Thursday, 17 September 2015

Cerita Bersambung Remaja : Drops of Love (bagian 2)



_2_
Lagi Una..


***

Sepulang sekolah. Tepat pukul dua siang, Raihan ditemani Wawan dan Sandra berjalan bersama menyusuri trotoar, menuju toko alat pancing yang paling lengkap di kota mereka. Kota kecil yang jaraknya lebih dari tiga puluh kilometer dari ibukota provinsi.
Kota ini dibelah oleh sungai yang lumayan lebar, airnya selalu mengalir jernih dan dengan ragam spesies ikan tawar. Tak heran jika banyak penggemar pancing mengunjungi kota ini untuk memancing. Kota yang bernama Ciseueur ini sudah menjadi sebuah kota wisata memancing yang cukup populer.
“Mau cari disini apa mau ke pasar ikan?” tanya Sandra saat mereka sudah sampai di depan toko alat pancing. Raihan mendongak dan membaca banner toko tersebut.
“Jaya Raya Pancing Shop.. kenapa namanya seperti nama armada bus ya?” ujarnya sambil menolehkan wajahnya pada Wawan, temannya yang keriting itu hanya nyengir kuda.
“Biar kesannya gagah mungkin..” jawabnya kemudian.
“Hei, mau disini atau di pasar ikan?” tanya Sandra lagi dengan suara yang lebih keras.
“Aku mau beli pancing Sandra, bukan beli ikan..”
“Iya, pancing lho bukan ikan!” sambung Wawan dengan gaya menyebalkan. Sandra menggeram, kesal karena tak ada yang mengerti maksudnya menanyakan hal itu.
Sandra tahu jika harga alat pancing di toko Jaya Raya ini di atas rata-rata. Ia pernah membeli alat pancing untuk kado kakeknya yang pecinta mancing di sini.
Toko alat pancing ini adalah toko eksklusif yang khusus menjual berbagai jenis joran, umpan buatan, pisau lipat dan macam-macam alat memancing dengan kualitas super. Bisa ditebak bukan harganya?
Sandra sengaja menunggu di luar toko dengan melipat tangannya di depan dada. Ia membiarkan kedua temannya masuk dan mencari pancing yang harganya di bawah seratus ribu. Sandra berani bertaruh, tak akan ada. Raihan dan Wawan pasti akan segera kembali dengan wajah yang kecewa.
Benar saja, tak lama berselang keduanya keluar dengan wajah yang aneh. Sandra hanya tertawa sinis, kedua tangannya masih dilipat di depan dada,
“Buset, ada pancing tiga juta! Bisa beli hape lima!!” cetus Wawan dengan wajah yang masih menatap pintu masuk toko, pada pintu kacanya terlihat berbekas sidik jari. Bekas tangan Wawan.
“Iya, yang dibawah tiga ratus ribu juga enggak ada.. uangku enggak cukup..”
“Aku bilang juga apa?” celetuk Sandra dengan senyuman kemenangan terlihat jelas di bibirnya. Wawan mendelikkan mata,
“Apa? Kamu bilang apa? Kamu kan cuma tanya mau belanja di sini atau di pasar ikan kan?”
“Iya, memang. Kamu belum ngerti juga apa maksudnya?”
“Memangnya apa?”
“Di pasar ikan banyak toko pancing murah ireng!!” bibir Wawan pun membulat mendengar kalimat pemungkas dari Sandra, ia baru mengerti maksud pertanyaan Sandra tadi. Habis, Sandra tidak bicara dengan jelas sih!
Raihan pun baru mengerti. Ia pun segera mengalihkan pandangannya ke jalanan, mencari angkot yang menuju pasar ikan. Sebuah angkot dengan warna putih dan strip biru datang dari kejauhan.
“Itu angkotnya.. yuk naik!” ajak Raihan sambil melambaikan tangannya agar angkot itu berhenti. Kendaraan yang terkenal dengan kebiasaan ngetem sembarangan itu pun berhenti tepat di hadapan mereka bertiga.
“Aku enggak ikut Raihan, aku mau beli pesanan mama..” Sandra menolak untuk ikut pergi. Ia tengah memegangi handphone, baru saja ia mendapatkan telepon dari rumah. Raihan yang baru menjejakkan kaki kanannya di tangga angkot menoleh, lalu mengiyakan kata-kata Sandra.
“Jangan lupa tawar harganya dulu ya! Soalnya banyak yang harganya enggak kira-kira!” amanat Sandra sebelum angkot yang Raihan naiki melaju.
“Oke!” jawab Raihan dengan ibu jari yang teracung keluar jendela angkot.
Untuk sampai ke pasar ikan membutuhkan waktu sekitar lima menit dengan menggunakan kendaraan roda empat ini, tak terlalu jauh soalnya.
