Saturday, 3 October 2015

Cerita Bersambung Remaja : Drops of Love (bagian 8)

_8_
Menjauhi Una itu salah


***
Tiba-tiba saja Raihan merasa sangat rindu dengan tepian sungai dimana ia dan Una sering bertemu. Ia merindukan riak air, kecipak ikan dan juga rerumputan yang menjadi alas mereka duduk.
Tapi tentu saja yang paling ia rindukan adalah gadis yang berpakaian lusuh itu. Una.
Entah sedang apa dia sekarang, apakah dia tetap selalu datang ke tempat itu dengan membawa pancingan butut seperi milik Januar? Apakah Una akan tetap memancing sekalipun harus sendirian?
Raihan sangat merindukan Una.
Ia menyesali kelakuannya yang begitu jahat saat ia meninggalkan Una begitu saja. Ia meninggalkan Una ketika gadis itu datang langsung ke sekolahnya. Tanpa menanyakan kabarnya, tanpa berbasa-basi.
Una pasti sangat kecewa.
Karena penyesalan dan kerinduannya itulah sore ini Raihan kembali berjalan menyusuri tepian sungai, mengarah ke tempat dimana dirinya dan Una bersama. Siapa yang tahu Una tetap berada di tempat itu, menantinya, atau menanti bayangan Januar pun tak apa. Yang penting ada Una disana dan Raihan bisa puas melihat gadis itu.
“Eh, itu..” Raihan menghentikan langkahnya ketika melihat sesuatu yang menyangkut di tepi sungai.
Benda itu seperti ranting, tapi bentuknya lebih mirip sebuah pancingan sederhana daripada ranting. Ketika Raihan mendekat, ia pun semakin yakin bahwa benda itu merupakan pancingan yang sangat Una rindukan.
Pancingan Januar.
Raihan berjongkok dan mengamati pancing bambu itu dengan seksama. Bagian bawahnya menyangkut pada rerumputan yang ada di tepian sungai, hampir setengahnya juga sudah berlumut karena terendam air.
“Hmm, ada disini ternyata..” gumamnya sambil menarik pancing bambu itu.
Tak begitu sulit, tanpa tenaga ekstra ia sudah bisa mendapatkan pancing bambu kesayangan Una di tangannya. “Apa aku buang saja ya?” Raihan bimbang.
Ia menimbang-nimbang pancing bambu dengan hati yang ragu. Setengah dari hatinya mengatakan bahwa lebih baik jika ia melemparkan benda ini ke tengah sungai dan berpura-pura untuk tidak pernah menemukannya lagi.
Akan tetapi sebagian hatinya yang lain memaksanya untuk menemui Una dan menyerahkan benda yang begitu ia rindukan ini. Benda yang akan memuat semua kenangannya bersama mendiang Januar.
“Oke, aku bawa saja..” putus Raihan.
Ia lebih memilih untuk berbesar hati dan memberikan pancing pada Una. Harapannya hanya satu, agar Una bahagia. Tak masalah lagi jika misalnya Una tak memiliki perasaan apapun pada dirinya.
Tak apa. Mungkin Raihan memang tak pantas mendapatkan gadis itu, Raihan terlalu lemah untuk melindunginya.
***
Raihan terus berjalan menuju tempat dimana mereka berdua akan bertemu, pancing Januar di tangan kanan dan tangan kiri di saku. Tangan kirinya itu mengepal dan jemarinya saling meremas gugup.
Bagaimana bisa ia merasa begitu gugup sekaligus penasaran dengan ekspresi yang akan Una berikan ketika ia menyerahkan benda di tangannya ini. Semoga saja ia senang, hati Raihan akan sedikit terobati jika dia tersenyum.
 “Jangan kak! Jangan!! Nanti mamiku marah!!” jerit suara yang begitu Raihan kenal. Suara Una.
