Wednesday, 30 September 2015

Cerita Bersambung Remaja : Drops of Love (bagian 7)






_7_
Mundur teratur


***
Sampai keesokan harinya Raihan masih merasa sakit. Salah tafsir akan perasaan seseorang itu ternyata efeknya luar biasa. Ia jadi malas melakukan semua hal. Malas bertemu orang lain, malas mengerjakan tugas, malas keluar kamar, malas semua-muanya.
Bahkan untuk bangkit dari atas tempat tidur dan ke kamar mandi pun Raihan sangat malas. Hidupnya seakan berakhir dan dunia pasti akan kiamat besok.
Bagi Raihan yang baru pertama kali memiliki rasa spesial pada lawan jenis dan langsung mendapatkan kenyataan seperti ini benar-benar telah menghancurkan hatinya.
“Mamang lagi broken heart?” celetuk Husen. Entah Hasan. Yang jelas keduanya ada di dalam kamar Raihan. Entah kapan mereka masuk ke dalam kamar pamannya ini, entah kapan juga mereka mempelajari kata rumit seperti broken heart.
Raihan yang membelakangi pintu masuk tak menjawab. Ia hanya segera menghapus cairan bening yang masih meleleh dari sudut matanya.  Bagaimanapun ia tak mau terlihat lemah di depan kedua keponakannya yang masih bocah, ia harus memberikan contoh yang benar tentang seorang lelaki yang seharusnya.
Sekalipun Raihan ternyata tak seperti yang ia contohkan.
“Mang..” salah satu dari kedua bocah kembar itu menyentuh punggung Raihan. “Mamang enggak nangis kan?” tanya mereka lagi.
Raihan segera membalikkan tubuhnya dan menunjukkan wajah berhiaskan seulas senyum. Melihat raut wajah kedua keponakannya yang bingung ia pun memilih untuk duduk dan berhadap-hadapan dengan mereka.
“Memangnya siapa yang bilang mamang patah hati?” tanya Raihan.
Hasan dan Husen tak segera menjawab, mereka malah saling tatap dan mengangkat bahu mungilnya,
“Kata nenek.. katanya mamang patah hati, terus kami disuruh hibur mamang,” jawab salah satunya, sementara saudara kembarnya hanya mengiyakan saja.
Mendengar itu Raihan hanya menghela nafas. Dasar ibu, mana bisa kedua bocah ini menghiburnya yang sedang patah hati? Mereka mana mengerti urusan seperti ini? Raihan yang sudah cukup dewasa saja baru tahu jika rasa cinta itu bisa serumit ini.
“Eh, apa iya aku cinta sama Una?” gumam Raihan tanpa sadar.
Ia sendiri masih bingung dengan yang ia rasakan. Mungkin ia memang menyukai Una dan nyaman bersamanya. Tapi apakah ia menyukai Una lebih dari itu? Hingga hatinya terasa begitu sakit saat menyadari bahwa tak sedikit pun Una menaruh simpati padanya?
“Mang , Una itu siapa?”
“Tukang pecel yang di belakang kompleks kali Hasan..”
“Eh, itu sih Unah.. bukan Una..”
“Tapi namanya sama! Siapa tahu orangnya juga sama..” Husen ngotot. Saudara kembarnya nampak berfikir keras dengan meletakkan telunjuknya pada dagu.
Tak lama matanya melotot dan menyikut Husen, mengajaknya berbisik-bisik. Namun dasar bocah, bisikannya tetap saja terdengar oleh paman mereka.
“Jangan-jangan mamang patah hati sama Unah..”
“Iya, mamang ditolak soalnya dia cowok..”
“Iya, Unah kan cowok.. masa mamang maho sih?”
“Eeeh!! Kalian tahu kata itu dari mana?” sela Raihan saat mendengar salah satu dari kedua bocah itu mengatakan hal yang seharusnya belum mereka ucapkan.
Hasan dan Husen kembali berpandangan lalu menatap Raihan dengan mata yang disipitkan. Menyelidik dan memojokkan, “Mamang nguping ya?”
“Nguping apanya? Orang kalian itu bisik-bisiknya kencang banget!” sangkal Haikal membela diri.
Ia memang tidak menguping, tapi pembicaraan Hasan dan Husen memang terdengar sangat jelas sekalipun ceritanya mereka berdua berbisik-bisik. Mana opini mereka terdengar sangat mengada-ada pula!
Kenapa Una disamakan dengan Unah? Secara pengucapan pun sudah berbeda. Lagipula kenapa jadi bawa-bawa tukang pecel itu sih? Apa hubungannya? Sekalipun Raihan anak rumahan, tapi ia masih tahu yang mana anak perempuan dan mana yang anak laki-laki!
“Kamu sih Hasan.. sudah kubilang kalau Una sama Unah itu beda!”
“Lho kok aku sih? Kan kamu yang bilang kalau mamang sukanya sama Unah!” Hasan tak terima disalahkan. Husen pun nampaknya ngotot dengan pendiriannya,
“Eh, kata siapa? Kamu suka memutar balikkan fakta ya? Mamang itu sukanya sama Una!” ujarnya sengit.
“Iya, terus Una itu siapa?” tanya Hasan dengan dahi yang mengerut, “Kayaknya tukang koran langganan ibu deh..”
“Lho.. dia kan namanya Joni!”
“Yaa, nama lainnya Una mungkin..” pungkas Husen dengan sangat yakin.
Tanpa sadar Haikal tersenyum. Ia merasa hatinya sedikit lapang mendengar pembicaraan kedua bocah berkepala pelontos di hadapannya ini. Percakapan polos dan apa adanya.
Pembicaraan yang meluncur begitu saja dari dalam benak mereka. Sekalipun mereka menyimpulkan penyebab murungnya Raihan dengan kesimpulan buatan mereka yang mengada-ada. Tapi ternyata sukses membuat Raihan bisa sedikit melupakan sakit hatinya.
Ternyata ibunya benar. Hasan dan Husen bisa menghiburnya. Menghibur dengan cara mereka sendiri.
“Eh, mamang ketawa sendiri.. mamang jadi gila!!”
“Ih aku enggak mau broken heart, aku takut gila!” kedua bocah itu kembali berbisik-bisik. Dengan keras lagi tentunya.
Raihan tak mau berbicara apapun lagi untuk menyangkal kalimat aneh yang meluncur dari bibir mereka. Yang jelas sekarang Raihan ingin menyembunyikan tawanya agar tak membuat kedua keponakannya ini berfikir yang tidak-tidak lagi.
Ya ampun, Hasan dan Husen ini ada-ada saja!
***
“Kemarin kamu kemana Raihan?” tanya Sandra, dengan nada bicaranya yang datar dan ekspresi muka yang dingin.
Raihan yang baru saja duduk di dalam angkot menarik tas selempang yang tak sengaja ia duduki dan menyimpannya di pangkuan, setelah duduknya nyaman ia pun membuka mulutnya untuk menjawab, tapi terpotong oleh seruan Wawan,
“Kenapa?” tanya Raihan sambil menoleh. Wawan yang duduk di ujung bangku pendek yang sama dengan yang diduduki Raihan mengaduk-aduk isi tasnya dan terlihat sangat panik.
“Dompet! Aku lupa dompetku!”
“Ckk dompet. Biar aku yang bayar ongkos kamu sekarang..” cetus Sandra. Ia melirik temannya yang berkulit gelap itu dengan lirikan yang membuat bulu kuduk merinding.
Wawan membalas lirikan Sandra dengan lirikan yang sangat mengkhawatirkan, seperti tatapan anak kucing yang tengah dijahili bocah-bocah nakal. “Bukan cuma itu.. di dalam dompet ada uang untuk bayar praktikum, mana sekarang terakhir lagi.. aduh.. mati aku!” gerutu Wawan sambil memukuli kepalanya sendiri.
“Ah, kamu itu. Untuk apa kami disini kalau enggak bantu kamu?” celetuk Sandra, Raihan mengangguk.
Kebetulan angkot yang mereka naiki masih kosong sehingga ketiganya bisa mengobrol dengan leluasa. Sesekali supir melirik melalui kaca spion, lalu kembali asyik dengan jalan yang tengah ia lalui.
“Kalian mau bantu aku?”
“Ih, sudah deh jangan sok-sokan lebay begitu.. memangnya sinetron?” ujar Sandra dengan nada tegas. Wawan malah cengengesan lalu menutup resleting tasnya dan menatap kedua temannya bergantian.
“Iya, tenang saja Wan.. praktikum seratus ribu kan? Nih aku ada lima puluh.. Sandra setengahnya lagi..” Raihan mengeluarkan selembar lima puluh ribu dari dalam dompetnya, lalu menadahkan tangannya ke arah Sandra yang langsung menaruh uang di atasnya.
“Nih, seratus ribu. Awas lho jangan hilang.. nanti kamu enggak bisa ujian praktek..” Wawan mengangguk untuk mengiyakan kata-kata Raihan.
Dengan mata yang berbinar senang Wawan melipat uang itu dan memasukkannya ke dalam saku kemeja. Berkali-kali ia berterima kasih pada Raihan, juga Sandra. Ia merasa sangat beruntung memiliki teman seperti mereka.
Raihan hanya tersenyum menanggapi ucapan terima kasih Wawan, tokh ia memang sangat ikhlas membantunya. Ia senang bisa membuat Wawan terbebas dari kekhawatirannya.
“Ah, iya. Mungkin aku memang harus melupakan Una dan kembali sama teman-temanku.. cuma mereka yang sayang tulus sama aku..” bathin Raihan.
Diliriknya Wawan dengan wajahnya yang cerah, lalu Sandra yang tengah asyik dengan ponselnya. Kedua orang ini selalu ada di dekatnya. Selalu tahu apa yang ia inginkan dan apa yang ia butuhkan.
