Thursday, 17 September 2015

Cerita Bersambung Remaja : Drops of Love (Bagian 1)

Naskah ini aku buat sekitar tahun 2013, belum kulempar ke penerbit karena keburu lupa. Waktu itu dapat project naskah bareng sama teman-teman novelis lainnya, saking semangatnya lupa sama naskah yang baru tamat ini. Ya sudah, setelah dua tahun dan aku baca lagi, mendingan naskah ini aku publish di blog saja, jadi cerber. Semoga banyak yang terhibur dan jadi amalan baik untukku. Aamiin. 

Selamat membaca ya!



_1_
Tangis, pancing, Una

***

Ketika matahari sudah jauh lewat dari puncak langit, bayangan memanjang ke timur dan burung-burung gelatik terbang bergerombol kembali ke sarang mereka masing-masing, seorang siswa SMA berseragam batik berjalan gontai menyusuri pinggiran sungai berumput yang tidak jauh dari rumahnya. Ia baru pulang dari sekolah, setelah mengerjakan tugas rumah Fisika milik lima orang siswa bandel di kelasnya.
Iya. Siswa yang bernama lengkap Raihan Fadillah ini adalah salah satu siswa yang kompeten dalam mata pelajaran eksakta atau ilmu pasti. Ia juga pendiam serta penurut. Tak heran jika kemudian sifatnya yang kalem itu seringkali dimanfaatkan oleh rekannya yang memiliki jiwa pemimpin berlebih (baca : preman sekolah) untuk mengerjakan tugas sekolah mereka. Seperti sore ini.
Perut yang lapar, kepala yang masih berkedut-kedut nyeri karena dipaksa mengerjakan lima paket soal yang berbeda dalam waktu yang terbatas, dan energy yang sudah terkuras habis membuat Raihan merasa matanya memanas. Dorongan bathinnya membuat kedua kelopak matanya bocor dan meneteskan tetesan air bening.
“Huh!” dengusnya sambil mendaratkan pantatnya di atas rumput, menghadap ke sungai yang cukup lebar. Dibiarkannya air mata membuat sungai sendiri di kedua belah pipinya.
Ia akan menangis sekarang saja, agar sampai di rumah ia tidak terlihat cengeng di hadapan sang bunda.
Terlahir sebagai satu-satunya anak laki-laki di keluarga yang telah memiliki enam orang putri yang cantik membuat Raihan menjadi adik kecil yang selalu dimanja, dijaga perasaannya dan dibentuk dengan jiwa yang lembut serta penurut.
Memang manis sih. Namun ya itu, Raihan kelewat manis dan malah menjadi bulan-bulanan sesama siswa yang lebih macho daripada dia.
“Aih, kamu nangis?” celetuk sebuah suara yang cempreng. Suara seorang gadis berpakaian lusuh yang tiba-tiba saja muncul di sebelahnya.
Dengan kaget Raihan menggosok matanya dengan punggung tangan dan mengerjap-erjapkan matanya agar kedua belah matanya kembali terlihat normal.
“Enggak kok! aku enggak nangis! Mana ada cowok nangis?” elak Raihan sambil membusungkan dadanya dan mendongakkan wajah. Gadis itu nampak tidak segera percaya, ia masih mengamati wajah Raihan dengan tatapan yang menyelidik.
“Bohong, itu ingus kamu kelihatan..”
“Eh? Apa?!” Raihan segera mengusap hidungnya untuk mengelap sesuatu yang dikatakan gadis bercelana kolor itu. Tiba-tiba saja gadis yang entah siapa namanya itu tertawa terbahak-bahak. Raihan langsung sadar bahwa ia telah dikerjai.
“Isengnya..” ujar Raihan dengan cuping hidung yang berkedut. Hal itu selalu terjadi jika ia merasa malu. Gadis itu masih tertawa dan mengambil posisi duduk di sebelahnya. Ia menjulurkan kakinya ke sungai, ujung jarinya menyentuh permukaan air.
“Baru pulang sekolah ya?” tanya gadis itu memulai pembicaraan. Ia menolehkan wajahnya pada Raihan dan rambut lurusnya yang sebahu bergerak mengikuti gerakan kepalanya.
Raihan mengangguk lesu, ia memungut sebuah batu kerikil di antara rumput yang ia duduki dan melemparkannya ke tengah sungai.
