Sunday, 20 September 2015

Cerita Bersambung Remaja : Drops of Love (bagian 3)



_3_
Senyum dan Tangis Una, juga Raihan


***
Sampai matahari terbenam pun Raihan tak kunjung menemukan pancing bambu milik Una. Padahal ia sudah mencarinya dengan sangat teliti. Ia bahkan sampai menyibak rerumputan di tepian sungai, siapa yang tahu jika pancing itu menyangkut. Tapi tetap saja benda itu tak ia temukan.
Mungkin karena Raihan mencarinya sambil menangis ya? Jadi pandangannya agak-agak buram dan tak fokus.
“Huh, sepertinya nanti aku harus cari lagi nih!” gumam Raihan sambil melipat tangannya di atas meja, lalu ia meletakkan dagunya di atas tangan. Pandangannya lurus ke depan kelas dan kembali membayangkan pancing Una.
Mungkin ia juga lupa bentuk pancing itu, ia tak bisa membandingkan pancing dengan sebatang bambu biasa soalnya bentuknya sama saja. Nanti sore ia harus benar-benar memusatkan konsentrasinya pada segala macam bambu yang ada di pinggiran sungai!
“Heh cengeng!” bentak seseorang yang entah kapan datangnya tiba-tiba saja sudah berjejer di depan meja Raihan. Bambang dan Sascha berdiri paling depan. Sascha adalah pacar siswa paling berkuasa di sekolah, Bambang.
Keduanya pasangan serasi. Jika Bambang yang bertubuh tinggi besar adalah siswa yang paling macho, galak dan paling tegas membully siswa lain, maka Sascha yang tinggi dan langsing serta memiliki karir yang tengah naik di dunia modeling memiliki keahlian yang sama dalam membully siswi lain yang tak populer.
Raihan mengangkat kepalanya dan menelan ludah. Ketika semua anggota geng pemimpin sekolah ada disini, pasti akan ada masalah besar yang akan menimpa Raihan!
“A-ada apa?” tanyanya takut. Apalagi saat melihat Sascha yang cantik itu tersenyum manis. Senyum manisnya itu tanda bencana!
“Kamu itu anak pinter kan Raihan?” tanya Sascha dengan suara yang begitu lembut. Pandangannya menancap hingga ke ulu hati Raihan.
Dengan tegas ia menggeleng. Ia tak mau mengaku pintar!
“Ah, kamu itu.. semuanya juga tahu kalau kamu itu pintar Raihan!!” suara Sascha meninggi. Membuat mata Raihan mulai geli, siap untuk menangis.
“Miiiiw, jangan dibentak.. lihat tuh si cengeng nangis!” ujar Bambang sambil memegangi bahu gadis cantik itu, Sascha menoleh dan memasang wajah manja,
“Habisnya pipiiiw, dianya begitu sih! kan mimiw jadi bete.. sebel-sebel-sebel!!!” rajuknya sambil memukuli dada Bambang dengan kepalan tangannya, Raihan bengong. Sudah berkali-kali ia melihat sepasang kekasih yang paling populer ini bermesraan dengan gaya begitu lebay, tapi tetap saja ia selalu bengong saat melihat mereka melakukannya lagi. Seperti baru pertama kali melihatnya saja.
“Heh! Gue enggak mau tahu, pokoknya habis jam pelajaran terakhir elo harus kerjain tugas seni cewek gue sampai beres! Awas kali hasilnya jelek!” bentak Bambang sambil menggebrak meja. Jiwa machonya kembali seketika setelah pandangannya beralih dari Sascha.
“Ta-tapi, aku sudah ada janji..”
“Enggak pakai nolak! Pokoknya elo harus kerjakan semuanya sampai beres. Bruno, mana bahan prakarya mimiw gue?” salah seorang anggota geng Bambang maju dengan membawa sebuah kardus kecil bekas sepatu, lalu meletakkan benda itu di depan Raihan.
“Ta-tapi.. tapi..”
“Semuanya sudah jelas disana, aku sudah tulis prakarya apa yang ingin aku buat dan semua bahannya sudah siap.. aku minta tolong yaa! Besok pagi harus beres.. kalau enggaaak..” Sascha menggantung kalimatnya dan membiarkan Bambang menunjukkan tinjunya yang besar tepat di depan hidung Raihan.
