Monday, 21 September 2015

Cerita Bersambung Remaja : Drops of Love (bagian 4)



_4_
Mulai lebih tegar, demi Una



***
Raihan menatap pouch handphone milik Sascha dengan mata yang nanar. Tempat handphonenya basah kuyup, bentuknya jadi aneh. Basah dan lengket.
“Mamang kenapa? Kok nangis?”
“Itu apa? Kenapa lengket? Kayak kerupuk kena air..” cerocos si kembar dengan mulut yang penuh croissant. Mereka berdua menginap lagi di rumah Raihan dan langsung menyerbu keranjang croissant yang ia bawa.
“Mamang itu apa?” tanya Hasan lagi, entah Husen sambil merebut benda berwarna hijau itu dari tangan Raihan. Tapi langsung ia jatuhkan karena basah dan tak enak dipegang.
“Jangan dijatuhin Hasan!!”
“Aku Husen mang.. dia yang Hasan!!” ralat bocah itu sambil menunjuk bocah di seberangnya yang duduk di kursi, ia lalu memasukkan sisa croissant di tangannya ke dalam mulut. Remahnya berceceran di piyama yang ia kenakan, juga di pipinya.
“Iya lah, terserah..” dengus Raihan sambil memungut pouch handphone Sascha dan mengangkatnya sebatas hidung, menatapnya lagi seperti tadi.
“Daripada dipandangin begitu mendingan dipanasin mang..” celetuk Hasan. Ya, dia pasti Hasan! Soalnya di yang duduk di kursi.
“Dipanasin gimana maksud kamu?”
“Ya dibikin kering mang.. digimanain lagi? Ih mamang rempong deh!” celetuk Husen. Raihan menaikkan alisnya dengan heran. Apa yang barusan bocah ini katakan? Rempong? Darimana dia bisa tahu kalimat itu?
Tapi kata-kata keponakannya ini telah memberikan ide untuknya. Kenapa hanya ditatap sambil menyesali nasib? Lebih baik jika dikeringkan hingga air di pouchnya habis dan prakara Sascha bisa ia berikan dengan selamat?
“Wah! Makasih ya.. kali—an.. eh, kemana mereka?” tanya Raihan pada dirinya sendiri sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok kedua bocah itu yang tiba-tiba saja hilang entah kemana.
Raihan baru saja bangkit dari duduknya saat Hasan dan Husen muncul lagi ke dalam kamar sambil membawa sebuah hair dryer.
“Pakai ini mang!” ujar salah satunya sambil menyodorkan benda berbentuk L dengan sudut tumpul berwarna hitam itu ke tangan Raihan. Ia menerima benda itu dengan kening mengerut.
“Darimana kalian dapat ini?” tanyanya heran.
“Husen yang bawa.. “
“Ih, kamu yang suruh aku bawa!”
“Tapi kan kamu yang pakai!”
“Eh sudah-sudah! Ini punya kak Alia kan?” lerai Raihan sebelum sepasang anak kembar di depannya mulai saling cakar karena saling tuduh.
“Kak Alia itu siapa?” tanya mereka berdua berbarengan. Wajah mereka nampak aneh, seperti baru mendengar nama ibu mereka sendiri.
“Ah sudah lah.. lupakan saja!” Raihan mengakhiri pembicaraan tak bermutu diantara mereka bertiga, ia membalikkan tubuh dan mencari colokan listrik. Hasan dan Husen mengekor di belakangnya sambil tetap membicarakan perihal siapa kak Alia sebenarnya.
Dasar bocah!
“Eh, tunggu. Kalian bawa ini dari rumah? kalau ibu kalian mau pakai gimana?” tanya Raihan setelah menemukan colokan listrik dan menancapkan kabel hair dryer, ia menoleh untuk menatap kedua keponakannya, menunggu jawaban.
