Wednesday, 23 September 2015

Cerita Bersambung Remaja : Drops of Love (bagian 5)



_5_
I have a date this evening!




***
Raihan menghabiskan banyak waktu untuk mencari pakaian yang paling tepat. Ia sampai harus mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam lemari dan membuat semua pakaiannya berantakan.
Raihan terlihat seperti anak perempuan yang diajak kencan oleh kakak kelas yang seorang ketua OSIS. Gugup dan tak bisa berfikiran jernih. Ia tidak bisa memilih pakaian yang paling tepat untuk membuat penampilannya terlihat lebih meyakinkan di depan Una.
“Ayolah! Aku itu cowok! Pakai apa saja pasti keren!!” Raihan menyemangati dirinya sendiri dan mengepalkan tangan.
Tapi kalau pakai celana kolor dan kaos belel seperti yang ia kenakan saat ini ternyata sangat tidak keren! apalagi lebam di wajahnya masih membekas dan ia tidak terlihat tampan sama sekali! ia heran kenapa ibunya belum bertanya kenapa Raihan terlihat kacau balau dengan wajah yang babak belur.
Raihan memandang wajahnya sendiri yang terpantul dari cermin bulat di dinding kamarnya. Rambutnya basah karena baru saja mandi, ia mengenakan pakaian bekas tadi sepulang sekolah karena tanggung. Matanya beralih ke sebelah bawah, ada bayangan dua kepala pelontos yang tengah berdiri di depan pintu yang tertutup. Husen dan Hasan!
“Mamang mau ngedate ya?” celetuk salah satunya.
Entah Hasan entah Husen. Raihan menganggukkan kepalanya dengan tegas dan membalikkan tubuh, adanya kedua bocah ini seakan bisa membantunya keluar dari masalah maha dahsyat yang tengah ia alami!
“Kalian tahu enggak pakaian yang cewek suka?” tanyanya langsung. Terdengar sangat bodoh dan konyol. Menanyakan hal yang sebenarnya belum waktunya kedua bocah ini ketahui.
Hasan dan Husen berpandangan. Lalu menatap Raihan dengan kening yang mengerut. Salah satunya berbicara,
“Cewek sukanya gaun mini mang! Yang ada rendanya! Si Salsa suka pakai yang kayak begitu sih, Laila juga!”
“Mini dress yang ada rendanya?” gumam Raihan sambil menoleh ke arah tumpukan pakaiannya yang berantakan di atas tempat tidur, mencari pakaian yang dimaksud. Tapi tak ada pakaian berenda di koleksi pakaiannya.
“Eh! Maksud mamang baju yang dipakai cowok dan cewek suka! Gitu!” ralat Raihan sambil mengalihkan pandangannya lagi kepada kedua keponakannya. Hasan dan Husen kembali berfikir keras, entah berpura-pura berfikir.
Melihat mereka berfikir, Raihan pun lagi-lagi berfikir. Sedangkan waktu sudah mulai menginjak pukul tiga sore. Bisa-bisa dia terlambat dan Una menjadi kesal!

***

Jadilah sekarang Raihan terburu-buru berlari menuju tepian sungai, dengan cardigan yang tak dikancingkan dan celana jeans warna biru belel. Sepatu ketsnya berwarna putih dengan detail biru. Setidaknya ada warna yang agak matching antara celana dan sepatunya. Semoga ia tak terlihat aneh di depan Una.
Gadis itu sudah menunggunya di tepian sungai. Ia berdiri menatap aliran sungai yang selalu mengalir ke arah yang sama. Una mengenakan blouse dengan bahan yang ringan, melayang-layang terkena hembusan angin. Warnanya biru pupus.
“H-hai, maaf aku telat..” ujar Raihan segera sebelum Una menyadari kehadirannya. Ia menolehkan kepalanya dan tersenyum.