“Kok sore banget?”
“Ada tugas sekolah..”
“Ada tugas apa di-bully?” celetuk gadis itu dengan sangat tepat. Raihan sampai tercengang dibuatnya. Bagaimana bisa ia menebak dengan sangat jitu?
“Jadi memang di-bully ya?” wajah Raihan langsung berubah aneh. Lagi-lagi ia kena dikerjai gadis yang baru dikenal, polosnya Raihan..
“Ah ya, nama kamu siapa? Aku Khuzna. Panggil saja Una..” gadis itu mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Raihan, mengajak berkenalan. Tanpa ragu Raihan pun menyambut uluran tangan gadis itu sambil mengucapkan namanya sendiri.
“Nama kamu bagus ya? Kayak nama grup nasyid tahun 90an.. mereka kan tenar banget..”
“Iya, ibu aku ngefans.. jadinya aku diberi nama sama..”
“Aih, ternyata gitu?” ujar Una sambil kembali menolehkan kepalanya, Raihan tertawa kecil. Tak apa ia dinamai sama dengan grup nasyid. Grup nasyidnya terkenal kok. Toh nama itu mengandung makna yang baik.
“Jadi, kamu ngapain disini?” sekarang giliran Raihan yang bertanya pada Una, teman barunya.
“Aku lagi mancing..”
“Hah? Cewek mancing?”
“Iya, kenapa kaget?” Una balik bertanya, Raihan menggeleng pelan,
“Aneh saja, kan biasanya cowok yang hobi mancing..” Una malah tertawa kecil mendengar ucapan Raihan. Ia lalu menunjukkan sebuah ember kecil dan pancing sederhana yang ia bawa.
“Nih lihat..” pamernya sambil menunjukkan isi ember kecil yang ia bawa. Tiga ekor ikan gabus yang kecil-kecil.
“Kecil amat..” cetus Raihan. Una langsung cemberut karena Raihan menyepelekan hasil kerja kerasnya.
“Coba saja kamu yang mancing sendiri. Bisa dapat burayak saja sudah bagus!” Raihan menaikkan ujung bibirnya dengan muka masam. Masa anak lelaki memancing hanya dapat burayak?
Burayak adalah nama lain dari ikan-ikan kecil yang sering ditemukan di kolam ikan, selokan, ataupun di kubangan sawah.
“Eh, masa sih? cuma mancing doang apa susahnya?”
“Coba saja!” tantang Una sambil memberikan gagang pancingnya yang berupa sebatang bambu tipis dengan ujung yang diikat tali kenur, berbadul batu dalam plastik dan mata kail kecil.
“Oke. Siapa takut? Siap-siap saja kaget lihat aku dapat ikan Belida!”
“Eh! Enggak ada ikan Belida disini! Huh ketahuan sekali ini pertama kalinya kamu mancing!” ejek Una sambil tertawa sinis. Raihan memicingkan matanya dengan keki.
Dengan yakin ia menggerakkan pancingnya hingga ke belakang tubuh, lalu mengayunkannya ke depan sejauh ia bisa, sejauh tali kenur di pancing itu bisa capai.
Satu menit, dua menit, tiga menit. Raihan duduk manis sambil memegangi gagang pancingnya. Una pun setia menunggu di sebelahnya sambil menopang dagu.
“Hkk..” bunyi aneh terdengar menyapa telinga Raihan. Ia menatap ujung kenur yang bergerak-gerak dimainkan arus sungai. Suara itu tak mungkin muncul dari sana, tapi siapa yang tahu?
“Hkk!!” sekarang suara itu terdengar lebih keras lagi. Raihan celingukan, mencari kemungkinan suara aneh nan menyeramkan itu berasal. Suara itu terdengar seperti seseorang yang tengah kesulitan bernafas karena sesuatu menyangkut di tenggorokannya.
Sekarang Raihan mulai merasa takut. Ia pun mulai mencurigai gadis di sebelahnya, Una. Jangan-jangan suara itu berasal darinya. Karena ia merupakan gadis jadi-jadian! Ia muncul begitu saja tanpa diketahui darimana arah datangnya!
“Hkk..Hkkahahahaa!!!” tawa Una meledak seketika. Ia tertawa lepas sambil memegangi perutnya. Raihan langsung mengambil jarak dari gadis yang baru ia kenal itu. Ia makin yakin jika Una adalah gadis jadi-jadian! Lihat saja, ia tertawa untuk suatu hal yang tidak jelas! Bukankah makhluk tak kasat mata juga seringkali muncul sambil tertawa terbahak-bahak?