Menyayangi dan disayangi mereka tak pernah terasa sesakit ketika ia menyayangi Una.
“Kok bengong?” celetuk Sandra.
“Eh, enggak kok!!” elak Raihan sambil mengerjap-erjapkan matanya. Mengusir kabut yang mulai menghalangi pandangannya.
Sandra memicingkan matanya dan mendecakkan lidah. Ia lalu mengamati Raihan dari ujung kaki ke ujung kepala, diulanginya sampai dua kali.
“Pasti ada hubungannya sama kemarin kamu enggak masuk sekolah bukan?” tebaknya jitu. Raihan hanya tertawa miris untuk menjawabnya, “Aku itu sakit kemarin, jadi sekarang aku masih agak pusing..”
“Bohong. Patah hati tuh,” celetuk Wawan. Rambutnya yang keriting terlihat begtitu dekat dengan wajah Raihan karena ia mendekatkan kepalanya pada Raihan,
“Kata siapa?!” sangkalnya dengan nada yang meninggi. Gengsi juga ketahuan patah hati.
Sandra dan Wawan malah tertawa kompak. Sepertinya mereka tadi hanya asal tebak saja, dan dengan ekspresi Raihan yang seperti itu ternyata tebakan mereka memang benar adanya.
Lambat-lambat Raihan pun ikut tertawa, lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela angkot. Pemandangannya tak bergerak karena mobil angkutan kota itu tengah berhenti di lampu merah.
Bus sekolah puteri juga berhenti tepat di sebelah angkutan yang Raihan naiki. Una duduk di kursinya yang bersebelahan dengan jendela Raihan. Dengan dada yang sesak ia bangkit dan pindah tempat duduk.
“Lho kok pindah?” tanya Wawan heran.
Raihan tak menjawab. Ia malah memalingkan wajahnya dan melihat keluar mobil dari bagian jendela yang lain. Dilihatnya beberapa anak kecil berpakaian kumal tengah mengamen, sebagian tengah menawarkan beberapa jenis jajanan eceran.
Pakaian tak jelas warna dan pasangannya itu mengingatkan Raihan pada pakaian yang selalu dikenakan Una untuk mengenang Januar. Apakah Januar salah satu dari anak-anak jalanan? Kalau dia bukan anak jalanan, kenapa pakaiannya kumal?
Ah, tak ada yang salah dengan siapapun Januar. Apapun status sosialnya dan golongan mana perekonomiannya. Yang salah hanyalah perasaan yang tetap Una jaga untuknya.
Perasaan yang seharusnya hanya diberikan pada orang yang masih bernafas dan bisa membalas dengan perasaan yang sama.
***
Di sekolah perasaan Raihan tak menjadi lebih baik. Ia berusaha berkonsentrasi pada pelajaran yang tengah diberikan di depan kelas, mencoba mengerjakan semua tugas dan soal seperti biasanya.
Tapi tak bisa. Yang ada di pelupuk matanya hanya Una, Una, Una dan Una.
“Aarggh!” erang Raihan frustasi.
Ia menjambak rambutnya sendiri dan langsung menjatuhkan dahinya di atas meja.
Suara buk yang cukup keras terdengar dari benturan dahi Raihan pada meja tulisnya. Beberapa  murid yang duduk di sekitar bangkunya langsung menoleh dengan mimik penasaran. Tapi setelah tahu asal suara itu dari Raihan mereka kembali asyik dengan urusan mereka masing-masing.
“Kamu kenapa sih?” tanya Wawan sambil menyentuh bahu teman sebangkunya itu.
Raihan tak menjawab, ia hanya bergumam tak jelas dengan dahi yang masih melekat di meja. Ia ingin menceritakan apa yang tengah ia rasakan pada Wawan, tapi ia khawatir jika ia akan menangis karena mengingat cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
Cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan.
Miris sekali.
“Hei, mau sampai kapan kamu begitu?” tanya Wawan lagi.
Ia menggoyangkan tubuh Raihan dengan cukup keras sampai temannya itu menoleh kepadanya dan merespon ucapannya. “Apa?”
“Mau sampai kapan begitu?”
“Apanya?”
“Ya itu kamu, kayak patah hati..” tebak Wawan asal. Tapi sangat jitu!
Raihan tak menjawab, juga tidak mengelak. Ia malah meluruskan duduknya lalu merapikan buku-buku tulis yang masih berserakan di atas meja, memasukkannya dengan asal ke dalam tas lalu menutup tas dengan tangan yang lunglai.
“Yuk pulang..” ajaknya. Wawan malah melongo.
“Pulang? Kan belum jam pulang..” gumamnya dengan dahi mengerut.
***
Raihan baru sadar belum waktunya pulang setelah ia berada di dalam angkutan kota. Tadinya ia ingin memutar langkah dan kembali ke dalam sekolah, tapi dipikir-pikir lagi, tanggung juga.
Ajaib sekali tadi ia bisa melewati gerbang dalam yang dijaga guru piket, juga bisa melewati gerbang luar dengan satpam yang disiplin. Tanpa pertanyaan, tanpa hambatan. Langsung keluar lingkungan sekolah.
“Mendingan langsung pulang saja lah..” batin Raihan sambil menyandarkan punggungnya.
Angin yang masuk melalui jendela angkot yang ia sandari membuat punggungnya terasa sejuk. Tapi sayangnya rasa sejuk itu berubah membekukan hatinya saat ia kembali teringat Una. Apakah sore nanti ia juga akan datang ke tepian sungai dan memancing?
Memancing kenangan yang terlupakan bersama Januar.
“Ah, “ desah Raihan sambil memalingkan muka, menatap pintu angkot yang selalu terbuka lebar.
Matanya yang berkabut mulai terasa perih terkena angin, akan tetapi ia bingung harus melakukan apa. Jika ia mengusap matanya, pasti akan terlihat jika ia menangis, air matanya pasti akan terus mengalir. Tapi jika dibiarkan, tetesan air mata akan tetap saja terjatuh dari matanya.
Mau sampai kapan seperti ini? Raihan harus menghentikannya!
***
Sudah lebih dari seminggu ini raihan lebih memilih pulang dengan menggunakan angkutan kota. Ia tak mau berjalan kaki lagi melewati bantaran sungai. Ia tak mau bertemu dengan Una.
Terutama saat ia memancing, karena itu berarti karena dia sedang menguntai kenangan lamanya dengan mendiang Januar. Raihan tahu bahwa hatinya pasti akan terasa tak enak lagi saat melihatnya.
Jadi lebih baik ia menghindar saja. Rasanya jauh lebih baik.
Semakin jauh menghindar, semakin cepat rasa sakitnya hilang.
Tapi nampaknya rasa sakit itu yang justru datang menghampiri Raihan. Rasa sakit itu sendiri yang memunculkan dirinya di hadapan Raihan, sekalipun ia tak ingin. Tapi penyebab rasa sakit itu memaksa untuk tetap membuat lelaki cengeng itu merasa jatuh lagi.
Una. Sekarang gadis berseragam merah jambu itu tengah berdiri dengan kedua tangan yang memegangi tas di depan badannya. Ia berdiri menghadap gerbang dengan mata yang menatap lurus ke arah koridor dimana para murid keluar dari dalam sekolah.
“Hei, kenapa kamu malah sembunyi disini? “ tanya Wawan sambil menepuk bahu Raihan.
Siswa itu langsung melonjak kaget dengan wajah yang pucat pasi. Wawan malah tertawa melihat teman sebangkunya itu terkaget-kaget. “Kenapa sih?”
“Enggak! A-aku cuma..”
“Diancam Bambang lagi ya?” celetuk Sandra. Siswi itu pun ternyata mengekor Wawan.
Raihan menggeleng dengan segera dan melongokkan kepalanya ke arah gerbang luar. Dimana bayangan Una dengan seragam pinknya hilang timbul di antara para siswa berseragam putih abu.
Dalam hatinya ada sedikit rasa senang karena gadis itu ternyata peduli, buktinya Una datang ke sekolah Raihan. Untuk apa lagi kalau bukan untuk menemuinya? Tapi, bagaimana kalau ternyata Una datang hanya sekedar untuk menemuinya? Ya, hanya menemuinya.
Bukan untuk menanyakan kenapa akhir-akhir ini mereka tak pernah bertemu, kenapa akhir-akhir ini Raihan menjauhinya, bukan karena ia benar-benar peduli dengan perasaan Raihan?
Membayangkan kemungkinan itu membuat nyali Raihan ciut dan ia kembali bersembunyi di balik pilar. Menghindari tatapan Una sampai ke tempatnya berada sekarang.
“Jangan bilang kamu itu takut sama cewek yang pakai seragam pink itu!” tebak Wawan sambil menunjuk ke arah gerbang, Raihan langsung menepis tangannya dan memelototi Wawan.
Tapi dalam hati ia takjub juga. Bagaimana bisa Wawan menebak bahwa kelakuan aneh Raihan itu ada hubungannya dengan gadis yang berpakaian mencolok di depan gerbang itu. Biasanya ia selalu mengatakan hal-hal bodoh dan menyebalkan.
Sandra melirik ke arah Una dan mencolek bahu Raihan, “Itu Una ya?”
“Kok tahu?” Raihan takjub dan Sandra menaikkan ujung bibirnya sebelah kanan. Ekspresinya seakan senang karena tebakannya benar, hanya saja cuma Raihan dan Wawan yang tahu bahwa ekspresinya yang seperti itu adalah ekspresi senang.
