Friday, 25 September 2015

Cerita Bersambung Remaja : Drops of Love (bagian 6)



_6_
Hello, pasar malam




***
Pasar malam ternyata tak terlalu jauh dari tempat mereka berdua berada. Hanya berjalan sekitar setengah kilometer ke arah Barat dan lapangan yang digunakan untuk pasar malam itu sudah terlihat.
“Oh, ini ya pasar malam?” ujar Una sambil menengadahkan kepalanya, menatap gerbang masuk pameran pembangunan yang diadakan enam bulan sekali itu.
Karena ini pameran pembangunan, jadi kebanyakan stand yang ada adalah stand dari berbagai perusahaan negara. Seperti perusahaan air minum dan juga pembangkit listrik. Ada maket berbagai bangunan dan juga berbagai slogan perusahan daerah tersebut.
“Kok enggak seru ya?” bisik Raihan, ia memiringkan kepalanya sampai ia bisa berbisik tepat di telinga Una.
Gadis itu mengangguk, lalu menoleh ke arahnya serta menunjukkan wajah yang kecewa. Raihan pun demikian. Ia juga merasa sangat kecewa. Bagaimana bisa semua teman-temannya sangat heboh menggembar-gemborkan asyiknya di pasar malam.
Apanya yang pasar malam? Ini pameran pembangunan!
“Eh, lihat itu Raihan.. dia bawa permen kapas..” seru Una sambil menunjuk ke sebuah arah, dimana dua orang anak perempuan yang sepertinya masih duduk di bangku SMP membawa permen kapas yang berbentuk bulat.
“Mereka dapat dimana ya?” sambungnya. Raihan ikut melihat ke arah yang Una tunjukkan dan ia mengangkat bahu.
“Apa di dalamnya masih ada yang lain ya? Soalnya di luar sini enggak ada yang jualan permen kapas..”
“Iya mungkin.. mereka bawa permen kapas dari dalam kan?” Una ikut  memberikan asumsi. Sesaat mereka berpandangan, lalu mengangguk.
“Masuk saja yuk?”
“Iya deh..” Una mengiyakan ajakan Raihan sambil tertawa.
Setelah membayar tiket masuk keduanya mulai berjalan memasuki pameran pembangunan itu. Sekitar dua puluh stand pertama sangat membosankan dan sepi pengunjung.
 Tak ada orang yang mau menyengajakan diri masuk ke dalam stand PLN atau stand PDAM.  Kalaupun di hari biasa mereka datang ke kantor mereka itu hanya untuk membayar tagihan bulanan saja.
Tapi di belakang jejeran stand perusahaan daerah itu ternyata ada hal lain yang lebih menyenangkan. Ada banyak stand yang menjual aneka macam barang kebutuhan masing-masing.
Dari mulai pakaian anak, sandal sampai aneka macam furniture rumah tangga sangat lengkap disini! Dari karton-karton yang penuh warna yang bergantungan di setiap stand, ada harga super hemat dan juga diskonan yang sangat besar di setiap pedagang.
“Wow! Ternyata disini lebih asyik Raihan!” seru Una dengan mata yang terbelalak lebar.
Ia memukul bahu Raihan dan tersenyum lebar. Raihan pun menganggukkan kepalanya dan ikut tersenyum. Pantas saja jika orang-orang suka sekali pergi ke pasar malam.
“Eh itu ada kelomang!” Una berseru sambil berlari menuju ke seorang penjual yang dikerubuti anak-anak.
Raihan mengikuti dari belakang, ia tersenyum melihat Una ikut berdesakkan dengan bocah-bocah kecil yang berjongkok mengerubuti dua buah kotak di hadapan penjual kelomang itu.
“Bang bang ini kelomangnya berapaan?” tanya seorang anak yang mengenakan celana monyet, ia berjongkok tepat di sebelah Una.
“Lima ribu dek, kalau sama rumahnya dua puluh..”
“Mahal amat bang..” protes gadis kecil yang lebih besar dari bocah yang mengenakan baju monyet itu. Mungkin kakaknya, mungkin juga bukan.