“Enggak apa-apa.. aku fikir kamu enggak mau temani aku, habisnya kemarin aku judes sih..”
“Enggak kok! aku mau temani kamu! Beneran! Aku mau! Nih buktinya aku datang!!” sela Raihan dengan cepat, ia begitu bersemangat sampai-sampai mengepalkan tangannya di depan dadanya.
Una tertawa dan mengajaknya berjalan memasuki bagian belakang gedung-gedung yang tak jauh dari tepian sungai. Mereka melewati sebuah gang sempit diantara bangunan tak berpenghuni di sebelah kiri, dan sebelahnya lagi toko besi. Ketika mereka sudah berada di bagian depan bangunan-bangunan itu jalan raya langsung terlihat. Banyak mobil dan motor yang berseliweran.
“Pasar malamnya dimana Una?” tanya Raihan, ia sebenarnya tidak tahu dimana ada pasar malam. Una menoleh dan menaikkan alis.
“Kamu engga tahu? Aku juga enggak tahu..” jawabnya mengangetkan Raihan.  “Terus?”
“Ya aku cuma dengar dari teman di sekolah, katanya ada pasar malam.. tapi aku enggak tahu dimana. Pas kemarin langsung keingetan, ya aku ajak kamu saja..” tutur Una. Ia kemudian menggigit bibirnya dan nampak tak enak hati.
Raihan segera tersenyum dan meraih tangan kanan Una dengan tangan kirinya, mengajaknya berjalan bergandengan.
“Kita jalan-jalan saja deh ya? Kemana saja sampainya!” ujar Raihan akhirnya, ia mengajak Una untuk menyeberang jalan dan berjalan menuju ke arah timur. Ada pusat perbelanjaan disana, siapa tahu ada tempat nongkrong yang bisa dijadikan tempat santai.
“Enggak apa-apa kan kalau kita enggak jadi ke pasar malam? soalnya aku juga enggak tahu sih..”
“Enggak.” Jawab Una cepat, juga pendek.
“Kamu marah lagi?”
“Enggak.” lagi-lagi Una menjawab dengan sangat pendek.
 Membuat Raihan kembali merasa bersalah. Ia melirik Una dengan ujung matanya dan langsung paham. Wajahnya pun langsung merona merah saat melepaskan pegangan tangannya dari gadis di sebelahnya.
“Maaf ya? Aku enggak sengaja..”
“Iya! Iya! Enggak apa-apa kok! enggak apa-apa!” sela Una, sepertinya ia gugup. Begitu pula Raihan. Mereka berdua kini masing-masing memiliki warna muka yang sama, merah padam.
Raihan menunduk memandang sepatu ketsnya dan tertawa kecil. Diliriknya Una yang mematung di sebelah kirinya. Ia bisa melihat jelas jika Una menelan ludah dan matanya tak fokus melihat pada satu arah, gadis itu terlihat jauh lebih gugup daripada dirinya.
“Ayo Una! Mau balapan sampai ke sana?” Raihan mencoba mencairkan suasana dengan mengajak Una berlari menuju sebuah halte bus. Una mengangguk dan wajahnya tak merah padam lagi.
Mereka berdua mengambil posisi, memasang kaki pada kuda-kuda berlari dan Raihan mulai menghitung. Kemudian pada hitungan ke tiga Una langsung berlari dengan cepat sementara Raihan malah berjalan dengan santai. Menyadari bahwa hanya dirinya yang berlari Una langsung berbalik dan menyerbu Raihan dengan pukulannya.
“Raihan!! Kenapa kamu jailin aku?!! Ihh!!” ujarnya kesal sambil tak berhenti memukuli tubuh Raihan dengan tangannya yang kecil. Raihan sendiri tertawa terbahak-bahak mendapatkan perlakuan kesal dari Una.
“Iya, iya! Maaf ya? Aku cuma pengen bikin kamu ketawa!”