Bau amis mulai menyergap hidung. Bau amis ikan yang sudah lama di darat. Baunya jauh lebih memualkan daripada amis ikan segar. Maklum lah, sudah jam setengah tiga, sedangkan ikan-ikan itu diangkat dari sungai, tambak dan kolam sejak dini hari. Wajar saja jika bau mereka sudah tidak enak.
Sisik dan jeroan ikan yang belum sempat dibersihkan terlihat berceceran di beberapa jongko yang sudah tutup, beberapa masih ada yang buka dan menjual sisa ikan yang belum laku dengan setengah harga.
“Ikannya a? cuma delapan ribu sekilo..” salah seorang pedagang yang mengenakan caping menawarkan ikan yang ia jual pada Raihan. Ikan gabus dan lele seukuran telapak tangan.
“Enggak bu, saya sedang mencari toko alat pancing.. dimana ya?”
“Toko alat pancing? Itu kan toko alat pancing semua a..” jawab pedagang itu sambil menunjuk ke belakangnya. Ke barisan toko kecil dengan cat-cat yang sudah memudar.
“Oh, iya. Terima kasih ya bu?” ujar Raihan sopan, ia membungkukkan tubuhnya untuk berpamitan. Ibu penjual ikan itu ikut menganggukkan kepalanya,
“Yakin a enggak beli ikannya sekalian? Enam ribu deh sekilo. Penghabisan!”
“Lima ribu saja bu..” ujar Wawan sambil melihat-lihat ikan yang ditawarkan, seakan ia berniat untuk membeli.
“Ya sudah lah, enggak apa-apa. Sudah sore..”
“Tapi enggak jadi deh bu, saya enggak terlalu suka ikan..” cetus Wawan sambil berlalu. Ibu penjual ikan hanya mengelus dada sambil menggelengkan kepala.
“Sudah ditawar, enggak beli. Dasar bocah ireng..” gumamnya kesal.

***

“Jadi mau beli yang mana?” tanya Wawan setelah ia kembali berjalan beriringan dengan Raihan yang tengah menyusuri toko alat pancing.
“Beli yang mana apanya? Ini kan tokonya sudah tutup semua!” jawab Raihan dengan nada kesal. Wawan terkadang suka bertanya hal-hal yang bodoh. Lihat saja, toko-toko tutup semua apanya yang mau dibeli?
“Oh, iya-iya.. kenapa tokonya sudah tutup ya? Memangnya enggak mau ada yang beli?”
“Sekarang sudah sore Wan, pembeli sudah jarang.. jadi ya mereka tutup..”
“Kenapa enggak ditunggu saja agak lama? Sore-sore juga suka ada yang belanja!” Raihan hanya melirik Wawan dengan ujung mata. Selain suka bertanya hal-hal yang bodoh, ia juga suka berkata seakan-akan dia itu adalah orang yang paling tahu akan semuanya.
Dia seringkali bicara tanpa referensi yang cukup. Seperti saat ini, memangnya kenapa jika pedagang di pasar sudah tutup pukul dua? Mereka juga punya kehidupan pribadi yang harus diurus bukan?
“Eh, itu ada yang buka tuh!” seru Wawan sambil menunjuk ke suatu arah. Raihan mengikuti arah yang ditunjuk, benar saja. Ada sebuah toko yang masih buka, letaknya di ujung dan agak suram. Toko yang kurang laku sepertinya.
“Kok tokonya suram begini ya? Auranya aneh..” bisik Wawan saat mereka berdua sudah sampai di depan toko tersebut. Raihan hanya mengangguk. Ia baru saja akan mengatakan hal itu.
Toko ini tanpa papan nama, Dinding kayunya pun tak dicat, entah sudah pudar warnanya karena lama tak dicat ulang. Barang yang dijual pun sudah berdebu. Niat untuk membeli pancing di tempat ini sepertinya harus diurungkan. Raihan tak mau membelikan pancing baru untuk Una dari tempat yang auranya misterius dan tak jelas seperti ini.
“Pulang saja yuk? Besok saja pagi-pagi aku kesini lagi..” ajak Raihan sambil menggamit lengan Wawan untuk pergi dari tempat itu. Terlalu lama disini membuatnya sedikit takut, jangan sampai ia menangis karena takut pada hal yang tidak jelas!
Sebelum keduanya pergi sebuah suara membuat langkah mereka terhenti, suara berat dan pelan. Seperti suara seorang kakek tua yang renta dan lemah,
“Mau beli pancing jang[1]?” sontak keduanya menengok dan mendapati seorang kakek bertubuh kekar berdiri di depan pintu toko. Dengan wajah yang kaget Raihan mengangguk. Begitu pula Wawan, ia mulai beringsut menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh Raihan.
“Ayo masuk! Banyak pancing bagus yang cocok untuk anak muda yang atletis dan tampan seperti kamu!” seru kakek itu dengan penuh semangat.
