegangi bagian bawah dagunya yang ditabrak dengan keras. Ia terus meringis sambil menunjuk ke salah satu ruangan rawat khusus, ruangan dimana Una berada.
“So-sorry! Aku enggak sengaja.. aku..”
“Iya iya enggak apa-apa kok! Cepat, Una tunggu kamu tuuh!” Sandra mendorong-dorong Raihan agar segera menemui gadis yang baru sadar itu.
Raihan nampak tak enak meninggalkan Sandra yang masih meringis-ringis, tapi hatinya sudah tak sabar untuk segera melihat keadaan Una. Ia sangat merindukan gadis itu. “Sudah, pergi sana! Aku ini enggak apa-apa kok!” Sandra meyakinkan Raihan bahwa ia tidak apa-apa.
Tanpa berfikir panjang lagi pemuda berjaket coklat itu pun segera berlari menuju arah yang Sandra tunjukkan. Sambil menuju tempat yang Sandra tunjukkan Raihan terus berfikir dan tak mengerti, bagaimana bisa ia tertidur di tengah kekhawatirannya pada keadaan Una?
Ya ampun, mungkin ia memang sangat khawatir, juga lelah. Karena rasa lelah lebih dari empat jam berdiri di depan ruang operasi telah membuat dirinya ketiduran. Sudahlah, tak apa! Yang penting ia sekarang bisa merasa jauh lebih lega lagi karena ia akan melihat Una!
Pintu ruangan berkaca buram itu tertutup. Gordyn yang menutupi jendela dari dalam membuat Raihan kembali berfikiran yang tidak-tidak. Ada apa di dala? Kenapa gordynnya ditutup? Bukankah kacanya sudah buram?
“Masuklah Raihan, dari tadi Una tanyain kamu terus..” perintah sebuah suara.
Ketika dia menengok, mami Una dengan blus merah muda tengah berdiri di belakangnya. Ada satu cup kopi di tangan kanannya yang kemudian ia sodorkan pada Raihan. “Boleh diminum dulu, biar enggak gugup..” ujarnya dengan seulas senyum.
Ketegangan yang sedari tadi menggurat di wajahnya sudah hilang.
“Makasih tante..” Raihan menerima cup kopi dan menyesapnya sedikit. “Sa-saya masuk dulu ya tante?”
“Masuk saja, dia sendirian di dalam.. dia ingin bicara empat mata sama kamu..”
“Empat mata?”
“Iya..” pungkas mami Una sembari membukakan pintu untuk Raihan.
Setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi pemuda itu masuk ke dalam ruangan dan wangi aromatheraphy langsung memenuhi indera penciumannya. Ruangan rawat inap Una diberi wewangian yang bisa memberi energi positif serta semangat bagi yang menghirupnya.
Semoga berfungsi untuk Una.
“Raihan..” sapa Una terlebih dulu. Raihan tergagap.
Ia tak menyangka jika Una sudah duduk manis di atas tempat tidur, dengan pakaian khusus pasien dan juga berbagai selang ini itu yang menancap di kulitnya. Bagaimana bisa ia duduk setelah operasi cangkok jantung?
“H-hai.. hai Una.. ka-kamu enggak apa-apa?” tanya Raihan dengan gugup.
Una tersenyum dan menggeleng. Ia menggerakkan tangan untuk mengisyaratkan agar Raihan mendekat kepadanya. “Katanya kamu nungguin operasi aku sambil berdiri ya?”
Raihan menganggukkan kepala. “Lebih dari empat jam lho..”
“I-iya..”
“Kamu enggak pegal?”
“Aku cuma.. aku.. khawatir sama kamu..” jawab Raihan dengan kepala yang menunduk. Ia senang melihat Una bisa duduk setelah operasi, juga tidak terlihat lemah namun dalam penampilan fisiknya yang terlihat tak apa-apa, Raihan takut ada sesuatu yang sebenarnya tengah menanti.
“Terima kasih banyak Raihan, aku benar-benar tersanjung kamu begitu khawatir sama aku..” tutur Una.  “Yaa.. aku, aku juga merasa sangat tersanjung kamu merasa begitu..”
“Kenapa kamu bicara begitu?”
“Enggak.. aku cuma..”
“Tentang Januar? Kamu masih berfikir tentang dia? Tentang pancingan coklat itu? tentang kenangan aku sama dia?” berondong Una.
Raihan memberanikan diri untuk mendongak dan melihat ke dalam mata Una yang tengah menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ia artikan. “Una..”
“Ajak aku kencan Raihan.. aku mau kita nonton ke bioskop dan jalan di mall..” permintaan Una itu langsung membuat Raihan kaget setengah mati.
Gadis yang masih berstatus pasien rawat inap ini ingin pergi ke bioskop?
“Sekarang juga!”
