Wednesday, 7 October 2015

Bonus Cerber Drops of Love (epilog)



Epilog

***
Raihan termangu. Ditatapnya nisan hitam dengan pahatan nama Khuzna di salah satu sisinya dengan mata buram. Ia ingin menangis, tapi tak bisa. Ia sudah berjanji.
Una sudah lebih dari dua bulan berada di sini, beristirahat dengan tenang untuk selamanya. Tak perlu lagi mengkhawatirkan jantungnya, paru-parunya.. atau bahkan bullying yang sering ia dapatkan di sekolah.
Una pasti sangat bahagia di tempatnya sekarang. Raihan yakin dengan hal itu.
Rasa sesal tak pernah berkurang sedikit pun dari dalam hatinya, kecewa dan juga rasa sedih selalu memenuhi rongga-rongga dada Raihan. Ia tak bisa memenuhi permintaan terakhir Una, tak bisa menciptakan kenangan yang lebih indah bersama gadis itu.
“Ayo pulang, sudah terlalu lama kita disini..” sebuah tepukan di bahunya membuat Raihan tersentak.
Saat ia menoleh nampak Wawan tengah menatapnya, sedangkan Sandra berdiri tak jauh darinya dengan mata yang juga terpaku pada Raihan. Mereka berdua memang menemani ia sejak sepulang sekolah, seperti hari-hari sebelumnya.
“Raihan, kami tahu kamu kehilangan Una, “
“Kami mengerti sakitnya.. tapi enggak berarti harus seperti ini setiap hari..” ujar Wawan dan Sandra bergantian.
Raihan menggeleng pelan, lalu menundukkan kepalanya dengan lesu. Menatap tanah berumput yang tengah ia injak. Ia kembali terbayang rerumputan di tepian sungai, dimana ia dan Una selalu bertemu.
Bagaimana keadaan tempat itu sekarang? Sejak Una meninggal Raihan tak pernah datang kesana lagi. Rasanya pasti sangat menyakitkan.
Raihan tak bisa menjalani harinya dengan cara yang sama dengan saat Una masih ada. Ia ingin mati saja rasanya.
“Ayo semangat Raihan, Una enggak akan senang lihat kamu begini..” Sandra berusaha membangkitkan semangat sahabatnya itu walaupun ia tahu sedikit sulit.
“Aku hanya menyesal.. aku enggak tahu dia juga menyukaiku, aku fikir dia hanya menyukai Januar..” gumam Raihan pelan. Kepalanya masih menunduk.
“Jalani hidupmu dengan penuh semangat, jadilah lelaki sejati. Una inginkan itu..”
“Maksud kamu Sandra?” Raihan mulai tertarik dengan pembicaraan ini. Mungkin ada sesuatu yang belum ia ketahui tentang Una dan Sandra mengetahuinya.
“Apa Una pernah ngomong sesuatu sama kamu?” desak Raihan. Ia mendekati Sandra dan melewati Wawan dengan terburu-buru sampai menyenggol bahunya.
“Ya, “
“Kapan? Dimana? Dia ngomong apa saja? Apa dia ngomong tentang aku? Apa yang..”
“Raihan... Una hanya minta kamu jadi lelaki yang kuat, yang enggak cengeng dan tetap hidup dengan penuh semangat..” sela Sandra dengan mimik mukanya yang dingin.
Raihan terdiam dan ia sama sekali tak percaya jika Una hanya mengatakan itu. ia ingin Una menitip kata lainnya yang lebih ia harapkan, kalimat yang akan membuatnya mendapatkan suntikan semangat lagi.
Sekarang hidupnya terasa mati dengan penyesalan yang ia rasakan.
“Dia hanya bilang kalau dia cinta kamu, tapi dia enggak mau kamu terpaku padanya..”
“Bagaimana bisa aku enggak terpaku sama dia? Aku mencintai dia sejak pertama kali aku melihatnya! Una berbeda dan Una rumit! Aku enggak bisa tanpa Una!!” Raihan meraung.