Dilihatnya gadis berpakaian lusuh itu tengah memperebutkan sebuah benda pipih dengan seorang lelaki berpakaian tak kalah kumal. Wajah lelaki itu keras dan ia nampaknya sangat berminat dengan smartphone yang Una bawa.
“Alaaaah! Hape colongan juga! Sini kasih gue!”
“Bukan kak! Ini punya aku! Jangan!!” Una menjerit ketika tangan hitam lelaki itu melayang di udara dan mendarat di pipinya.
Dada Raihan sesak melihat gadis yang ia sayangi itu terjatuh dengan pipi yang merah. Sementara lelaki yang sudah berani memukul Una nampak sangat puas karena smartphone itu sudah berada di tangannya.
“Sial!” dengus Raihan sambil mempercepat langkahnya. Ia berlari dan menerjang lelaki berpakaian kotor itu.
Berani sekali dia memukul Una!
“Eh apa ini?!” lelaki itu tak terima. Ia segera bangkit dan langsung melayangkan tinjunya ke arah Raihan.
Refleks Raihan mengelak dan ia menahan tangan lelaki itu, dengan sekali tarikan ia membuatnya jatuh tersungkur mencium rumput. “Berani lo!?” hardik lelaki itu sembari bangkit dan kembali melayangkan tinju.
Raihan mengelak lagi, entah kekuatan dari mana ia mengangkat tinjunya dan menyarangkan tinju itu tepat di rahang brewokan milik lelaki itu. Dia terhuyung ke belakang dan meludah darah.
Nafasnya terlihat naik turun, matanya merah marah tapi ia tak membalas. Ia langsung berbalik dan berlari pulang.
“Raihan! Kamu enggak apa-apa?!” seru Una sambil memeluk Raihan dari belakang dan membalikkan tubuhnya untuk melihat keadaan Raihan.
“Apanya yang sakit? Apa? Tadi kena enggak?” tanya Una sambil menyentuh wajah Raihan. Kemudian beralih memegangi lengannya, Raihan menahan tangan Una.
“Kamu sendiri? Kamu enggak apa-apa?” Raihan balik bertanya dengan sebelah tangan yang mengusap pipi Una.
Masih bersemburat merah dan terlihat masih sakit. Tapi gadis itu tak mengeluh, ia malah tersenyum sambil meletakkan tangan kanannya di atas tangan Raihan yang masih mengusap pipinya. “Aku enggak apa-apa.. enggak sakit kok..”
“Bener? Tapi kok merah begini..”
“Enggak, sumpah!” Una mengacungkan jarinya membentuk swear. Raihan pun tersenyum, dan langsung menarik tangannya.
Ia baru sadar bahwa tak seharusnya ia menyentuh Una. Ya, tahu bukan? Una menyukai orang lain.
Untuk menghilangkan kecanggungan Raihan memungutkan ponsel pintar Una yang tergeletak di rumput, tak jauh dari tempat mereka tengah berdiri saat ini. Raihan menggerakkan jarinya di atas layar ponsel dan menyalakan benda itu.
“Masih menyala, syukur deh! Aku fikir handphonenya mati..” ujar Raihan mengucap syukur sembari menyerahkan benda itu kepada pemiliknya.
Una menerima smartphone dengan senyum tipis. Ia melirik Raihan dengan ujung matanya dan berterima kasih. Raihan hanya mengangguk sedikit dan memalingkan muka, berpura-pura asyik melihat aliran sungai yang masih sama seperti saat terakhir kali ia berada di tempat ini.
Raihan teringat pancing milik Januar yang baru saja ia temukan, tadi ia melepaskannya ketika menerjang lelaki yang merampas ponsel Una. “Eh, dimana ya tadi?” tanya Raihan pada dirinya sendiri.
“Cari apa?” Una mendekat.
“Cari.. ini..” jawab Raihan sambil mengangkat pancing bambu yang ia cari. “I-itu..”