“Ya kan kalau kelomangnya enggak pakai rumah nanti dia mati, mendingan beli sama rumahnya.. sana minta uang dulu sama mamanya.. dua puluh ribu buat beli kelomang..” pedagang yang mengenakan pakaian agak lusuh itu terdengar memprovokasi si bocah untuk membeli dagangannya dengan cara yang agak memaksa.
Raihan hanya tersenyum kecil, ia langsung teringat kedua keponakannya. Hasan dan Husen. Kedua bocah itu pasti akan langsung minta dibelikan apapun yang pertama kali menarik perhatian mereka.
Tak perlu bersusah-susah untuk merayu keduanya untuk membeli dagangan seseorang. Terkadang mereka bahkan seringkali merengek untuk dibelikan baju anak perempuan. Alasannya simple, karena pakaian itu unyu sekali.
“Sebenarnya kelomang itu disimpan di baskom juga bisa lho dek, asal kasih selada atau timun saja buat dia makan..” ujar Una. Bocah-bocah yang mengelilingi tukang kelomang itu langsung berkoor mengatakan, ooh.
Sementara Una tersenyum-senyum melihat semua anak itu membeli kelomang satu per satu, pedagangnya agak bermuram durja karena rumah-rumahan kelomangnya tidak laku terjual satu pun. Gara-gara Una mengatakan info penting yang malah membuat usaha seseorang menjadi di ambang kebangkrutan.
Sepeninggal semua pembeli kecilnya sang pedagang memperhatikan Una dengan seksama. Ia tak berkata apa-apa tapi wajahnya tak kunjung ramah.
“Neng mau beli enggak? Beli sama rumahnya neng!” ujarnya ketus.
Sekalipun demikian Una tak tersinggung, ia malah tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. Ia lalu memilih salah satu rumah dengan bentuk yang sederhana ala rumah dalam kartun.
Berbentuk kubus, atap segitiga berwarna merah dan ada cerobong asap kecil. Tentu saja cerobong asapnya tak berfungsi, itu hanya optional saja. Setelah memilih rumah-rumahannya ia pun beralih melihat kelomangnya.
Tak perlu waktu lama untuk memilih kelomang yang cocok. Ia menunjuk dua ekor kelomang dengan cangkang berwarna biru. Ya, kelomang-kelomang ini memang dicat berwarna warni dan diberi motif seperti polkadot juga garis vertikal. Lebih menarik serta mencolok mata.
Perlahan Raihan mendekat dan ikut berjongkok di sebelah Una yang tengah mengamati kelomang-kelomangnya di dalam rumah baru mereka.
“Kenapa pilih yang warna biru Una? Yang warnanya pink sama ungu itu sepertinya lebih cocok..” cetusnya.
Una menoleh dan tersenyum, ia mengangkat rumah kelomangnya ke hadapan Raihan. Lalu menunjuk satu per satu kelomang pilihannya.
“Ini aku, ini kamu.. “ ujarnya dengan senyuman yang masih terkembang di bibirnya.
Senyumnya lebar dan menawan, tapi ada kesedihan yang terkandung di dalamnya. Raihan menjadi sangat bingung dengan maksud dari perkataan gadis itu, apalagi ia sangat yakin senyuman Una itu seakan menyimpan sebuah rahasia yang begitu menyakitkan.
“Kenapa kamu senyumnya begitu Una?” tanya Raihan tanpa berbasa-basi. Una menggeleng, “Senyumku ya memang begini Raihan..” jawabnya.
Raihan menatap Una dengan seksama. Matanya tetap bulat, ada sorot mata ceria yang berbaur dengan sorot mata penuh kepedihan. Senyumannya pun sangat menyakitkan untuk dilihat!
“Una, jujur.. kamu kenapa?”
“Aku enggak kenapa-kenapa Raihan! Memangnya aku kenapa?” Una tertawa kecil sembari memukul bahu Raihan pelan.
Sebelum Una menarik kembali tangannya Raihan menahan tangan mungil gadis itu dan menggenggamnya dengan erat. Dihujamkannya pandangan pada kedua mata Una, mencoba memaksa Una untuk mengatakan yang sebenarnya dengan menggunakan paksaan seperti ini.