“Ta-tapi.. pancingnya bukan buat saya kek.. pancingnya untuk teman saya.. ce-cewek..” ujar Raihan sambil mengambil satu langkah ke belakang, melihat gelagat agresif dari kakek penjaga toko ini ia mulai merasa khawatir.
Banyak cerita tentang pembunuh berdarah dingin yang biseksual dan sangat suka pada berondong. Mereka biasanya beroperasi di saat-saat sepi dan dengan cara yang sejenis ini.
Bukannya suudzon, hanya saja berjaga-jaga tak ada salahnya bukan? nyawa hanya ada satu lho! Harus dijaga dengan sangat baik!
Kakek berambut putih itu mengerutkan keningnya dan berfikir. Tak lama ia menjentikkan jarinya seakan teringat sesuatu yang sangat penting. Kakek itu masuk ke dalam tokonya yang gelap dan keluar lagi dengan membawa sebuah pancing bagus berwarna pink lembut.
“Ini adalah pancing khusus yang didedikasikan bagi gadis-gadis penyuka hobi mancing. Dibuat dari plastik kualitas tinggi yang lentur dan aman bagi kesehatan, gagang dari kayu jati dengan ukiran Jepara asli dan gulungan stainless yang anti karat. Pancing spesial ini juga dilengkapi wangi aromatheraphy yang menyegarkan.. sangat cocok untuk teman spesial kamu!” papar kakek tak dikenal itu panjang lebar. Ia menjelaskan semua sambil menunjuk satu per satu bagian pada alat pancing itu.
“Ini adalah pancing modern dengan kualitas global yang paling lengkap!” sambungnya mengakhiri penjelasan.
“Dilengkapi layar sentuh juga ya kek?” celetuk Wawan asal. Kakek itu tak menimpali celetukan Wawan, ia hanya memicingkan matanya dan membuat siswa berambut keriting itu bersembunyi lagi di balik punggung Raihan.
“Ja-jadi berapa harganya kek?” tanya Raihan setelah kakek yang masih memegangi pancing pink itu sudah berhenti berpromosi.
“Harga pancing spesial ini hanya sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus rupiah!”
“APA?!!” teriak Raihan dan Wawan bersamaan. Mereka menelan ludah bersama-sama juga dan saling bertukar pandang.
“Sa-satu juta?”
“Sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus rupiah saja jang! Murah kok! untuk pancing spesial seperti ini, harga segitu sudah murah!” timpal kakek itu sambil memain-mainkan alisnya. Raihan kembali menoleh ke Wawan, teman kecilnya itu hanya menyeringai, miris. Satu juta rupiah kurang seratus perak untuk pancing saja?
“Uang saya enggak cukup kek.. bisa kurang enggak? Soalnya saya sudah janji mau ganti pancing teman saya nanti sore..” ujar Raihan memelas. Ia tak mau mengecewakan Una.
Kakek penjaga toko itu terlihat berfikir sesaat, diangkatnya pancing yang ia pegang, ditatapnya lalu berfikir lagi.
“Oke deh. Lima ratus ribu!”
“Aduh, masih enggak cukup kek! Kurangi lagi..”
“Baiklah. Delapan puluh ribu! Deal or no deal?”
“Deal!” sahut Wawan sambil menyalami tangan kanan kakek yang terulur di depan dada Raihan.
“Lho kok deal? Siapa tahu bisa kurang lagi!” bisik Raihan geram. Wawan hanya nyengir kuda.
“Itu kan sudah murah banget Raihan! Tadinya satu juta lho!” cetus Wawan percaya diri.
“Sebentar saya bungkus dulu..” kakek itu berpamitan untuk membungkus pancing dengan kertas tipis berwarna abu-abu. Kertas itu dililitkan dengan asal dan diikat dengan karet gelang. Bungkus yang terlalu sederhana untuk pancing yang pernah dibandrol dengan harga satu juta rupiah.
“Terima kasih ya? Lain kali belanja lagi disini!” seru kakek penjaga toko saat Raihan beranjak pulang setelah transaksi jual beli selesai. Namun kakek itu lalu berjalan mendekati Raihan.
“Ah ya, jangan lupa. Gunakan kesempatan ini untuk membuat hidup kamu berubah! Gadis itu bisa membuat kekurangan kamu menjadi kelebihan.. “
“Eh.. apa kek?” tanya Raihan saat kakek itu membisikkan sesuatu di telinganya.
“Lihat saja kemana takdir membawa kamu ke jalan cinta..” Raihan melongo total. Apa maksud perkataan itu? Kenapa kakek penjaga toko malah berbicara seakan-akan ia bisa membaca masa depan seseorang?
“Kek, saya.. eh, mana kakeknya? Kakeknya hilang Wan! Hilang!” Raihan panik sendiri saat mendapati kakek itu hilang dari belakangnya. Wawan nampak tenang-tenang saja.