“Eh! Jangan! Kamu.. kamu kan..” Raihan menjadi sangat kebingungan dan tak bisa berkata apa-apa lagi.
Ia hanya tercengang melihat Una yang langsung turun dari atas tempat tidurnya, lalu menarik berbagai selang dan alat bantu yang menempel di kulitnya. Raihan mencegah tapi Una menepisnya dengan tanpa suara.
“Una, kamu itu baru selesai operasi!”
“Aku enggak peduli. Aku mau ke bioskop sekarang dan aku mau kamu yang ajak aku pergi!” Una memaksa.
Dikenakannya sepasang sandal busa khusus pasien dan meraih mantel yang ada di dalam kamar. Entah mantel siapa, tapi sepertinya mantel wanita dan desainnya bagus. Mungkin milik maminya.
“Ayo pergi!”
“Una, aku enggak mau terjadi apa-apa sama kamu!”
“Kalau aku enggak pergi sekarang juga, aku akan apa-apa Raihan!!!” paksa Una dan membuat raihan langsung tercekat.
Mereka berdua saling menatap sejurus. Raihan bertanya-tanya dan Una yang mulai menangis.
“Oke, kita pergi.. tapi janji sama aku, kalau ada yang sakit kamu harus langsung beri tahu aku..” Una mengangguk dengan senyuman di bibirnya.
Raihan menarik nafas dalam-dalam, menahannya sesaat lalu menghembuskannya sekaligus. Ia akan melanggar peraturan yang bisa membahayakan nyawa Una. Tak seharusnya ia mengikuti permintaan Una yang gila ini.
Sesuatu yang buruk bisa saja terjadi.
Tapi entahlah, Raihan merasa bahwa apa yang telah ia sanggupi sekarang ini adalah suatu hal yang benar.
***
Dengan keajaiban mereka berdua bisa lolos dari penjagaan di rumah sakit, dari mami dan papi Una juga dari semua hal yang menyulitkan mereka. Entah seperti apa Una terlihat, tak ada yang curiga bahwa ia adalah seorang pasien yang kabur dari rumah sakit, baru operasi cangkok jantung pula. Tak akan ada yang percaya pula!
Sepasang kaki dengan sandal busa milik Una berjalan pelan di sebelah Raihan, saat Raihan melihat wajahnya, gadis itu tengah tersenyum senang. Pandangan Raihan beralih pada gaun tidur pasien di dalam mantel yang Una kenakan. Mantel itu membuat ia terlihat seperti mengenakan mini dress, ia tak terlihat seperti seorang pasien, asalkan saja tak ada yang melihat sandalnya saja.
“Jadi mau nonton apa? Filmnya begini semua..” tanya Raihan sambil menunjuk pada daftar film yang akan diputar saat itu.
Semua film yang akan diputar adalah film horor lokal, yang dibumbui adegan vulgar dan tak pantas untuk ditonton bersama dalam kencan pertama. Kalaupun memaksa, pasti akan tercipta suasana yang tak mengenakkan di antara mereka.
Ah bukan, ini bukan kencan pertama. Ini kencan kedua.
“Itu saja..” Una menunjuk sebuah judul film. Animasi anak-anak.
Kebetulan sekali film itu akan diputar lima belas menit lagi. Raihan segera membeli tiket dan menunggu hingga pintu teater dibuka. Dalam hati ia bersyukur, ada salah satu film bermoral yang bisa ia tonton bersama Una.
Semoga Una suka, semoga ia terhibur, semoga ia tertawa.. semoga ia cepat sembuh.
***
“Kamu lapar Una?” tanya Raihan, sesaat sebelum mereka berdua memasuki pintu teater.
Una menggeleng dan memeluk lengan Raihan dengan erat. Ia menoleh kemudian tersenyum, “Aku senang lho..”
“Eh,”
“Iya, dari dulu aku pengen nonton film sama kamu..” tutur Una dengan nada pelan, tapi ada kebahagiaan di baliknya.
Raihan tak menimpali kata-kata gadis di sebelahnya itu, hanya dalam hati saja ia berusaha keras untuk mencerna apa yang dimaksudkan oleh Una. Maksudnya mengatakan itu semua dan kenapa Una begitu ngotot ingin keluar tepat setelah ia selesai dioperasi.
Ia ingin menanyakan alasannya, tapi nanti saja. Sekarang ia ingin menyenangkan hati Una dengan bersama-sama menonton salah satu film animasi keluaran terbaru ini.
***
Fim selesai satu setengah jam kemudian dan Una sangat senang. Ia terus tertawa saat melihat adegan-adegan lucu di dalam film tersebut, Una juga terus mengomentari tokoh-tokoh yang ada di dalamnya.