Tapi sepertinya sia-sia. Una tetap mempertahankan senyuman sedihnya dan ia tak menjelaskan apapun pada Raihan untuk membuatnya percaya. Yang ada pedagang kelomang itu berpura-pura batuk untuk menyadarkan keduanya bahwa kelomang yang Una beli belum dibayar.
Tanpa banyak bicara lagi Raihan mengeluarkan dompet dan membayar dengan selembar lima puluh ribu. Una menolak, namun Raihan memaksa. Ia tak mungkin membiarkan Una membayar sendiri di kencan pertama mereka.
Lagipula sepertinya Raihan akan membelikan apapun yang Una mau asalkan dia kembali tersenyum tulus, bukan dengan makna lain di balik senyumannya.
“Ini kembaliannya, terima kasih.” Si pedagang memberikan uang kembalian dengan ucapan terima kasih yang sekedarnya.
Jelas sekali jika ia itu sangat ingin kedua remaja di hadapannya segera pergi. Dalam fikirannya Una adalah penyebab rumah kelomangnya tak laku. Padahal sekalipun begitu, kelomangnya lebih dari enam ekor sudah terjual, kalau tetap dipaksa dijual dengan rumahnya, sudah tentu orang tua bocah-bocah itu juga tak akan mau.
Akhirnya rumahnya tak laku, kelomangnya juga sama. Lebih rugi bukan?
“Sekarang kita mau kemana?” tanya Raihan setelah keduanya menjauh dari pedagang hewan pantai bercangkang itu.
Una mengangkat bahunya dan malah menatap Raihan dengan tatapan bingung. Yang ditatap pun sebenarnya merasa sama, ia juga bingung. Kemana lagi tujuan mereka?
Senyuman Una yang terlihat pedih membuat semua rencana Raihan menjadi buyar!
“Eh, katanya tadi mau beli permen kapas buat aku.. “ cetus Una kemudian, mengingatkan perkataan Raihan saat mengajak gadis ini pergi ke pasar malam.
“Ah, iya ya! Aku lupa! Yuk kita cari permen kapasnya..”
“Itu permen kapas bukan?” Una menunjuk ke sebuah kotak kayu dengan dua tiang di permukaannya bagian atasnya. Ada palang yang menyambungkan kedua tiang itu, serta ada plastik-plastik besar berisi benda-benda berserabut dengan aneka warna.
Kembang gula, arum manis, dan permen kapas. Sama saja.
Kedua remaja yang mengenakan pakaian yang berwana sama itu menghampiri penjualnya dan menunjuk salah satu bungkusan permen berwarna ungu muda.
“Ini rasa anggur lho neng, enak!” ujar penjual itu berpromosi.
Una menerima permen itu dengan mata yang terbelalak, lalu menatap permen yang hampir sebesar bantal guling di tangannya.
“Beneran rasa anggur?” tanya Una penasaran yang langsung diiyakan oleh penjual itu dengan begitu yakin.
“Ah, rasa anggur lho Raihan..” sekarang Una memamerkan permen kapasnya kepada Raihan yang malah tersenyum, lalu mengusap kepala Una sekilas.
“Kamu itu, memangnya aneh ya ada permen kapas rasa anggur?” tanyanya. Sekarang Una yang tersenyum, lalu senyumannya berganti menjadi tawa yang riang.
“Yaa, aku kan enggak tahu rasa permen kapas.. ini pertama kalinya aku beli permen kapas!”
“Eh yang benar!?” mata Raihan sampai melotot saat mengatakan itu. Una tertawa lagi, lebih riang. “Iya! Kok kaget sih?”
“Ya iya lah aku kaget! Masa kamu enggak pernah makan permen kapas sih?”
“Yaa memang belum pernah, mami larang sih.. katanya bikin sakit gigi!”jawab Una dengan begitu polosnya.
“Terus sekarang enggak bakalan sakit gigi?”
“Yaa kan aku nanti gosok gigi.. ih Raihan! Masa aku enggak boleh cobain makan permen kapas sih?” akhirnya Una malah merajuk sambil mendorong Raihan pelan. Wajahnya memberengut, sementara penjual kembang gula malah tersenyum melihat tingkah kedua remaja di hadapannya itu.
“Boleh kok Una.. boleh! Masa enggak boleh sih? Kan aku ajak kamu beli.. berarti kamu boleh makan..”