“Kalau begini bukannya aku ketawa, yang ada aku malu! Tuh orang-orang malah lihatin aku!” protesnya sambil melihat sekeliling.
Beberapa orang yang ada di sekitar mereka memang tengah melihat ke arah Raihan dan Una, mengulum senyum. Maklum.
“Ya sudah, yuk jalan lagi!” Raihan mengalihkan perhatian Una dan mengajaknya berjalan. Gadis itu pun menurut, ia kini berjalan di sebelah Raihan dengan kepala yan menunduk. Menatap ujung flat shoes yang ia kenakan. Ada rasa senang di dalam dadanya.
“Ah, kamu suka mancing kan? Kita ke pemancingan umum yuk?” ajak Raihan tiba-tiba.
“Eh, pemancingan umum?” tanya Una dengan alis yang bertautan.
“Iya, ada pemancingan umum yang baru dibuka.. kata teman-temanku sih ada tempat makannya juga. Kita bisa bakar ikan yang sudah kita pancing disana..” papar Raihan, mencoba menghasut gadis di sebelahnya agar mau ikut.
Una terlihat berfikir keras, ia meletakkan telunjuknya di dagu dan keningnya mengerut. Tak lama ia mengangguk dengan tegas, bibinya pun menyunggingkan senyuman.
“Tapi kamu tahu kan kemana arahnya?”
“Ya tahu dong!! Kita naik angkot 09! Nah itu angkotnya!” seru Raihan sambil menghentikan sebuah angkot yang melintas di depan mereka.
Setelah angkot itu berhenti, Raihan mempersilahkan Una untuk naik terlebih dahulu, baru kemudian ia yang naik.mereka berdua mengambil tempat duduk di bangku pendek. Kebetulan angkotnya masih kosong.
Raihan menundukkan kepalanya menatap sepasang kets yang ia kenakan, lalu beralih pada flat shoes yang melekat di kedua kaki Una. Warnanya senada. Biru-biru. Entah bagaimana bisa keduanya mengenakan outfit yang sama warnanya. Jangan-jangan mereka satu hati? Wow!

***

“Ini tempatnya Una, enak ya?” Raihan menanyakan pendapat Una saat mereka berdua sudah berada di pemancingan umum.
Una mengangguk dengan mata yang berbinar, bola matanya bergerak ke kanan dan kiri mengamati detail dari tempat memancing untuk masyarakat umum itu. Ada sebuah kolam yang sangat besar dan berbentuk persegi dikelilingi oleh bangku-bangku berpayung yang tersebar sepanjang kolam, beberapa bangku sudah diduduki oleh pemancing.
“Tempat makannya enak banget ya kayaknya?” tanya Una sembari menunjuk gubuk-gubuk bambu dengan atap rumbia yang tersebar di sekeliling pemancingan.
Beberapa kelompok muda dan mudi tengah asyik menikmati bakar ikan hasil tangkapan masing-masing dalam gubuk. Una mengajak Raihan untuk duduk di salah satu gubuk terdekat.
“Kamu enggak mau mincing? Kamu kan senang mincing?” tanya Raihan sambil mendaratkan pantatnya di dekat Una.
Gadis itu menoleh dan mengangkat bahu. Ia mengulum senyum dan mengembalikan pandangannya pada kolam luas yang pasti berisi beraneka macam ikan air tawar yang gemuk-gemuk.
“Mancing saja yuk? Sebentar aku bayar sewanya dulu..” Raihan berinisiatif untuk mulai memancing. Bukankah  niat awalnya adalah memang memancing?
Raihan pun segera berjalan menuju sebuah pos kecil dengan papan bertuliskan “Sewa pancing disini!”. Ia menyewa dua pancing dengan masing-masing dihargai seharga 50 ribu rupiah. Dengan uang sewa sejumlah itu maka penyewa bisa memancing ikan sepuasnya. Boleh dibawa pulang atau membayar dua puluh ribu untuk biaya masak jika ingin dimakan di tempat.