“Wan! Dia hilang! Jangan-jangan dia itu peramal sakti!”
“Hilang apanya sih? tuh dia sudah pergi!” jawab Wawan sambil menunjuk ke samping toko. Kakek itu nampak berjalan cepat menjauhi toko sambil memegangi perutnya, mungkin ingin mencari toilet.
Raihan tak habis fikir. Bagaimana bisa kakek itu mengatakan sesuatu yang mungkin menjadi masa depannya?
“Jang, dia ngomong apa?” tanya salah seorang pedagang ikan yang tak jauh dari toko alat pancing, Raihan menoleh.
“Ee.. sesuatu tentang masa depan saya pak..” pedagang itu tertawa kecil sambil mengibaskan tangannya di depan wajah,
“Jangan dipercaya jang! Dia mah suka ngomong aneh.. sama semua pelanggan juga dia kayak begitu..”
“Maksudnya pak?”
“Ya begitu.. enggak usah terlalu percaya..” pungkas pedagang ikan berperut buncit itu sambil melengos pergi.
Raihan pun terdiam, ia menatap pancingnya dan memikirkan kata-kata kakek tadi. Lalu ucapan pedagang ikan yang mengatakan bahwa kakek itu pembual.
Raihan tersenyum simpul. Apapun yang kakek tukang pancing itu katakan, sekalipun ia membual, Raihan tetap percaya. Ia merasa apa yang kakek itu katakan adalah suatu sugesti yang baik baginya.
Ia akan menjadikan kalimat itu sebagai penyemangatnya. Ia memang merasa Una spesial. Entahlah, kemarin tak banyak yang mereka lakukan, bicara pun seadanya. Tapi gadis itu seakan berbeda! Ia pasti bisa membuat Raihan menemukan fungsinya sebagai produk gagal! Ya!

***

Sudah pukul empat lebih sedikit. Entah lebih lima menit, entah lebih lima belas menit. Yang jelas Raihan sudah cukup lama menunggu Una di tempat yang sama dimana mereka bertemu kemarin sore. Di pinggiran sungai yang berumput ini.
“Kenapa dia belum datang ya? Katanya kalau cerah dia mau datang.. tapi kok belum datang juga?” gerutu Raihan sambil terus menatap ke arah pulangnya Una tempo hari. Arah ke sekolah Raihan.
Karena yang dinanti tak kunjung muncul batang hidungnya ia pun lebih memilih untuk tiduran di atas rumput. Ia menatap langit yang berwarna biru cerah, ada beberapa awan yang ikut bergabung menghiasi atap bumi yang begitu luas itu. Raihan mengela nafas dan teringat kejadian sebelum ia pulang sekolah, saat Bambang dan empat orang temannya memaksa Raihan mengerjakan tugas.
Ia menangis tersedu-sedu dan kepalanya pun sakit karena berfikir keras di bawah paksaan. Seandainya Una tahu bagaimana cengengnya Raihan, ia pasti akan sangat ilfeel kepadanya.
Tapi ia berterima kasih pada geng Bambang, karena dibully Raihan menjadi galau dan memilih untuk jalan kaki untuk pulang ke rumah. Karena bergalau ria itulah ia bisa bertemu dengan Una.
“Hai, sudah datang dari tadi ya?” sapa Una. Ia sudah datang dan langsung ikut berbaring bersama Raihan. Melihat gadis itu sudah datang Raihan malah bangkit duduk dan menatap Una dengan wajah yang aneh, antara senang, gugup dan malu.
“E-eh.. Una.. kamu baru datang?” tanya Raihan di sela-sela kegugupannya. Una mengangguk, sambil memejamkan mata. Ia masih berbaring di atas rumput. Wajahnya terlihat agak pucat.
“Kamu enggak apa-apa? Kamu pucat lho!” cetus Raihan, ia ingin menyentuh dahi, atau pipi Una untuk memeriksa suhu tubuhnya. Namun ia sungkan,
“Enggak, aku enggak apa-apa kok..” jawab Una tanpa membuka mata. Ia terlihat sangat lelah, entah karena apa.
“Yakin?”
“Iya deh, aku agak pusing.. tapi sedikit..” akhirnya Una mengaku juga. Ia membuka sebelah matanya dan melirik Raihan.
“Sudah minum obat?” ia mengangguk.
Keduanya tak bicara lagi, Una tetap memejamkan mata dengan kepala yang masih berbantal rerumputan pinggiran sungai dan Raihan yang duduk di sebelahnya dengan tangan yang gemetar, ia gemetar karena gugup. Ia akan memberikan pancing baru tapi tak tahu bagaimana cara untuk memulainya.
“Eh, Una..” panggilnya kemudian, Una menyahut dengan gumaman.
“Ini.. aku sudah belikan pancing yang baru, maaf soal pancing kamu yang kemarin..” akhirnya Raihan pun bisa mengatakan hal terpenting yang ingin ia katakan sejak tadi. Una bangun dan mengambil pancing yang disodorkan kepadanya.