“Yaa, ini pancing kamu.. dari Januar..” sambung Raihan dengan nada lemah.
Ada secuil rasa kecewa di dalam hatinya melihat sorot bahagia di dalam mata Una. Padahal sejak ia memutuskan untuk memberikan pancingan ini kepada Una, Raihan sudah menguatkan hatinya jika kemudian Una begitu bahagia karena bisa kembali mengulur kenangan bersama mendiang Januar.
Tapi ternyata tetap saja rasanya menyakitkan.
“Darimana kamu dapat ini? Kan sudah hanyut..”
“Ehm, menyangkut..”
“Oh.. boleh aku..”
“Ah, iya iya.. tentu! Ini punya kamu..” Raihan menyodorkan pancing bambu di tangannya ke Una. Gadis itu menerimanya dengan kedua tangan dan ia tersenyum.
“Enggak kusangka pancingan ini masih bisa kupegang..” ujarnya pelan.
Raihan hanya menggumam tak jelas untuk menyahuti kata-kata Una. Ia masih sibuk dengan perasaannya sendiri yang tak karuan. Antara senang dan menyesal. Senang karena ia bisa membuat Una merasa sangat bahagia, tapi menyesal karena Una bahagia karena Januar.
“Eh iya Raihan, aku penasaran sama sikap kamu seminggu belakangan.. kamu kenapa sih?” celetuk Una, membuyarkan lamunan.
Raihan tergagap dan menelan ludah berkali-kali. Lidahnya terasa sangat kelu dan kerongkongannya terasa begitu panas. Ia tak tahu harus menjawab apa, ia tak bisa berterus terang tentang alasannya bersikap seperti itu pada Una. Bisa-bisa dia marah karena Raihan sudah lancang menyukainya.
“Kenapa Raihan? Kamu kesal sama aku?”
“Eh! Enggak kok! Aku enggak kesal! Aku cuma.. aku.. ehm.. aku cuma..” kegugupan Raihan semakin menjadi.
Apalagi Una malah semakin mendekat dan menatapnya dengan pandangan yang sangat penasaran. Gadis itu seakan-akan ingin membongkar semua yang ada di dalam kepala Raihan. Ingin mengeluarkan semua yang dirahasiakan temannya itu.
“Raihan, kamu aneh deh..”
“Eh, apa?”
“Kamu aneh..” ulang Una. Matanya masih melirik Raihan, yang dilirik semakin kecewa.
“Yaa.. aku memang aneh..” dia malah menjadi putus asa.
Una semakin mendekat dan menyentuh lengan Raihan, pemuda itu mendongak lalu tersenyum tipis. “Maaf ya, aku pasti selalu bikin kamu hilang feeling.. enggak kayak Januar..”
“Maksud kamu?”
“Yaa.. aku aneh, aku cengeng.. aku enggak bisa jadi cowok sejati kayak Januar..” tutur Raihan.
Mungkin karena hatinya sudah mentok dan yakin tak bisa mendapatkan simpati Una. Una menyebutnya aneh, berarti dia sama sekali tak menyukai Raihan bukan? Sepertinya ini adalah saatnya Raihan untuk menjauhi Una, juga harus menghentikan perasaan yang selama ini ada di dalam hatinya untuk gadis itu.
Una yang unik, juga menarik. Una sangat rumit dan lelaki cengeng seperti Raihan sama sekali tak pantas menjadi kandidatnya.
“Kenapa kamu ngomongnya begitu sih?”
“Enggak..”
“Raihan!”
“Apa?” Raihan menjawab dengan wajah yang berpaling. Una berpindah ke hadapan Raihan, lalu menarik dagunya agar dia mau melihat Una.
“Kenapa sih?”
“Aku enggak kenapa-kenapa!” elak Raihan sambil mundur beberapa langkah dan ia pun bisa mendapatkan jarak dari tubuh Una. Ia bisa bernafas dengan sedikit lebih lega.
