Sunday, 18 October 2015

Cerber Romantis : Broken Hearted Chocolate





"Saat coklat mematahkan hati, masihkah ia terasa manis?"



***
Kulirik kalender, sudah tanggal sepuluh Februari. Empat hari lagi adalah valentine, sekaligus merangkap sebagai hari kelahiranku.
Entah kenapa setiap kali menginjak bulan yang katanya penuh cinta ini aku selalu merasa panas dingin. Kalau boleh sih aku ingin menjalani hidupku tanpa melewati bulan Februari.
Aku benci sekali bulan ini!
Bukan tanpa alasan aku membenci bulan ini, juga ulang tahunku, apalagi valentinenya. Issh!!! Aku tak bisa menghentikan memori bulan Februari yang menyakitkan itu terus berputar di dalam kepalaku!
Ketika ulang tahunku yang ke sebelas, aku mengetahui bahwa kedua orang tuaku akan bercerai karena perselingkuhan. Parahnya, kedua orang tuaku sama-sama berselingkuh.
Lalu, ulang tahunku berikutnya, setelah perceraian kedua orang tuaku aku ikut ibu dan mendapatkan kabar bahwa ayah digelandang ke rumah tahanan karena terlibat perkelahian dengan suami selingkuhannya dan melukai lelaki itu dengan menggunakan gunting. Padahal waktu itu ayah sudah menikah lagi dengan orang lain. Rupa-rupanya ayahku sangat doyan berselingkuh.
Ketika aku mendapatkan pacar pun ternyata dia memutuskan aku tepat di hari valentine, ketika aku berdandan dengan cantik dan bersiap mendapatkan kejutan indah untuk hari ulang tahun ternyata pacar pertamaku malah memutuskan aku dengan alasan dia tidak benar-benar menyukaiku.
Sedihnya lagi, valentine-valentine berikutnya pun tak menjadi lebih baik. Ada tahun dimana aku sangat menyukai seseorang, dan dia merespon perasaanku. Hubungan kami berjalan baik sampai akhirnya aku mendapatkan kabar bahwa ia telah menikah dengan seorang gadis yang ia hamili. Satu lagi valentine buruk untukku ketika aku memberanikan diri memberikan coklat bagi seorang teman lelaki. Dia membuangnya tepat di hadapanku. Sejak saat itu aku berhenti mengharap cinta di hari kasih sayang.
Hingga saat ini, di usiaku yang menginjak ke 19 tahun. Aku belum mendapakan valentine yang indah, ulang tahun yang wajar tanpa masalah pun tidak pernah.
“Psst! Psst!”
“Dinda!” kudengar seseorang memanggil-manggil namaku dari dekat jendela. Aku berpura-pura tidak mendengarnya. Tokh pintu depan terbuka, kenapa harus bisik-bisik via jendela kamar? Seperti Romeo yang ingin mengunjungi Juliet saja. Padahal tak akan ada yang menembakinya dengan senapan otomatis jika ia berkunjung melalui pintu depan rumahku. Memangnya aku ini anaknya mafia apa?
“Dinda! Dipanggilin nyahut kek!!” seru orang yang mengajak berbisik-bisik kesal. Ia berdiri dan masuk ke dalam kamarku melalui jendela yang terbuka setengahnya. Gadis itu adalah Kania, tetanggaku sekaligus satu-satunya teman masa kecilku yang paling awet berteman denganku. Ketika teman-teman yang lain satu per satu meninggalkanku karena aku ini aneh dan antisosial, juga serentet masalah yang menimpa keluargaku. Kania tetap tangguh dan betah berteman denganku. Applause meriah untuknya.
“Habisnya, ngapain kamu lewat jendela? Bisik-bisik lagi.” Sahutku sambil mengalihkan pandanganku pada layar laptop, aku tengah mencari resep kue coklat terbaru di internet tadi. Namun konsentrasiku terpecah saat melihat kalender.
“Kamu mau bikin kue coklat?” tanya Kania sambil ikut membaringkan tubuhnya di sebelahku. Dia menarik-narik bantal besar yang kugunakan sebagai alas kedua lenganku agar bisa ikut menggunakan bantal berbentuk tulang itu.
“Kania apaan sih? ini bantalnya lagi kupakai!” sentakku, ia malah nyengir dan mengalah. Diambilnya bantal lain dari atas tempat tidurku dan tiduran dengan santai.
“Dinda, kayaknya valentine nanti aku bakalan jadi sibuk nih..” ujarnya dan kusahuti dengan gumaman yang tak jelas.