“Iya mang, kata Husen kalau pakai itu rambut bisa cepat kering, bisa sekalian diblow juga..”
“Kok kata aku sih? itu kata ibu!!”
“Tapi kan aku tahunya dari kamu Husen!” mereka mulai saling menyalahkan lagi, Raihan hanya membeliakkan mata dan mulai mengeringkan pouch handphone yang sudah ia peras terlebih dahulu.
Ia menekan tombol yang terletak pas di bagian pegangan hair dryer itu sampai hawa panas keluar dari bagian depan benda itu, bagian yang seperti moncong cumi. Hawa panas itu membuat rambut cepat kering. Semoga manjur juga untuk membuat kain flannel menjadi kering.
“Pakai itu rambut cepat kering lho mang!” celetuk Husen, mungkin. Entah Hasan. Mereka sangat mirip satu sama lain.
“Memangnya siapa yang pakai?”
“Hasan!”
“Husen!” jawab mereka berdua berbarengan, saling menuduh. Raihan malah tertawa.
“Sudah, kalian berdua yang pakai kan?”
“Iya,” mereka menjawab kompak juga akhirnya.
“Pakai sebentar langsung kering mang!”
“Bahkan pas dipencet sebentaaar banget, rambut kami kering lho! Hebat kan!?” tutur mereka polos, sangat yakin dengan barang yang mereka puji.
 Lagi-lagi Raihan hanya tertawa. Tentu saja rambut mereka akan cepat kering, apanya yang harus dikeringkan? Rambut mereka itu dipotong pendek sekali, nyaris botak. Tanpa pakai pengering rambut pun rambut mereka yang sedikit itu pasti akan cepat kering.
Dasar bocah!!
Sudah lima belas menit ia menggunakan hair dryer untuk mengeringkan puch handphone Sascha, tapi benda itu belum kering seutuhnya. Hasan sudah tertidur di lantai dan Husen tengah terkantuk-kantuk di sebelahnya.
“Sudah, mendingan tidur saja! ajakin tuh Hasan tidur di kasur!” ujar Raihan tanpa menoleh, ia masih berkonsentrasi pada pouch handphone yang ia pegangi.
Bocah di sebelahnya menguap dan kemudian bergerak menaiki ranjang Raihan dan langsung tertidur di atasnya. Sementara saudara kembarnya masih tergeletak di lantai dan membuat Raihan terpaksa harus membopongnya ke atas ranjang.
Setelah menyelimuti kedua anak itu Raihan kembali pada pekerjaannya. Mengeringkan tempat handphone dari flannel milik Sascha.
Ia tak mengerti dengan perasaannya. Tempat handphone ini pasti tak akan sebagus hasil awalnya sebelum kehujanan, pasti Sascha pun akan marah besar. Tapi Raihan sama sekali tak mencemaskan perihal itu. Bukan itu yang membuat hatinya terasa aneh, melainkan karena ia merasa berdosa pada Una.
Gadis itu membuatkan prakarya ini dengan segenap perasaannya dan karena kecerobohan Raihan, hasil karyanya rusak. Raihan merasa sangat bersalah padanya. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Una sekarang ya? Apa dia baik-baik saja?
“Hoaaeeemm!” ia menguap.
Tepat di saat jam dinding menunjukkan angka sepuluh. Selama tiga puluh menit mengeringkan benda berwarna hijau ini, akhirnya kering juga. Tapi kok ukurannya lebih kecil ya? Tapi sudahlah! Raihan sudah sangat mengantuk dan lelah. Ia mau tidur!