“Terus kenapa kamu enggak temuin dia?” celetuk Wawan, sekarang suaranya melemah dan ia pun ikut-ikutan bersembunyi di belakang tubuh Raihan.
“Aku enggak bisa.”
“Lho kok?” tanya Wawan dan Sandra bersamaan. Keduanya lalu saling melirik karena kekompakan yang tak sengaja di antara mereka.
Raihan menggeleng lemah dan membalikkan tubuhnya, menyandarkan punggung pada pilar yang tadi ia gunakan untuk bersembunyi. Perlahan tubuhnya merosot sampai akhirnya ia terduduk di lantai.
“Aku enggak bisa.. aku enggak sanggup..” gumamnya dengan nada lemah.
Kedua tangannya terkepal di samping tubuh, ia berusaha untuk menahan rasa sakit dan rasa panas yang menjalar di mukanya. Jika ia tak bisa menguasai perasaannya maka ia pasti akan menangis!
Ayolah! Kalau dia menangis lagi, semakin jauhlah Raihan dari tipe Una. Tipe Una cowok-cowok macho yang tegar dan bisa menjadi tumpuan. Bukan yang cengeng seperti Raihan.
Casingnya lelaki sejati tapi dalam hatinya pink dan unyu-unyu.
“Tapi Una-nya digodain Bambang tuh..”
“Apaaa?!!” sontak Raihan berdiri dan keluar dari persembunyiannya. Matanya langsung berputar mencari sosok Una.
Gadis berseragam merah jambu itu masih berdiri dengan kedua tangan di depan tubuh, menatap lurus ke arah dimana Raihan kini menampakkan dirinya. Tak ada Bambang yang tengah menggodanya, tak ada pula siswa lain. Yang memperdulikannya pun tak ada.
Raihan tertipu kata-kata Sandra.
Lihat saja, gadis bongsor di sebelahnya sekarang menyeringai, sementara Wawan tertawa cekikikan.
“Sudah, sana temuin dia.. kasihan. Panas lho!” Sandra mendorong-dorong punggung Raihan agar segera berjalan mendekati Una. Apalagi gadis itu sudah melihat Raihan dan melambaikan tangannya dengan ceria.
Dengan dada yang sesak oleh rasa senang dan rasa takut kecewa Raihan melangkahkan kakinya menuju ke gerbang luar. Tanpa sadar ia meremas tali tasnya dengan gusar, saking kerasnya telapak tangan Raihan sampai pucat.
“Raihan! Kamu kemana saja?” sapa Una dengan ceria. Tatapannya tetap mengarah pada Raihan.
“Engg.. a-aku.. aku ada..”
“Tapi kok aku enggak lihat kamu di sungai?” sambung Una.
Raihan hanya menaikkan ujung bibirnya sedikit dan menggeleng. Ia menunduk menatap kedua ujung sepatunya yang sedikit berdebu, diam-diam melirik Una namun lebih memilih untuk kembali menatap tanah.
“Kamu lagi sibuk ya?”
“Eh, apa?”
“Kamu lagi sibuk? Lagi ada ujian atau apaa begitu..” Una tetap mencoba untuk memulai pembicaraan dengan Raihan sekalipun siswa yang satu itu terlihat enggan.
“Enggak sih.. cuma yaa..”
“Cuma apa Raihan?” Una penasaran.
“Enggak, lupakan saja.. ah ya, aku mau pulang duluan ya? Maaf..” ujar Raihan.
Entah kenapa Raihan malah mengucapkan kalimat seperti itu. Wajah Una langsung terlihat kaget, sesaat terlihat kebingungan dan kecewa tapi sedetik setelahnya ia membuat mimik wajahnya terlihat ceria seolah tak ada apa-apa.
“Oke, hati-hati yaa.. ehm, aku dijemput supir kok..” Una berkata dengan seulas senyum masam.
Senyumannya makin masam saat ia sadar bahwa Raihan sama sekali tidak menanyakan dengan apa dia akan pulang.
Raihan pun ikut tersenyum dengan tak kalah masamnya. Ia melambaikan tangan untuk menghentikan sebuah angkot yang melintas di depan gerbang, setelah angkot itu berhenti ia pun segera menaiki kendaraan umum tersebut.
“Maaf ya Una, aku duluan..”
“Iya, enggak apa-apa.. duluan saja..” Una mengangkat tangan kanannya untuk mengucapkan selamat tinggal, tapi Raihan tak melihat karena angkot sudah melaju.
Sesungguhnya Raihan melihat lambaian tangan Una, tapi ia tak mau membalas lambaian tangannya. Ia membalas lambaian tangan Una berarti membuat ia kembali jatuh ke dalam pesona Una.
Pesona yang hanya bisa dimiliki oleh mendiang Januar.
***
Setibanya di rumah barulah Raihan menyesali perbuatannya. Tak seharusnya tadi ia bersikap seperti itu pada Una. Padahal gadis itu menyengajakan diri datang ke sekolah Raihan, menunggunya dengan sabar dan menunjukkan niatan baiknya.
Tapi apa yang Raihan lakukan? Ia lebih mengutamakan perasaannya yang masih tak karuan dan membuat Una merasa kecewa dengan sifat kekanak-kanakannya.
“Ah!!” desah Raihan sambil melemparkan tasnya ke pojok ruangan dan suara aneh terdengar dari tempat jatuhnya benda itu.
“Hasan? Husen? Kalian disitu?” Raihan langsung curiga.
Ia pun berjalan menuju pojok kamar dan menyibakkan tirai yang menjuntai menutupi bagian sudut dari ruangan tempatnya tidur itu. Benar saja dugaan Raihan, kedua sepupunya yang berkepala pelontos tengah berjongkok di sana dan salah satunya tengah memegangi kepala.
Mungkin tas Raihan yang lumayan berat itu baru saja mendarat darurat di atas kepalanya, “Sedang apa kalian disini?” tanya Raihan.
Hasan dan Husen berdiri lalu mengikuti pamannya menuju kasur. Mereka bertiga duduk hampir bersamaan di atas ranjang. “Nungguin mamang pulang..”
“Iya, “
“Tapi kenapa tunggunya disitu sih?”
“Yaa, biar greget dong!” seru bocah berkaus biru. Mungkin Husen, dia sangat suka warna biru.
Raihan hanya menghela nafas sambil berusaha menahan senyum. Tahu dari mana mereka kata greget? Seperti salah satu jargon Meme Comic saja.
“Eh, mamang masih galau?”
“Iya, masih broken heart ya?” berondong kedua bocah itu berturut-turut. Raihan hanya melirik, tapi tak menjawab.
Ia tengah menyibukkan dirinya dengan kancing-kancing plastik di bagian depan kemejanya. Raihan ingin segera mengganti pakaiannya dengan yang lebih adem, seperti T-shirt atau kaos obong. Siang ini begitu gerah sampai-sampai ia tak tahan berlama-lama mengenakan kemeja sekolah.
“Mang..”
“Apaa?”
“Mamang masih galau kan?”
“Kalau iya memangnya kenapa?”
“Bisa mati lho!” Raihan menjengit mendengar seruan kompak dari Hasan dan Husen.
Karena galau bisa mati? Siapa yang mengatakan itu? jika galaunya mengakibatkan melamun yang parah dan membuat penderitanya melamun di tengah rel kereta api mungkin bisa mengakibatkan kematian.
Tapi kalau sebatas malas melakukan apa-apa dan agak murung seperti Raihan sih, sepertinya bukan suatu masalah yang serius.
“Mamang enggak percaya ya? Husen, ceritain ke mamang apa yang terjadi pada orang yang galau!” bocah berkaus merah memerintahkan kembarannya untuk menceritakan sesuatu. Bahasanya sangat formal dan lagi-lagi Raihan tak tahu dimana kedua anak ini belajar bahasa ala Telenovela seperti itu.
Husen menegakkan tubuhnya dan siap untuk bercerita. Mimik mukanya begitu yakin serta ia pun berdehem beberapa kali. Persis seperti ketua RT yang dimintai pendapatnya tentang banjir bandang oleh kru TV.
Setelah beberapa saat berlalu, tak ada satu pun kata-kata yang meluncur dari bibir mungil Husen. Ia malah menoleh ke arah Hasan dan mencolek lengannya. “Cerita apa?” tanya Husen polos.
Sontak Raihan tertawa terbahak-bahak. Ia sampai harus memegangi perutnya karena tak tahan dengan goncangannya. Kedua bocah berkepala pelontos di hadapannya menatap dia dengan tatapan yang tak suka. Tersinggung mungkin.
Ah, bocah tahu tersinggung, dasar!
Begitu yakinnya Hasan memerintahkan Husen untuk menceritakan hal yang bahkan ia tak tahu. Mau cerita apa coba? Dasar anak-anak! Ada-ada saja tingkahnya!
“Tuh, habis galau langsung gila!” bisik Hasan dengan suara keras. Husen mengangguk dan ikut-ikutan melirik Raihan dengan tatapan aneh.
Raihan hanya menggelengkan kepalanya sambil menggerakkan kedua tangannya seperti menyingkirkan debu, ia bermaksud untuk mengisyaratkan agar kedua keponakannya itu segera keluar.
Hasan dan Husen mengerti, perlahan mereka bangkit dan berjalan menuju pintu sambil berbisik-bisik. Suaranya terdengar sangat jelas.
“Eh, tadi memangnya cerita apa Hasan?”
“Yang mana?”
“Yang galau itu!”
“Eh, aku enggak tahu.. kali aja kamu tahu..” dan Hasan dihadiahi sebuah jitakan penuh kasih sayang dari Husen.
Raihan kembali tertawa. Menertawakan tingkah laku kedua anak kakaknya itu memang membuat hati Raihan terasa sedikit lega. Syukurlah Hasan dan Husen suka menginap di rumah neneknya ini, ia bisa menghilangkan rasa sesak karena Una dengan adanya mereka berdua.
***