“Mau ditunggu sampai adzan Subuh juga enggak bakal dapat ikan!!” ujar Una di sela tawanya. Raihan mengerutkan keningnya sambil tetap menjaga jarak.
“Maksud kamu? Memangnya kenapa?”
“Mana ada mancing tanpa umpan?!”
Hah?!
Wajah Raihan langsung pucat pasi. Mulutnya menganga dan matanya melotot.
“Umpan?”
“Iya umpan, nih!” jawab Una, ia mengangkat sebuah kaleng bekas susu yang berisi cacing-cacing gemuk yang menggeliat-geliat.
Bulu kuduk Raihan langsung meremang. Melihat para cacing itu saling bertumpang tindih, kulit mereka mengkilat dan nampak begitu kenyal, ia langsung teringat ular-ular yang ia lihat di pet shop.
“Hiii, aku harus pakai cacing?”
“Ya iya lah! masa enggak pakai? Kapan mau dapat ikannya?” Una yang sudah berhenti tertawa menyorongkan kaleng cacing ke depan muka Raihan. Siswa berseragam batik itu langsung memundurkan tubuhnya sejauh mungkin. Ia benar-benar geli dengan makhluk-makhluk itu!
“Kenapa? Enggak berani  ya? Takut yaa? Takut yaaa?’ melihat Raihan yang terus undur menjauh Una malah sengaja menggodanya dengan mendekat-dekatkan kaleng itu ke tubuh Raihan.
“Jangan Una! Aku enggak takut aku cuma geli! Aku cuma geli!!”
“Takut yaaa?”
“Geli!!” teriak Raihan sambil melemparkan pancingnya entah kemana, ia pun langsung bangkit berdiri dan memeluk lengannya sendiri. Una bengong melihat pancingnya terbawa arus, ia meletakkan kaleng cacing dan menatap pancing bambunya yang sudah terseret jauh.
“Ups.. sorry..” ujar Raihan menyesal. Ia tidak sengaja melemparkan pancing itu. Habisnya Una terus menakutinya dengan cacing-cacing itu sih! dia kan jadi panik!
Sesaat Una dia saja sambil memandang aliran sungai. Namun sesaat kemudian ia menghela nafas dan memasukkan kaleng umpan ke dalam ember.
“Ya sudah deh, enggak apa-apa.. besok bikin lagi bisa kok..”
“Eh, biar aku ganti saja deh, aku enggak enak..”
“Enggak apa-apa.. aku bisa bikin lagi kok. Gampang kok bikin pancing bambu..” ujar Una sambil tertawa kecil. Raihan menjadi salah tingkah. Gadis itu terlihat sangat sedih pancingnya terbawa arus, tapi ia menolak saat Raihan ingin mengganti pancingnya.
“Eh, besok kamu kesini lagi apa enggak?” tanya Raihan sebelum Una pergi dari hadapannya.
“Kalau cuaca cerah aku pasti kesini lagi..” jawab Una pelan. Wajahnya masih sendu. Membuat Raihan menjadi semakin merasa bersalah.
“Ya sudah, besok kita ketemu lagi disini ya? Jam.. empat sore.. bagaimana?” usul Raihan dengan senyu yang terkembang di bibirnya, ia ingin Una merasa dirinya memiliki niatan baik untuk berteman dengan Una. Tak lama gadis itu pun mengangguk, ia juga tersenyum manis.
“Oke deh, aku pulang dulu ya..” pamitnya sambil melambaikan tangan dan berbalik. Ia berjalan ke arah yang sama saat Raihan datang, tubuhnya yang mungil terbalut siluet matahari senja yang berwarna jingga. Raihan menarik nafas panjang. Hari ini diakhiri dengan suatu kejadian yang berbeda dengan rutinitasnya setiap hari.
Ini adalah pertama kalinya ia bisa mengobrol dengan teman sebayanya tanpa embel-embel ucapan anak mami ataupun bullying. Ada sih dua orang teman masa kecilnya yang tak terpengaruh untuk mengatainya anak mami, namun mereka jarang melakukan kegiatan bersama, mengobrol pun paling saat di perjalanan ke sekolah.
Bertemu dengan orang baru dan merasakan sensasi kegiatan baru membuat Raihan ingin bisa terus bertemu dengan Una. Ia harus mengganti pancing Una, agar gadis itu tetap tertawa senang dan bisa terus menjadi temannya.