“Wow, terima kasih. Padahal aku kan sudah bilang, enggak usah diganti.. cuma pancing kok!” tutur Una sambil membuka kertas tipis yang membalut pancing.
“Pancing pink? Manis banget!” serunya sambil tertawa, ia ceria tapi matanya tetap murung.
“Kamu enggak suka?” tanya Raihan segera. Sekalipun ia mengatakan bahwa pancing itu manis, juga tersenyum ceria. Tapi sorot matanya tak bisa menipu. Raihan benar-benar bisa melihat kemurungan di wajah Una, padahal orang lain tak akan ada yang bisa melihat hal itu. Sudah dikatakan sebelumnya bukan? Raihan itu sangat sensitif!
“Aku suka, banget.. makasih sekali lagi.. kalau pakai ini aku pasti dapat ikan yang besar-besar. Bahkan ikan Belida!” canda Una.
“Kan enggak ada ikan Belida di sini.. nyindir aku ya?” timpal Raihan yang  tersenyum simpul. Ia meletakkan lengannya pada kedua lutut dan jemarinya saling bertaut, ia memandang arus sungai yang tenang sambil membayangkan apa yang sebenarnya ada di dalam benak Una.
“Eh, tahu enggak? Kata penjualnya sih ada pancing itu ada aromatheraphynya juga..” Una tidak menjawab, ia mendekatkan gagang pancing pada hidungnya dan mengendus beberapa kali, beberapa kerutan muncul di dahinya,
“Enggak ada wanginya kok!”
“Masa sih? tadi penjualnya bilang gitu.. terus gagangnya dari kayu jati dengan ukiran Jepara..” Una malah tertawa, ia melihat pegangan pancingnya dan mengamatinya sesaat. Kayu sepanjang lima belas centimeter itu divernis hingga mengkilat, tak ada ukiran rumit Jepara di kayu itu. Hanya ada dua keratan melingkar di tiap-tiap ujung kayu.
“Ukiran Jepara?” tanya Una sambil menunjukkan keratan itu. Raihan pun tertawa kecil.
“Ternyata memang bohong ya? Kata tukang ikan sih pedagangnya tukang bohong..”
“Tapi pancingnya bagus kok! aku suka..” ujar Una tulus. Ia tersenyum dan mengelus gagang pancing barunya. Raihan ikut tersenyum lalu kembali tercipta keheningan di antara mereka berdua.
Hanya semilir angin sore, desiran arus sungai yang tenang dan bunyi kecipak air yang diciptakan ikan sungai saat mereka muncul ke permukaan yang mengisi indera pendengaran Raihan dan Una. Hingga akhirnya ada ringtone piano klasik yang muncul.
“Ringtone siapa itu?” tanya Raihan dengan kepala yang celingukan.
Ia tak merasa memasang ringtone seperti itu. Tapi ia tak yakin jika suara ringtone itu berasal dari Una. Bukannya menyepelekan, hanya saja gadis itu.. ya tahu kan? Dia berpakaian lusuh.
Tangan Una bergerak, merogoh sesuatu dari saku celana lusuhnya dan mengeluarkan sebuah benda persegi panjang pipih dengan layar yang berkedip-kedip. Dari sanalah bunyi itu berasal!
Gadis bertubuh kecil itu menekan layar yang berkedip dengan lembut lalu meletakkan benda itu di telinganya.
“Halo Mi? aku enggak apa-apa.. iya iya.. nanti jam lima aku pulang! Enggak mau, jam lima saja ya? Aku janji aku enggak apa-apa.. ada temen kok disini..” Una berhenti bicara, lalu menoleh kepada Raihan. Disodorkannya smartphone yang ia pegang padanya,
“Apa?”
“Mamiku ingin bicara sama kamu..”
“Hah?!” Una terus menyorongkan benda itu pada Raihan,
“Ayo, nanti mami aku malah marah..” desak Una. Wajahnya memohon dengan sangat. Sekalipun berat hati dan tak tahu harus berbicara apa dengan maminya Una, Raihan pun memberanikan diri untuk bicara,
“Ha-halo tante?”
Halo! Temannya Una ya? Tante titip Una sebentar ya? Jangan sampai dia kecapekan, apalagi sampai pingsan! Kalau kamu enggak sibuk.. tolong anterin dia pulang ya? Tante suka khawatir kalau dia pulang sendirian!” Raihan sampai menganga mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan wanita di seberang telpon. Nafasnya sangat panjang sampai-sampai ia bisa berbicara sepanjang itu tanpa menghela nafas.
Hallo? Hallo? Kamu masih disitu kan?
“Eh. Eh iya tante.. saya masih disini..” Raihan melirik Una, ia malah mengangkat alis dengan bibir yang digigit. Wajahnya imut sekali.
