Sunday, 18 October 2015

Cerber Romantis : Broken Hearted Chocolate (bagian 2)



Bagian satu >>>>>>> Broken Hearted Chocolate

Ibuku pulang larut malam. Entah pukul berapa ia bisa tidur, karena hingga pukul delapan pagi ibuku belum bangun juga.
Aku berangkat ke kampus setelah menyantap setangkup roti isi telur dadar dan keju buatanku sendiri. Tak ada pembantu atau asisten rumah tangga di rumahku, tak ada yang memasak dan melayani kami. Ada juga orang yang datang untuk membersihkan seluruh rumah seminggu tiga kali. Urusan cuci mencuci pun tak jadi fikiran, ibu memiliki laundry langganan yang mengurus semua cucian kami.
Tadinya aku ingin membuatkan setangkup untuk ibu, lalu kuantarkan ke kamarnya dengan segelas susu low fat yang biasa ibu minum, namun niat itu urung. Aku tahu ibu tak akan bangun hingga siang nanti, sarapan buatanku akan sia-sia saja.
Sekalipun aku dibekali sebuah mobil keluaran baru yang elegan dan nyaman, aku lebih suka menumpang mobil angkutan umum yang berdecit dan selalu ngetem sembarangan. Aku lebih suka berdesak-desakkan di dalam angkot bersama ibu-ibu yang baru pulang dari pasar, bersama anak-anak SMP yang cekikikan berisik dan lelaki dengan bau ketek yang menyengat daripada sendirian menyetir mobil, bosan menunggu lampu merah berganti lampu hijau dan tak ada yang menggantikan posisi sopir saat aku malas menyetir. Tapi alasan utama aku lebih memilih naik kendaraan umum adalah karena naik angkutan umum selalu dikelilingi banyak orang. Suatu hal yang tak pernah terjadi di dalam hidupku.
“Apa nih?” tanyaku pada diri sendiri saat kakiku menginjak sebuah amplop yang tebal di atas keset di depan rumah. Kubungkukkan badan untuk mengambil benda itu dan membaca nama pengirim serta untuk siapa surat itu ditujukan.
“Buat aku, tapi pengirimnya no name?” desisku sambil membolak-balik benda berwarna putih dengan cap sol sepatuku di salah satu sisinya. Setelah yakin benda itu benar-benar ditujukan kepadaku, aku tak serta merta membuka amplop yang lumayan tebal ini, namun kugoyangkan, kuendus dan kuterawang lebih dulu. Takutnya ada suara, bau dan bayangan yang mencurigakan dari dalam amplop misterius ini. Tapi sepertinya isi benda persegi panjang ini hanya kertas. Kubuka perekat dengan hati-hati dan menarik lipatan kertas di dalamnya keluar.
Selembar surat yang ditulis dengan tulisan tangan yang sangat rapi.
“..akhirnya aku bisa mengumpulkan keberanian untuk menempuh jalan menjadi lebih dekat denganmu. Jalan untuk meminta maafmu dan mengulang semuanya dari awal..” aku mengernyit total.
Lha? Siapa yang iseng nih? Memangnya kenapa minta maaf segala? Mengulang semua dari awal bagaimana ya? Memangnya siapa yang pernah menciptakan kenangan bersamaku hingga ingin mengulangnya dari awal lagi?
Cih, orang kurang kerjaan! Kuremas surat itu dan kulemparkan pada salah satu pot besar di dekat kursi rotan di teras.
“Pluk!” tepat masuk ke dalam pot. Setelah itu aku segera melanjutkan perjalananku menuju gerbang luar untuk menunggu angkot yang akan mengantarkanku ke kampus.
Sekarang sudah tanggal sebelas dan aku merasa sangat mulas menyambut tanggal empat belas. Masalah apa lagi yang akan menggangguku tahun ini?
***
Fakultas ilmu politik dan sosial. Jika dihitung total seluruh mahasiswa tingkat satu hingga tingkat empat, semuanya tak lebih dari delapan puluh orang alias per tingkat hanya ada satu kelas yang berisi dua puluh orang mahasiswa. Fakultas ilmu politik ini memang sama sekali bukan jurusan yang banyak diminati. Kebanyakan yang masuk ke dalam fakultas ini adalah mereka-mereka yang sudah ditolak semua fakultas populer.
Tapi tidak dengan aku. Aku benar-benar ingin masuk fakultas ini karena aku ingin melanjutkan pendidikanku dengan aman dan nyaman. Tak masalah jurusan apapun. Kebetulan fakultas ilmu politik dengan satu program studi dengan nama yang sama sangat memenuhi kriteriaku. Aku bisa konsentrasi belajar sekaligus tenang dengan lingkungan sekitar yang ehm, sunyi senyap.
“Dinda, baru datang?” sapa Aini. Mahasiswi berkaca mata yang menyasar ke fakultas ini setelah ditolak fakultas kedokteran sudah sampai di kampus, entah sejak jam berapa. Dia memang selalu datang paling awal. Prinsipnya lebih baik menunggu daripada telat. Jempol deh untuk Aini.