***

“Kenapa baru pulang Raihan?!” seorang wanita dengan wajah lembut menyongsong Raihan di depan gerbang rumah, wanita yang mengenakan daster batik itu langsung memeluk Raihan erat.
“Maaf bu, tadi aku main dulu di sungai..” jawab Raihan sambil berusaha melepaskan pelukan sang bunda.
“Apa? Kamu main di sungai?! Ya ampun Raihan! Kalau kamu kecebur gimana? Kamu kan enggak bisa berenang!” pekik ibu panik, ia mengusap-usap wajah Raihan, memeriksa bagian demi bagian wajah sang putra tercinta, khawatir ada luka atau apapun yang nampak janggal di wajah elok Raihan.
“Enggak bu, aku enggak apa-apa. Lagipula aku bisa berenang kok! kenapa ibu bilang aku enggak bisa berenang sih?” tukas Raihan sambil manyun. Ia lalu melangkahkan kakinya masuk ke halaman. Seorang wanita muda yang juga mengenakan daster batik menantinya di pintu masuk. Itu adalah kakak kelimanya yang kebetulan tengah menginap dengan seluruh keluarganya di sini.
“Raihan! Ayo cepat mandi! Ayo makan!!” serunya sambil menggerak-gerakkan tangan kanannya seperti mengayuh sesuatu.
“Memangnya aku anak kecil? Kenapa cara panggilnya seperti itu sih?” dengus Raihan.
Melihat sang kakak memanggilnya dengan tangan yang digerak-gerakkan seperti itu membuatnya ingat dengan teman-teman di masa kecilnya. Yang selalu mengajaknya bermain sepulang sekolah. Mereka selalu menunggu di depan pagar, sambil memasukkan kepala kecil mereka di sela-sela jeruji pagar dan memanggil nama Raihan dengan logat mendayu yang khas.
“Raihaaan, main yuuuuk?!”
“Raihaaan, ke kali yuuuuk?!” suara cempreng bocah-bocah ingusan yang rambutnya selalu basah oleh keringat itu masih terekam jelas di kepala Raihan.
Seandainya ia bisa kembali pada masa-masa itu. Dimana tangisannya tak pernah menjadi masalah. Saat ia menangis karena kalah main kelereng, atau kesal karena terus menjadi kucing saat main petak umpet, teman-temannya hanya tertawa dan setelah itu mereka akur lagi.
Beda jauh dengan sekarang.
Seiring dengan berjalannya waktu, berkembangnya kepribadian seseorang dan dunia yang beranjak tua pun membuat tangis yang selalu keluar dari kedua kelopak matanya menjadi bahan ejekan berkepanjangan teman-temannya. Karena air mata yang mudah sekali meleleh membuatnya dicap sebagai anak mami yang cengeng, dan itu sangat melukai harga dirinya sebagai lelaki sejati.
“Eh, kenapa malah menangis?” tanya kak Alia, yang menyambutnya di depan pintu.
Raihan segera menggosok matanya lagi dan pura-pura kelilipan. Tuh, bernostalgia tentang masa lalu saja langsung membuatnya kebanjiran air mata.
“Kelilipan kak, kelilipan..” elaknya sambil terus mengedip-ngedipkan mata, ia masuk ke dalam rumah setelah lebih dulu membuka sepatu yang ia kenakan. Ibu mengikuti Raihan sambil melipat tangannya di atas perut,
“Mau mandi dulu atau mau langsung makan?” tanya ibu sambil membawakan tas Raihan, sekalipun Raihan menolak untuk menyerahkan tasnya yang berisi banyak buku tebal itu namun ibu memaksa.
Akhirnya Raihan mengalah, ibu memang tidak pernah mengubah perlakuannya pada putra bungsunya ini. Sejak ia masih kecil hingga sudah kelas XII SMA, Raihan tetaplah pangeran kecilnya yang cengeng dan lembut.
Tak masalah sih, tokh itu ibu lakukan karena sayang. Hanya saja jadinya aneh saja jika terlihat teman sebayanya.
“Mandi dulu bu.. nanti aku turun sendiri deh..” jawab Raihan kemudian sambil menaiki tangga yang menuju ke kamarnya di lantai dua. Ia berjalan di belakang ibu yang nampak kesulitan menaiki tangga sambil membawa tas punggung Raihan yang berat.
Raihan tertawa kecil dan mengambil alih tasnya dari ibu.
“Eh, biar ibu saja..”
“Jangan bu, aku kan sudah besar.. aku sudah bisa bawa tasku sendiri.. aku enggak tega lihat ibu kesusahan begini..” jawab Raihan dengan seulas senyum di bibirnya. Mata ibu langsung berkaca, ia membelai pipi putranya dengan kasih.
“Ya sudah, ibu mau hangatkan lauknya ya? Maaf tadi kami makan duluan.. anak-anaknya kak Alia sudah enggak sabar sih..”
“Iya bu, enggak apa-apa kok! ngomong-ngomong si kembar dimana?” tanya Raihan sambil melongokkan kepalanya ke bawah tangga, mencari sepasang bocah berumur lima tahun yang biasanya selalu ribut menggelayuti lengannya jika ia pulang sekolah.
“Enggak tahu ya? Mungkin main sama ayahnya.. mungkin tidur juga, tadi makannya banyak banget tuh anak-anak, kecapekan sih..” jawab ibu sambil berjalan menuruni tangga. Raihan membulatkan bibirnya dan meneruskan langkahnya yang sempat terhenti.
Tubuhnya lelah sekali, ia ingin mandi air hangat dan bermain-main dengan busa sabun wangi lemon yang segar. Tapi ia tak mau merepotkan ibu untuk memasak air, biarlah mandi pakai air dingin pun tak masalah.
Pintu kamar Raihan sudah di depan muka. Namun ia merasa ada yang tidak lazim dari kamarnya ini. Ada seberkas cahaya yang keluar dari bawah pintu pertanda lampu kamarnya menyala, dan Raihan yakin sekali tak pernah meninggalkan kamarnya dengan lampu yang menyala. Soalnya itu boros listrik. Selain itu tak ada yang masuk ke dalam kamarnya jika ia tak ada di rumah, tak ada yang berani mengganggu privasinya. Kecuali..