***

Keesokan paginya. Senandainya saja Hasan dan Husen yang tidur di ranjangnya tak bangun dan berlarian menuruni tangga, Raihan pasti akan bangun kesiangan dan terlambat pergi ke sekolah. Sekarang saja sudah pukul setengah tujuh dan ia baru selesai mengenakan seragam.
“Hei, sarapan dulu Raihan!!” panggil ibu sambil membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya ke depan rumah, mengejar Raihan yang sudah menaiki angkot sambil berpamitan.
“Jangan lupa makan nanti di sekolah!” teriak ibu setelah angkot yang Raihan melaju.
“Iya bu!” anak kesayangannya itu melongokkan kepalanya dari pintu angkot dan kemudian memasukkan kepalanya malu-malu.
Para penumpang yang kebanyakan anak SMP itu memperhatikannya sambil berbisik-bisik. Mereka cekikikan dan melirik Raihan. Saat Raihan mengarahkan pandangannya pada para gadis ABG itu mereka langsung cekikan lagi.
“Hei, mana prakarya ratunya Bambang?” tanya Wawan, suaranya kecil. Ia duduk di sebelah Raihan.
 Dirogohnya sesuatu dari saku kemeja yang Raihan kenakan, tanpa menunggu persetujuan pemilik saku. Mengeluarkan benda berwarna hijau dengan bentuk yang mengerut.
“Ini apa? Kenapa bentuknya kayak begini?” tanya Wawan heran, ia mengibas-ibaskan pouch handphone itu di depan dadanya, sambil menebak-nebak benda apakah gerangan yang tengah ia pegang.
“Sini! Ini tempat HP tauk..” jawab Raihan sambil merebut benda hijau itu dan memasukkannya lagi ke dalam saku. Tapi Wawan malah mengeluarkannya lagi tanpa bisa Raihan cegah.
“Kenapa bentuknya begini? Si Una itu enggak bisa bikinnya?”
“Hei! Jangan panggil Una pakai SI ya? Dia bukan kucing!”
“Deuh, begitu saja marah.. aku bercanda!” elak Wawan sambil memamerkan giginya yang besar-besar, Raihan mencibir dan memalingkan muka tanpa lupa untuk merebut pouch handphonenya.
“Terus kenapa jadi begitu?”
“Kehujanan.”
“Kalau Sascha kecewa? Terus dia marah?” Raihan melirik Wawan dengan ujung matanya dan menatapnya sejurus.
“Bodo amat!” jawabnya tegas.
Wawan membelalakkan matanya dan menepuk-nepuk bahu sahabat kecilnya itu dengan sangat bangga. Ini kali pertama ia melihat Raihan bisa bersikap begitu tenang dengan hal buruk yang tengah menantinya di depan mata!
Semoga saja ia tetap seperti ini saat berhadapan dengan bogem Bambang.