“Iya, tapi yang lain juga belum datang ya?” aku balik bertanya sambil meletakkan tas yang hanya berisi laptop di atas kursi sebelah tempatku duduk. Aini menganggukkan kepalanya dan menghadapkan tubuhnya kepadaku.
“Eh, malam valentine kamu mau kemana? Katanya anak-anak mau ngedate bareng tuh.. mau ikut enggak” tanyanya dengan mata yang berbinar. Aku menanggapinya dengan cengiran khas kuda.
“Enggak lah, aku di rumah saja.. aku enggak suka valentine,”
“Tapi kan cuma di malam valentine kita boleh keluar malam..”
“Enggak juga, aku boleh keluar malam kapan saja. Sesukaku. Tapi aku enggak suka keluar malam..” jawabku pelan. Aini masih asyik memperhatikan wajahku dan mendengarkan apa yang aku katakan.
“Enak ya boleh keluar tiap malam?” ujarnya, aku melirik Aini dengan ujung mata dan lagi-lagi nyengir kuda.
“Sama sekali enggak. Aku lebih suka dilarang keluar rumah, dilarang ini dan itu..” akhirnya aku malahan curhat colongan. Aini mengerjap-erjapkan matanya dengan ekspresi yang bingung.
“Udah lah enggak usah dipikirin.. aku asal ngomong kok!” ujarku mencoba mengalihkan pembicaraan, plus seulas senyum. Aini mengangkat bahu lalu menaikkan kacamatanya yang nyaris melorot dari cuping hidungnya,
Sebuah ketukan menyapa telinga kami berdua. Sesosok lelaki muda dengan polo shirt putih dan kacamata berbingkai hitam melongokkan setengah tubuhnya di ambang pintu kelas.
“Ini tingkat dua ilmu sosial politik?” tanya lelaki muda itu dengan suara yang cowok banget. Nge-bass namun lembut, membuai. Sesaat aku terpana namun segera kukuasai perasaan dan mengiyakan pertanyaan lelaki itu.
Dengan ragu-ragu ia memasuki kelas dan mengedarkan pandangannya ke seisi kelas yang  baru diisi dua orang mahasiswi. Aku dan Aini.
“Kamu.. siapa?” tanyaku tanpa basa-basi. Ia menunjuk hidungnya sendiri, aku mengangguk dan ia tertawa. Lesung pipitnya manis, tapi dia tertawa di saat yang tidak tepat. Lucu sebelah mana pertanyaanku?
“Aku Andra. Tetangga kamu.. Dinda..” aku tercekat. Langsung terdiam dan mulutku terkunci rapat. Dia tahu namaku!
Aini tak kalah bingungnya dengan aku. Ia menengok kepadaku, lalu mengalihkan pandangannya pada lelaki di depan kelas.
Kutatap wajah berkaca mata itu, kuamati dengan seksama. Mencari memori masa lalu yang sekiranya memuat wajah seperti lelaki yang mengaku bernama Andra itu.
Memori tentang Andra mulai muncul, masih berwarna abu-abu dan belum terlalu jelas. Kupertajam ingatanku dan hatiku malah tersayat ngilu.
Satu-satunya memori tentang orang yang bernama Andra itu adalah salah satu luka yang muncul di hari valentine beberapa tahun yang lalu.
“Banyak berubah kamu ternyata..” ujarku dengan nada sinis. Tatapanku berubah menjadi tatapan penuh benci, bukan tatapan menyelidik lagi. Bukannya membalas tatapan benciku dia malah tersenyum tulus,
“Ya, tapi kamu tetap tidak berubah..”
“Tetap terlihat bodoh dan aneh. Anti sosial, freak, alien with green skin.. apa lagi ya? Dulu ada cowok yang pernah bilang itu semua padaku.”
“Bukan begitu.. maksudku kamu tetap menarik Dinda..”
“Menarik dalam artian aneh dan berbeda sih iya..” sangkalku. Aku yakin Aini sangat bingung dengan pembicaraan kami berdua. Tentu saja, dia tidak tahu apa-apa tentang aku dan Andra.
Percakapan kami berdua saat ini adalah petikan dari percakapan sebelumnya, beberapa tahun yang lalu.
Percakapan setelah dia membuang coklat yang kubuat dengan segenap harapan dan perasaan yang kupunya. Ia buang, dihempaskan begitu saja ke tanah.
Aissh! Sakitnya!
Ribut-ribut terdengar di samping kelas, nampak mahasiswa tingkat dua yang lain datang bergerombol bersama seorang dosen muda. Aku pun segera meraih laptopku dan mengeluarkannya, siapa menerima kuliah pagi ini.
Andra duduk di kursi bekas tas laptopku. Entah kenapa ia memilih duduk disitu padahal kursi kosong masih bertebaran di seluruh kelas. Karena aku tak mau terlibat pembicaraan lagi dengannya, bahkan untuk menyuruhnya pergi dari sebelahku, lebih baik aku yang mengalah. Aku pergi ke kursi lain di dekat Aini. Sedikit lebih jauh darinya membuat hatiku lebih tenang.

*** 

No comments:

Post a Comment

Begini Jadinya Kalo Sadako Keluar di TV Indonesia

Begini Jadinya Kalo Sadako Keluar di TV Indonesia - Habis Nonton The Rings, tetiba kepikiran gimana jadinya kalo Sadako keluar dar...