“Iya, iya.. tuh makannya di sana saja.. enak buat duduk-duduk..” sela penjual permen kapas sambil menunjuk ke belakang tubuhnya.
Raihan dan Una menengok bersamaan ke arah yang dituju dan langsung mengangguk semangat. Ada beberapa bangku kayu dengan pinggiran besi yang mengelilingi arena komidi putar. Kayunya coklat mengkilap dan pegangan besinya dicat hitam. Bangku itu sangat menggoda untuk diduduki.
“Eh, iya ini uangnya pak! Saya hampir lupa..” Raihan menyodorkan selembar lima ribuan saat ia sudah melangkahkan kakinya mendekati bangku kayu yang ditunjukkan, tapi pedagang itu menolak.
“Lho kok?”
“Gratis. Kalian berdua jadi ngingetin bapak di zaman muda dulu.. pacar bapak juga persis kayak neng itu, cuma sayangnya usianya enggak lama.. dia meninggal pas usianya 20 tahun..” penjual permen kapas itu menceritakan pengalamannya dengan mata yang berkaca.
Perlahan Raihan menarik tangannya yang masih memegangi selembar uang berwarna hijau. Uang yang tadinya akan ia gunakan untuk membayar permen kapas, bukannya senang karena permennya gratis, yang ada hatinya sudah mulai terasa ngilu-ngilu lagi.
Kenapa cerita penjual permen ini terdengar seperti ramalan masa depan bagi Raihan dan Una?
Una mengidap cacat jantung bawaan yang kecil kemungkinan bisa bertahan lebih dari 20 tahun. Belum lagi senyum sedih yang gadis itu tunjukkan pada Raihan, membuatnya berfikir yang tidak-tidak tentang masa depan yang tengah menanti di depan mata.
Masa depan yang buruk tentunya..
Tapi entahlah, melihat Una detik ini rasanya bayangan masa depan yang buruk itu sedikit demi sedikit terkikis lagi. Gadis itu duduk di atas bangku kayu dan sudah mulai memakan permen kapasnya dengan wajah yang begitu penasaran.
Ia nampak baik-baik saja. Ia tak tersenyum dengan luka lagi di baliknya.
Sesaat ia menjadi sosok yang begitu menyebalkan dengan mengenang Januar, sesaat kemudian ia menjadi seseorang yang melambungkan perasaan Raihan sampai ke langit ke tujuh.
Sesaat ia tersenyum dengan misteri, sesaat kemudian ia kembali menjadi Una yang periang.
Una memang rumit!
“Raihan sini!!” sekarang gadis itu melambaikan tangan dan mengisyaratkan Raihan agar mendekat.
“Kenapa?” tanya Raihan setelah ia mendekat. Gadis itu terus mengisyaratkan dirinya agar semakin dekat.
Raihan pun menurut dan memiringkan kepalanya agar Una bisa langsung berbisik di telinganya tanpa perlu berjinjit ataupun menegakkan tubuhnya.
“Raihan.. permen kapasnya enggak rasa anggur! Penjualnya bohong!” bisik Una dengan nada kecewa.
Langsung saja senyuman Raihan terkembang di bibirnya mendengar kalimat yang baru saja meluncur dari mulut Una.  Tangan kanannya terangkat dan ia letakkan di atas kepala Una, diacaknya rambut gadis itu dengan gemas.
“Kenapa?” tanyanya heran. Raihan menggeleng.
“Enggak, cuma kamu itu.. gemesin banget..” dan wajah Una pun merona merah.
Ia menundukkan kepalanya dan kembali memasukkan sejumput permen kapas ke dalam mulutnya. Sesekali ia melirik Raihan, lalu wajahnya bertambah merah setiap ia menyadari bahwa lelaki lembut itu tetap menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Keduanya merasakan hal yang sama detik ini, bahagia.
Masing-masing dengan alasan tersendiri. Namun jauh di dalam lubuk hati, keduanya berharap semoga hari esok jauh lebih banyak alasan untuk tetap merasakan kebahagiaan.
***
“Hei, ada pancingan lho Raihan!!” seru Una ketika ia melewati sebuah stand dengan sebuah kolam-kolaman plastik di bagian depannya.