***

“Ke-kenapa bentuknya aneh begini?” tanya Sascha tergagap ketika Raihan menyerahkan prakaryanya di depan perpustakaan.
Kebetulan ia berpapasan dengan Sascha yang baru saja keluar dari lorong yang menghubungkan perpustakaan dengan kantin.
“Kehujanan.. maaf ya? Aku sudah berusaha.. tapi hasilnya ya..” jawab Raihan jujur, ia mengusap-usap tengkuknya dengan kikuk. Ada rasa kasihan juga melihat wajah Sascha yang begitu kecewa, tapi memangnya apa lagi yang bisa ia lakukan? Raihan sudah berusaha!
“Ra—i—han.. kamu..”
“Eh tunggu! Jangan marahi aku! Aku kan enggak sengaja!” elak Raihan sambil merentangkan kesepuluh jarinya di depan tubuhnya, menjaga jarak aman dari Sascha yang nampaknya sudah ingin menelannya bulat-bulat.  Gerahamnya terlihat mengatup, giginya gemeletuk dan matanya merah menyala.
Menghadapi seorang gadis yang akan mengamuk ternyata jauh lebih mengerikan daripada menghadapi Bambang and the gank sekalipun!
“Pipiiiiiiiiw!!!” lengking Sascha tiba-tiba.
Suaranya begitu tinggi dan memekakkan telinga. Raihan sampai harus menutupi telinganya dengan kedua tangan, ia tetap memperhatikan Sascha yang masih menjerit memanggil kekasihnya itu. Ia memanggil Bambang dengan satu tarikan nafas. Sangat panjang dan tahan lama. Paru-parunya sepertinya kuat menampung lebih dari lima liter oksigen, lebih banyak dari kapasitas maksimal paru-paru kebanyakan.
“Sa-Sascha.. su-sudah!” ujar Raihan sambil mendekati gadis itu, berusaha menenangkannya agar tak semakin menjadi.
Ia merasa tak enak dengan tatapan heran siswa dan siswi yang kebetulan tengah melintas di dekat mereka berdua. Bahkan ada yang melongokkan kepala mereka dari balkon lantai dua bangunan seberang, semuanya memiliki tatapan yang sangat penasaran. Semua siswa tahu siapa Sascha, juga tahu siapa Raihan. Serta track record masing-masing.
Tak mungkin jika misalnya Raihan bisa membuat Sascha yang segalak singa betina itu menjerit memanggil Bambang, ketika ia memanggil kekasihnya berarti ada suatu masalah yang tak bisa ia selesaikan. Secara, Raihan gitu lho! Dia itu jauh lebih rapuh daripada para gadis sekalipun!
Bulu kuduk Raihan meremang saat mendengar suara derap langkah teratur dari lorong panjang di belakangnya. Suara itu seperti suara satu pasukan infanteri yang siap bertempur dengan mengenakan baju bajanya yang tebal, tombak tajam di tangan kanan dan perisai berat di tangan kiri. Tapi ia tahu persis, siapa yang memiliki derap langkah sekompak itu.
“Ada apa miw? Mimiw kenapa?” betul bukan? itu Bambang dan geng infanterinya.
Siswa bertubuh besar itu berjalan melewati tubuh Raihan dan menabrak bahunya dengan keras. Keempat temannya yang lain mengikuti hal yang sama. Lima kali ditabrak bahu saja terasa sangat sakit. Apalagi jika dihajar mereka berlima?
Sekarang Sascha tengah mengadu pada Bambang dengan background empat orang siswa dengan tubuh yang sama besarnya dengan dia. Wajah Bambang terlihat menegang, apalagi saat Sascha menunjukkan prakaryanya yang rusak.
“Gitu piw! Pipiw tega mimiw kena marah guru?” rengek Sascha sambil menghentak-hentakkan kakinya di lantai.
Bambang memegangi bahu kekasihnya itu sambil memelototi Raihan, siswa cengeng itu sudah terlihat menciut menjadi lebih kecil karena merasa takut dan ngeri. Namun entah hal macam apa yang membuat dirinya tetap bertahan di depan geng paling kasar itu, ia seakan merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Rasa yang membuatnya harus menghadapi apapun yang akan terjadi, demi harga dirinya. Ia harus mempertahankan apa yang menurutnya tak salah! ya, inilah saatnya untuk mempertahankan harga dirinya!!
Bambang memberi isyarat pada keempat temannya yang langsung bergerak cepat memegangi tubuh Raihan.
“Eh-eh apa nih?” ia mulai panik karena keempat siswa bertubuh besar itu memegangi tubuhnya dengan erat dan menyeret Raihan ke belakang perpustakaan. Raihan pun meronta-ronta, berusaha melepaskan diri namun itu sia-sia saja.
“Kalian mau apa?!” tanya Raihan dengan nada panik. Ia tahu akan ada suatu hal yang buruk terjadi padanya jika kejadiannya sudah seperti ini!
“Gue mau kasih pelajaran sama elo.” Jawab Bambang setelah Raihan dilepaskan dari pegangan keempat temannya. Raihan sekarang terduduk di halaman belakang, tepat di dekat gudang penyimpanan sapu.
“Bambang! Prakarya Sascha kehujanan dan aku sudah sebisanya keringin itu! Aku enggak tahu kenapa bisa jadi menciut kayak begitu!!” Raihan mencoba membela dirinya ketika Bambang mulai mendekatinya dengan bogem yang mengepal.
Raihan menelan ludah dan memejamkan matanya saat ia tahu pembelaannya tak berhasil. Ia tak mau melihat apa yang kemudian terjadi! Ia tak mau merasakan apa yang sudah pasti akan ia rasakan!!

