Sunday, 25 October 2015

Cerber Romantis : Broken Hearted Chocolate (TAMAT)





Sekarang sudah tanggal empat belas. Kania sudah sibuk dengan berbagai persiapannya untuk makan malamnya bersama sang editor bulletin kampus.
Semua acara bertemakan cinta. Acara di TV, film-film di bioskop, peluncuran novel bertemakan cinta dan berbagai dekorasinya. Dari mulai pintu masuk mall hingga pintu masuk toilet pun dihiasi dengan balon bentuk hati ataupun bunga mawar. Cokelat-cokelat di supermarket didiskon hingga 70% untuk ikut menyemarakkn suasana. Agar semua gadis-gadis yang mendewakan valentine bisa menghemat anggaran untuk membeli coklat yang biasanya lumayan mahal dan memberikannya pada pacar masing-masing. Tapi aku sudah memiliki valentineku sendiri, ibu.
Aku memiliki hadiah valentine dan hadiah ulang tahun paling berharga seumur hidupku tahun ini. Aku memiliki ibu.
Rencananya malam ini aku dan ibu akan makan malam berdua. Menikmati malam yang penuh kasih sayang dan kembali merajut kehangatan yang sempat hilang diantara kami selama ini.
Tapi sudah satu jam berlalu ibu belum juga sampai di restoran. Bokongku sudah terasa pegal dan membengkak menunggunya seperti ini. Kenapa ibu lama sekali? perutku sudah kembung dengan minuman yang aku pesan. Aku jadi keburu kenyang deh, padahal tadi aku berencana untuk makan sepuasnya di restoran ini.
Menyesal aku tidak ikut ke salon dulu bersama ibu, katanya ibu ingin berdandan dengan cantik di malam ini, agar semakin spesial. Kukira tak akan selama ini.
“Tluk.” Coklat di dalam kotak mika diletakkan di depanku. Aku langsung mengenali bentuk coklat itu sebagai bentuk coklat yang pernah kuberikan pada Andra.
Bentuk kepala beruang dengan dasi kupu-kupu berwarna merah.
Dipikir-pikir coklat dengan bentuk seperti itu sama sekali tidak romantis ya? Malah mungkin mengerikan. Pantas saja Andra langsung membuangnya.
Aku mendongak menatap orang yang memberikan coklat itu. Andra. Persis seperti dugaanku. Ia mengenakan kemeja yang rapi dan celana pantaloon. Tinggal menambahkan dasi kupu-kupu berwarna merah dan ia akan terlihat seperti beruang di cetakan coklat itu.
“Habis dari kondangan?” tanyaku iseng. Senyuman sinis tersungging di bibirku. Padahal dalam hati aku mengakui bahwa ia sebenarnya terlihat tampan dalam balutan setelan resmi ini.
Andra memamerkan senyuman. Yang tak berbeda dengan senyuman yang kulihat saat kelas satu SMA dulu. Namun bedanya dulu dia berjerawat dan gemuk. Aku menyukainya karena ia sama-sama dijauhi seperti aku. Kami sempat bicara banyak dan dia asyik diajak ngobrol. Kuberanikan diri memberikan coklat dan untuk kesekian kalinya aku katakan kalau dia membuangnya. Yang membuatku semakin sakit hati adalah karena ia mengembel-embeli kelakuannya itu dengan kata-kata bahwa aku ini adalah satu-satunya gadis keturunan alien dengan kulit yang hijau dan paling aneh yang pernah ia ajak bicara.
“Enggak. Ini special untuk malam ini… aku ada date!”
“Oh, mana ceweknya?” tanyaku penasaran, iri juga. Padahal kan kemarin dia mengajakku keluar di malam valentine. Eh tak tahunya dia langsung mendapatkan pengganti. Kulirik coklat di hadapanku, beruang itu masih tersenyum.
“Kenapa kamu ngasih coklat ini? Ngejek?”
“Enggak, ini buat kamu kok.”
“Aku enggak mau cokelat. Kasih saja sama date kamu.”
“Buat date aku sih ada ini..” timpal Andra sambil meletakkan sekotak kue coklat yang sama persis dengan kue coklat dalam foto. Aku menelan ludah. Aku takut pengirim surat itu ternyata memang Andra.
“Kamu sudah baca surat dari aku?” Glek!
“Surat apa? Kayak zaman penjajahan saja pakai surat-suratan..”
“Ya surat yang bilang kalau aku mau bikin kue buat kamu valentine malam ini..” glek! Glek lagi! Ternyata memang Andra!
Kuedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan, mencari benda-benda mencurigakan yang berisi kamera pengintai dari salah satu acara jahil di televisi swasta. Kutatap satu per satu tas tangan milik para gadis yang tengah makan malam bersama pacar masing-masing di sekelilingku. Semuanya kecil-kecil dan tak mungkin bisa diisi kamera. Ah, mungkin di buket bunga? Atau di tempat lain.
“Kamu nyari apa sih?” tanya Andra penasaran, ia duduk tanpa dipersilahkan di seberangku.
“Nyari kamera. Siapa tahu kamu lagi isengin aku..” jawabku jujur dan membuat Andra tertawa renyah. Tiba-tiba saja ia menggenggam tangan kananku, membuatku refleks menarik tanganku namun Andra menggenggamnya dengan erat. Kupelototi dia dan kuminta melepaskan tanganku, akan tetapi dia malah menatap wajahku sambil tersenyum.