“Ini untuk kamu.. yang ini untukku..” ujar Raihan sambil menyerahkan satu buah pancing berwarna pink ke tangan Una.
“Aih, hampir mirip sama yang kamu berikan Raihan!” seru Una sambil tertawa kecil. Raihan pun tersenyum dan mengangkat satu satu kaleng umpan.
“Yuk mancing!” ajaknya.
Una mengambil seekor cacing gemuk yang ada di dalam kaleng dan memotongnya menjadi dua. Sebagian cacing malang itu dikaitkan di mata kailnya dan Raihan berigidik geli melihat sisa tubuh cacing itu menggeliat-geliat di dalam kaleng.
“Kenapa?” tanya Una yang sudah melempar kailnya ke dalam kolam. Raihan menggeleng dan ragu-ragu untuk mengambil umpannya sendiri.
“Ya sudah, aku saja yang pasang umpannya.. nih pegang punyaku dulu!” Una pun berinisiatif untuk memasangkan umpan untuk Raihan dan menyerahkan pancingnya untuk dipegangi Raihan.
“Eh, maaf ya Una..”
“Lho, kenapa minta maaf?” Una bertanya dengan kening yang mengerut. Raihan malah menaikkan alisnya tinggi-tinggi dan menatap ujung mata kailnya yang sudah dipasangi cacing.
“Oh, karena aku pasangin umpan punya kamu? Ah, ini sih bukan apa-apa! Enggak usah minta maaf! Kamu itu..” Una mengakhiri kalimatnya dengan tawa yang renyah.
“Nih, kamu bisa kan lempar pancing?”
“Ya bisa dong! Begitu doang sih aku bisaaa!!”  jawab Raihan jumawa.
Ia mulai menarik pancingnya ke belakang dan dengan gaya yang sangat meyakinkan ia meleparkan pancing hitamnya ke depan tubuhnya. Sekuat tenaga agar ia bisa melemparkan mata pancingnya sampai nyaris ke tengah kolam.
“Eh, kenapa ini?” tanya Raihan ketika pancingnya tak kunjung terlempar ke tengah kolam. Sementara Una sudah tertawa-tawa saja melihat Raihan yang kesulitan dengan pancingnya.
“Lihat kailnya nyangkut Raihan!” serunya sambil berdiri dan mengambil kail yang menyangkut di atap rumbia gubuk tempat mereka berdua duduk tadi.
“Ah, kebetulan saja! Pemanasan itu namanya!!” Raihan berusaha tetap terlihat percaya diri dengan keahliannya memancing sekalipun mukanya merah padam.
Una tak berkata apa-apa. Ia hanya mengulum senyum dan membiarkan Raihan kembali mencoba. Sekali lagi Raihan menarik pancingnya ke belakang dan melemparkannya ke depan sekuat tenaga.
“Aaah!!” teriaknya ketika cacing gemuk yang dijadikan umpan itu malah menempel di pipinya.
Una tertawa lagi saat Raihan berigidik geli sambil melepaskan pancing dari tangannya dan segera mengelap pipinya yang tadi ditempeli cacing. Kail itu bukannya jatuh ke tengah kolam, malah menyangkut lagi dan saat ia menariknya mata kail plus cacingnya yang besar itu malah melekat di pipi Raihan.
“Hii, geli geli!!” Raihan memegangi tengkuknya yang meriding. Una masih tertawa dengan wajah yang ceria.
“Katanya jago mancing, masa lempar kail saja enggak bisa, sama cacing saja takut..” ejek Una sambil melemparkan pancing untuk Raihan.
“Aku bukan takut, aku cuma geli.. tokh kalau saja pancingnya enggak nyangkut-nyangkut sih sekarang aku pasti sudah dapat ikan Araphaima!!”
“Hei! Itu adanya di Amazon!!” sangkal Una, matanya sampai melotot, tapi ia tertawa juga.