Raihan hanya sesekali menimpali, ia terlalu terpesona dengan keceriaan yang Una tunjukkan padanya. Ia merasa tengah berada di dalam mimpi yang begitu indah, berada di dalam khayalan yang begitu nyata.
Una tertawa, ia bercerita dengan mata yang penuh cahaya. Una memang begitu rumit!
Ia bisa mengubah moodnya dengan sangat cepat. Dengan sangat tiba-tiba ia berubah dari Una yang meluap-luap dengan penuh emosi, menjadi Una yang penuh kelembutan.
“Kamu enggak kedinginan?” tanya Raihan setelah mereka keluar dari dalam bioskop.
Una mengeratkan mantel yang ia kenakan dan ia menggelengkan kepala. Tapi Raihan tak percaya, ia melihat tangan Una membiru, lihat bibirnya! “Kamu kedinginan Una! Ayo kembali ke rumah sakit!”
“Enggak! Aku enggak kenapa-kenapa!”
“Una! Jangan keras kepala! Ayo ke rumah sakit!”
“Aku cuma lapar.. ayo kita cari makan..” elak Una sambil memegangi salah satu tangan Raihan, ia menggigit bibir dan menggerak-gerakkan matanya.
“Yakin kamu enggak kenapa-kenapa? Kamu biru-biru lho, aku takut ada apa-apa..” ujar Raihan dengan nada yang khawatir.
Una menggelengkan kepalanya sambil terus tersenyum. Ia sangat ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak apa-apa. “Aku mau makan pasta..”
“Eh, jangan makan pasta.. makan nasi saja..”
“Aku mau pasta Raihan, mami selalu larang aku makan pasta..”
“Mami kamu larang makan pasta, berarti aku enggak bisa ajak kamu makan pasta..” Raihan berusaha untuk membujuk Una, ia tak mau lagi-lagi mengambil resiko dengan memberikan sesuatu yang telah dilarang oleh ibunya.
Bagaimana jika Una memiliki alergi pada salah satu bahan pembuat pasta? Atau pada bahan sausnya? Atau mungkin dia alergi keju? Bagaimana jika orang yang baru operasi pencangkokan jantung tak boleh makan pasta?
“Boleh yaa?” rajuk Una.
Raihan menatap gadis yang tengah menggelayuti lengannya itu dengan tatapan yang penuh kebingungan. Sudah tentu ia sangat ingin menyenangkan Una dengan mengabulkan apapun yang ia inginkan.
Akan tetapi jika pada awalnya saja Una sudah mengatakan bahwa ia tak boleh memakan pasta?
Sudah cukup mereka berdua kabur dari tempat dimana Una seharusnya berada, lebih dari satu jam di ruangan ber-AC dan sekarang mau memakan makanan yang dilarang? Ah ya ampun! Pilihan yang begitu sulit!
“Kamu enggak mau antar aku makan pasta ya Raihan?” sela Una tak sabar, nada suaranya begitu kecewa.
“Bukan begitu Una, maksudku.. aku cuma..”
“Aku cuma apa? Kamu enggak mau buat aku senang? Cuma sekali ini Raihan.. aku mohon..”
“Tapi Una, ini enggak sesimpel yang kamu bayangkan!” sangkal Raihan, ia tetap bersikeras dengan kekahwatirannya.
Una melepaskan pegangan tangannya pada lengan Raihan dan memalingkan muka. Ia menatap dinding koridor yang dipenuhi dengan berbagai macam poster film, tentu saja ia tidak berkonsentrasi pada gambar-gambar mencolok itu. Una tengah merajuk dan kecewa.
Raihan menghadapkan tubuhnya sampai mereka berdua berhadapan dan saling bertatap mata. Tapi Una menolak untuk berlama-lama menatap matanya, ia lebih suka untuk menunduk, menatap kakinya.
“Una, aku cuma khawatir.. “
“Iya,”
“Jangan marah..”
“Iya..”
“Una..”
“Iya!” Una ketus.
Raihan menghela nafas berat dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia meraih kedua tangan Una yang menggantung bebas di sebelah tubuhnya, menggenggamnya dengan lembut agar gadis itu mau menatap dirinya.
“Kita ke rumah sakit yuk? Aku mau kamu sembuh dulu.. nanti aku ajak kamu buat makan pasta sepuasnya..” ia berusaha merayu Una, berharap agar gadisnya ini mau mengerti dan mau mengikuti apa dikatakannya.
“Ini demi kamu Una..”
“Tapi bagaimana kalau misalnya ini hari terakhir aku di dunia?” sela Una dengan nada yang putus asa. Raihan tercengang. “Jangan bercanda Una, jangan ancam aku dengan hal seperti itu!”
“Aku enggak bercanda! Aku enggak ancam kamu! Aku serius Raihan!!” suara Una meninggi. Bibirnya yang masih berwarna biru terlihat menggigil, mungkin ia benar-benar kedinginan, atau karena ia terlalu marah.