Raihan menaikkan sebelah alis, lalu melirik Una yang nampak sangat antusias melihat kolan yang berisi air dan juga berbagai jenis ikan-ikanan plastik yang memenuhi kolam itu.
“Kamu mau mancing disitu?” tebak Raihan. Ia yakin sekali jika Una akan mengiyakan tebakannya.
Benar saja, perlahan Una menganggukkan kepala dan tersenyum miris. Seakan-akan mengatakan : boleh enggak? Tapi aku malu. Raihan pun malah tertawa dan mengusap kepala Una dengan lembut.
“Kalau kamu mau ya silahkan.. masa enggak boleh sih?” ujarnya.
“Yang benar?”
“Ya iya Una.. kamu itu.. masa aku larang-larang kamu sih?”
“Tapi..” Una menggantung kalimatnya. Membuat Raihan cukup penasaran, “Tapi apa?”
“.. tapi aku maunya kamu yang mancing disitu.. “ sambungnya dengan nada pelan.
Ia juga menatap Raihan dengan tatapan yang takut. Entah takut Raihan menolak, entah takut Raihan tersinggung. Tapi sepertinya tatapan gadis polos itu terlihat gabungan dari kedua rasa takut itu.
“Kamu mau aku mancing di pancingan anak-anak?”
“Tapi.. itu yang mancing bapak-bapak semua Raihan.. lihat deh..” rayu Una sambil menunjuk dua orang lelaki dewasa yang tengah memancing, wajah mereka nampak sangat serius.
Raihan pun mendekat dan melihat teknis memancing di stand yang satu ini. Ternyata bukan mancing sembarang mancing, ini mancing berhadiah. Setiap ikan memiliki nomor dan tiap nomor itu akan dicocokkan dengan gulungan-gulungan kertas bernomor sama.
Tiap gulungan ada yang berisi jenis hadiah, ada juga yang zonk alias kosong. Tergantung keberuntungan saja. Membayar lima ribu rupiah untuk dua kali memancing ikan.
Hadiahnya beraneka ragam, dari mulai buku tulis sampai ketel dan wajan. Ada juga benda elektronik seperti mp3 player dan juga handphone China. Tapi yang paling cocok untuk Una sepertinya sebuah boneka beruang dengan ukuran yang cukup besar.
“Kalau kamu enggak mau sih aku enggak apa-apa..” Una akhirnya membatalkan permintaannya karena Raihan tak kunjung bicara, bahkan untuk menolak pun tidak.
Dengan kepala yang tertunduk lesu juga aura kecewa yang memancar dari dirinya membuat Raihan berfikir bahwa Una memang benar-benar menginginkan dirinya untuk memancing di dalam kolam berhadiah itu.
Raihan pun tersenyum sambil mengeluarkan selembar lima ribuan untuk menyewa pancingan. Sebenarnya dari tadi juga ia memang sudah bersedia untuk memancing disana, asalkan Una merasa senang.
Walaupun ia tak tahu alasan sesungguhnya teman kencannya itu meminta Raihan untuk memancing, tapi itu sama sekali bukan masalah. Pokoknya Una harus selalu terlihat ceria dan senang!
“Eh, kamu mau?” seru Una. Nada suaranya ceria.
Raihan mengangguk dan meleparkan kailnya yang berupa sebuah magnet kecil di ujung tali pancing ke dalam kolam yang penuh sesak dengan aneka macam ikan itu. Digerak-gerakkannya ke kanan juga ke kiri, diputar-putar ke segala arah dengan harapan ada salah satu ikan plastik dengan nomor hoki yang menempel di magnetnya.
“Kok susah ya? Padahal kelihatannya gampang banget..” Raihan berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari ujung kailnya yang terkubur ikan-ikanan.
Una mengangguk dan mengepalkan kedua tangannya di depan dada. Pasti wajahnya itu sekarang sangat serius, wajah seseorang yang serius itu akan terlihat lebih menarik. Apalagi Una. Saat ia menangis saja terlihat sangat manis, apalagi disaat seperti ini?
“Raihan! Itu ikannya kena!!” Una memekik gembira sambil menunjuk-nunjuk ujung pancing. Membuyarkan lamunan.