Setelah selesai dengan urusannya mereka semua pun pergi. Tinggalah Raihan sendiri dengan ujung bibir yang berkedut-kedut, ia merasa hak asasinya sebagai seorang manusia yang bebas telah direnggut dengan paksa!
Lalu mana haknya untuk menolak? Bagaimana dengan janjinya sendiri untuk bertemu dengan Una? Ia kan masih harus mencari pancing Una yang hilang! Kenapa Bambang tak mau mendengarnya barang sedikit? Kenapa ia harus lemah? Kenapa air mata harus menetes lagi?!!
Raihan menangis dengan wajah yang menunduk. Ia merasa sangat tak berguna, untuk menolak saja ia tak bisa! Teman-teman yang lain pun hanya diam saja dan berpura-pura tak melihat apa yang baru saja terjadi. Memang bukan kekerasan fisik, tapi ini juga sama saja menjadi aksi kekerasan bagi perasaan Raihan!
***
Hari berlalu dengan sangat cepat. Padahal Raihan ingin waktunya tak pernah berakhir. Ia tak mau terkurung di sekolah dan mengerjakan tugas orang lain lalu mengingkari janji yang telah ia buat dengan Una. Itu pasti akan membuat Una kecewa dan malas bertemu lagi dengannya. Raihan pun pasti akan menangis tersedu-sedu dan prakarya yang dibuat pun hasilnya tak akan bagus. Esok paginya bogem Bambang pasti akan menanti.
Mengerikan sekali bayangan itu!
“Kenapa bengong terus sih? memangnya ada apa?” tanya Wawan yang sedari tadi ikut bertopang dagu untuk alasan yang tak jelas.
“Gara-gara ini..” jawab Raihan sambil mendorong kotak sepatu berisi bahan prakarya Sascha ke dekat Wawan, siswa itu pun langsung membuka kotak dan tercengang,
“Ini kan tugas prakarya buat anak cewek? Kenapa ada di kamu?”
“Itu punya pacarnya Bambang, dia minta aku yang kerjakan..”
“Lho, kamu kan cowok? Nanti bagaimana jadinya prakarya cewek dibuat cowok?”
“Ya aku enggak tahu, aku bingung.. aku juga punya janji dengan Una..” timpal Raihan dengan bibir yang bergetar. Ia ingin sekali menangis saat ini. tapi jangan, guru Biologi masih mengajar di depan kelas!
“Una? Yang kamu belikan pancing itu kan?”
“I-iyaa..” sekarang suara Raihan serak. Tangisnya sudah mendesak pelupuk mata dan mencekik kerongkongan.
“Eh, jangan nangis.. nanti pak Wowo marah lho! Kamu mau dihukum di depan kelas?” bisik Wawan sambil mengerlingkan matanya ke depan. Guru Biologi paruh baya dengan rambut penuh uban itu masih asyik menerangkan pelajaran, beliau membelakangi kelas dan menulis di whiteboard dengan spidol biru.
“Iya-iya, aku enggak nangis.. aku enggak nangis..” dan air mata tetap berebutan meluncur deras dari mata Raihan. Isakannya begitu jelas terdengar. Seisi kelas langsung menengok ke arahnya. Bagi yang hadir di tempat kejadian tadi pagi langsung maklum, namun bagi pak Wowo yang tidak tahu apa-apa tentu saja sangat membingungkan. Tapi beliau tahu sifat Raihan,
“Raihan! Cuci muka sana! Jangan kayak cewek begitu, galau sedikit nangis!” serunya dari depan kelas. Raihan mengangguk dan bangkit dari duduknya, saat melewati bangku Bambang ia sudah berhati-hati agar siswa bengal itu tak menjegal langkahnya tapi tetap saja hal itu terjadi,
“Blugh!” Raihan jatuh tersungkur dengan dagu yang mencium lantai, sakit sekali itu tentunya!! Bambang tertawa keras namun tak lama, tak ada yang ikut tertawa melihat Raihan jatuh tersungkur. Siswa yang lain tahu pasti ia yang melakukannya, tapi tak terlalu lucu untuk ditertawakan. Apalagi ada pak Wowo yang melihat hal itu terjadi.
“Bambang! Apa-apaan kamu itu?!” bentak beliau sambil membantu Raihan untuk berdiri. Setelah bangkit Raihan berterima kasih dan segera berlari keluar kelas. Ia segera mencari toilet dan menyelesaikan tangisnya di sana hingga jam pelajaran Biologi yang merangkap jam pelajaran terakhir selesai. Bambang pasti kena hukum, seharusnya ia senang karena pak Wowo telah menegakkan keadilan bagi kaum tertindas. Tapi ia malah merasa makin sedih dan takut. Bisa-bisa nanti Bambang malah semakin menjadi padanya!