“Eh, katanya di Kalimantan juga ada lho!!”
“Masa sih?” Una penasaran. Ia sampai memiringkan tubuhnya ke arah Raihan.
“Iya, katanya sih..”
“Ihh, kenapa enggak jelas begitu sih infonya!” protes Una sambil mengembalikan pandangannya pada pancing pinknya yang sudah kembali ia pegang.
“Tapi di SeaWorld ada..”
“Katanya..” sela Una tanpa menoleh. Raihan mengangkat alis dan nyengir kuda.
“Iya sih, itu kata majalah anak-anak. Awal tahun 2000-an..”
“Iiih! Itu sih lama banget! Kalau sekarang ada enggak?”
“Yaa aku enggak tahu, aku enggak pernah ke Seaworld..” jawab Raihan sambil memutar-mutar pancingnya seperti mengaduk segelas kopi raksasa.
“Hei, kalau kamu enggak diam, sampai subuh pun dijamin enggak bakalan dapat ikan!” Una menahan tangan Raihan yang tetap memutar-mutar pancing sampai terbentuk pola melingkar yang terus membesar hingga menyentuh ujung kolam.
“Selain kamu sendiri yang enggak bakalan dapat ikan, aku dan yang lain juga pasti enggak bakalan dapat ikan!”
“Kata siapa?” Raihan malah seakan menantang. Una memicingkan matanya dan membalas tatapan Raihan.
“Ikan itu pasti takut sama gerakan-gerakan yang kita buat. Ikan itu maunya cuma sama umpan yang diam, tenang.. karena itu banyak tukang pancing yang suka tidur sambil nungguin pancingan masing-masing!”
“Itu sih merekanya saja ngantuk..” Raihan ngeles. Una mencibir dan kembali pada pancingannya,
“Kamu enggak pernah mancing sebelumnya kan Raihan?” tanya Una kemudian. Raihan yang sudah berhenti memutar-mutar pancingnya tak menjawab. Ia hanya bergumam tak jelas.
Una menoleh dan menyikutnya.
“Apa?”
“Kamu belum pernah mancing kan?” ulang Una.
“Pernah sih..”
“Dimana?” Raihan tak menjawab lagi, ia hanya memamerkan deretan giginya.
“Pasti main game ya?” tebak Una dan langsung disangkal Raihan dengan cepat.
“Bukan! Aku main pancing-pancingan sama Hasan Husen!”
“Hah? Yang plastik itu? Yang muter-muter?” Raihan mengangguk dan langsung terbayang mainan kolam ikan bulat milik kedua keponakannya.
Warnanya hijau cerah dan ada ikan-ikan dengan mulut terbuka di atasnya. Diameternya kurang dari tiga puluh centimeter dan ada musik yang mengiringinya saat benda itu dinyalakan, kemudian bagian tengah kolam itu berputar dan ikan-ikan itu pun bergantian mulutnya terbuka dan semua saling adu cepat memancing ikan-ikan plastik itu dengan menggunakan kail yang ujungnya magnet.
Una tertawa lagi. Ia memukul bahu Raihan pelan.
“Kalau mainan sih lebih parah daripada main game Raihan!” ujarnya di sela tawa.
“Parah apanya coba?” Raihan terlihat agak tersinggung, tapi sepertinya ia hanya bercanda.
“Parah saja.. itu kan untuk anak-anak!”
“Ya memang Hasan Husen masih anak-anak!”
“Tapi kan kamu bukan..”
“Iya sih, haha!” Raihan tertawa. Menertawakan dirinya sendiri.
Diam-diam ia melirik Una  dan hatinya merasa sangat senang melihat gadis itu ceria. Sejak pertemuannya dengan Una tempo hari, ia tak lagi melihat sorot muram dari matanya.
Tak ada tawa palsu dari dirinya. Yang ada hanya senyuman dan tawa riang yang tergambar jelas dari kedua bola matanya.