Bisa kan tante titip Una? Jam lima ajak dia pulang ya? Paksa saja paksa!
“I-iya tante.. pasti..”
Ngomong-ngomong nama kamu siapa?” akhirnya wanita itu menanyakan hal yang seharusnya ditanyakan sejak tadi,
“Raihan tante,”
Eh, kamu cowok? Tante fikir cewek lho! Suaranya lembut sekali!” Wajah Raihan langsung aneh, ia disangka anak perempuan? Kejam sekali!
Una yang masih duduk di sampingnya menahan tawa. Wajah Raihan menjadi merah karena malu. Apakah dia begitu lembut hingga mendekati kata feminim? Padahal Raihan lelaki normal kok! memang sih suaranya belum se-ngebass teman lelakinya yang lain sekalipun ia sudah duduk di kelas XII. Karena itulah mungkin mami Una menyangkanya sebagai anak perempuan.
Oke deh Raihan, tante titip Una ya? Sekarang handphonenya kasih Una lagi..
“Iya tante, nih..” smartphone dengan logo khas apel yang digigit itu kembali berpindah tangan,
“Iya mi, iya. Dadah.. “ dan Una mengakhiri pembicaraan via telpon dengan memasukkan gadgetnya ke dalam saku. Siapa yang menyangka saku celana yang dengan warna yang tak jelas itu mengantongi sebuah benda yang harganya di atas lima juta?
Itulah kebenaran pepatah ‘Don’t judge a book by its cover’. Tampilan fisik tak selalu mencerminkan tampilan di dalam diri seseorang. Atau keadaan ekonominya.
Tiba-tiba Raihan teringat gadis berseragam pink di bus yang ia lihat tadi pagi. Jangan-jangan gadis itu memang Una.
“Una, kamu sekolah di SMA khusus putri?” tanyanya segera. Una menoleh, lalu menganggukkan kepalanya dua kali.
“Tadi duduk di dekat jendela bus kan?” Una mengangguk lagi.
“Iya, kok kamu tahu? Aku memang selalu duduk di dekat jendela.. aku suka lihat banyak mobil, motor dan orang-orang sepanjang jalan ke sekolah..” tuturnya.
“Iya, tadi aku lihat di lampu merah..”
“Kamu sedang apa di lampu merah?” tanya Una agak kaget. Sepertinya ia mengira Raihan sedang mengamen atau menjadi pedagang asongan.
“Aku naik angkot.. di perjalanan ke sekolah..”
“Oh, aku fikir kamu nongkrong di lampu merah..” Raihan malah tertawa mendengar kata-kata Una,
“Aku ini murid teladan.. untuk apa aku nongkrong di lampu merah?”
“Saking teladannya sampai harus mau mengerjakan tugas teman yang lain dan pulang berjalan kaki ke rumah. Iya kan?”
“Yaa, enggak setiap hari sih..” elak Raihan. Mencoba menyelamatkan harga diri di hadapan teman barunya.
“Tenang, bukan cuma kamu kok yang begitu.. aku juga sering seperti itu..” cetus Una dengan suara yang pelan, ia tersenyum lirih. Diraihnya pancing baru pemberian Raihan yang tadi ia letakkan di sebelah kanan, lalu diputar-putar perlahan.
“Masa sih?” tanya Raihan penasaran, dihadapkannya tubuh menghadap Una, ia ingin mendengar ceritanya lebih jelas.
“Ya begitu.. mereka yang lebih berkuasa sering menindas siswi yang lebih lemah.. “
“Tapi kamu enggak terlihat lemah kok! kamu malah terlihat sangat tegar..” cetus Raihan, membuat Una tersenyum lirih.
“Karena aku berusaha terlihat tegar.. aku enggak mau mami khawatir..” Raihan terdiam. Una memang tegar. Bukan berpura-pura agar terlihat tegar. Dia ditindas di sekolah namun ia tak mau mengatakan apapun untuk membuat orang tuanya khawatir.
“Sayang aku enggak bawa umpan.. kalau aku bawa umpan aku mau mancing sekarang, pakai pancing baru..” celetuk Una, mengalihkan pembicaraan. Ia tertawa ceria dan wajahnya terlihat lebih baik.
Ia bisa menipu orang lain dengan tawanya, tapi tidak Raihan. Lelaki lembut itu masih bisa melihat sorot buram dari kedua mata Una.
“Una, kalau kamu butuh teman bicara.. Bicara saja padaku. Aku mau dengar kok! aku juga bisa jaga rahasia..” Una terdiam. Tawanya hilang dan ia menundukkan kepala mendengar kalimat yang baru saja Raihan katakan.
“Aku enggak ngerti.. kenapa kamu bisa baca fikiran aku?” desisnya pelan.
“Aku enggak bisa baca fikiran kamu, aku hanya lihat mata kamu.. semuanya jelas disitu..” timpal Raihan, juga dengan suara yang tak kalah pelan.
