Thursday, 22 October 2015

Cerber Romantis : Broken Hearted Chocolate (bagian 4)


nuniekkr.blogspot.co.id



“Gimana Dinda? Ketemu sama anak baru di fakultas kamu?” tanya Kania yang sudah muncul di jendelaku.  Aku tidak menjawab, aku lebih suka membenamkan kepalaku pada bantal dan menangis tanpa suara.
Kurasakan Kania duduk di sebelah tubuhku dan menyentuh bahuku lembut.
“Kenapa?” tanyanya pelan. Aku masih tak menjawab. Aku tak perlu menjelaskan apa yang terjadi kepadaku saat ini. Biar saja, tokh nanti aku akan lupa sendiri.
Bosan menunggu jawaban dariku Kania merebahkan tubuhnya tepat di sebelahku, tanpa mengganggu kenyamananku. Tempat tidur ini memang cukup luas untuk ditiduri oleh lebih dari dua orang.
“Dinda, kamu tahu enggak? Aku dan kamu itu punya banyak kesamaan..” akunya dengan nada suara yang lemah. Kuangkat mukaku yang basah oleh air mata dan menoleh kepadanya. Namun saat ia juga menoleh kepadaku aku kembali membenamkan mukaku pada bantal.
“Kita berdua sama-sama memiliki keluarga yang enggak lengkap, aku dijauhi yang lain karena kikuk dan yaa katakanlah orang aneh. Kamu pun bilang kalau kamu juga dijauhi.. tapi aku enggak pernah ngerasa kalau aku sendirian. Aku punya sahabat yang bisa membuat aku seakan memiliki seluruh dunia..” sekarang aku benar-benar menatap wajahnya dengan lekat. Memahami maksud dan arah pembicaraan yang ia katakan kepadaku. Kania balas menatapku dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
“Dinda, kamu jangan pernah nangis sendirian.. kan ada aku. Kita berdua sahabat kan?” aku tertawa dengan air mata yang masih meleleh di kedua kelopak mataku mendengar kalimatnya yang terakhir. Kusampirkan lenganku pada pundak Kania yang masih berbaring di sebelahku,
“Iya, aku enggak bakalan nangis sendirian lagi. Aku pasti bakalan cerita sama kamu dan nanti kita nangis bareng-bareng ya?” Kania mengangguk sambil tertawa juga. Aku tengah bersiap untuk mengatakan apa yang membuatku menangis ketika pintu kamarku terbuka. Ibu muncul dari balik pintu.
“Ada yang nyari kamu Dinda..”
“Siapa?” tanyaku tanpa memandang ibu.
“Laki-laki..”
“Om Iwan? Aku enggak mau ketemu bu. Bilang saja aku tidur.”
“Dinda! Apa kamu enggak bisa lebih sopan sama ibu? Kenapa kamu jadi seperti ini sih? kapan kamu mau ngertiin ibu? Ibu ingin bahagia Dinda! Kamu jangan egois!!” dengan sekali sentakan aku terbangun dan menghadapkan tubuhku pada ibu. Kutatap matanya dengan penuh kekecewaan, gigiku gemeletuk menahan amarah.
“Ingin bahagia? Aku jangan egois? Memangnya aku enggak mau bahagia bu? Memangnya ibu enggak egois?”
“Kamu enggak ngerti Dinda!”
“Aku bicara karena aku ngerti bu. Apa ibu enggak sadar selama ibu mencari kebahagiaan diluar sana, dengan semua teman bisnis itu.. ibu sudah membuat hidup aku begitu sepi bu, aku benar-benar kesepian. Aku enggak merasa bahagia lagi. Aku merasa hanya ada aku saja di dunia ini. Kalau aku boleh memilih, aku lebih menghormati Kania daripada ibu. Dia yang selalu ada untukku, bukan ibu.” Wajah ibu memerah. Menahan marah. Mungkin ia tersinggung, tapi sudahlah. Tanggung! Aku harus memberi tahukan semua ini kepada ibu. Aku tak  tahan lagi!
“Tapi ibu mencukupi semua kebutuhan hidup kamu Dinda.”