Raihan menempelkan tubuhnya sejajar dengan dinding, lalu membuka pintu kamarnya hingga menjeblak terbuka. Ia yakin ada orang lain di dalam kamar yang ingin menjahilinya, dan benar saja..
“Duaaarrrr!!!!” teriak sepasang anak kembar dari dalam kamar. Mereka menjerit dengan suara terkeras yang mereka miliki, tapi tak ada siapa-siapa yang mereka kagetkan. Raihan yang merapatkan tubuhnya di dinding berusaha menahan tawa saat kedua keponakannya itu saling berbisik dan berargumen mengenai apakah gerangan yang telah membuka pintu.
“Kok enggak ada siapa-siapa sih?”
“Iya.. padahal pintunya sudah dibuka!”
“Pasti hantu!”
“Hantu apa? Kan kata nenek juga enggak ada hantu!!”
“Ada, itu lho yang suka jualan gorengan di tikungan sana!” Raihan ikut berfikir saat mendengar kalimat itu. Penjual gorengan di tikungan?
“Ih, itu sih teh Susi! Dia bukan hantu! Kamu mah suka sembarangan kalau ngomong!” dan, ctak!!
“Aduh!” ringis salah satu dari mereka. Dia pasti Hasan. Husen saudara kembarnya memang lebih ‘gahar’ (baca; galak). Dia sangat senang menghadiahkan jitakan penuh kasih sayang untuk adiknya yang lahir satu menit setelahnya itu.
Raihan membekap mulutnya agar tidak tertawa mendengar celotehan kedua anak kembar itu yang mengatakan penjual gorengan di tikungan itu sebagai hantu. Tak salah sih jika bocah-bocah itu menyimpulkan demikian, habisnya ia selalu percaya diri dengan wajah full bedak dan alis yang dicukur bersih. Untuk mengganti alisnya yang sudah hilang dari peredaran ia membuat alis palsu yang tebal dan besar.
Seandainya ia kursus make up di tempat yang benar dan qualified, mungkin hasilnya akan secantik alis Arabia queen. Tapi karena belajar make up otodidak dan kurang referensi jadilah sepasang alis ala Shinchan yang menghiasi dahinya. Ya dahi, karena teh Susi yang betah menjanda itu menggambar alisnya di dahi untuk efek mata yang besar.
Ah, kenapa jadi membicarakan dia ya? Ini adalah saatnya untuk balik mengerjai keponakannya! Raihan pun bersiap-siap untuk mengagetkan Hasan dan Husen, menarik nafas dalam dan menahannya agar ia bisa berteriak sekeras mungkin. Oke, satu, dua,
“DuaaHUAAAAAA!!!!” Raihan malah kaget setengah mati melihat sepasang bocah dengan muka yang putih dan bibir merah di hadapannya. Sesaat ia mengira tengah melihat dua tuyul berpiyama yang baru muntah darah, namun setelah kesadarannya kembali ia mengenali bahwa keduanya adalah Hasan dan Husen,
Mamang[1] kenapa?” tanya salah seorang dari mereka sambil mendekat, satunya lagi ikut menghampiri Raihan dengan kedua tangannya masih memegangi kepala. Dia pasti Hasan, yang baru saja mendapatkan tanda sayang dari Husen, sebuah jitakan.
“Mamang baru lihat hantu ya?” tanya bocah yang datang belakangan polos. Raihan hanya mengelus dada sambil tersenyum kecut.
“Enggak.. enggak.. cuma kaget sedikit,”
“Tapi enggak kena serangan jantung kan? Nanti stroke kan kasihan.. masa ganteng-ganteng badannya lumpuh sebelah?” cerocos Husen. Gaya bicaranya seakan ia sudah lebih dari puluhan tahun hidup di dunia. Mana mengerti dia maksudnya lumpuh sebelah? Pasti ibunya yang mengatakan itu pada Husen.
Ayolah, anak kecil jangan dulu dibebani fikiran yang rumit-rumit!
“Kenapa kalian pakai bedak sebanyak itu? Terus itu lipstick siapa kalian pakai?” tanya Raihan sambil masuk ke dalam kamarnya.
Melihat situasi dan keadaan di dalam ruangan paling pribadinya itu. Syukurlah tak ada barang yang berpindah tempat. Kedua keponakannya belum sempat melakukan apapun di dalam kamar Raihan selain bersembunyi.
Hasan dan Husen mengekor, lalu duduk di atas ranjang dengan bed cover bergambar corak khas kapten Amerika. Mereka berdua nampak sangat lucu dengan wajah yang putih hingga ke kepala mereka yang pelontos. Mata mereka berkedip-kedip seperti lampu sen, namun warnanya hitam. Bibir mereka diberi lipstick merah yang belepotan hingga ke dagu masing-masing.
“Punya ibu ya?” tanya Raihan lagi karena kedua anak kembar itu malah berbengong ria di atas ranjang, mungkin mengantuk.
“Iya, tapi bedaknya tumpah..”
“Lipsticknya juga patah..” jawab keduanya sambung menyambung.
“Nah lho! Siap-siap dimarahin deh!”
“Mang, jangan bilangin ibu ya? Ibu suka nyubit.. sakit..” rayu Husen, entah Hasan. Raihan mengangkat bahunya sambil tersenyum jahil. Ia mengambil handuk dan siap-siap untuk mandi.
“Iya, nanti mamang tutup mulut.. cepetan turun sana.. mamang mau mandi dulu!” ujar Raihan sambil mengisyaratkan Hasan dan Husen untuk turun.
Ia tak bisa membiarkan kedua biang ribut ini tetap berada di kamarnya saat ia mandi, bisa-bisa kamarnya berubah menjadi kapal pecah! Kedua anak itu pun menurut dan keluar kamar sambil adu cepat berlari. Langkah kaki mereka terdengar menuruni anak tangga dengan terburu-buru.
“Dasar bocah.. turun tangga juga lari-lari..” gumam Raihan sambil membuka satu per satu kancing kemeja batiknya.
“AAAAAHHHH! TUYUUUULL!!” jeritan takut terdengar dari lantai bawah, nampaknya kedua saudara kembar itu telah membuat takut ibu dan kak Alia disana. Tak lama kemudian,
“HASAAAAN!! HUSEEEEN!!” Raihan tertawa kecil, dan sekarang para trouble maker itu pasti sudah dijewer juga dimarahi habis-habisan.