Una tak berkata apa-apa lagi. Ia malah membaringkan tubuhnya dan menatap langit sore dengan mata yang terbuka lebar.
“Kamu tahu enggak? Kamu itu teman pertama yang mau ngomong sama aku tanpa bully aku..” Una berkata dengan suara yang masih pelan. Bahkan lebih pelan dari sebelumnya.
“Kita sama dong!”
“Kamu juga enggak punya teman di sekolah?” tanya Una sambil duduk dan memandang Raihan dengan mata yang berbinar. Iya! Matanya berbinar!
Sebuah senyum terkembang di bibir Raihan, ia merasa ada bias bahagia di dalam dadanya saat melihat binar di mata Una.
“Emm, ada sih dua.. tapi mereka berdua sama-sama produk gagal seperti aku..”
“Aih, mana boleh menghina diri sendiri? kita itu harusnya menghargai diri sendiri lho!” ujar Una,
“Tapi kami bertiga itu memang aneh-aneh. Enggak sempurna seperti yang lain. Jadinya ya begitu.. kami dibully dan diperlakukan semena-mena..” Raihan mendengar Una menghela nafas berat. Ia kembali memandang pancing barunya, lalu menoleh,
“Kenapa yang berbeda harus ditindas?” tanya Una.
“Karena beda..”
“Siapa yang buat kita beda?”
“Tuhan, “
“Tapi semua manusia itu memang diciptakan berbeda kan?” Raihan mengangguk pelan untuk mengiyakan pertanyaan Una,
“Terus kenapa harus jadi masalah? Tuhan lho yang buat kita semua beda!”
“Karena standar yang dibuat manusia.. dicari kesamaan diantara perbedaan, dan yang tetap berbeda mau tak mau harus mau ditindas..”
“Hey! Harusnya enggak begitu!!” seru Una sengit. Ia bahkan sampai mengepalkan tinjunya dengan wajah yang sangat geram. Raihan malah tertawa kecil, ia cukup senang melihat ekspresi wajah Una. Ini ekspresi wajah yang tanpa kepura-puraan dari Una.
“Kenapa kamu malah ketawa? Kita ini termasuk bangsa yang ditindas lho!” Raihan malah tertawa lagi dan membuat Una semakin mengerutkan keningnya.
“Apanya yang lucu sih?”
“Enggak ada yang lucu. Aku hanya senang kamu sudah tunjukin perasaan kamu dengan jujur..” jawab Raihan kemudian, membuat Una jadi terdiam dengan wajah yang bingung,
“Kamu senang karena aku marah?”
“Iya, kamu enggak pura-pura marah dan itu sangat jujur. Aku suka..” sekarang pipi Una bersemu merah. Ia segera menundukkan wajah, menatap rumput-rumput yang menggelitiki kakinya.
“Aku kok merasa tersanjung ya?” gumamnya kemudian. Raihan mendekatkan telinganya, ingin Una mengatakan lagi apa yang baru saja ia gumamkan. Tapi Una malah menggeleng,
“Enggak, lupain saja.. eh iya.. aku mau dong ketemu sama teman kamu itu, yang sama-sama produk gagal..”
“Sandra sama Wawan? Oke deh.. lain kali aku ajak mereka kesini, kita ngobrol bareng, pasti seru!”
“Aku tunggu. Aku belum pernah merasa sesemangat ini lho!”
“Masa sih? aku juga.. ketemu sama kamu sudah buat warna baru di hari-hari aku..” Raihan yakin sekali bahwa ia melihat rona merah di wajah Una, namun gadis itu segera memalingkan mukanya.
“Baru juga dua hari, lagipula ketemunya juga sebentar..”
“Tapi ya memang begitu Una, aku serius lho!” tegas Raihan. Ia memungut sebuah kerikil, lalu melemparkannya ke tengah sungai. Bunyi cipratannya terdengar sangat indah.
“Ah ya, ngomong-ngomong kamu sakit kenapa?”
“Apa?”
“Kamu sakit apa? Tadi kata mami kamu kan..”
“Iya, sakit sedikit.. tapi sekarang agak lumayan.. mami saja terlalu khawatir..” jawab Una, nada suaranya melemah lagi. Ia seakan tak mau memperpanjang pembahasan masalah sakitnya ini.
Raihan mengedikkan bahu dan segera mencari topik pembicaraan lain. Yang bisa membuat ia dan Una berbincang dengan seru lagi seperti saat membicarakan perbedaan dan bullying. Siapa tahu ia bisa melihat binar semangat lagi di mata Una.
“Una, aku mau tanya sesuatu boleh?”
“Lho, memangnya sejak kapan aku larang kamu tanya-tanya? Dari tadi aku jawab semua pertanyaan kamu lho!” jawab Una sambil tertawa kecil. Raihan nyengir.