“Jangan buat aku takut Una.. ayo kita ke rumah sakit, ayo sembuh dulu.. nanti kita jalan-jalan lagi..”
“Enggak Raihan, enggak. Aku sekarang justru takut kalau aku kembali ke rumah sakit, besok aku enggak bisa ketemu kamu lagi..”
“Kamu itu ngomong apa Una? Jangan buat aku semakin takut!”
“Ayo kita makan pasta!” Una tetap memaksa.
Raihan menelan ludah dengan mata yang terpaku pada wajah Una yang berubah warna. Sungguh, keadaannya saat ini membuat Raihan merasa apa yang Una ucapkan itu adalah benar adanya.
“Jangan bilang kalau kamu..”
“Ayo Raihan, aku mohon.. ini permintaan terakhirku..”
“Jangan! Jangan bilang kalau ini permintaan terakhir kamu! Aku akan ajak kamu makan pasta, tapi kamu janji kamu akan kembali ke rumah sakit, ikuti semua perawatan dan sembuh! Janji padaku Una!” Raihan mengeratkan genggamannya pada kedua tangan Una, menekankan kedua tangan itu ke dalam dadanya.
Una tak menjawab, ia hanya mencoba untuk tersenyum. Nampak jelas sekali jika bibirnya telah kelu, ia tak mampu tersenyum dengan lebar lagi.
“Una, kamu..”
“A-ayo Raihan.. aku mau pasta..” Una mengalihkan pembicaraan dan melangkahkan kakinya mengikuti lorong yang akan membawa mereka berdua keluar dari gedung bioskop.
Raihan tak berkata apa-apa lagi. Hatinya seakan begitu dingin dan mati rasa. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan saat ini!
Ia ingin menangis, tapi tidak! Jangan sekarang!
***
Pasta yang dipesan Una hanya diaduk-aduk dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk menggenggam jemari Raihan. Sejak tadi ia tak mau melepaskan genggamannya, ia tak mau sendirian.
“Aku takut sendirian Raihan,” ujarnya memecah keheningan. Betul bukan apa yang baru saja Raihan pikirkan? Una takut sendirian.
“Kan ada aku..”
“Tapi nanti?”
“Aku akan tidur di rumah sakit, aku akan terus temani kamu Una..” bukannya senang Una malah terlihat tambah sedih, wajahnya yang membiru nampak makin menyedihkan.
Hati Raihan terasa begitu sesak melihatnya. Bagaimana caranya agar Una mau tersenyum? Ia sudah berjanji dengan sepenuh hatinya dan ia memang akan melakukan apa yang telah ia janjikan!
“Aku takut aku enggak bisa lihat kamu tepati janji kamu itu Raihan..”
“Maksud kamu apa?”
“Maksud aku.. aku..” Una tak meneruskan kalimatnya, ia terlanjur menangis.
Ini adalah kali pertama Raihan melihat Una menangis dengan sesedih ini. Ia pernah melihat Una menangisi Januar, tapi tidak seperti ini! Tidak sesakit ini melihatnya!
“Raihan, asal kamu tahu.. aku-aku.. se-senang bisa pergi sama kamu..i-ini mimpi aku, mimpi yang selalu ingin aku wujudkan..” terbata Una mengucapkannya. Ia tetap menangis dengan bibir yang biru.
Raihan menelan ludah, entah untuk keberapa kali. Diremasnya tangan Una dengan kedua tangan, berusaha memberikan kehangatan pada gadis di seberangnya. Tapi nampaknya itu tak begitu banyak membantu.
Wajah Una semakin terlihat sedih dan kesakitan, tubuhnya menggigil dan pupil matanya menciut. “Una?!” seru Raihan panik sembari memburu tubuh Una yang terlanjur merosot dari kursi yang ia duduki.
***



Yuk baca Bagian 1 dan bagian-bagiannya di label Cerber!? Dijamin seru deh!

3 comments:

  1. Duh, Una...smoga raihan tabah ya...

    ReplyDelete
  2. Sabar ya, buat Raihan... :")))


    Bantu share ya, kak: Yang hobi baca buku maupun tidak, boleh minta waktunya sejenak untuk mengisi kuesioner singkat mengenai minat baca di Indonesia. Untuk data pendukung untuk program mengenai minat baca. Mau buku gratis? Ada 3 buku gratis 3 pengisi kuesioner terpilih. berikut link formnya >>> Http://goo.gl/forms/8QdMG7KvZS
    Jawaban kalian sangat berarti. Tolong bantu share lagi ya. =d

    ReplyDelete

Prive Uri-Cran Itu Solusi Anyang-Anyangan yang Betul. Bukan Minum Air Soda!

Prive Uri-Cran Itu Solusi Anyang-Anyangan yang Betul. Bukan Minum Air Soda! - Pernah dengar enggak sih kalau lagi sakit anyang-anyangan i...