“Aku minta maaf Dinda. Izinkan aku buat valentine kamu penuh warna.”
“Enggak usah! aku punya ibu dan mulai saat ini hidupku sudah berwarna. Kamu enggak perlu repot-repot!”
“Tapi valentine kamu masih abu-abu. Belum ada warnanya. Beneran kamu enggak mau buat valentine kamu jadi lebih indah? Dua orang alien juga bisa membuat valentine yang berwarna lho!”
“Iya, jadi hijau! Valentinenya jadi go green! Sudahlah! Kamu bikin aku kesal. Cari saja cewek lain yang belum pernah kamu kata-katain aneh!”
“Enggak! Aku maunya sama kamu!” Andra ngotot. Aku melotot.
“Kenapa? Kamu enggak laku gitu?” Andra menggeleng dengan wajah yang dipoles-poloskan, entah memang polos beneran.
“Sebenarnya sejak aku berubah jadi cakep begini banyak cewek yang nembak.. tapi aku terus kepikiran kamu Dinda..” akunya membuatku mencibir dengan keras.
“Izinkan aku untuk lanjutin kata-kataku dulu ya Dind?”
“Ckk. Apa lagi sih? aku kan enggak nyela kalimat kamu! Silahkan saja ngomong sampai berbusa!” bentakku kesal. Aku tak mau menunjukkan bahwa aku mulai terbawa suasana dan penasaran dengan apa yang sesungguhnya ingin Andra katakan padaku.
“Maksudku dulu itu.. dulu pas kita SMA..” sebodo amat. Dengusku.
“Kamu adalah satu-satunya cewek aneh dan antisosial yang pernah aku temui.. juga satu-satunya yang pernah kusukai.”
“Hey! Enggak ada kalimat itu dulu!!”
“Iya, karena kamu keburu pergi sambil menangis.”
“Suruh siapa ngomongnya kayak begitu? Siapapun pasti akan terhina dan nangis! Termasuk aku yang antisosial ini. Apalagi coklatnya kamu buang begitu!”
“Eh, aku enggak buang! Coklatnya jatuh!”
“Bohong!!” Andra menarik tanganku dan meletakkannya tepat di jantungnya. Kuraskan sesuatu di balik kemeja juga kulitnya berdegup-degup dengan kencang.
“Emangnya kamu enggak lihat waktu itu aku gemetar sepeti ini? Enggak lihat wajahku pucat seperti sekarang? Itu adalah pertama kalinya seseorang ngasih coklat valentine buat aku dan aku merasa sangat bahagia! Apalagi orang itu orang yang aku suka.” Aku diam,
“.. dan ini kali pertama aku bilang suka sama seseorang..” pungkas Andra, nadanya pelan dan lembut. Namun tegas. Aku menelan ludah dan kehabisan kata-kata. Aku tak yakin apa yang ia katakan itu benar atau hanya mempermainkanku. Jika memang dulu ia benar-benar menyukaiku, dia akan menjelaskan semuanya padaku dan tidak pindah.
“Aku enggak percaya. Kamu pasti bohong..”
“Kamu enggak percaya Dinda? Apa yang harus aku berikan agar kamu percaya sama aku?” aku tak menjawab.
“Kamu mau coklat? Aku akan berikan coklat apapun yang kamu mau Dinda! Atau kamu mau..”
“Jangan beri aku cokelat! Beri aku cinta!!!” selaku cepat, dan sambil menangis. Air mata lagi-lagi melengkapi suasana hatiku yang tak karuan. Melihatku menangis dengan tiba-tiba Andra bangkit dari duduknya dan berlutut di sebelahku, menarik tanganku agar menghadap kepadanya dan kuturuti keinginannya.
Andra mengusap air mataku dengan lembut dan meletakkan tangannya itu di pipiku,
“Aku akan memberikannya. Berikan aku kesempatan..” bukannya reda air mataku malah semakin deras. Andra menjadi salah tingkah dan tak tahu harus berbuat apa. Apalagi pengunjung restoran kini memperhatikan kami berdua.
“Jangan nangis Dinda.. ada yang salah? Maaf.. aku-aku enggak bermaksud..”
“Enggak! Aku cuma takut kalau ini bohong. Aku bahagia sekarang dan aku takut nanti semuanya berakhir!” Andra memeluk tubuhku. Dengan posisinya yang berlutut pun ia bisa merengkuhku, ia sangat tinggi, lengannya kokoh dan sangat hangat.
“Aku enggak akan bohong Dinda. Aku janji.. setiap hari kamu akan menjadi seindah valentine..” kutatap matanya dan kutemukan ketulusan.
“Makasih.. by the way.. ini ulang tahunku lho..“ Andra meraih tanganku dan mengecup punggung tanganku dengan lembut,
“Happy birthday princess..” ucapnya dan seisi ruangan bertepuk tangan untuk kami. Persis seperti saat menonton drama romantis di teater. Kutangkap sosok ibu di sudut ruangan, ikut bertepuk tangan sambil menghapus air matanya. Sepertinya ibu dan Andra bersekongkol untuk semua ini.
Nanti saja aku protesnya, sekarang aku ingin menikmati saat romantis pertamaku bersama Andra. Cinta lamaku. My handsome alien..
Tamat.

Simak cerber ini dari bagian satu disini ya --> Cerita Bersambung 
Eh terus numpang nupang ya tolong di like, share, subscribe book trailer novel BELAHAN JIWA:

No comments:

Post a Comment

Waspada Difteri. Begini Bentuk Cinta Saya Sama si Semata Wayang

Difteri. Belakangan ini ramai banget dibincangkan, apa sih yang dimaksud dengan difteri? Difteri tak lain adalah infeksi bakteri yang p...