“Yaah Dinda, tanyain kenapa kek? Jadi temen kok enggak respect banget..”
“Iya deh.. memangnya kenapa?” tanyaku pendek, dengan jemari yang masih menari-nari diatas tuts keyboard. Mengetik keyword baru dan mencari resep lain yang sekiranya mudah untuk kubuat. Juga hemat biaya.
“Dind.. tahu enggak, Harry ngajak aku date valentine nanti..”
“Harry yang mana? Harry potter?” tanyaku garing. Kania manyun.
“Harry anak Persma!! Itu lho yang editor bulletin kampus!” serunya penuh semangat. Aku hanya mengucapkan ‘oh’ dan asyik lagi dengan resep-resep baruku. Setahuku Kania masih single, dan ketika ada yang mengajaknya date di malam valentine berarti dia sudah double. Entah kapan dia jadian, padahal biasanya dia memberitahukanku semuanya yang terjadi.
“Apa dia mau nembak aku pas valentine ya?”
“Eh, belum jadian?”
“Belum lah!!”
“Terus kenapa yakin dia ngajakin date? Siapa tahu dia ngajakin bakti sosial pas malam valentine? Atau hunting berita, siapa tahu ada kejadian seru buat bulletin kampus bulan depan..” cerocosku panjang lebar. Kania diam saja, saat kutengok wajahnya nampak sangat sangar.
“Hehe.. aku bercanda Kania.. maaf yaa?” aku segera meminta maaf sebelum Kania mengamuk. Setelah aku meminta maaf pun ia masih saja diam, jangan-jangan dia marah beneran lagi!
“Kalau misalnya dia benar-benar ngajakin aku bakti sosial gimana Dind?” akhirnya Kania bersuara, nadanya terdengar begitu cemas. Aku nyengir dan menepuk bahunya.
“Enggak mungkin! Tenang saja, jomblo akut juga pasti akan menghindari keluar pas malam valentine. ngapain coba bikin acara sosial pas valentine? Pengen nyesek lihat yang pada jalan sama pacar masing-masing?” tuturku panjang lebar. Menyesal juga telah mengatakan suatu hal yang membuatnya khawatir seperti ini. Kania menggigit bibirnya dan menatapku lekat-lekat.
“Bener?”
“Iya iyaaa!!” sahutku berusaha meyakinkan Kania agar tak cemas lagi. Jika ia cemas berkepanjangan, bisa-bisa aku tidak bisa tidur malam ini karena dia akan terus merecokinya dengan pertanyaan ini dan itu seputar kecemasannya. Bukan sekali dua kali lho ketika dia cemas dan galau aku ikut-ikutan! Aku ikutan galau karena dia terus menyita waktuku dengan curhatannya yang tak jelas alang ujurnya. Temanku yang satu ini memang unik.
Eh, aku hanya memiliki satu teman saja. Hanya Kania.
“Dinda.. tahu enggak? Tetangga baru kita..” kini ia mengalihkan pembicaraan, pertanda ia sudah tidak cemas lagi.
“Emangnya kita punya tetangga baru?” tanyaku jujur. Kania mendecakkan lidahnya,
“Kemana saja non? Tuh pada heboh deh geng cewek upil..” aku mendengus, mendengar nama geng cewek upil aku langsung ilfeel. Mereka adalah tiga orang gadis sebayaku dan Kania. Satu sekolah sejak SMP sehingga kami berdua tahu persis bagaimana sifat mereka bertiga. Centil, sok cantik dan miss know it all. Kalau menurutku sih kata yang paling tepat untuk mereka bertiga adalah ‘tong kosong nyaring bunyinya’. Terlalu banyak bicara malah menunjukkan rendahnya kadar kualitas otak masing-masing.
“Emangnya tetangga barunya cakep banget gitu?”
“Kamu beneran enggak tahu?” aku mengangguk tegas.
“Katanya dia itu dulunya orang sini.. tapi pindah ke Surabaya.. enggak tahunya sekarang pindah lagi kesini, kuliah disini.. katanya juga nih ya dia kuliah di ilmu politik.. sama kayak kamu!” kunaikkan sebelah alis untuk menanggapi penuturan Kania, lalu ia ikut menaikkan sebelah alisnya untuk meminta tanggapanku.
“Kayak burung lagi migrasi ya? Bolak-balik..”
“Eh, kenapa tanggapannya gitu?”
“Ya terus aku harus tanggepin kayak gimana?”
“Ya gimana kek.. eh memangnya belum ketemu di kampus, anak ilmu politik kan sedikit, pasti kalau ada mahasiswa baru langsung ketahuan..” aku memonyongkan bibirku,
“Kenapa jadi ngejek jurusanku?”