Sandra dan Wawan terlihat kaget dengan perubahan emosi Raihan yang begitu tiba-tiba. Mereka tak menyangka jika Raihan bisa semurka itu dengan sangat cepat, serta tak terduga.
“Lalu untuk apa kami disini?”
“Kami disini untuk menemani kamu Raihan, tanpa Una memintanya pun kami akan selalu menemani kamu..”
“Maksud kalian apa? Kalian itu sahabatku, sudah tentu kalian akan selalu menemani aku.. lalu Una? Dia cinta pertamaku dan dia pergi!”
“Ya itu, dia tahu dia akan pergi, dia tahu kami enggak akan tinggalin kamu dan dia senang bisa pergi dengan tenang..” Sandra mengucapkan kalimat itu dengan tegas dan yakin.
Kalimat itu sukses membuat Raihan terdiam. Tungkainya terasa lemas, dan ia langsung melorot. Ia jatuh terduduk dengan mata yang terasa panas.
“Una tahu dia akan pergi?” bisiknya.
“Ya, “ jawab Sandra. Ia tetap pada sikapnya yang diam dan tegas, berbeda dengan Wawan yang sudah memburu Raihan untuk membantunya berdiri.
“Dia tahu dia akan pergi dan dia menitipkan kamu pada kami. Kami harus membantu kamu bangkit Raihan, kami harus selalu bersama kamu dan meyakinkan diri bahwa janji kami pada Una sudah ditepati..”
“Janji apa itu Sandra..”
“Berjanji untuk membuat kamu temukan cinta baru, dan enggak menangis lagi..” pungkas Sandra.
“Temukan cinta baru dan jangan menangis..” Raihan mengulangi kalimat Sandra dengan bergumam pelan.
Dipejamkannya mata sesaat dengan hati yang kosong. Rasa dingin itu memang masih terasa, dingin dan kosong. Hampa..
Tapi sesaat setelah ia meresapi makna kalimat yang Sandra ucapkan, kalimat wasiat dari gadis yang ia cintai, hatinya berangsur membaik.
Ada rasa hangat yang menyelusup di dalamnya. Rasa yang membuatnya merasa sedikit bersemangat. Rasa yang membuatnya ingin kembali hidup dengan rasa baru yang begitu berbeda.
“Ya.. aku akan jadi apa yang Una mau.. aku akan jadi apa yang ia harapkan..” tegas Raihan.
Sandra dan Wawan hanya tersenyum sembari saling bertukar senyum. Keduanya lalu mengulurkan tangan masing-masing untuk membantu Raihan berdiri dan siswa yang masih terduduk di tanah itu meraihnya serta mengalungkan kedua lengannya pada bahu Sandra, juga Wawan.
Perlahan ketiganya berjalan berangkulan keluar dari komplek pemakaman, dengan langkah yang berbeda dari langkah awal ketika mereka memasuki tempat ini. Langkah sekarang penuh dengan harapan dan juga semangat.
Ia harus bisa menghidupkan hari-harinya seperti saat Una masih ada. Juga jangan cengeng lagi. Sekalipun sudah tak ada fisik Una sebagai alasannya agar bisa menahan tangis untuk harga dirinya, namun ia masih memiliki cinta abadi Una.
Cinta mereka berdua akan selalu ada, cinta mereka tak akan berakhir sekalipun Raihan menemukan gadis lain yang bisa mencintainya.
Cinta Una padanya, juga cintanya pada Una akan tetap terjaga di dalam hati.
Selamanya.

*** 

No comments:

Post a Comment

Walau Berbeda Beda Tapi Satu Cinta Jua

Saya memiliki dua adik, tapi yang paling deket itu sama adik yang pertama. Usia kami terpaut dua tahun, dan kata orang-orang sih kami ini k...