***

Syukurlah ia bisa segera mandi tanpa harus mengantri. Tubuhnya yang lelah dan tak nyaman langsung segar kembali.
Ia terbiasa mandi di kamar mandi lantai dua, dekat kamarnya. Kamar mandi yang berada di lantai bawah pasti sedang digunakan kak Alia untuk memandikan sepasang anak kembarnya. Dengar saja jeritan Hasan dan Husen diantara teriakan sang bunda.
Wajar saja kalau kak Alia sewot, sudah capek-capek memandikannya sebelum makan malam. Eh sekarang sudah harus dimandikan lagi. Belum lagi kalau ia tahu bahwa beberapa alat kosmetiknya sudah rusak. Dijamin deh marahnya!
Memang sih terkadang kedua bocah itu selalu membuat jengkel dengan tingkahnya. Setiap kali mereka memiliki rencana atau ide untuk melakukan sesuatu, bahkan untuk main sekalipun, mereka akan membuat seisi rumah berantakan.
Pernah suatu saat Hasan dan Husen mendapatkan tugas sekolah untuk membuat kolase dari biji-bijian yang ada di dalam rumah. Karena kak Aini belum sempat mendampingi mereka belajar akhirnya kedua anak itu mencari apapun yang berbentuk bulat dan nampak seperti biji di seluruh rumah. Akhirnya apa? Mereka menemukan kalung mutiara milik ibunya dan dengan polosnya menempelkan satu per satu butir mutiara pada papan karya mereka.
Jadilah kolase Hasan dan Husen menjadi karya seni yang paling eksklusif dengan butir-butir mutiara import.
Jangan tanyakan bagaimana reaksi kak Alia! Perjuangannya mendapatkan kalung itu sangatlah panjang! Menyicil satu tahun dengan jumlah angsuran gila-gilaan dan denda yang menyesakkan dada jika terlambat membayar angsuran. Jadi saat melihat kalung yang baru lunas itu di papan kolase.. rasanya sangat cetaaarrr membahanaa!
Tanpa sadar Raihan tertawa sendiri. Jika diingat-ingat lagi kelakuan keduanya memang sangat menggelikan. Hiburan dan shock theraphy, bagus untuk jantung.
“Bluk.” Tas punggungnya jatuh ke lantai saat ia menduduki salah satu sisi tempat tidur. Raihan merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mengambil tas yang berisi semua buku pelajarannya hari ini, juga tugas Kimia serta Fisika yang seabrek.
Perut Raihan langsung mual mengingat lima paket soal Fisika yang ia kerjakan di sekolah. Ia jadi kehilangan semangat untuk mengerjakan soal miliknya sendiri, bayangkan saja! tadi dia sudah mengerjakan lima puluh soal yang berbeda!
“Makan dulu saja deh.. siapa tahu nanti mood mengerjakan tugas!” cetus Raihan. Ia bangun dari tidurnya dan keluar kamar. Tak lupa ia menutup pintu, ia tak mau keponakannya yang selicin belut itu menyelinap masuk kamar saat ia makan.
Di tangga ia berpapasan dengan ibu yang akan menjemputnya makan.
“Eh, baru saja ibu mau ajak kamu makan..” ujar ibu sambil meletakkan tangannya di pegangan tangga, Raihan mengangkat alisnya,
“Baru selesai mandi bu! Ibu masak apa sih?”
“Masak cumi pedas manis sama cap cay..” jawab ibu, ia berbalik arah dan berjalan menuruni tangga. Raihan mengikutinya dari belakang.
Air liurnya terbit mendengar kata cumi pedas manis. Makanan itu adalah kesukaannya, lebih dari apapun. Yang bisa menyaingi kenikmatan cumi pedas manis adalah gudeg nangka buatan ibu, tapi jika ada telur balado atau terong yang dibumbui pedas pun Raihan akan memakannya dengan lahap. Ah, singkatnya semua masakan buatan ibu adalah makanan kesukaan Raihan.
Ah ya, Una! Tiba-tiba saja Raihan mengingat gadis berpakaian lusuh itu. Sedang apa ya dia sekarang? Apa dia masih murung meratapi pancingnya yang terseret arus? Atau sekarang dia sedang membuat pancing baru? Kata Una, pancing bambu itu sangat mudah ia buat. Tapi nampaknya Una sangat menyayangi pancingnya itu, dan sekalipun ia membuat yang baru tak akan memiliki nilai histroris yang sama dengan pancing sebelumnya. Bahasa lainnya tak dapat chemistry!
Dimana dia tinggal? Pakaiannya begitu lusuh. Mungkin dia tinggal di daerah kumuh di dekat jalan tol. Tapi daerah itu sangat jauh dari tepat mereka berdua bertemu. Mana mungkin gadis semungil Una kuat berjalan sejauh itu? Tapi entahlah. Besok Raihan bisa bertanya lebih jauh pada teman barunya itu. Semoga saja besok cuacanya cerah dan Raihan tak lupa untuk membelikan pancing baru untuk Una.