Lomba Menulis Cerpen UPI 2015 : Tema Lokalitas

Lagi-lagi lomba nulis keren nih! Yang punya banyak ide melayang-layang dalam kepala mendingan dijadiin cerpen aja deh, mumpung ada lomba nulis cerpen, UPI pula! jadi no abal-abal yaa. Total hadiah Rp. 2.250.000.

Silahkan disimak >>>>

 Lomba Cerpen Lokalitas 2015 - UPI

Ketentuan Perlombaan:

    Naskah ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apabila terdapat kosakata daerah, harus menyertakan glosarium.

    Ketentuan penulisan naskah sebagai berikut: ukuran kertas A4, spasi 1,5 TNR 12, jumlah 4-8 halaman (glosarium, biodata penulis dan bukti transfer tidak termasuk ke dalam perhitungan halaman cerpen), batas (margin) standar atas-kiri-bawah-kanan 4cm-4cm-3cm-3cm, masing-masing diberi nomor halaman.

    Naskah diberi nama sesuai dengan judul cerpen.

    Menyertakan biodata penulis dan bukti transfer di halaman terakhir naskah.

    Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 25.000,- untuk satu naskah ke rekening BNI 0387197755 a.n. Tita Agustina ATAU mendatangi sekretariat Hima Satrasia di Gd. Geugeut Winda UPI (dulunya gedung PKM) lantai 3 no 96.

    File berbentuk (doc.) dari microsoft word 2003. Kirim naskah cerpen dalam bentuk lampiran (tidak di badan surel) ke alamat surel gbsi.satrasia@gmail.com dengan subjek: LTC_JUDUL CERPEN_NAMA PENULIS Contoh: LTC_RONGGENG_VERRA MONICA

    Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu cerpen.

    Cerpen belum pernah diikutsertakan pada lomba lain atau dimuat di media cetak atau media elektronik.

    Pengiriman naskah cerpen paling lambat tanggal 14 Oktober 2015 pukul 23.59 WIB.

    Ikuti (follow) Twitter @gbsi_, kemudian gamit (mention) @gbsi_ serta tulis pendapat Anda berkaitan dengan “bahasa Indonesia” untuk menyemarakan bulan bahasa dengan tagar: #gbsi2015

    Ketentuan penulisan ini menjadi faktor penentu lolos tidaknya naskah cerpen pada seleksi pertama untuk dinilai oleh dewan juri.

Gebyar Bahasa &Sastra Indonesia 2015

Tuesday, 29 September 2015

Cara Bikin Mie Kuah Susu


Mie Kuah Susu

Mi kuah susu sempet booming beberapa waktu lalu, aku agak telat sih bikinnya karena baru dapet hidayah belakangan ini masak beginian. Hehe.

Sempet ragu sama rasa mi kuah susu, apa enggak enek gitu ya mi instan pake kuah susu? aku sih pertama bayanginnya enek, campuran manis sama aroma ayam bawang. Yucks. Tapi...baca testimoni temen-temen yang udah nyobain nyicip mi instan kuah susu itu, aku malah makin penasaran. Akhirnya bermodal penasaran dan nekat, aku beli bahan-bahannya dan siap praktek.

Bahan-bahan Mie Kuah Susu
Bahan-bahan mie instan kuah susu :

- Mi instan (aku pake rasa ayam bawang, biar bumbunya enggak tajam aromanya)
- Keju
- Susu plain alias enggak ada rasanya
- Telur
- Tomat

Cara buat :

- Masak mi dengan cara yang lazim dilakukan sama masyarakat Indonesia, cuma bumbunya jangan dulu dicampur. Nah buang air godokan minya dan ganti pakai susu. Inget, pakai api kecil ya? perhatiin terus sambil diaduk-aduk pelan, jangan sampai pecah susunya nanti enggak enak.
- Masukin bumbu dan bubuk cabe, jangan dituang semua bumbunya, 3/4-nya saja (kan mau pake keju).
- Aduk rata, mendidih, angkat dan tuang ke mangkok.
- Selesai? belom. Gimana nasib telur sama tomatnya? nah, didihkan air dan ceplok telur, biarin aja sampai matang. Angkat.
- Nah, tomatnya diiris-iris buat pelengkap aja. Kejunya jangan lupa diparut yaa...
- Semua kelar tinggal disusun aja, mi kuah susu ditabur keju terus tomat iris sama telur. Siap disantap!