Merasa kesal Una pun menyerah. Ia sekarang mendaratkan pantatnya di atas hamparan rumput, menatap aliran sungai dan memungut beberapa kerikil lalu melemparkannya ke tengah sungai.
Raihan merasa salah tingkah. Ia tak mau melihat Una kembali merasa kecewa, tak mau melihat Una kesal, apalagi sedih. Tapi ia tak bisa mengatakan apa yang sebenarnya karena ia takut jika Una akan tersinggung.
“Una..” panggil Raihan.
Gadis itu menoleh sekilas, lalu kembali asyik dengan kerikil-kerikil kecil yang ia lemparkan ke tengah sungai. Dia cemberut dan nampaknya sangat kesal pada Raihan, dia tak mau memulai pembicaraan lagi. Percuma.
“Maaf,”
“Maaf untuk apa” Una ketus dan Raihan tercengang. Ditelannya ludah untuk membasahi kerongkongan yang kering. Sekaligus mencari jawaban yang bisa membuat Una tak ketus lagi padanya.
“Eh, iya! Kelomangnya masih ada?” tiba-tiba saja kedua kelomang bercangkang biru itu melintas di benak Raihan.
“Masih. “ Una makin ketus.
“Yaah, Una.. maaf.. kamu enggak tahu sih apa yang sebenarnya..”
“Ya karena itu kamu ngomong sama aku! Kamu enggak ngasih tahu aku!” gadis itu setengah berteriak pada Raihan. Wajahnya masih cemberut.
Raihan menghela nafas dengan berat, lalu memutuskan untuk duduk di atas rumput. Bukan di sebelah Una, melainkan di belakangnya. Ia tak mau melihat wajah Una yang cemberut padanya. Ia merasa sangat bersalah.
Una menoleh ke belakang, dahinya berkerut. “Kenapa duduknya disitu?”
“Enggak..”
“Ah kamu enggak-enggak terus! Kamu enggak suka sama aku? Kamu benci sama aku? Kamu enggak mau temenan lagi sama aku?” tanya Una beruntun. Nadanya pun tinggi.
Raihan gelagapan. Ia tak tahu apa jawaban yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan Una. Mengerjakan seratus soal teorema phytagoras jauh lebih mudah daripada menjwab Una.
“A-aku.. aku..”
“Aah! Sudah! Pokoknya aku benci sama kamu Raihan!!” teriak Una frustasi. Ia bangkit dengan kaki yang menghentak tanah.
Secepat kilat Raihan menarik tangannya, menahan Una agar tak pergi meninggalkannya. Tidak sebelum Raihan mengatakan apa yang seharusnya ia katakan sejak dulu.
“Aku suka sama kamu Una.” Ucapnya tegas.
Una tak menyahut, juga tak memprotes. Ia hanya menatap Raihan dengan tatapan yang bingung, mungkin sedikit senang juga. Tapi Raihan tak mau geer, sorot bahagia itu sedikit sekali di dalam mata Una.
“Sejak aku kenal kamu, aku suka kamu. Kamu unik, kamu beda.. kamu rumit Una..”
“Ehm, terus?”
“Yaa, aku-aku fikir kamu juga suka sama aku karena kita selalu bersama dan cerita banyak hal.. tapi aku salah..” sekarang Una menghadapkan tubuhnya ke arah Raihan dan membuat nafas pemuda itu sesak. “Memangnya kenapa?” tanya Una bingung.
“Karena kamu tetap suka sama Januar. Dia cowok yang paling kamu suka. Dia cowok sejati yang bisa miliki kamu..”
“Darimana kamu tahu?” hati Raihan mencelos mendengar Una menanyakan itu. Pertanyaan yang ia lontarkan seakan-akan telah menegaskan bahwa kesimpulan Raihan itu memang benar.