***

“Aduh..” ringis Raihan ketika Una menekankan sebungkus es di pelipisnya. Gadis yang kembali mengenakan pakaian lusuhnya itu meminta maaf dan mengurangi kekuatannya yang ia gunakan untuk menekan memar Raihan.
“Masih sakit?”
“Enggak..” jawab Raihan, ia sudah tidak merasakan sakit dan pedih dari semua bekas kepalan-kepalan tangan Bambang and the gank di sekujur tubuhnya.
Yang ia rasakan saat ini hanya degupan jantungnya yang begitu keras menggedor rongga dada.
Sentuhan Una di lecet-lecetnya yang berdarah membuat seluruh tubuhnya terasa hangat dan nyaman. Entah apa yang terjadi di dalam diri Raihan. Yang jelas ia merasa sangat senang Una begitu memperhatikannya!
“Uh, aku baru pertama kali lihat cowok berantem..” cetus Una, ia mengangkat plastik berisi es dari pelipis Raihan, lalu berganti pada lebam membiru di ujung bibirnya. Siswa itu mengaduh, tapi nyaris tanpa suara.
“Aku enggak berantem.. aku dipukuli..”
“Sama saja..”
“Enggak Una, berantem itu kalau dua orang saling baku pukul.. aku terlalu pengecut untuk melawan mereka..” sela Raihan dengan nada suara lemah.
Ia memalingkan wajahnya dan menjauhkan tangan Una darinya, sekarang ia merasa sangat malu karena telah mengaku terang-terangan bahwa ia tak mampu melawan. Ia memang terlalu pengecut.
“Kamu takut, karena itu kamu enggak lari?”
“Ya, aku takut. Tapi aku enggak lari bukan karena aku terlalu takut. Aku enggak tahu kenapa aku enggak kabur.. padahal tadi aku masih punya kesempatan untuk lari..”
“Bagus!” tiba-tiba Una malah menepuk bahunya sambil tersenyum bangga. Raihan bengong.
“Kenapa bagus?” tanyanya heran.
“Kamu bertahan karena kamu enggak salah. Sekalipun kemudian kamu dipukuli itu cuma salah satu hal yang membuktikan bahwa kamu bukan pengecut..”
“Tapi aku enggak ngelawan lho.. itu namanya aku pengecut..”
“Kamu nangis enggak tadi?” Raihan terdiam mendengar pertanyaan Una yang diluar konten pembicaraan. Ia mengingat-ngingat apakah tadi ia menangis, atau tidak.
Lambat-lambat ia menggeleng, yakin tak yakin. Una kembali tersenyum,
“Itu tandanya kamu memang bukan pengecut Raihan!! Selamat ya kamu sudah mulai jadi lelaki sejati!” pungkas Una sambil menempuk punggung siswa berseragam kusut di sebelahnya. Menatapnya sejurus untuk menegaskan kesungguhannya.
Raihan pun tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada aliran air yang masih setia menemani mereka berdua di tepian sungai. Hatinya dipenuhi rasa bangga. Mungkin apa yang Una katakan memang benar. Mungkin Raihan memang bukan pengecut sekalipun cengeng.
Entahlah, yang jelas tadi Raihan hanya berfikir untuk mempertahankan dirinya disana karena ia mengingat Una. Ia tak mau mengecewakan gadis yang tengah duduk di sebelahnya ini.
Tiba-tiba ia teringat kejadian sesaat setelah Una menyelesaikan prakarya Sascha, ia tiba-tiba saja terlihat sangat sakit dan sesak nafas. Raihan cemas setengah mati melihat teman barunya seperti itu.
Diliriknya Una, ia masih melemparkan kerikil ke tengah sungai. Menikmati suara ‘plop’nya yang terdengar lucu. Dia nampak baik-baik saja.