***

Keesokan paginya sebelum berangkat ke sekolah Raihan menyempatkan diri untuk melongok isi dompetnya. Masih ada tiga lembar seratus ribu di dalamnya. Uang sakunya sebulan untuk biaya transport dan jajan di sekolah adalah empat ratus ribu, sekarang sudah lebih dari setengah bulan dan uang sakunya masih berlebih banyak.
Ia bersyukur karena terbiasa berhemat. Jadi uang sakunya bisa digunakan untuk membeli pancing baru untuk Una. Sepulang sekolah ia harus pergi ke toko alat pancing yang tidak jauh dari sekolahnya, dekat pet shop.
“Bu, aku berangkat dulu ya?” pamit Raihan sambil mengambil tangan kanan ibu dan mencium punggung tangannya dengan khidmat. Ibu sendiri mengusap kepala Raihan lembut.
“Jangan main-main ya di sekolahnya? Jangan ngelawan guru!”
“Iya.. tenang saja.. Assalamualaikum bu!” Raihan pun segera berangkat. Sayup-sayup terdengar ibu membalas salamnya.
Raihan langsung menaiki sebuah angkot yang kebetulan melintas di depan rumah. Jalur angkot bernomor 20 itu memang melewati rumahnya, ia biasa pulang dan pergi ke sekolah dengan menaiki kendaraan umum yang satu ini.
“Raihan, bawa baju olah raga enggak?” tanya seorang siswa berambut keriting yang duduk di sudut angkot. Terhimpit siswi bertubuh tambun yang mengenakan seragam yang sama dengan yang Raihan kenakan.
“Iya, aku bawa.. kamu pasti lupa!” tebak Raihan. Siswa berambut keriting itu menggeleng sambil mengangkat alis,
“Enggak dong! Kali ini aku bawa.. jadi enggak perlu takut kena hukuman lagi..” ia sesumbar. Siswi bertubuh subur yang menggencetnya sekalipun angkot belum terlalu penuh itu melirik dengan ujung mata,
“Belagu. Yang kamu bawa itu seragam punya kamu atau punya adik kamu?” celetuknya. Wawan, siswa berambut keriting yang duduk menyempil langsung membeliakkan matanya tak terima.
“Punyaku dong! Aku bisa membedakan mana seragam olahragaku dan mana seragam adikku! Adikku kan cewek!”
“Iyalah, terserah kamu.” Pungkas siswi dengan name tag “Kassandra Calitta de’Amour” itu sambil memalingkan muka. Ia belajar di kelas XII IPA 2 yang bersebelahan dengan kelas Raihan dan Wawan, XII IPA 3.
Kedua orang inilah teman masa kecil Raihan, dua-duanya yang tersisa dari masa kecilnya yang indah. Hanya mereka yang bisa memaklumi kebocoran tanggul air mata yang sering terjadi pada Raihan.
Yang lain malas bersama Raihan. Lelaki yang mudah menangis adalah lelaki yang sama sekali tak macho dan bisa berpengaruh buruk bagi image mereka yang mengaku sebagai lelaki sejati. Karena alasan itulah, menjauhi Raihan dan membully-nya seakan-akan menjadi pilihan wajib.
“Kemarin kamu pulang jam berapa Raihan?” tanya Sandra setelah sekian menit tanpa perbincangan diantara mereka, sementara angkot yang mereka naiki melaju tenang menjemput calon penumpang di berbagai tepat yang dilalui rutenya.
“Jam setengah lima..” jawab Raihan pelan dan membuat Wawan membelalakkan matanya lagi.
“Setengah lima?! Tega banget si Bambang! Sendainya kemarin aku punya kesempatan.. aku pasti bakal bela kamu Raihan!” ujarnya geram. Sandra hanya meliriknya dengan malas,
“Pembual. Beraninya di belakang.”
“Apa kamu bilang Sandra?”
“Iya. Kamu itu kebanyakan bicara bohong, kemarin kan kamu bisa bela Raihan. Tapi apa? Kamu malah lari..”
“Aku enggak lari! Aku kebelet!” elak Wawan sambil berusaha melepaskan dirinya dari gencetan Sandra. Namun ia tak bisa, jadilah ia hanya menggeliat-geliat dengan tangan yang teracung ke udara. Membuat Raihan teringat pada cacing yang Una jadikan umpan. Dia sedang apa ya? Apa dia juga sekolah?
“Heh item! Bisa diam? Pusing kali aku dengar jeritan kau itu! Macam anak perempuan saja!” bentak supir angkot yang asli Batak itu sambil memelototi Wawan melalui kaca spion.
“Ma-maaf bang.. maaf..” ujar Wawan sambil menghentikan usahanya untuk melepaskan dirinya. Sandra pun tersenyum menang. Sementara penumpang angkot yang lain kembali pada kesibukan mereka semula.