Mata Raihan mulai terasa panas, hidungnya pun mulai terasa pedih lagi. Tapi sekuat tenaga ia menahan diri agar tanggul air matanya tak bocor dan ia menjatuhkan harga dirinya di depan Una.
Baik atau buruk, suka atau tidak. Ini adalah penyelesaian perasaan yang tengah menyiksa Raihan saat ini. Dikepalkannya tangan dan ia menarik nafas dalam.
“Karena kamu tetap simpan semua kenangan Januar. Kamu pakai baju lusuh agar tetap dekat dengan dia, kamu nangis tiap ingat dia, kamu juga senyum saat ingat Januar..”
“Memangnya salah kalau aku tetap pelihara kenanganku? Semua kenangan itu berharga Raihan.” Una nampak tak terima dengan apa yang telah Raihan katakan.
“Yaa, memang. Tapi buat aku yang suka sama kamu dan mikir kalau kita itu dekat.. rasanya sakit banget Una..” Raihan menggantung kalimatnya, disempatkannya untuk menatap kedua bola mata Una.
Ditahannya emosi yang mendorong tanggul air mata sekuat tenaga. Ia tak boleh menangis, setidaknya sampai Una benar-benar paham dengan perasaan Raihan!
“Puncaknya saat kamu ingin pancing cokelat itu Una..”
“Lho, memangnya kenapa?”
“Karena pancing itu mirip dengan pancing Januar bukan? Kamu enggak suka pancing yang aku berikan.. karena itu kamu ingin pancing yang lain..”
“Ta-tapi Raihan..”
“Enggak Una. Aku.. aku cuma mau minta maaf kalau selama ini aku sudah coba masuk ke dalam hidup kamu, mencoba masuk ke dalam hati kamu..”
“Aku enggak tahu kalau Januar ternyata sangat kuat dalam hati kamu.” Raihan mencoba tersenyum dan ia berhasil.
Tapi senyumnya sama sekali tak tulus. Raihan terlihat seperti seringaian seorang yang sudah berada di ambang putus asa, tinggal sodorkan segelas cairan anti serangga dan ucapkan selamat tinggal.
“Raihan.. kamu tahu kalau aku..”
“Sudahlah Una.. aku cuma mau minta maaf kalau aku sudah  ganggu kamu..”
“Kenapa kamu ngomong begitu? Kamu mau tinggalin aku?” tanya Una dengan suara yang bergetar.
Sepertinya Una juga tengah merasa desakan emosi pula di dalam dirinya, ia terlihat sangat kecewa dan salah tingkah. Raihan bisa melihat dengan jelas jika Una sekarang menatapnya dengan tatapan yang sangat sedih.
“Aku pulang ya Una..”
“Raihan!”
“Sampai jumpa ya Una.. maaf..” Raihan melepaskan pegangannya pada tangan Una. Tapi sekarang gadis itulah yang menarik tangan Raihan agar ia tetap berdiri di hadapannya.
“Jangan pergi Raihan.. aku mohon..”
“Enggak Una.. aku enggak bisa.. maaf..” dan perlahan pegangan tangan Una melemah, sampai tangan Raihan terlepas.
Pemuda itu pun melangkahkan kakinya menjauhi Una, menjauhi bantaran sungai yang membuatnya mengenal Una. Mengenal seorang gadis paling rumit yang telah membuat dia merasakan patah hati.
Untuk pertama kalinya.
***
Setelah mengutarakan perasaannya pada Una, hati Raihan tak menjadi lebih baik. Ia malah merasa makin bersalah dan makin kecewa. Ia tak merasa bahwa hatinya menjadi lebih lega, ia malah merasa sangat sesak karena ia malah meninggalkan Una begitu saja!
“Kenapa aku jadi khawatir begini ya sama Una?” gumam Raihan sambil meletakkan handuk di sandaran kursi.