***

Wawan sudah pulang lebih dulu ternyata. Namun ia meninggalkan sebuah catatan kecil di atas kotak sepatu,
“Raihan, aku pulang duluan. Bambang ancam aku.. katanya enggak boleh bantu kamu.. maaf ya? Saranku kerjakan di sungai saja, bersama Una! Kamu bisa tepati dua janji kamu sekaligus!” eja Raihan membaca catatan itu. Ia lalu mengangguk dengan mata yang berbinar. Betul juga yang temannya itu katakan. Bambang tidak melarangnya untuk membawa pulang prakarya Sascha, yang penting besok sudah selesai. Jadi Raihan bisa bertemu dengan Una sambil mengerjakan tugas seni ini. Saran yang sangat bagus!
Dengan langkah ringan Raihan segera pulang ke rumah dengan menaiki angkot. Dus bekas sepatu itu tak lupa ia bawa juga. Sekalipun belum membaca jensi prakarya apa yang Sascha inginkan, namun itu bukan hal yang sulit, nanti ia bisa memikirkan hal itu berdua dengan Una.
Ia sampai di rumah pukul setengah tiga. Langsung mandi, makan roti dan siap-siap untuk pergi ke tepian sungai.
“Raihan, kamu mau kemana sih? kamu baru datang!” ujar ibu saat Raihan kembali berpamitan untuk pergi.
“Buat tugas bu.. sebelum jam enam juga aku sudah pulang kok!” sahutnya sambil melambaikan tangan. Ibu hanya menggeleng pelan dengan bingung.
Kotak sepatu berwarna putih itu dikepit di lengan kanan, sekarang baru pukul tiga sore dan janji bertemu Una masih satu jam lagi. Tak apa lah ia menunggu, lagipula dia kan bisa mengerjakan prakarya Sascha di tepian sungai.
Sepanjang perjalanan yang tak terlalu jauh dari rumahnya Raihan yakin tak ada Una disana, namun ia salah. Ternyata Una sudah duduk manis menunggunya di tepian sungai, ia mengenakan pakaian yang rapi. Dress peach berenda yang cantik dengan sepatu flat berwarna senada yang mengalasi sepasang kakinya. Ada sebuah keranjang kecil di sebelahnya.
“H-hai! U-Una.. aku fikir kamu belum datang..” sapa Raihan gugup. Ya, dia benar-benar gugup. Ia tak menyangka bahwa Una akan terlihat sangat manis dibalut gaun yang berwana cerah. Apalagi saat ia tersenyum sambil menoleh padanya.
“Iya, aku enggak mau kamu menunggu lagi kayak kemarin.. jadi aku datang lebih awal..”
“Syukur aku datang cepat juga ya? Aku juga enggak mau kamu menunggu..” timpal Raihan sambil duduk di sebelah Una, wangi manis merasuki indera penciumannya. Pasti wangi parfum Una,
“Kamu pakai parfum apa? Wanginya manis banget.. enak..” ujar Raihan setelah beberapa saat mengendus-endus udara. Menikmati wangi yang beda dari parfum wanita kebanyakan. Ada aroma kayu manis, cokelat dan taburan gula yang meleleh. Seperti wangi croissant yang baru matang.
“Parfum? Aku enggak pakai parfum.. mungkin maksud kamu ini ya?” Una mengangkat keranjang rotan di sebelahnya dan membuka kain yang menutupi bagian atas keranjang, seketika wangi itu semakin pekat.
“Croissant?!” pekik Raihan saat melihat isi keranjang yang Una bawa. Gadis itu langsung tertawa dan menyodorkan satu padanya.
“Ini baru matang, mami yang buat..” ujarnya, Raihan menerima kue berbentuk bulan sabit dengan tekstur khas berbalut-balut itu dengan tangan kanan. Kue itu masih hangat, dan menyebarkan aroma yang sangat wangi. Ternyata wangi manis itu memang wangi croissant ya?
“Coba deh.. enak lho!” sambung Una, ia sendiri sudah menggigit salah satu croissant lain lalu menunjukkan isinya pada Raihan,
“Punyaku isinya keju, punya kamu pasti cokelat..” tebaknya. Raihan belum menjawab. Ia membuka mulutnya dan menggigir croissant di tangannya.