“Enggak kok! ih Dinda sensi begitu.. “ aku mendorong bahu Kania pelan, lalu mengalihkan pandanganku pada layar monitor yang menunjukkan dialog box problem loading page, modemku ternyata disconnect.
“Kamu enggak penasaran sama dia?”
“Enggak tuh. Memangnya harus ya?” tanyaku sambil mencabut modem. Laptop akan kumatikan karena baterainya sudah berkedip-kedip, harus di-charge.
“Dasar Dinda.. geng cewek upil saja sudah nongkrong-nongkrong mulu tuh di tukang gorengan depan rumahnya, berharap dia keluar dan ngajakin mereka ngobrol.” Aku nyengir kuda. Apa asyiknya berharap diajak ngobrol oleh seseorang? Selama aku hidup, aku sama sekali tak suka diajak ngobrol bahkan oleh ibuku sendiri.  Satu-satunya orang yang paling bisa mengajakku mengobrol hanyalah Kania. Sekarang teman di sebelahku ini tengah mengutak-atik handphonenya dan segera berdiri,
“Kemana?” tanyaku,
“Pulang, mama ngajak aku belanja..” jawabnya sambil berjalan menuju jendela. Keluar melalui jalannya masuk tadi.
“Kenapa enggak lewat pintu depan saja sih?” protesku.
“Malas ah, orang sendalku disini juga..” jawabnya sambil melambaikan tangannya untuk pamitan. Aku membalas lambaian tangannya dan membalikkan tubuhku menatap langit-langit kamar. Kupandangi lampu gantung di atas kamarku dengan tatapan kosong. Membayangkan ketiga gadis dengan badan supermini yang selalu merasa menjadi supermodel itu duduk jaim di dekat gerobak tukang gorengan demi menarik perhatian sang tetangga baru.
Mau dandan seheboh apapun kalau duduknya dekat tukang gorengan yang satu itu malahan jatuh harga. Pasti kalah heboh juga sama dandanan penjual gorengan yang setengah-setengah itu. Iya setengah laki-laki dan setengah perempuan. Mungkin juga setengah manusia..
“Dinda, ibu mau pergi ke mall bareng teman-teman bisnis. Kamu mau ikut enggak?” tanya ibu yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarku. Aku menoleh ke arah ibu dan menggeleng.
“Kenapa? Kan seru. Kamu boleh beli barang apapun yang kamu mau!” rayu ibu pantang menyerah. Namun aku pun pantang menyerah untuk menolak. Sekali lagi aku menggelengkan kepala.
“Aku mau di rumah saja bu..” tegasku. Ibu terdiam sambil menatapku.
“Ya sudah, nanti ibu bawain pizza ya? Mau pizza apa?”
“Apa saja bu..” jawabku pendek sambil kembali menatap langit-langit. Ibu pun tidak berkata apa-apa lagi, ia pun segera pergi. Meninggalkan aku, padahal dia baru datang setelah perjalanan bisnis ke Medan selama dua minggu. Memangnya ibu tidak rindu kepadaku? Atau setidaknya lelah dan capek setelah bepergian sejauh itu? Entahlah. Ibu mungkin kesepian, jadi ia selalu mencari kesibukan sendiri dan melupakan aku yang juga kesepian.
Sejak bercerai dengan ayah, ibu hidup sendirian dan menjadi seorang business woman yang sukses. Dengan kolega dimana-mana, business trip kemana-mana, macam-macam bonus, income yang tak terbatas, limpahan materi.. Tapi bukan itu yang aku inginkan. Sudah cukup aku kehilangan kasih sayang dan sosok seorang ayah. Aku tak mau kehilangan sosok ibu di dalam hidupku.
Setetes air mata membasahi pipiku. Hanya setetes, setelah itu tak ada lagi.
*** 

Naskah ini kubuat tahun 2012, menjelang hari Valentine untuk lomba menulis di salah satu penerbit. Walaupun enggakmasuk nominasi, tapi ternyata naskah ini berguna. Iya, jadi bisa kubagi-bagi sama temen yang suka baca. Hehe...Semoga suka yah ^^
Jangan lupa follow Twitterku @onlykharisma dan follow blogku juga lho!

4 comments:

  1. gak dicoba submit tahun depan aja, sapa tau ada lomba lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, enggak ah. Kalau ada lomba lagi insyaallah bikin yang baru...yang ini buat dibaca teman-teman saja ^^

      Delete
  2. Kereenn... Aku suka.
    Simple tpii menarik. Succes for you deh.
    ☺☺☺

    ReplyDelete
  3. Kereenn... Aku suka.
    Simple tpii menarik. Succes for you deh.
    ☺☺☺

    ReplyDelete