Ia baru saja mandi dan berganti pakaian, rencananya setelah ini Raihan akan mengerjakan tugas sekolahnya. Ada tugas Fisika dan juga Kimia, selain itu ada tugas kesenian yang harus dikumpulkan besok dan belum sedikit pun ia garap.
Tugas kesenian, lagi-lagi membuat fikiran Raihan terpaku pada Una. Prakarya Sascha dibuatkan Una, sekalipun akhirnya rusak karena terkena hujan namun kejadian itu telah membuat raihan selangkah menuju jiwa lelaki sejati.
Ia tak menghindar saat Bambang memukulinya. Ia tidak menyerah dan kabur, ia menghadapinya demi harga diri. Demi kebanggaan Una.
Ah rasanya Raihan lebih suka masa-masa itu. Masa dimana ia dulu tak memiliki fikiran apapun pada Una, begitu pula gadis itu. Masa dimana ia tak memiliki harapan lebih pada Una dan bisa santai berteman dengannya.
Ia tak perlu takut jika Una mencintai orang lain, tak perlu merasa cemburu dengan kenangan masa lalunya. Fikiran Raihan terpecah saat bunyi ringtone handphonenya terdengar memenuhi kamar. Sandra menelpon.
“Iya Sandra.. kenapa?” tanya Raihan langsung sesaat setelah mengangkat telpon.
“Una masuk rumah sakit.” Sandra menjawab dengan pendek. Ia nampaknya sangat tegang karena suaranya terdengar begitu tegas.
Raihan mengerutkan dahi, ia menelan ludah dan menghela nafas beberapa kali. Sesaat ia merasa panik luar biasa, tapi kemudian ia merasa bingung. Bagaimana bisa Sandra tahu keadaan Una? Bukankah mereka berdua belum pernah bertemu?
“Dari mana kamu dapat kabar itu?”
“Tadi maminya telpon aku. Katanya kalau kamu mau kamu bisa datang dan jenguk Una. Kasihan dia di ICU..” tutur Sandra.
Kalimatnya meluncur begitu saja sampai ke dalam dada Raihan, menusuk jantungnya dan membuat dirinya merasa tak lagi menapak bumi. “Ke-kenapa dia bisa tahu nomor kamu?”
“Pas kamu tinggalin dia di depan sekolah, aku dan Wawan ngobrol banyak sama dia.. kami tukeran nomor ponsel..” jawab Sandra.
Hati Raihan pun merasa sangat nelangsa. Ia memang sudah berkali-kali melakukan hal buruk kepada Una. Ia berkali-kali membuat Una terlihat sedih, semua itu karena raihan egois dengan dirinya sendiri!
“Raihan, kamu masih disitu?”
“Ah, i-iya! Aku masih disini! Dimana Una dirawat?”
***
Dengan kecepatan penuh Raihan memacu sepeda motor milik kakaknya menuju rumah sakit jantung yang Sandra sebutkan. Ia tak mau membuang waktu sedikit pun yang akan membuat dirinya menjadi semakin jauh dengan Una. Apalagi saat dia tengah kritis seperti saat ini!
Una tak boleh dibiarkan sendiri lagi.
Apapun yang akan terjadi, sepahit apapun. Sekalipun hati Una tak bisa Raihan miliki, tapi setidaknya Raihan bisa mencintai Una  dengan caranya sendiri.
Mencintai itu tak harus selalu memiliki.
Itu kalimat andalan mereka yang tak mampu meraih cinta yang diinginkannya. Tapi memang begitu keadaannya. Raihan memang tak bisa meraih cinta Una. Raihan tak bisa membuat cintanya bersambut.
Tapi siapa peduli?
***




No comments:

Post a Comment

Prive Uri-Cran Itu Solusi Anyang-Anyangan yang Betul. Bukan Minum Air Soda!

Prive Uri-Cran Itu Solusi Anyang-Anyangan yang Betul. Bukan Minum Air Soda! - Pernah dengar enggak sih kalau lagi sakit anyang-anyangan i...