Mie Keju Kuah Susu
Ada yang bertanya-tanya dimana sang tomat berada? jawabannya itu irisan tomat ada di bawah kuning telur. Hehe. Jadi maksudku itu mau bikin si kuning telur di tengah tomat iris, jadi kayak telur ceplok paprika itu loh...enggak taunya tomatnya kekecilan dan ketutup kuning telur (-3-)
Kuning telurnya setengah mateng loh, meleleh mantav.

Rasanya? uenaaakkk bangettttt!

Gurih khas keju nyampur sama susu full cream, aroma ayam bawangnya juga enggak nyegak dan kenyang banget semangkuk juga! Buat pelaku diet baiknya enggak usah nyobain deh, mie instannya aja udah ancaman besar buat angka berat badan di kiloan, apalagi ditambah susu dan keju?

Kesimpulannya, Mie Kuah Susu ini aku suka. Mungkin abis ini aku mau nyobain Mie Goreng Nutella atau resep sengklek lainnya. Siapa tau cocok juga di lidahku (yang emang sebenernya segala macem doyan) ini.

Ketika Magrib Ngidam Rujak

Rujak Buah

Magrib-magrib adalah masa yang paling horor di masa kecil, soalnya menurut isu yang disebar orangtua zaman baheula, magrib itu adalah jam hangout-nya aneka macem jejadian. Dari mulai Aden-aden (hantu yang serupa laki-laki dan bersuara hidung karena hidung mereka kebalik ke atas), kunti-kunti yang lagi diospek (yang udah senior keluarnya tengah malem Bro), sampai Kelong Wewe yang demen banget nyulik anak-anak dan mereka jepit di bawah nen**nnya yang super besar. Magrib juga punya aura mistis yang bikin bulu kuduk merinding, konon melamun di teras rumah jam enam sore bisa bikin kerasukan....

iya, kerasukan angin. Alias masuk angin.
*Krikkrik

Ada yang tak lazim dengan magribku pada senja itu, entah kenapa tiba-tiba saja mulutku terasa asin dan liur menetes secara brutal, sampai-sampai tak ada ember yang bisa menampung liurku sendiri, *lebay. Enggak deh, jadi begini...tiba-tiba aja aku pengen banget makan rujak. Beneran, pengen rujak buah yang asem-asem gitu deh. 

Cewek model apa yang magrib-magrib pengen makan rujak buah yang uasyem? cewek hamil muda yang ngidam? iya. Tapi aku enggak lagi hamil muda dan aku cuma lagi ngidam pengen makan mangga muda aja. Kenapa? enggak boleh HAH?! 

Hihi, entahlah. Aku emang sedikit keterlaluan doyan sama cemilan yang satu ini. RUJAK BUAH ASYEM-ASYEM. Enggak peduli pagi, siang atau malam, udah makan nasi atau belum, hujan atau kemarau, kalau aku mau makan rujak ya aku bikin. Makanya seneng kalo pas musim buah mangga kayak sekarang nih, banyak mangga mengkal berkeliaran. Tapi kalaupun enggak ada buah-buah asem, pas kepepet banget ya aku ngerujak timun saja, bumbunya pakai asem jawa yang banyak dan rawit yang banyak juga. Jadi deh rujak.

Begitulah, magrib saat itu aku mendadak bikin rujak mangga muda, kebetulan ada timun dan pepaya mengkal, ya sudah digabungkan saja dan jadilah! hasrat rujak magrib-magribku sudah terpenuhi. Hoho...

Ada yang satu hobi enggak sih sama aku? makan rujak tak pandang tempat dan waktu?

Monday, 28 September 2015

Cerita Bersambung Remaja : Drops of Love (bagian 7)