“Una, kamu enggak apa-apa?” tanya Raihan kemudian. Ia masih menolehkan kepalanya dan menatap Una seksama, namun ia segera mengalihkan pandangannya saat Una menoleh.
“Apa?”
“Ka-kamu enggak apa-apa?” Raihan tergagap. Untuk alasan yang tidak jelas. Una menggumamkan sesuatu yang tak jelas sehingga mau tak mau Raihan harus memiringkan kepalanya agar bisa mendengar apa ucapannya.
“Aku enggak apa-apa! Memangnya kenapa kamu tanya begitu?” Una balik bertanya sambil mendorong Raihan menjauh. Dia terlalu dekat memiringkan kepalanya. Raihan pun terkekeh, dan melirik Una, bersiap untuk menajwab pertanyaannya.
“Kan kemarin kamu kayaknya.. kambuh atau apa gitu..”
“Ah, iya..” ujar Una dengan nada yang tak enak. Suasana langsung berubah menjadi canggung dengan sangat cepat. Raihan jadi merasa sangat bersalah telah mengatakan kambuh.
Sekarang Una pasti merasa bahwa Raihan berfikir bahwa dirinya adalah seorang penyakitan. Padahal sama sekali bukan begitu maksudnya. Baru saja Raihan membuka mulut untuk mencoba meluruskan kesalah pahaman yang benar-benar tak disengaja Una sudah mendahuluinya berbicara.
“Iya, aku kemarin agak kambuh.. tapi sekarang aku sudah baikan, makasih kamu mau peduli Raihan..” ujarnya.
Datar. Nyaris tanpa emosi. Raihan merasa semakin bersalah. Una mengatakan terima kasih seakan hanya untuk menegaskan ketersinggungannya.
“Una, kamu marah?” Raihan memberanikan diri untuk bertanya lagi. Sekalipun kecil kemungkinan Una akan menjawabnya dengan jujur.
Gadis itu menoleh, dan menggeleng. Lalu ia kembali menatap ke tengah sungai, tapi tidak melemparkan kerikil lagi. Kerikil yang belum sempat ia lempar masih digenggamnya dengan erat.
“Kamu bohong. Pasti kamu kesal gara-gara tadi aku salah ngomong..”
“Apa? Geer..” timpal Una judes. Ulu hati Raihan seakan disodok dengan keras. Tombokan bogem Bambang di perutnya tak sesakit ucapan Una barusan. Yang ini rasanya lebih awet sakitnya!
Raihan terdiam. Matanya terasa panas, hidungnya berkedut-kedut menahan tangis. ia menjadi serba salah dan tak tahu bagaimana untuk memperbaiki keadaan. Padahal tadi ia hanya berniat untuk menunjukkan perhatian, lagipula ia sama sekali tidak berfikiran bahwa Una adalah seorang penyakitan!
Raihan mengusap-usap tengkuknya dengan salah tingkah. Ia menjadi seakan duduk di atas bara api. Panas dan tak nyaman! Ia tak mau Una marah karena suatu hal yang sepele!
“Raihan, kamu mau antar aku ke pasar malam enggak?” celetuk Una tiba-tiba. Raihan sampai terlonjak kaget. “Apa?”
“Antar aku ke pasar malam. Kalau kamu mau besok jam tiga sore aku tunggu disini.” Dan Una berdiri.
Tanpa banyak kata-kata dan tanpa menunggu jawaban Raihan ia segera pergi. Rambut pendeknya tertiup angin ketika ia melangkah pergi, memunggungi Raihan yang terbengong-bengong.
“E-eh.. ke pasar malam? maksudnya.. kencan?” gumam Raihan dengan mulut setengah menganga dan mata yang terbelalak lebar.
Tak lama kemudian ia tertawa. Tawanya pelan, lama kelamaan semakin keras dan makin keras. Ini pertama kali di dalam hidupnya dan ia merasa sangat senang!! Una mengajaknya kencan!!

*** 

Drops of Love Bagian 1 DISINI
Drops of Love Bagian 2 DISINI
Drops of Love Bagian 3 DISINI

No comments:

Post a Comment