“Itu, pancing kamu yang kemarin.. kamu sayang banget ya sama pancingan itu?” tanyanya dengan mata yang melirik Una, mengintip ekspresi wajahnya. Desahan nafas Una terdengar berat. Sepertinya Raihan sudah memilih tema pembicaraan yang salah lagi!
Untuk beberapa saat Una tak bicara apa-apa. Ia hanya diam dan terus menerus menghela nafas. Sesekali tangannya mengepal, mencabuti rumput dekat kakinya dan dilemparkan ke tengah sungai.
“Kalau aku salah bicara.. atau kamu enggak mau jawab, enggak usah dijawab. Anggap saja aku enggak bicara apa-apa!”
“Enggak kok, enggak gitu.. aku cuma bingung harus mulai darimana..” sela Una cepat, sebelum Raihan kembali mengatakan hal-hal lain yang menyalahkan dirinya sendiri.
“Emm, mulai dari siapa yang buat pancing itu saja..” usul Raihan dengan hati yang lega. Ia bersyukur Una tak marah.
“Yang buat pancing itu Januar.. waktu itu aku juga buat sendiri, tapi punyaku jelek dan Januar berikan pancing buatannya untukku..”
“Dia juga ya yang ajarin kamu mancing?” tebak Raihan, Una menaikkan sepasang alisnya tinggi-tinggi,
“Iya, dia hebat banget mancingnya.. dia juga lucu dan penuh semangat! ”
“Terus sekarang dia dimana?”
“Dia, meninggal..” desis Una dan membuat Raihan tercekat.
“Me-meninggal.. pa-pantas saja pancing itu benar-benar berharga untuk Una..” batin Raihan dengan kedua kelopak matanya yang mulai memanas. Mendengar kata kematian selalu membuatnya ingin menangis. Jangan sampai ia menangis sekarang, setidaknya di depan Una!
“U-Una.. aku minta maaf! Aku sama sekali enggak bermaksud buat..”
“Iya enggak apa-apa kok.. lagipula kan sekarang aku sudah punya pancing baru dari kamu..” Raihan menggeleng-gelengkan kepala tegas sambil menggigit bibir menahan tangis.
“Aku janji aku akan temukan pancing kamu itu! Sekarang aku mau antar kamu pulang ke rumah, kamu istirahat saja di rumah dan aku akan segera cari pancing itu sampai ketemu!” tegas Raihan sambil mengepalkan kedua tangannya di depan dada. Una nampak tak enak,
“Enggak usah Raihan, sungguh! Lagipula kan aku sudah dapat pancing pengganti..”
“Enggak bisa gitu, enggak bisa! Aku akan terus merasa berdosa seumur hidup kalau aku tak bisa temukan pancing peninggalan Januar! Aku janji sama kamu Una! Aku janji!!!” dan air mata pun mengalir deras di kedua mata Raihan. Ia tak bisa menahan emosi di dalam dadanya dan membuat tanggul air mata jebol.
Una nampak kaget melihat seorang anak laki-laki yang menangis di depan matanya, tapi ia segera menguasai perasaan dan tersenyum.
“Sudah deh Raihan, aku sungguh-sungguh! Pancing itu enggak bakalan ketemu.. lebih baik sekarang kamu pulang, sepertinya kamu agak.. ehm, kurang bagus moodnya..”
“Aku mau antar kamu pulang dulu..”
“Enggak usah.. aku bisa sendiri. Aku kan enggak apa-apa.”
“Tapi aku sudah janji sama mami kamu,” paksa Raihan, dengan air mata yang masih meleleh di kedua belah pipinya. Una menggeleng pelan dan bangkit berdiri. Ia menggenggam pancing baru di tangan kanan dan menepuk-nepuk pantatnya yang kotor dengan tangan yang satunya.
“Aku pulang ya? Besok kita ketemu lagi disini.. jam empat lagi..”
“Tapi aku sudah janji mau..” Raihan tak meneruskan kata-katanya, Una sudah beranjak pergi dan meninggalkan teman barunya sendirian.
Sepeninggal Una, tangis Raihan tak segera berhenti. Tangisnya malah semakin kencang.
Bukan hanya merasa sangat menyesal karena telah menghilangkan kenangan berharga milik Una, namun ia juga sudah mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Una! Image baik sebagai lelaki sejati telah hancur seketika dengan melelehnya air mata. Semoga saja Una mau mengerti kelemahannya yang satu ini!
***







[1] Jang, Ujang = panggilan bagi anak laki-laki Sunda.


Belum baca Drops of Love bagian 1? ini dia linknya >>> Bagian 1

No comments:

Post a Comment

Walau Berbeda Beda Tapi Satu Cinta Jua

Saya memiliki dua adik, tapi yang paling deket itu sama adik yang pertama. Usia kami terpaut dua tahun, dan kata orang-orang sih kami ini k...