“Kress..” garing dan renyah, tapi lembut di dalam. Ada lelehan cokelat yang ikut menambah kaya rasa di dalam mulutnya. Ia mengunyah gigitan pertamanya dengan cepat dan menggigit lagi croissantnya untuk kedua kali,
“Iya, isinya cokelat. Enak banget lho!” puji Raihan jujur. Una tersenyum dan memasukkan sisa croissant isi kejunya ke dalam mulut.
“Mami memang ahli bikin kue.. bikin croissant lama lho.. sampai dua hari..”
“Ah, masa sih?”
“Iya.. ada proses fermentasi adonannya dulu biar renyah..” papar Una, ia menyodorkan keranjangnya lagi pada Raihan, nampaknya teman barunya ini masih ingin mencicipi lebih banyak.
“Aku baru tahu lho! Aku sih tahunya makan saja..” Una tertawa kecil. Matanya melirik dus sepatu yang Raihan bawa,
“Kamu bawa sepatu? Punya siapa? Cewek kamu yaa?” tebaknya asal. Wajah Raihan memerah dan ia segera menyangkalnya dengan tegas. Dengan jujur ia katakan bahwa kotak ini berisi bahan tugas prakarya milik pacar siswa tergalak di sekolahnya.
“Oh, yang suka bully kamu itu? Ternyata pacarnya juga begitu?” Raihan mengangguk pelan, ia membuka kotak itu dan mengeluarkan secarik kertas berisi intruksi yang sudah Sascha siapka.
“Mau aku bantu?” Una menawarkan bantuan.
“Aku memang sudah niat mau minta bantuan kamu, makanya semua ini aku bawa..” jawab Raihan, diserahkannya kertas di tangannya ke hadapan Una, gadis itu segera mengambilnya dan membaca kertas itu dengan seksama.
“Hmm, dia mau buat handphone case ya?”
“Mungkin, aku belum baca. Aku galau..”
“Haha, pasti kamu tadi nangis ya di sekolah?” tebak Una jitu. Ia selalu jitu! Raihan tak menjawab, malu. Kalau Una sampai menanyakan kenapa ia menangis ia akan lebih malu. Una pasti sudah bisa menebak kalau Raihan menangis karena dipaksa mengerjakan tugas. Tapi kalau ia tahu alasan lainnya karena ia takut Una kecewa ia tak datang, rasanya ia akan jatuh pingsan karena malu!
“Oke deh, aku saja yang buat.. kamu enggak bisa jahit kan?” Raihan menggeleng pasrah. Una tersenyum dan mengambil alih dus sepatu di pangkuan Raihan. Ia mengeluarkan semua isinya dan mulai berfikir.
Ada tiga lembar kain flannel, selembar busa tipis, benang wool dan jarum jahit. Ada lem UHU dan sebuah gunting kecil yang masih sangat tajam.
“Kamu bisa jahit?” Raihan balik bertanya sambil melihat tangan Una yang mulai bergerak dengan cekatan menggunting salah satu kain flannel,
“Aku anak perempuan, aneh kalau ada anak perempuan yang enggak bisa jahit..’
“Banyak lho yang enggak bisa jahit. Sascha buktinya..”
“Ah, dia sih produk gagal!” celetuk Una sambil tertawa. Raihan pun ikut tertawa.
Spesifikasi gagal atau tidaknya seseorang itu tergantung dari sisi mana ia diakui oleh masyarakat. Jika ia bergabung dengan sisi masyarakat yang glamour, pemuja kemewahan dan dunia yang modern. Maka tubuh yang indah bak model, wajah rupawan dan tampilan fisik sempurna adalah suatu hal yang wajib diiliki. Yang tidak seperti itu dicap produk gagal. Manusia yang tak berguna dan mengganggu, wajib dibully.
Lalu jika orang yang bergabung dengan sisi lain, yang sederhana dan menganggap keahlian adalah selalu di atas tampilan fisik. Menurut mereka orang-orang tanpa skill adalah orang-orang yang akan gagal menjalani hidup. Tapi mereka tak akan menindas orang-orang yang tak memiliki skill, tak akan membully mereka. Justru tak segan ikut berbagi keahlian, mengajarkan apa yang diketahui hingga semua orang menguasai skill yang mumpuni untuk menjalani hidup mandiri. Orang-orang seperti ini jauh lebih manusiawi.