“Eh, i-iya! Iya, kena juga..” Raihan tergagap sambil mengangkat pancingannya ke atas dan melihat sebuah ikan berwarna hijau bergelantungan di mata kailnya.
Melihat bentuknya sih ikan ini mirip ikan mas Koki, tapi kenapa warnanya hijau? Ah, itu jawabannya simple. Agar menarik perhatian anak, ikan yang digunakan disini tadinya untuk mainan anak-anak.
 “Ayo lihat nomor berapa Raihan? Kita dapat hadiah apa?” Una nampak begitu bersemangat. Wajahnya lucu sekali jika ia sangat antusias seperti sekarang, benar-benar menggemaskan.
Dengan sabar Raihan menimpali kata-kata Una, menjawabnya dengan nada lembut dan membuat beberapa gadis yang kebetulan tengah memperhatikan kolam pancingan berhadiah itu melirik mereka dengan iri.
“Nomor 12,” ujar Una kepada penjaga stand setelah Raihan menunjukkan nomor yang tertera di perut ikan koki itu.
Penjaga stand yang berwajah kotak mengambil gulungan dengan nomor yang sama lalu dengan cepat membuka gulungan tersebut dengan kedua tangannya.
“Kosong neng..”
“Haah kosong? Yaah..” jelas sekali kekecewaan tergambar di mimik muka Una.
Ia melirik Raihan yang sudah meliriknya terlebih dahulu. Seulas senyum dilemparkan Raihan dan menunjuk pancingannya.
“Masih ada satu kali kesempatan lagi Una.. berdoa saja semoga yang satu ini bisa dapat hadiah yang kamu mau..” hiburnya. Wajah Una berseri lagi.
Ia pun tak berkata apa-apa, bibirnya hanya berkomat kamit tanpa mengeluarkan suara. Ia pasti tengah berdoa supaya ikan yang sekarang akan dipancing Raihan akan memberikan keberuntungan.
Tak lama kemudian sudah ada ikan baru di ujung pancingan dan Raihan segera mengangkat ikannya. Sekarang nomor yang tertera adalah 10. Semoga yang satu ini bisa membuat senyuman terlukis manis di bibir Una.
“Masih kosong neng.. maaf ya? Coba lagi saja!” penjaga stand berwajah kotak itu kembali mengatakan hal yang membuat wajah Una muram lagi.
“Masih kosong Raihan.. kita enggak dapat apa-apa..” ujar Una kecewa, suaranya terdengar seperti menahan tangis.
“Ya sudah, aku beli lagi ya? Kita coba lagi.. siapa tahu sekarang kita bisa dapat hadiahnya..”
“Jangan deh.. kita cari yang lain saja..” tolak Una. Ia pun melangkahkan kakinya menjauhi stand pancingan berhadiah.
Raihan pun tak bisa mencegah. Biarkan saja Una melakukan apa yang ingin ia lakukan, kalaupun ia menginginkan sebuah hadiah, Raihan pasti akan membelikan satu yang spesial. Kalaupun bukan dari hadiah pancingan ini, yang penting hadiahnya istimewa bukan?
“Una, kalau aku belikan boneka kamu mau enggak?” tanya Raihan sambil menjejeri langkah Una yang sudah cukup jauh.
Blus yang gadis itu kenakan melambai saat ia menoleh untuk menatap Raihan sebagai jawaban atas pertanyaannya barusan. Raihan menghentikan langkahnya dan mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
“Boneka?” Una malah terlihat bingung. Membuat Raihan menjadi salah tingkah.
Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa sangat gatal. Tapi saat ia menggaruk kepala, rasa gatal itu tiba-tiba hilang. Jadilah ia hanya mengusap-usap kepalanya dengan gusar.
Tanpa disangka Una malah tertawa sambil menyentuh lengan Raihan dengan tangan kirinya, tangan kanannya menjinjing rumah-rumahan kelomang.
“Kenapa malah ketawa?” tanya Raihan. Sekarang kegusarannya berubah bingung.
“Kamu mau belikan aku boneka?”
“Iya.. tadi kamu pengen dapat boneka kan?” tebak Raihan dengan yakin, tapi wajahnya langsung aneh saat perlahan Una menggelengkan kepalanya.
