Wednesday, 21 October 2015

Cerber Romantis : Broken Hearted Chocolate (bagian 3)






 ****
Kuliah hari ini kulalui dengan hati yang tidak karuan.
Andra, lelaki yang membuang hasil karya dan hatiku ke tanah itu membuatku ngeri berada lama-lama di dalam kelas. Ia terus mencuri pandang kepadaku dan membuatku seakan-akan dikuntit paparazzi. Huffptt.. sepertinya dialah masalah di valentineku tahun ini. Ya Tuhan, apa tak ada ulang tahun yang tanpa masalah untukku?
“Dinda, ayo sekalian pulang denganku!” Andra memotong langkahku dengan motor besar berwarna merah yang spicy. Hot maksudku.  
Aku menggeleng dan kening Andra yang tidak tertutupi kaca helmnya mengkerut.
“Kenapa?”
“Aku dijemput pacarku.” Jawabku tegas sambil memberikan tekanan pada kata terakhir.
“Kamu udah punya pacar sekarang?” tanyanya meremehkan. Aku tidak menjawab pertanyaannya.  Kuhentikan sebuah angkot dengan nomor 02. Angkot yang akan membawaku pulang.
“Pacar kamu supir angkot?” tanya Andra pura-pura bodoh, entah benar-benar bodoh. Sekali lagi tak kujawab pertanyaannya, kunaiki angkot dan kendaraan umum berwarna putih dengan strip kuning itu pun melaju. Meninggalkan Andra yang masih termangu di depan gerbang kampus.
***
Sesampainya di rumah kudapati ibu tengah mengurus tanaman bonsainya. Ada rasa senang membuncah di dadaku. Melihat ibu tidak kemana-mana, ada di rumah saat aku pulang, membuatku merasa agak normal seperti keluarga kebanyakan.
“Bu, aku pulang..” ujarku sambil mendekat. Ibu yang tengah asyik dengan gunting akarnya mendongak dan tersenyum,
“Udah makan?” tanyanya lembut, membuat rasa senang di dalam hatiku membuncah lagi. Kugelengkan kepala dan ibu meneruskan kata-katanya.
“Sana makan, ibu udah masak tuh.. nanti kalau sudah makan dan ganti baju kesini lagi ya? Temenin ibu ngobrol..” aku pun mengangguk-angguk tanpa suara. Segera aku melesat masuk ke dalam rumah, menuju ruangan makan dan membuka tudung saji.
Ada cumi pedas manis, perkedel kentang dan kerupuk udang. Tak banyak, tapi aku sangat bahagia. Ini ibu yang memasak!
Kunikmati makan siangku dengan hati yang begitu tenang, baru kali ini sejak perceraian ayah dan ibu kurasakan masakan yang begitu nikmat melewati kerongkonganku. Semoga saja ini adalah pertanda yang baik bagi hubungan kekeluargaan antara aku dan ibu.
Aku tak sabar ingin segera menemani ibu mengurus bonsai di depan rumah!
“Ibu mau nikah lagi.. boleh kan?” bagai tersambar petir aku mendengarnya. Setelah makan siang yang nikmat, mengganti pakaianku dan buru-buru ke teras agar ibu tak lebih lama menunggu untuk mengobrol denganku, ternyata yang akan dibicarakan adalah.. rencana pernikahannya?
Mana perhatiannya tentang bagaimana kuliahnya? Banyak teman atau tidak? Bagaimana dosennya? Setidaknya berbasa-basi saja dulu! Kenapa langsung ke pokok pembicaraan dan membuat aku seakan ingin memuntahkan semua makanan yang sudah kutelan?!
“Ja-jadi maksud ibu ngobrol sama aku itu.. ini?”
“Iya, ibu kan harus minta izin dulu sama kamu..” jawab ibu dengan raut wajah yang seakan-akan tidak mengatakan sesuatu yang telah melukaiku.
Aku menelan ludah, juga sekaligus menelan kekecewaanku.
Dengan hati yang remuk aku bangkit dari dudukku dan berjalan memasuki rumah.
“Dinda! Kamu mau kemana? Om Iwan baik kok! dia bisa jadi ayah yang baik untuk kamu!” aku menghentikan langkahku dan menoleh,
“Bukan itu bu.. aku hanya ingin, ibu sedikit memperhatikanku.. hampir sepuluh tahun ibu seakan enggak ada di hidup aku..” ujarku pilu. Kedua mataku meleleh, air matanya menyusuri pipiku yang belum sempat aku basuh dengan air bersih sepulang kuliah.
Ibu tidak menanggapi perkataanku. Ia terdiam dengan gunting akar tetap dalam genggamannya. Sesaat aku takut jika ibu melemparkan benda itu kepadaku. Sudah pasti benda itu akan melukai kepalaku. Tapi ibu diam saja, ia menatapku dengan tatapan yang tak bisa aku artikan maksudnya. Biarlah, aku ingin tidur saja di kamar daripada mengartikan tatapan ibu, hatiku terluka lagi. Ibu kembali  mengecewakan aku.
*** 

<span data-iblogmarket-verification="vi5N95dlZzZY" style="display: none;"></span> 

No comments:

Post a Comment

Rekomendasi Tempat Kerja yang Cocok Buat Kamu yang Kreatif Tapi Bosenan

Rekomendasi Tempat Kerja yang Cocok Buat Kamu yang Kreatif Tapi Bosenan  - Kamu freshgraduate? Atau baru keluar dari perusahaan karena ribu...