_7_
Mundur teratur


***
Sampai keesokan harinya Raihan masih merasa sakit. Salah tafsir akan perasaan seseorang itu ternyata efeknya luar biasa. Ia jadi malas melakukan semua hal. Malas bertemu orang lain, malas mengerjakan tugas, malas keluar kamar, malas semua-muanya.
Bahkan untuk bangkit dari atas tempat tidur dan ke kamar mandi pun Raihan sangat malas. Hidupnya seakan berakhir dan dunia pasti akan kiamat besok.
Bagi Raihan yang baru pertama kali memiliki rasa spesial pada lawan jenis dan langsung mendapatkan kenyataan seperti ini benar-benar telah menghancurkan hatinya.
“Mamang lagi broken heart?” celetuk Husen. Entah Hasan. Yang jelas keduanya ada di dalam kamar Raihan. Entah kapan mereka masuk ke dalam kamar pamannya ini, entah kapan juga mereka mempelajari kata rumit seperti broken heart.
Raihan yang membelakangi pintu masuk tak menjawab. Ia hanya segera menghapus cairan bening yang masih meleleh dari sudut matanya.  Bagaimanapun ia tak mau terlihat lemah di depan kedua keponakannya yang masih bocah, ia harus memberikan contoh yang benar tentang seorang lelaki yang seharusnya.
Sekalipun Raihan ternyata tak seperti yang ia contohkan.
“Mang..” salah satu dari kedua bocah kembar itu menyentuh punggung Raihan. “Mamang enggak nangis kan?” tanya mereka lagi.
Raihan segera membalikkan tubuhnya dan menunjukkan wajah berhiaskan seulas senyum. Melihat raut wajah kedua keponakannya yang bingung ia pun memilih untuk duduk dan berhadap-hadapan dengan mereka.
“Memangnya siapa yang bilang mamang patah hati?” tanya Raihan.
Hasan dan Husen tak segera menjawab, mereka malah saling tatap dan mengangkat bahu mungilnya,
“Kata nenek.. katanya mamang patah hati, terus kami disuruh hibur mamang,” jawab salah satunya, sementara saudara kembarnya hanya mengiyakan saja.
Mendengar itu Raihan hanya menghela nafas. Dasar ibu, mana bisa kedua bocah ini menghiburnya yang sedang patah hati? Mereka mana mengerti urusan seperti ini? Raihan yang sudah cukup dewasa saja baru tahu jika rasa cinta itu bisa serumit ini.
“Eh, apa iya aku cinta sama Una?” gumam Raihan tanpa sadar.
Ia sendiri masih bingung dengan yang ia rasakan. Mungkin ia memang menyukai Una dan nyaman bersamanya. Tapi apakah ia menyukai Una lebih dari itu? Hingga hatinya terasa begitu sakit saat menyadari bahwa tak sedikit pun Una menaruh simpati padanya?
“Mang , Una itu siapa?”
“Tukang pecel yang di belakang kompleks kali Hasan..”
“Eh, itu sih Unah.. bukan Una..”
“Tapi namanya sama! Siapa tahu orangnya juga sama..” Husen ngotot. Saudara kembarnya nampak berfikir keras dengan meletakkan telunjuknya pada dagu.
Tak lama matanya melotot dan menyikut Husen, mengajaknya berbisik-bisik. Namun dasar bocah, bisikannya tetap saja terdengar oleh paman mereka.
“Jangan-jangan mamang patah hati sama Unah..”
“Iya, mamang ditolak soalnya dia cowok..”
“Iya, Unah kan cowok.. masa mamang maho sih?”
“Eeeh!! Kalian tahu kata itu dari mana?” sela Raihan saat mendengar salah satu dari kedua bocah itu mengatakan hal yang seharusnya belum mereka ucapkan.
Hasan dan Husen kembali berpandangan lalu menatap Raihan dengan mata yang disipitkan. Menyelidik dan memojokkan, “Mamang nguping ya?”
“Nguping apanya? Orang kalian itu bisik-bisiknya kencang banget!” sangkal Haikal membela diri.
Ia memang tidak menguping, tapi pembicaraan Hasan dan Husen memang terdengar sangat jelas sekalipun ceritanya mereka berdua berbisik-bisik. Mana opini mereka terdengar sangat mengada-ada pula!
Kenapa Una disamakan dengan Unah? Secara pengucapan pun sudah berbeda. Lagipula kenapa jadi bawa-bawa tukang pecel itu sih? Apa hubungannya? Sekalipun Raihan anak rumahan, tapi ia masih tahu yang mana anak perempuan dan mana yang anak laki-laki!
“Kamu sih Hasan.. sudah kubilang kalau Una sama Unah itu beda!”
“Lho kok aku sih? Kan kamu yang bilang kalau mamang sukanya sama Unah!” Hasan tak terima disalahkan. Husen pun nampaknya ngotot dengan pendiriannya,
“Eh, kata siapa? Kamu suka memutar balikkan fakta ya? Mamang itu sukanya sama Una!” ujarnya sengit.
“Iya, terus Una itu siapa?” tanya Hasan dengan dahi yang mengerut, “Kayaknya tukang koran langganan ibu deh..”
“Lho.. dia kan namanya Joni!”
“Yaa, nama lainnya Una mungkin..” pungkas Husen dengan sangat yakin.
Tanpa sadar Haikal tersenyum. Ia merasa hatinya sedikit lapang mendengar pembicaraan kedua bocah berkepala pelontos di hadapannya ini. Percakapan polos dan apa adanya.
Pembicaraan yang meluncur begitu saja dari dalam benak mereka. Sekalipun mereka menyimpulkan penyebab murungnya Raihan dengan kesimpulan buatan mereka yang mengada-ada. Tapi ternyata sukses membuat Raihan bisa sedikit melupakan sakit hatinya.
Ternyata ibunya benar. Hasan dan Husen bisa menghiburnya. Menghibur dengan cara mereka sendiri.
“Eh, mamang ketawa sendiri.. mamang jadi gila!!”
“Ih aku enggak mau broken heart, aku takut gila!” kedua bocah itu kembali berbisik-bisik. Dengan keras lagi tentunya.
Raihan tak mau berbicara apapun lagi untuk menyangkal kalimat aneh yang meluncur dari bibir mereka. Yang jelas sekarang Raihan ingin menyembunyikan tawanya agar tak membuat kedua keponakannya ini berfikir yang tidak-tidak lagi.
Ya ampun, Hasan dan Husen ini ada-ada saja!
***
“Kemarin kamu kemana Raihan?” tanya Sandra, dengan nada bicaranya yang datar dan ekspresi muka yang dingin.
Raihan yang baru saja duduk di dalam angkot menarik tas selempang yang tak sengaja ia duduki dan menyimpannya di pangkuan, setelah duduknya nyaman ia pun membuka mulutnya untuk menjawab, tapi terpotong oleh seruan Wawan,
“Kenapa?” tanya Raihan sambil menoleh. Wawan yang duduk di ujung bangku pendek yang sama dengan yang diduduki Raihan mengaduk-aduk isi tasnya dan terlihat sangat panik.
“Dompet! Aku lupa dompetku!”
“Ckk dompet. Biar aku yang bayar ongkos kamu sekarang..” cetus Sandra. Ia melirik temannya yang berkulit gelap itu dengan lirikan yang membuat bulu kuduk merinding.
Wawan membalas lirikan Sandra dengan lirikan yang sangat mengkhawatirkan, seperti tatapan anak kucing yang tengah dijahili bocah-bocah nakal. “Bukan cuma itu.. di dalam dompet ada uang untuk bayar praktikum, mana sekarang terakhir lagi.. aduh.. mati aku!” gerutu Wawan sambil memukuli kepalanya sendiri.
“Ah, kamu itu. Untuk apa kami disini kalau enggak bantu kamu?” celetuk Sandra, Raihan mengangguk.
Kebetulan angkot yang mereka naiki masih kosong sehingga ketiganya bisa mengobrol dengan leluasa. Sesekali supir melirik melalui kaca spion, lalu kembali asyik dengan jalan yang tengah ia lalui.
“Kalian mau bantu aku?”
“Ih, sudah deh jangan sok-sokan lebay begitu.. memangnya sinetron?” ujar Sandra dengan nada tegas. Wawan malah cengengesan lalu menutup resleting tasnya dan menatap kedua temannya bergantian.
“Iya, tenang saja Wan.. praktikum seratus ribu kan? Nih aku ada lima puluh.. Sandra setengahnya lagi..” Raihan mengeluarkan selembar lima puluh ribu dari dalam dompetnya, lalu menadahkan tangannya ke arah Sandra yang langsung menaruh uang di atasnya.
“Nih, seratus ribu. Awas lho jangan hilang.. nanti kamu enggak bisa ujian praktek..” Wawan mengangguk untuk mengiyakan kata-kata Raihan.
Dengan mata yang berbinar senang Wawan melipat uang itu dan memasukkannya ke dalam saku kemeja. Berkali-kali ia berterima kasih pada Raihan, juga Sandra. Ia merasa sangat beruntung memiliki teman seperti mereka.
Raihan hanya tersenyum menanggapi ucapan terima kasih Wawan, tokh ia memang sangat ikhlas membantunya. Ia senang bisa membuat Wawan terbebas dari kekhawatirannya.
“Ah, iya. Mungkin aku memang harus melupakan Una dan kembali sama teman-temanku.. cuma mereka yang sayang tulus sama aku..” bathin Raihan.
Diliriknya Wawan dengan wajahnya yang cerah, lalu Sandra yang tengah asyik dengan ponselnya. Kedua orang ini selalu ada di dekatnya. Selalu tahu apa yang ia inginkan dan apa yang ia butuhkan.
Menyayangi dan disayangi mereka tak pernah terasa sesakit ketika ia menyayangi Una.
“Kok bengong?” celetuk Sandra.