“Aku bukan mau boneka.. aku mau hadiah yang warna coklat itu..” ujar Una sambil menunjuk ke arah stand memancing yang sudah cukup jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. Walaupun sudah cukup jauh namun masih cukup jelas untuk melihat hadiah yang Una maksud.
Sebuah pancing.
“Pancing?” Raihan tak yakin. “Iya pancing.. kenapa memang?”
“Kenapa pancing? Kamu kan sudah punya yang pink.. itu juga belum dipakai kan?” tanya Raihan dengan hati yang tak enak.
Una sendiri nampaknya tak menyadari perubahan mimik muka lawan bicaranya, karena ia tengah memperhatikan pancingan berwarna coklat itu dengan penuh minat. Seakan-akan ia belum pernah mendapatkan pancingan sejenis sebelumnya.
Pancingan berwarna coklat itu jenisnya sama persis dengan yang Raihan berikan tempo hari.
Entah kenapa Una malah ingin yang lain, yang berwarna coklat dan tak lebih bagus dari pancing pink pemberian Raihan.
Namun kemudian Raihan teringat sesuatu. Pancing pemberian Januar pun memiliki warna yang coklat. Bentuknya pun sangat sederhana dan kasar. Bisa dibilang jelek. Mungkin Una memilih pancing coklat itu karena kurang lebih mirip dengan yang mendiang Januar berikan.
Ternyata Una memang tetap menaruh hati pada lelaki itu. Ia tak pernah sedikit pun melupakan Januar, bahkan setelah ada Raihan di sampingnya.
“Tapi tadi kelomangnya kamu kasih nama Raihan dan Una..” gumam Raihan nyaris tak terdengar.
Ia menunduk dengan tatapan yang mengarah pada kelomang yang ada di dalam rumah-rumahan. Sepasang kelomang dengan cangkang biru cerah itu bersembunyi di dalam rumahnya yang terbuat dari busa tipis, mereka nampak akur-akur saja.
Iya, tadi Una telah melambungkan hatinya dengan memberi nama kedua kelomang itu seperti nama mereka berdua. Bukankah itu berarti Una memiliki perasaan pada Raihan? Setidaknya simpati.
Tadi dia juga ingin Raihan yang memancingkan hadiah untuknya. Sekalipun ternyata yang diinginkannya adalah pancing coklat yang jelek itu. Jelek? Berarti pancing pink yang ia hadiahkan dulu juga jelek?
“Iya, kelomangnya memang aku kasih nama kayak kita.. kan kenang-kenangan.. memangnya kenapa? Apa hubungannya sama pancingan?” cetus Una panjang dan lebar.
Ia menghadapkan tubuhnya kembali ke Raihan dan menatapnya dengan kening yang mengerut. Tapi lelaki yang berdiri di hadapannya itu asyik dengan hatinya sendiri, hati yang terasa disayat-sayat dan mencucurkan darah.
“Enggak.. enggak ada..” sahut Raihan dengan suara yang begitu pelan. Jauh lebih pelan dari sebelumnya.
Ia tak menyangka jika hatinya bisa terasa sesakit ini karena salah menafsirkan perlakuan Una. Ia fikir Una mulai menaruh simpati padanya, ia juga menyangka Una mulai menyukainya.
Tapi ternyata semua itu salah.
Kedua kelopak mata Raihan mulai terasa panas, rasa familiar yang sudah beberapa hari ini tak ia rasakan lagi. Rasa dimana hidungnya pun mulai terasa pedih dan matanya mulai berkabut.
“Lho, Raihan kok kamu malah nangis sih?” celetuk Una. Ia memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah Raihan.
“Raihan.. kenapa?” tanya Una lagi.
Raihan tak menjawab. Ia hanya berusaha menyembunyikan muka dan menghapus air matanya diam-diam. Ia benar-benar payah, seorang lelaki menangis di muka umum? Dimana harga dirinya?
Januar pasti tak pernah seperti ini! Januar pasti sangat kuat dan tegar. Kecewa karena orang yang disukai masih menyimpan perasaan pada orang yang sudah meninggalkannya pasti tak akan membuat Januar menangis.
Pantas saja Una tak mau dengannya. Pantas saja..
***

No comments:

Post a Comment