Perhatian Raihan kembali berpusat pada Una, kini gadis itu sudah selesai menggunting empat lembar bentuk persegi panjang yang ukurannya lebih besar sedikit dari ponselnya. Dua lembar kain flannel, dan dua lembar lagi kain busa. Ia menjadikannya dua pasang dan menjahit sisinya menjadi satu.
Jemari Una bergerak dengan lincah, menusukkan jarum ke salah satu sisi kain dan menariknya dari sisi lain, membuat sejenis simpul yang menguatkan tiap jahitannya pada ‘calon’ handphone case itu. Dari keempat sisi, Una hanya menjahit tiga sisi saja, dibiarkannya sisi pendek yang satu tetap terbuka. Sisi itu nantinya akan menajdi tempat memasukkan ponsel.
“Kamu belajar jahit dimana Una?” tanya Raihan memecah keheningan. Una yang tengah serius ternyata tak bicara sama sekali dan itu membuatnya kesepian.
“Aku belajar dari internet..”
“Bohong, masa bisa sampai rapi begitu?” tanya Raihan tak percaya. Setahunya tutorial di internet itu tak pernah sampai tuntas, selalu ada yang seakan disembunyikan pembuat tutorial yang biasanya juga menjual produk buatannya. Namanya juga rahasia perusahaan, kalau dijelaskan semua, nanti tak ada yang beli produknya dong?
“Aku kan belajarnya bukan sehari dua hari, aku juga sering praktek.. aku suka jahit sejak SMP..” jawab Una, ia baru selesai dengan tutup case, dari flannel yang digunting selebar tiga centi dan panjang sekitar tujuh centimeter. Ia menjahit sekelilingnya dengan cara yang sama dengan menjahit pouchnya, lalu salah satu sisinya ditempel pada pouch handphone, dengan jahitan tangan juga.
“Sudah lama ya?”
“Iya,” jawab Una pendek.
“Eh, Sascha maunya pakai hiasan apa ya?” cetus Una sambil mengangkat pouch yang sudah jadi, Raihan menggeleng dan melihat kertas catatan yang ditulis Sascha,
“Dia enggak bilang, mungkin terserah saja.. terserah kamu saja Una.. kamu kan kreatif..” Una pun kembali berfikir, diangkatnya handphone case yang telah selesai ia buat, masih polos dan belum ada hiasan apa-apanya.
“Aku kasih hiasan ikan dia mau enggak ya?”
“Ah, mau enggak mau harus mau.. suruh siapa dia enggak kasih tahu pengen dihias apa..”
“Oke deh.. tapi beneran nih enggak apa-apa?” Raihan pun mengangguk untuk menegaskan keyakinannya. Una pun segera menggunting bentuk ikan tanpa pola. Nampaknya Una memang sudah sangat ahli dalam membuat handycraft dari flannel, semua bentuk ia sudah hapal dengan baik.
Lima menit kemudian pouch handphone itu sudah selesai. Dengan warna hijau muda dan ikannya yang berwarna hijau tua. Soft case itu terlihat sangat rapi dan cantik. Una memang benar-benar ahli!
“Nih, sudah selesai..” ujarnya sambil menyerahkan benda itu ke tangan Raihan. Dengan wajah yang kagum Raihan membolak-balik hasil karya Una.
“Sascha pasti puas.. terima kasih banyak lho Una.. aku jadi repotin kamu..”
“Enggak apa-apa kok! aku enggak merasa repot. Aku justru senang, sudah lama aku enggak jahit-jahit lagi..”
“Kenapa?”
“Mami larang aku..”
“Kenapa?”
“Iih, kenapa-kenapa melulu..” protes Una sambil memberengut. Raihan malah tertawa.
“Habisnya kan aku enggak tahu.. eh iya, gimana sakitnya? Sudah mendingan?” Una tak segera menjawab, ia hanya melirik dengan ujung mata dan mengangkat bahu.
“Ini aku baru pulang dari dokter..” jawabnya. Bibir Raihan membulat, tadi ia berfikir jika Una baru saja selesai pentas seni di sekolahnya. Ternyata ia salah.
“Terus kata dokter gimana? Kamu enggak apa-apa kan?”
“Cuma enggak boleh terlalu capek.. obatnya juga enggak boleh telat..”
“Iya dong, kalau pengen cepat sembuh harus rajin minum obat..” timpal Raihan. Ia menolehkan kepala dan melihat wajah Una malah murung,
“Una, kenapa kamu malah murung begitu? Aku salah ngomong?”