Semoga Raihan memang bisa membuat gadis itu melupakan kesedihannya. Suatu hal yang membuatnya murung dan berpura-pura bahagia di depan orang lain.
Tiba-tiba saja Raihan teringat mendiang Januar. Ia memang tak mengenalnya tapi entah kenapa ia merasa sangat penasaran dengan orang itu. Apakah Januar itu pacar Una? Sehingga saat ia meninggal Una merasa sangat kehilangan dan ia selalu sedih setiap waktu?
“Una, kamu sudah pacaran berapa kali?” tanya Raihan tiba-tiba.
Ia sangat ingin tahu hubungannya dengan Januar, bertanya tentang hal itu secara frontal  pasti akan membuat Una sedih. Siapa tahu jika sedikit dialihkan seperti pertanyaannya saat ini, Una tak akan begitu menyadarinya. Siapa yang tahu nantinya dia akan menceritakan hubungannya dengan Januar tanpa diminta!
Tapi Una tak menjawab. Ia diam saja sambil memandangi ujung tali pancingnya di permukaan air. Ia seakan tak memperdulikan Raihan yang tengah begitu penasaran dengan jawabannya tentang pertanyaan itu.
“Una!” panggil Raihan tak sabar. Gadis itu menoleh, matanya murung lagi.
“Apa?”
“Eh, enggak jadi deh! Lupakan saja.. kenapa ikannya belum dapat juga ya?” Raihan segera mengalihkan pembicaraan dan menatap ujung tali pancingnya sendiri.
Sejenak keheningan menguasai keadaan di sekitar mereka berdua. Suara-suara ramai dari beberapa kelompok anak muda yang tengah makan besar di beberapa gubuk tak cukup meriah untuk membuat Una dan Raihan kembali ceria, atau setidaknya untuk membuat mereka kembali mengobrol satu sama lain.
“Una, apa pertanyaan aku salah?” akhirnya Raihan membuka suara. Ia tak tahan dengan keheningan di antaranya dan Una.
“Pertanyaan apa?”
“Eh, enggak deh.. lupakan saja. Aku enggak tanya apa-apa kok!” raihan menjadi salah tingkah.
Sebenarnya apa sih yang ada di dalam fikiran Una? Kalau dia memang tidak mendengar pertanyaan Raihan, kenapa dia menjadi murung? Lalu memangnya bertanya tentang berapa kali berpacaran itu hal tabu juga bagi Una?
“Aku belum pernah pacaran Raihan. Kalau suka sama seseorang aku pernah.” ujar Una kemudian. Suaranya pelan dan nyaris tak terdengar.
Sekarang Raihan menjadi bingung dan benar-benar tak mengerti. Jangan-jangan apa yang ia tanyakan tadi termasuk dalam jajaran kata tabu yang tak boleh diucapkan! Ya ampun, rumit sekali Una!
“Kamu enggak mau tahu siapa yang pernah aku suka? Kenapa enggak tanya lagi?” pertanyaan Una terdengar seakan menyindir Raihan. Gadis mungil itu seakan-akan ingin mengatakan bahwa Raihan kepo, alias terlalu banyak ingin tahu tentang dirinya.
“Aku takut salah bicara Una. Aku takut tak sengaja mengatakan kata tabu di dalam kamus kamu.” sekarang Raihan yang menjawab dengan suara yang seakan tak suka. Ia tak berminat lagi untuk mengetahui hubungan Una dengan Januar.
Tapi sepertinya gadis itu ingin menceritakan apa yang sangat ingin Raihan ketahui. Ia memasukkan gagang pancingnya ke dalam sebuah lubang dalam palang kayu khusus yang ada di depan tempat duduk mereka. Lubang itu untuk meletakkan gagang pancing jika pemancing pegal atau ada keperluan lain selagi mereka memancing.