Raihan sendiri hanya tersenyum simpul. Keributan seperti ini sering terjadi. Di antara mereka. Tapi bukan suatu masalah besar, nanti juga baikan lagi.
“Dasar kamu sih subur!” dengus Wawan,
“Item!” balas Sandra sambil kembali menggencet tubuh Wawan yang memang jauh lebih kecil. Raihan kembali tersenyum simpul. Mendengar ejekan yang baru terlontar dari kedua teman kecilnya ia langsung menyadari kenapa mereka bertiga bisa tetap bersama.
Mereka bertiga adalah sama.
Sama-sama terbuang dari pergaulan karena keadaan fisik ataupun mental yang tak sama.
Wawan yang bekulit gelap, keriting dan pendek lebih suka bersembunyi di balik tubuh Sandra, atau Raihan, atau apapun yang bisa menyembunyikan dirinya dari suatu hal yang dianggap membahayakan dirinya. Bukan tipe lelaki populer yang disukai para gadis.
Kassandra Calitta de’Amour yang sama sekali bukan keturunan Amerika latin memiliki tubuh yang over weight dan tak bisa mengubah ekspresi wajahnya sesuai dengan perasaan yang ia rasakan. Saat marah, sedih dan senang sekalipun ia akan tetap menunjukkan ekspresi wajah yang sama. Datar dan tak bersahabat. Bukan tipe orang yang menyenangkan untuk diajak curhat.
Sedangkan Raihan. Yang menurut semua orang di sekitarnya memiliki wajah yang tampan dan proposi tubuh yang sempurna memiliki kelainan tersembunyi yang menjadi hal paling tabu bagi semua laki-laki. Raihan terlalu lembut dan sensitif. Ia akan menangis dalam hitungan detik untuk hal-hal sepele. Seperti melihat adegan film dimana dua orang kekasih yang berpelukan penuh kerinduan, atau bahkan saat ia merasa gugup ketika maju ke depan kelas untuk tes lisan bahasa.
Boleh dibilang, mereka bertiga adalah produk gagal.
Tapi produk gagal pun bisa tetap berguna. Sekalipun dalam fungsi yang berbeda. Raihan yakin bahwa mereka bertiga bisa menjadi sosok yang berguna, tapi entah pada bidang apa dan entah kapan..
“Eh, itu kan..” gumam Raihan saat angkot yang ditumpanginya tengah berusaha menyalip sebuah bus sekolah milik SMA Putri, namun urung karena lampu merah menyala. Seseorang berseragam merah muda yang duduk di dekat jendela terlihat sama dengan Una.
“Apa Raihan?” tanya Wawan, ia ikut melihat ke arah yang tengah Raihan lihat.
“Bus sekolah cewek?” sambung Wawan. Bus yang masih baru itu sejajar dengan angkot, sehingga Raihan yang duduk di sisi angkot bisa melihat dengan jelas gadis yang mirip dengan Una itu, untung sekali mereka berada di sisi yang berdekatan.
“Iya, ada orang yang kemarin ketemu sama aku di sungai..” jawab Raihan sambil terus mengamati Una, atau orang lain. Tapi mereka berdua terlihat sama! Hanya pakaiannya yang berbeda.
“Murid SMA putri di sungai? Ngapain?” tanya Sandra dengan wajah datar. Raihan tak menjawab, ia terus berusaha melihat wajah gadis di bus sebisanya. Ia ingin meyakinkan bahwa gadis itu memang Una, namun lampu hijau telah menyala dan bus pun lebih dulu melaju.
“Yaah!!” sesal Raihan sambil memukul pahanya sendiri. Wawan malah menertawakannya. Juga Sandra.
“Ini pertama kalinya lho dia tertarik sama cewek..” celetuk Wawan sambil menyikut Sandra. Gadis itu tak bergeming, ia hanya menyeringai.
Raihan lalu menoleh kepada dua temannya. Menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Begitu lama dan begitu dalam sehingga kedua orang itu tak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka menelan ludah dan takut jika Raihan yang lembut tersinggung dan marah besar. Lihat saja ekspresinya!
“Wan, Sand.. siapa yang nanti mau antar aku beli pancing?” tanya Raihan dengan wajah yang sangat serius. Wawan dan Sandra saling pandang, heran.
“Pancing?”
***



[1] Mamang = paman (Sunda)

No comments:

Post a Comment

Dengan Jarvis Store Semua Bisa Jualan Online!

Sebenernya sih saya ini punya bakat dagang, dari turunan mamah itu semuanya pedagang. Mamah saya juga pinter jualan, apa aja (yang halal) b...