“Enggak. Aku cuma..” Una tak menyelesaikan kalimatnya. Ia semakin murung dan tangan kirinya diletakkan di atas dada.
“.. aku enggak bakalan sembuh Raihan..” desisnya pelan. Sangat pelan sampai-sampai Raihan harus mendekatkan telinganya untuk mendengar apa yang dikatakan oleh Una.
“Apa Una? Kamu ngomong apa barusan?”
“Enggak! Enggak! Aku enggak ngomong apa-apa! Beneran aku enggak.. aduh!!” ringis Una, ia meremas dadanya sendiri. Wajahnya terlihat sangat kesakitan. Sedetik kemudian Raihan bisa melihat dengan jelas bahwa wajah Una langsung pucat pasi dan tubuhnya bergetar dengan hebat.
“Una! Una kamu kenapa? Una ngomong sama aku, mana yang sakit? Mana?” Raihan panik melihat Una yang terlihat begitu tersiksa, ia ingin membantu gadis itu namun ia tak tahu harus melakukan apa.
Ia hanya bisa memegangi kedua lengan Una dan berusaha menatap matanya agar gadis itu bisa mengisyaratkan kepada Raihan agar ia bisa membantunya menghilangkan rasa sakit itu.
Una mulai kesulitan bernafas. Mulutnya menganga dan dadanya kembang kempis, berusaha mengambil udara sebanyak mungkin untuk membuatnya terus bernafas.
“Una! Kamu kenapa? Ayo aku anterin kamu pulang! Ayo Una!!” tanpa menunggu persetujuan lagi Raihan segera menggendong Una, tubuhnya yang mungil terasa sangat ringan.
Ia sama sekali tak tahu apa yang tengah terjadi pada Una, tadi ia meremas dada sebelah kirinya dan tak lama ia mulai kesulitan bernafas. Tak mungkin jika ia merasa sakit di jantungnya dan terkena serangan asma dalam waktu yang bersamaan! Atau, memang begitu?
“Una! Rumah kamu yang mana? Rumah kamu dimana sih sebenarnya?” tanya Raihan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
Ia sudah cukup jauh dari pinggiran sungai tempat mereka biasa bertemu. Terus terang saja ia sudah berlarian tak tentu arah. Ia sama sekali tak tahu dimana rumah Una. Belum lagi matanya berkabut karena ia tak kuasa melihat wajah kesakitan Una di pangkuannya.
Tangan Una menunjuk ke suatu arah, ke seberang sungai,
“Rumah kamu di seberang sungai?”
“I-ya..” rintih Una.
Tanpa menunggu lagi Raihan segera berlari menuju jembatan penyeberangan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Ia menyeberangi jembatan yang terbuat dari besi dan beton cor kokoh.
Jembatan yang lebarnya satu setengah meter itu menyatukan kedua pinggiran sungai yang kurang lebih memiliki lebar hampir enam meter, panjang aliran sungai itu sendiri sepanjang kota. Benar-benar sepanjang kota Ciseueur. Siapapun yang melihat peta kota ini sering menyebut Ciseueur seperti sekeping biskuit yang dibelah, dan tengahnya dialiri susu cokelat. Sungai Ciseueur.
“Terus kemana?” tanya Raihan saat mereka sudah menyeberangi sungai. Una membuka matanya dan menunjuk ke sebuah gang tepat di depan jembatan. Gang yang cukup besar dengan jalan yang diaspal.
“Rumah kamu di kompleks itu?” tanya Raihan sambil melangkahkan kaki menuju arah yang Una tunjukkan. Gadis di pangkuannya tak menjawab, ia cukup diam untuk menegaskan jawaban bagi pertanyaan Raihan.
Gang yang Una tunjukkan adalah gang sebuah kompleks yang cukup elit. Semua yang tinggal di dalamnya bekerja di dunia kesehatan. Tak salah jika kemudian masyarakat sering menyebut kompleks itu sebagai kompleks dokter. Entah kenapa para pekerja bidang kesehatan itu memilih tinggal di daerah yang sama.
“Aduuh..” ringis Una, nafasnya sudah tak sesak lagi. Ia sudah bernafas dengan normal namun tangan kanannya masih diletakkan di atas dadanya, masih menekan bagian itu dengan wajah yang meringis.