Setelah pancingnya stabil, Una pun menyandarkan punggungnya pada pilar kayu yang menyangga atap bangku yang tengah mereka duduki, mengarahkan pandangannya pada Raihan. Tapi ia tidak menatap Raihan, tatapannya kosong.
Raihan menyadari hal itu tapi ia pun tidak mengatakan apa-apa. Dibiarkannya saja Una melakukan apa yang ingin ia lakukan, mengatakan apapun yang ingin ia katakan.
“Aku dan Januar bertemu di salah satu rumah sakit jantung.. kami sama-sama memiliki cacat jantung bawaan. Tapi karena Januar enggak mampu untuk membayar biaya operasi dan perawatan, akhirnya dia meninggal.” Tuturnya dengan suara yang seperti tercekik. Ia pasti menahan tangis.
Raihan tak menimpali kata-katanya. Ia tak menduga bahwa Una memiliki cacat jantung bawaan, ia kaget mendengarnya. Namun ia merasa tak suka mendengar nama Januar diucapkan dengan nada yang seakan begitu menyayanginya. Karena itulah Raihan diam saja.
“Kami sempat beberapa kali pergi bersama, dia buatkan pancing bambu untukku di tepian sungai.. aku juga selalu mancing di tempat itu.. bahkan setelah Januar meninggal.” sekarang Una benar-benar menangis.
“Maksud kamu, tempat itu tepian sungai tempat kita ketemu?” Raihan akhirnya bersuara. Tapi suaranya terdengar sangat kaku dan dingin.
Perlahan Una mengangguk, tapi ia segera menutup mukanya dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu. Raihan tak mau melihat Una menangis, tapi ia merasa hatinya sedikit marah saat menyadari bahwa tangisan gadis di sebelahnya itu adalah untuk mendiang Januar. Una menangis karena mengingat Januar.
Entahlah. Raihan cemburu. Mungkin?
“Kamu tahu enggak Raihan, kenapa aku selalu pakai baju lusuh?” tanya Una di sela tangisnya. Raihan menggeleng pelan, matanya tetap terpaku pada ujung tapi pancingnya di atas permukaan air.
“Karena Januar selalu pakai baju lusuh.. aku selalu merasa dekat Januar kalau aku pakai baju lusuh..”
“Oh,” hanya itu yang keluar dari bibir Raihan. Hatinya benar-benar terbakar sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ini pertama kalinya Raihan merasa kesal pada Una. Kesal karena ternyata Una memang ada hubungan dengan Januar dan ia masih menghidupkan kenangannya dengan orang yang sudah lama meninggal itu.
“Kamu kok marah Raihan?” celetuk Una. Ia menatap Raihan dengan sepasang manik matanya yang basah.
Raihan gelagapan dan menggeleng-gelengkan kepala dengan gugup. Ia tengah marah karena Una tetap menyukai Januar, tapi ia juga merasa senang karena Una memperhatikan ekspresinya.
“Enggak kok! Aku cuma agak.. agak bosan saja duduk begini, iya!” jawabnya kemudian.
“Kalau Januar enggak pernah bosan deh sama mancing! Waktu itu aku pernah lho tiga jam duduk panas-panasan mancing sama dia! Seru banget, dia lucu sih!” dan Una tertawa.
Tawa Una seakan membuat hati Raihan meledak seketika dan ia pun berdiri sambil meletakkan pancingnya di dalam lubang kayu, bersebelahan dengan milik Una.
“Eh, mau kemana?” tanya Una sambil menghapus air matanya yang masih tersisa.
“Pulang. Aku antar kamu pulang sekarang ya?” jawabnya datar. Una mengerutkan kening heran dengan ajakan pulang yang begitu tiba-tiba.
“Kenapa buru-buru? Memangnya ada apa?”
“Enggak ada apa-apa. Mau aku antar pulang atau masih mau disini?” Raihan benar-benar sudah kehilangan mood untuk memancing.