“Iya, dan aku sangat berterima kasih. Tapi aku lebih membutuhkan kasih sayang ibu diatas segalanya..” pungkasku. Ibu terdiam, menunduk dan tidak menjawab apapun.
“.. teman kamu menunggu di depan Dinda..” hanya itu yang keluar dari bibirnya. Setelah mengucapkan kalimat itu ibu pergi.
“Dinda..” panggil Kania sambil meletakkan tangannya pada bahuku, aku menengok dan tersenyum. Menunjukkan bahwa aku tidak apa-apa.
“Aku ke depan dulu ya? Nanti aku balik lagi..” Kania mengangguk dan menatapku yang keluar kamar.
Aku berjalan cepat menuju pintu depan, kulihat seorang pembantu yang tengah membersihkan semua isi lemari pajangan. Aku lupa kalau hari ini adalah hari bersih-bersih. Tiga orang pembantu yang membersihkan rumah pasti sudah datang semua.
“Neng,” sapanya sopan. Aku membalas sapaannya dengan senyuman dan segera kulanjutkan langkahku menuju pintu depan. Menemui tamuku, untuk pertama kalinya. Selama aku hidup memang tak pernah ada orang yang ingin menemuiku, seorang alien dengan kulit hijau dan gigi kelinci yang besar. Andra yang mengatakan itu padaku. Padahal wajahnya sendiri aneh dengan banyak jerawat.
“Andra?!! Ngapain kamu kesini?” hardikku galak melhat tamu pertama yang datang menemuiku adalah orang yang mengata-ngataiku beberapa tahun yang lalu. Saat aku masih kelas satu SMA. Sekarang dia berdiri di depan pintu rumah dengan cengiran lebar yang begitu menyebalkan, namun harus kuakui bahwa wajahnya kini jauh lebih tampan tanpa jerawat.
“Aku mau tanya, valentine nanti kamu ada acara enggak?”
“Apa urusanmu?” tanyaku judes.
“Aku mau ajak kamu keluar..”
“Apa? Aku enggak mau.” Tolakku dengan tegas. Tanpa harus mencari alasan kenapa aku tak bisa menerima ajakannya.
“Kenapa? Ya sudah, aku saja yang datang ya?”
“Jangan! Aku enggak mau valentine tahun ini bermasalah kayak tahun-tahun sebelumnya. Aku mau valentine tahun ini tenang. Jadi aku harap kamu mau baik hati untuk enggak ganggu aku.” Paparku panjang lebar. Berharap Andra mau mengerti.
Namun ia malah mengeluarkan satu batang coklat persegi panjang dengan bungkus alumunium berwarna emas.  Kreek.. Ia menyobek kertas alumuniumnya, mematahkan sepotong cokelat dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
“Cokelatnya enak.. kamu mau?” ia menyodorkan cokelat itu ke hadapanku. Aku tidak menolak, tidak juga menerima. Kutatap coklat yang sudah terpotong itu lekat-lekat. Aku punya pengalaman buruk dengan benda manis dan dicintai gadis-gadis seusiaku ini.
Aku pernah membuatkan cokelat untuk seseorang. Tapi ternyata ia melemparkannya ke tanah.
Sepertinya ini adalah giliranku melakukan hal yang sama.
Kutepis coklat itu dengan sedikit tenaga ekstra dan coklat berbungkus kuning itu pun jatuh di lantai.
Andra terdiam. Aku pun diam. Tapi aku segera berbalik dan masuk ke dalam rumah. Kubanting pintu di depan hidung Andra tanpa ragu, setelah melakukan itu semua hatiku merasa agak puas.
Setidaknya aku sudah membalas perlakuannya beberapa tahun yang lalu. Aku tak peduli dengan apa yang akan ia katakan nanti. Tokh aku kan memang seorang alien yang aneh? Jadi tak usah takut dikata-katai yang lebih sakit daripada saat ini.
***

No comments:

Post a Comment

Review Pemakaian Softlens N8 Ice Grey

Review Pemakaian Softlens N8 Ice Grey - Beberapa tahun belakangan saya sudah hampir enggak pernah pakai lensa kontak lagi, karena merasa s...