“Eh, enggak kok!!” elak Raihan sambil mengerjap-erjapkan matanya. Mengusir kabut yang mulai menghalangi pandangannya.
Sandra memicingkan matanya dan mendecakkan lidah. Ia lalu mengamati Raihan dari ujung kaki ke ujung kepala, diulanginya sampai dua kali.
“Pasti ada hubungannya sama kemarin kamu enggak masuk sekolah bukan?” tebaknya jitu. Raihan hanya tertawa miris untuk menjawabnya, “Aku itu sakit kemarin, jadi sekarang aku masih agak pusing..”
“Bohong. Patah hati tuh,” celetuk Wawan. Rambutnya yang keriting terlihat begtitu dekat dengan wajah Raihan karena ia mendekatkan kepalanya pada Raihan,
“Kata siapa?!” sangkalnya dengan nada yang meninggi. Gengsi juga ketahuan patah hati.
Sandra dan Wawan malah tertawa kompak. Sepertinya mereka tadi hanya asal tebak saja, dan dengan ekspresi Raihan yang seperti itu ternyata tebakan mereka memang benar adanya.
Lambat-lambat Raihan pun ikut tertawa, lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela angkot. Pemandangannya tak bergerak karena mobil angkutan kota itu tengah berhenti di lampu merah.
Bus sekolah puteri juga berhenti tepat di sebelah angkutan yang Raihan naiki. Una duduk di kursinya yang bersebelahan dengan jendela Raihan. Dengan dada yang sesak ia bangkit dan pindah tempat duduk.
“Lho kok pindah?” tanya Wawan heran.
Raihan tak menjawab. Ia malah memalingkan wajahnya dan melihat keluar mobil dari bagian jendela yang lain. Dilihatnya beberapa anak kecil berpakaian kumal tengah mengamen, sebagian tengah menawarkan beberapa jenis jajanan eceran.
Pakaian tak jelas warna dan pasangannya itu mengingatkan Raihan pada pakaian yang selalu dikenakan Una untuk mengenang Januar. Apakah Januar salah satu dari anak-anak jalanan? Kalau dia bukan anak jalanan, kenapa pakaiannya kumal?
Ah, tak ada yang salah dengan siapapun Januar. Apapun status sosialnya dan golongan mana perekonomiannya. Yang salah hanyalah perasaan yang tetap Una jaga untuknya.
Perasaan yang seharusnya hanya diberikan pada orang yang masih bernafas dan bisa membalas dengan perasaan yang sama.
***
Di sekolah perasaan Raihan tak menjadi lebih baik. Ia berusaha berkonsentrasi pada pelajaran yang tengah diberikan di depan kelas, mencoba mengerjakan semua tugas dan soal seperti biasanya.
Tapi tak bisa. Yang ada di pelupuk matanya hanya Una, Una, Una dan Una.
“Aarggh!” erang Raihan frustasi.
Ia menjambak rambutnya sendiri dan langsung menjatuhkan dahinya di atas meja.
Suara buk yang cukup keras terdengar dari benturan dahi Raihan pada meja tulisnya. Beberapa  murid yang duduk di sekitar bangkunya langsung menoleh dengan mimik penasaran. Tapi setelah tahu asal suara itu dari Raihan mereka kembali asyik dengan urusan mereka masing-masing.
“Kamu kenapa sih?” tanya Wawan sambil menyentuh bahu teman sebangkunya itu.
Raihan tak menjawab, ia hanya bergumam tak jelas dengan dahi yang masih melekat di meja. Ia ingin menceritakan apa yang tengah ia rasakan pada Wawan, tapi ia khawatir jika ia akan menangis karena mengingat cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
Cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan.
Miris sekali.
“Hei, mau sampai kapan kamu begitu?” tanya Wawan lagi.
Ia menggoyangkan tubuh Raihan dengan cukup keras sampai temannya itu menoleh kepadanya dan merespon ucapannya. “Apa?”
“Mau sampai kapan begitu?”
“Apanya?”
“Ya itu kamu, kayak patah hati..” tebak Wawan asal. Tapi sangat jitu!
Raihan tak menjawab, juga tidak mengelak. Ia malah meluruskan duduknya lalu merapikan buku-buku tulis yang masih berserakan di atas meja, memasukkannya dengan asal ke dalam tas lalu menutup tas dengan tangan yang lunglai.
“Yuk pulang..” ajaknya. Wawan malah melongo.
“Pulang? Kan belum jam pulang..” gumamnya dengan dahi mengerut.
***
Raihan baru sadar belum waktunya pulang setelah ia berada di dalam angkutan kota. Tadinya ia ingin memutar langkah dan kembali ke dalam sekolah, tapi dipikir-pikir lagi, tanggung juga.
Ajaib sekali tadi ia bisa melewati gerbang dalam yang dijaga guru piket, juga bisa melewati gerbang luar dengan satpam yang disiplin. Tanpa pertanyaan, tanpa hambatan. Langsung keluar lingkungan sekolah.
“Mendingan langsung pulang saja lah..” batin Raihan sambil menyandarkan punggungnya.
Angin yang masuk melalui jendela angkot yang ia sandari membuat punggungnya terasa sejuk. Tapi sayangnya rasa sejuk itu berubah membekukan hatinya saat ia kembali teringat Una. Apakah sore nanti ia juga akan datang ke tepian sungai dan memancing?
Memancing kenangan yang terlupakan bersama Januar.
“Ah, “ desah Raihan sambil memalingkan muka, menatap pintu angkot yang selalu terbuka lebar.
Matanya yang berkabut mulai terasa perih terkena angin, akan tetapi ia bingung harus melakukan apa. Jika ia mengusap matanya, pasti akan terlihat jika ia menangis, air matanya pasti akan terus mengalir. Tapi jika dibiarkan, tetesan air mata akan tetap saja terjatuh dari matanya.
Mau sampai kapan seperti ini? Raihan harus menghentikannya!
***
Sudah lebih dari seminggu ini raihan lebih memilih pulang dengan menggunakan angkutan kota. Ia tak mau berjalan kaki lagi melewati bantaran sungai. Ia tak mau bertemu dengan Una.
Terutama saat ia memancing, karena itu berarti karena dia sedang menguntai kenangan lamanya dengan mendiang Januar. Raihan tahu bahwa hatinya pasti akan terasa tak enak lagi saat melihatnya.
Jadi lebih baik ia menghindar saja. Rasanya jauh lebih baik.
Semakin jauh menghindar, semakin cepat rasa sakitnya hilang.
Tapi nampaknya rasa sakit itu yang justru datang menghampiri Raihan. Rasa sakit itu sendiri yang memunculkan dirinya di hadapan Raihan, sekalipun ia tak ingin. Tapi penyebab rasa sakit itu memaksa untuk tetap membuat lelaki cengeng itu merasa jatuh lagi.
Una. Sekarang gadis berseragam merah jambu itu tengah berdiri dengan kedua tangan yang memegangi tas di depan badannya. Ia berdiri menghadap gerbang dengan mata yang menatap lurus ke arah koridor dimana para murid keluar dari dalam sekolah.
“Hei, kenapa kamu malah sembunyi disini? “ tanya Wawan sambil menepuk bahu Raihan.
Siswa itu langsung melonjak kaget dengan wajah yang pucat pasi. Wawan malah tertawa melihat teman sebangkunya itu terkaget-kaget. “Kenapa sih?”
“Enggak! A-aku cuma..”
“Diancam Bambang lagi ya?” celetuk Sandra. Siswi itu pun ternyata mengekor Wawan.
Raihan menggeleng dengan segera dan melongokkan kepalanya ke arah gerbang luar. Dimana bayangan Una dengan seragam pinknya hilang timbul di antara para siswa berseragam putih abu.
Dalam hatinya ada sedikit rasa senang karena gadis itu ternyata peduli, buktinya Una datang ke sekolah Raihan. Untuk apa lagi kalau bukan untuk menemuinya? Tapi, bagaimana kalau ternyata Una datang hanya sekedar untuk menemuinya? Ya, hanya menemuinya.
Bukan untuk menanyakan kenapa akhir-akhir ini mereka tak pernah bertemu, kenapa akhir-akhir ini Raihan menjauhinya, bukan karena ia benar-benar peduli dengan perasaan Raihan?
Membayangkan kemungkinan itu membuat nyali Raihan ciut dan ia kembali bersembunyi di balik pilar. Menghindari tatapan Una sampai ke tempatnya berada sekarang.
“Jangan bilang kamu itu takut sama cewek yang pakai seragam pink itu!” tebak Wawan sambil menunjuk ke arah gerbang, Raihan langsung menepis tangannya dan memelototi Wawan.
Tapi dalam hati ia takjub juga. Bagaimana bisa Wawan menebak bahwa kelakuan aneh Raihan itu ada hubungannya dengan gadis yang berpakaian mencolok di depan gerbang itu. Biasanya ia selalu mengatakan hal-hal bodoh dan menyebalkan.
Sandra melirik ke arah Una dan mencolek bahu Raihan, “Itu Una ya?”
“Kok tahu?” Raihan takjub dan Sandra menaikkan ujung bibirnya sebelah kanan. Ekspresinya seakan senang karena tebakannya benar, hanya saja cuma Raihan dan Wawan yang tahu bahwa ekspresinya yang seperti itu adalah ekspresi senang.
“Terus kenapa kamu enggak temuin dia?” celetuk Wawan, sekarang suaranya melemah dan ia pun ikut-ikutan bersembunyi di belakang tubuh Raihan.
“Aku enggak bisa.”