Una pun berdiri dan meninggalkan pancingannya, tatapan matanya menyiratkan kebingungan tapi ia tak banyak bertanya lagi. Raihan pun tak berkata apa-apa.
“Lho, mancingnya sudah?” tanya penjaga kios sewa pancing ketika keduanya berjalan menuju pintu keluar yang letaknya bersebelahan dengan bangunan bambu itu.
“Sudah pak, terima kasih ya?” sahut Raihan sekenanya.
“Oh, y-ya sudah.. lain kali datang lagi ya?” penjaga kios sewa pancing itu pun nampak serba salah menanggapi pelanggannya yang satu ini.
Una menjejeri langkah Raihan yang lebar-lebar. Sepasang kakinya memang kalah panjang dengan kaki teman barunya itu. Ia bahkan sampai harus berlari kecil untuk menyeimbangkan jarak diantara mereka.
“Raihan! Tunggu!” panggil Una pada akhirnya, ia menyerah karena terlalu lelah mengejar Raihan.
“Ya?”
“A-aku capek..” ujar Una sambil menekan ulu hatinya dan bernafas dengan cepat. Matanya membeliak menatap Raihan yang hanya menoleh sekilas kepada Una.
“Kamu itu kenapa sih? Kenapa jadi kayak anak kecil begini sih? Memangnya ada apa?” protes Una dengan suara yang meninggi. Mungkin ia mulai merasa emosi karena sikap Raihan yang aneh.
Raihan terdiam. Ia membenarkan apa yang baru saja Una katakan. Ia memang seperti anak kecil, marah karena Una menceritakan Januar dan menangis karena mengingatnya. Ia juga tertawa saat membayangkan sikapnya yang lucu.
Kenapa harus marah pada Una? Bukankah dia sendiri yang memancing pembicaraan yang ada hubungannya dengan mendiang Januar? Ckk ckk Raihan! Payah sekali!
“Ah, maaf Una! A-aku cuma.. aku..” Raihan kehabisan kata-kata.
Ia bahkan tak tahu harus melakukan apa untuk menunjukkan rasa menyesalnya, apalagi untuk mendekati Una dan membantunya untuk merasa lebih nyaman. Ia merasa sangat bersalah.
“Una, mau ke pasar malam?” tawarnya segera.
“Apa?” Una malah nampak kaget dan tak mengerti. Raihan mengulangi ajakannya dan berharap cemas semoga Una mau ikut dengannya.
“Katanya tadi enggak tahu dimana pasar malamnya..”
“Kan kita bisa tanya Una.. yuk? Nanti kita beli permen kapas!” rayu Raihan, matanya menatap Una dengan nyaris tanpa kedip.
Gadis itu balas menatap lawan bicaranya dengan pandangan yang menyelediki. Mencari maksud dari ajakan Raihan kepadanya. Lambat laun ia pun menganggukkan kepalanya dan serta merta Raihan bersorak.
“Eh maaf..” ujar Raihan malu-malu saat Una malah melihat dan berfikir kepadanya seperti melihat seorang bocah yang mendapatkan permen cokelat gratis.
“Haha! Enggak apa-apa kok! Kamu itu.. yuk pergi!” ajak Una sambil mengulurkan tangan kanannya. Mengajak Raihan untuk menggandengnya dan pergi bersama.
Sebelum meraih uluran tangannya, Raihan lebih dulu menatap tangan mungil Una di hadapannya dan mengulum senyum. Sesaat kemudian tanpa ragu ia meraih uluran tangannya dan menggenggamnya erat.
***

 DON'T BE A SILENT READER PLEASE, ^^

2 comments:

Begini Jadinya Kalo Sadako Keluar di TV Indonesia

Begini Jadinya Kalo Sadako Keluar di TV Indonesia - Habis Nonton The Rings, tetiba kepikiran gimana jadinya kalo Sadako keluar dar...