“Ambil belok kiri.. rumahku nomor empat..” ujar Una lirih. Raihan tak banyak bicara, ia segera mencari rumah yang bernomor empat.
Bagi Raihan yang baru pertama kali masuk ke dalam kompleks yang satu ini, semua rumah nampak sama. Dua lantai dengan gaya minimalis. Taman mungil dengan sebuah pohon pinus mini di sudut depan dan berbenteng pagar besi hitam. Ada mobil bagus di tiap garasi.
“Mana nomor empat?” gumam Raihan sambil terus mengedarkan pandangannya sejauh yang ia bisa. Setiap rumah memiliki nomor pada bagian depannya, dekat pilar. Tak ada yang bernomor empat!
“Ah, sa-sakit..”
“Tahan Una!! Tahaaaan.. huu-huu.. nomor empatnya enggak ketemuu!!” tangis Raihan sudah tak bisa disembunyikan lagi.
Ia menangis tersedu dan semakin kesulitan untuk melihat. Ia merasa sangat tidak berguna, sudah tahu Una kesakitan dan butuh bantuan, tapi ia malah menangis sehingga tak bisa melihat rumah gadis ini!
“I-ini rumahku Rai-han..” ujar Una, sangat lirih.
Raihan menghentikan tangisnya sesaat dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Ternyata ia berdiri tepat di depan rumah bernomor empat! Rumah Una! Beruntung sekali pagarnya tidak dikunci, jadi Raihan bisa segera masuk ke dalam halaman rumah.
“Permisi!!” teriak Raihan tepat di depan pintu rumah.
Una yang pangkuannya masih meringis-ringis. Raihan masih sangat khawatir tapi ia sedikit lebih lega, setidaknya Una tak kesulitan bernafas seperti tadi.
“Permisi!!” teriaknya sekali lagi karena belum ada yang membukakan pintu, Raihan lalu meninggikan suaranya karena khawatir orang yang ada di dalam rumah tidak mendengarnya.
Tak lama terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Orang itu mengenakan sandal yang memiliki hak, suara ketukannya terdengar begitu jelas pada lantai.
“Siapa… Ya ampun Una!!!” jerit wanita yang baru membuka pintu, tubuhnya mungil semungil Una dan ia langsung menjerit-jerit memanggil semua orang di dalam rumahnya.
Sepasang dewasa berpakaian sederhana muncul dari dalam rumah dan salah satu dari mereka mengambil alih tubuh Una. Laki-laki paruh baya itu nampak masih kuat untuk menggendong Una dan membawanya naik ke lantai dua.
Dari pintu masuk yang terbuka ia bisa melihat mereka berempat naik ke lantai atas melalui tangga bagus di ujung ruangan. Sepertinya mereka begitu panik sampai-sampai tak sempat berkata apa-apa kepadanya. Bahkan untuk mengatakan apa yang harus Raihan lakukan pun tak sempat. Sekarang Raihan hanya termangu di depan rumah Una.
Mau masuk, ia tak dipersilahkan. Mau pulang, ia sungguh-sungguh khawatir dengan keadaan Una. Ia takut terjadi sesuatu pada Una dan ia tak ada disana.
Ya memang mungkin tak akan banyak membantu, Raihan pun pasti akan menangis. Tapi setidaknya ia berusaha untuk memberikan dukungan moral.
Raihan pun memilih untuk duduk di teras. Tidak apa ia harus menunggu cukup lama. Suatu saat wanita yang pasti mami Una itu akan menyadari bahwa ia masih di bawah dan akan menemuinya untuk mengatakan apa yang tengah terjadi pada putrinya itu.
“Tik.. tik.. tik..” suara tetesan hujan terdengar menimpa atap garasi dan membuat Raihan teringat akan sesuatu.
“Prakarya Sascha!!!” pekiknya tertahan. Tanpa ba-bi-bu lagi ia segera berlari kembali ke sungai. Hujan menderas saat ia setengah jalan menuju tempatnya dan Una tadi berada.
Keranjang berisi croissant masih ada, juga dus sepatunya. Kondisinya masih baik, hanya saja pouch handphone itu..
***



No comments:

Post a Comment

Prive Uri-Cran Itu Solusi Anyang-Anyangan yang Betul. Bukan Minum Air Soda!

Prive Uri-Cran Itu Solusi Anyang-Anyangan yang Betul. Bukan Minum Air Soda! - Pernah dengar enggak sih kalau lagi sakit anyang-anyangan i...