“Lho kok?” tanya Wawan dan Sandra bersamaan. Keduanya lalu saling melirik karena kekompakan yang tak sengaja di antara mereka.
Raihan menggeleng lemah dan membalikkan tubuhnya, menyandarkan punggung pada pilar yang tadi ia gunakan untuk bersembunyi. Perlahan tubuhnya merosot sampai akhirnya ia terduduk di lantai.
“Aku enggak bisa.. aku enggak sanggup..” gumamnya dengan nada lemah.
Kedua tangannya terkepal di samping tubuh, ia berusaha untuk menahan rasa sakit dan rasa panas yang menjalar di mukanya. Jika ia tak bisa menguasai perasaannya maka ia pasti akan menangis!
Ayolah! Kalau dia menangis lagi, semakin jauhlah Raihan dari tipe Una. Tipe Una cowok-cowok macho yang tegar dan bisa menjadi tumpuan. Bukan yang cengeng seperti Raihan.
Casingnya lelaki sejati tapi dalam hatinya pink dan unyu-unyu.
“Tapi Una-nya digodain Bambang tuh..”
“Apaaa?!!” sontak Raihan berdiri dan keluar dari persembunyiannya. Matanya langsung berputar mencari sosok Una.
Gadis berseragam merah jambu itu masih berdiri dengan kedua tangan di depan tubuh, menatap lurus ke arah dimana Raihan kini menampakkan dirinya. Tak ada Bambang yang tengah menggodanya, tak ada pula siswa lain. Yang memperdulikannya pun tak ada.
Raihan tertipu kata-kata Sandra.
Lihat saja, gadis bongsor di sebelahnya sekarang menyeringai, sementara Wawan tertawa cekikikan.
“Sudah, sana temuin dia.. kasihan. Panas lho!” Sandra mendorong-dorong punggung Raihan agar segera berjalan mendekati Una. Apalagi gadis itu sudah melihat Raihan dan melambaikan tangannya dengan ceria.
Dengan dada yang sesak oleh rasa senang dan rasa takut kecewa Raihan melangkahkan kakinya menuju ke gerbang luar. Tanpa sadar ia meremas tali tasnya dengan gusar, saking kerasnya telapak tangan Raihan sampai pucat.
“Raihan! Kamu kemana saja?” sapa Una dengan ceria. Tatapannya tetap mengarah pada Raihan.
“Engg.. a-aku.. aku ada..”
“Tapi kok aku enggak lihat kamu di sungai?” sambung Una.
Raihan hanya menaikkan ujung bibirnya sedikit dan menggeleng. Ia menunduk menatap kedua ujung sepatunya yang sedikit berdebu, diam-diam melirik Una namun lebih memilih untuk kembali menatap tanah.
“Kamu lagi sibuk ya?”
“Eh, apa?”
“Kamu lagi sibuk? Lagi ada ujian atau apaa begitu..” Una tetap mencoba untuk memulai pembicaraan dengan Raihan sekalipun siswa yang satu itu terlihat enggan.
“Enggak sih.. cuma yaa..”
“Cuma apa Raihan?” Una penasaran.
“Enggak, lupakan saja.. ah ya, aku mau pulang duluan ya? Maaf..” ujar Raihan.
Entah kenapa Raihan malah mengucapkan kalimat seperti itu. Wajah Una langsung terlihat kaget, sesaat terlihat kebingungan dan kecewa tapi sedetik setelahnya ia membuat mimik wajahnya terlihat ceria seolah tak ada apa-apa.
“Oke, hati-hati yaa.. ehm, aku dijemput supir kok..” Una berkata dengan seulas senyum masam.
Senyumannya makin masam saat ia sadar bahwa Raihan sama sekali tidak menanyakan dengan apa dia akan pulang.
Raihan pun ikut tersenyum dengan tak kalah masamnya. Ia melambaikan tangan untuk menghentikan sebuah angkot yang melintas di depan gerbang, setelah angkot itu berhenti ia pun segera menaiki kendaraan umum tersebut.
“Maaf ya Una, aku duluan..”
“Iya, enggak apa-apa.. duluan saja..” Una mengangkat tangan kanannya untuk mengucapkan selamat tinggal, tapi Raihan tak melihat karena angkot sudah melaju.
Sesungguhnya Raihan melihat lambaian tangan Una, tapi ia tak mau membalas lambaian tangannya. Ia membalas lambaian tangan Una berarti membuat ia kembali jatuh ke dalam pesona Una.
Pesona yang hanya bisa dimiliki oleh mendiang Januar.
***
Setibanya di rumah barulah Raihan menyesali perbuatannya. Tak seharusnya tadi ia bersikap seperti itu pada Una. Padahal gadis itu menyengajakan diri datang ke sekolah Raihan, menunggunya dengan sabar dan menunjukkan niatan baiknya.
Tapi apa yang Raihan lakukan? Ia lebih mengutamakan perasaannya yang masih tak karuan dan membuat Una merasa kecewa dengan sifat kekanak-kanakannya.
“Ah!!” desah Raihan sambil melemparkan tasnya ke pojok ruangan dan suara aneh terdengar dari tempat jatuhnya benda itu.
“Hasan? Husen? Kalian disitu?” Raihan langsung curiga.
Ia pun berjalan menuju pojok kamar dan menyibakkan tirai yang menjuntai menutupi bagian sudut dari ruangan tempatnya tidur itu. Benar saja dugaan Raihan, kedua sepupunya yang berkepala pelontos tengah berjongkok di sana dan salah satunya tengah memegangi kepala.
Mungkin tas Raihan yang lumayan berat itu baru saja mendarat darurat di atas kepalanya, “Sedang apa kalian disini?” tanya Raihan.
Hasan dan Husen berdiri lalu mengikuti pamannya menuju kasur. Mereka bertiga duduk hampir bersamaan di atas ranjang. “Nungguin mamang pulang..”
“Iya, “
“Tapi kenapa tunggunya disitu sih?”
“Yaa, biar greget dong!” seru bocah berkaus biru. Mungkin Husen, dia sangat suka warna biru.
Raihan hanya menghela nafas sambil berusaha menahan senyum. Tahu dari mana mereka kata greget? Seperti salah satu jargon Meme Comic saja.
“Eh, mamang masih galau?”
“Iya, masih broken heart ya?” berondong kedua bocah itu berturut-turut. Raihan hanya melirik, tapi tak menjawab.
Ia tengah menyibukkan dirinya dengan kancing-kancing plastik di bagian depan kemejanya. Raihan ingin segera mengganti pakaiannya dengan yang lebih adem, seperti T-shirt atau kaos obong. Siang ini begitu gerah sampai-sampai ia tak tahan berlama-lama mengenakan kemeja sekolah.
“Mang..”
“Apaa?”
“Mamang masih galau kan?”
“Kalau iya memangnya kenapa?”
“Bisa mati lho!” Raihan menjengit mendengar seruan kompak dari Hasan dan Husen.
Karena galau bisa mati? Siapa yang mengatakan itu? jika galaunya mengakibatkan melamun yang parah dan membuat penderitanya melamun di tengah rel kereta api mungkin bisa mengakibatkan kematian.
Tapi kalau sebatas malas melakukan apa-apa dan agak murung seperti Raihan sih, sepertinya bukan suatu masalah yang serius.
“Mamang enggak percaya ya? Husen, ceritain ke mamang apa yang terjadi pada orang yang galau!” bocah berkaus merah memerintahkan kembarannya untuk menceritakan sesuatu. Bahasanya sangat formal dan lagi-lagi Raihan tak tahu dimana kedua anak ini belajar bahasa ala Telenovela seperti itu.
Husen menegakkan tubuhnya dan siap untuk bercerita. Mimik mukanya begitu yakin serta ia pun berdehem beberapa kali. Persis seperti ketua RT yang dimintai pendapatnya tentang banjir bandang oleh kru TV.
Setelah beberapa saat berlalu, tak ada satu pun kata-kata yang meluncur dari bibir mungil Husen. Ia malah menoleh ke arah Hasan dan mencolek lengannya. “Cerita apa?” tanya Husen polos.
Sontak Raihan tertawa terbahak-bahak. Ia sampai harus memegangi perutnya karena tak tahan dengan goncangannya. Kedua bocah berkepala pelontos di hadapannya menatap dia dengan tatapan yang tak suka. Tersinggung mungkin.
Ah, bocah tahu tersinggung, dasar!
Begitu yakinnya Hasan memerintahkan Husen untuk menceritakan hal yang bahkan ia tak tahu. Mau cerita apa coba? Dasar anak-anak! Ada-ada saja tingkahnya!
“Tuh, habis galau langsung gila!” bisik Hasan dengan suara keras. Husen mengangguk dan ikut-ikutan melirik Raihan dengan tatapan aneh.
Raihan hanya menggelengkan kepalanya sambil menggerakkan kedua tangannya seperti menyingkirkan debu, ia bermaksud untuk mengisyaratkan agar kedua keponakannya itu segera keluar.
Hasan dan Husen mengerti, perlahan mereka bangkit dan berjalan menuju pintu sambil berbisik-bisik. Suaranya terdengar sangat jelas.
“Eh, tadi memangnya cerita apa Hasan?”
“Yang mana?”
“Yang galau itu!”
“Eh, aku enggak tahu.. kali aja kamu tahu..” dan Hasan dihadiahi sebuah jitakan penuh kasih sayang dari Husen.
Raihan kembali tertawa. Menertawakan tingkah laku kedua anak kakaknya itu memang membuat hati Raihan terasa sedikit lega. Syukurlah Hasan dan Husen suka menginap di rumah neneknya ini, ia bisa menghilangkan rasa sesak karena Una dengan adanya mereka berdua.

*** 


Rekomendasi Tempat Kerja yang Cocok Buat Kamu yang Kreatif Tapi Bosenan

Rekomendasi Tempat Kerja yang Cocok Buat Kamu yang Kreatif Tapi Bosenan  - Kamu freshgraduate? Atau baru keluar dari perusahaan karena ribu...