Thursday, 28 May 2015

Cerpen Remaja : Bukan Jomblo Ngenes



Hidup jomblo bermartabat!




Get a life!” teriak Ninda, tepat di depan pintu kamar kostku.
Aku hanya bisa menghela napas tanpa menanggapi ucapan si biang rusuh yang sekaligus satu-satunya teman baikku itu. Ia  memang selalu melakukan itu saat mengetahui aku asyik dengan laptopku. Maklum, setiap bersentuhan dengan gadget yang satu ini aku bisa lupa dunia! Lupa waktu, lupa makan, lupa pacar...pacar? ah, aku tak punya pacar.
Mungkin karena itulah Ninda selalu menyuruhku untuk keluar dan melihat dunia, mencari teman lelaki untuk dijadikan pacar dan mendapatkan hidup yang sesungguhnya. Ah Ninda, kamu tak tahu saja kalau bersama laptop dan modem yang tak lelet itu adalah hidupku yang sesungguhnya.
“Aku tuh penasaran sama kamu tahu!”
HAH!
“Astagfirullah Nin! Kamu itu kalau mau masuk kamar salam dulu kek! Ketok pintu dulu kek! Ini main nyelonong saja aku kan kaget!!” gerutuku kesal.
Ninda tiba-tiba saja sudah berada di belakangku, hembusan napasnya sampai terasa di tengkukku. Terus terang itu mengganggu dan aku tak suka seseorang mengintip kegiatanku seperti ini!
“Sana!” kudorong Ninda jauh-jauh dan ia hanya tertawa-tawa.
Aku kembali menghadapkan mukaku pada layar selebar 18 inchi di hadapanku, menyala terang dengan radiasi yang berbahaya untuk mataku. Tapi aku sudah mengantisipasinya dengan memasang anti radiasi di permukaan layar laptopku. Sekitar delapan hingga dua belas jam kuhabiskan di depan benda ini, jika tak kuakali bisa-bisa mataku rusak.
“Kamu ngapain sih? Keluar yuk? Cari pacar!”
“Cari pacar?”
“Iya! Kamu enggak tahu apa itu pacar?” goda Ninda sambil kembali mendekatiku dan menyikut-nyikut pinggangku. Kutepis tangannya sambil menghadiahkan sebuah cubitan di lengannya. Ia meringis.
“Aku tahu apa itu pacar, tapi aku enggak berminat untuk punya pacar sekarang.”
“Kenapa sih? Jadi jomblo ngenes kamu nantinya...atau sudah jadi jomblo ngenes?”
“Aku bukan jomblo ngenes!” elakku.
Ninda malah tertawa, merasa menang. Iya, aku memang menjomblo sejak aku lahir. Sungguh, aku memang tak pernah memiliki seorang pacar dan tak pernah menginginkan pacar. Sekalipun teman-teman mengatakan bahwa aku ini adalah seorang jomblo ngenes, seorang jomblo yang sendirian dan iri melihat teman-teman sebayaku sudah memiliki pacar, tapi aku menolak tegas sebutan jomblo ngenes!
“Nah lho, wajah kamu kayak begitu...kamu mulai sedih kan karena belum punya pacar?”
“Enggak kok!” sanggahku segera. Aku memang tidak sedih, aku hanya berpikir.
“Ayo kita keluar! Nanti aku kenalkan kamu sama teman pacarku, dia cakep, pintar main gitar pula!”
“Ta-tapi Nin, a-aku...”
“Ayo!!” Ninda menarik tanganku dengan keras, sampai-sampai aku nyaris jatuh dari tepi ranjang.
“Aduh Ninda jangan paksa-paksa begini dong! Setidaknya biarkan aku matikan laptop dulu, aku juga belum pakai jilbab!” aku memberengut kesal sementara Ninda malah cengengesan.
“Ya sudah, aku tunggu ya diluar! Dandan yang cantik!” seru Ninda.
Segera setelah mengucapkan kalimat itu ia berlari-lari kecil keluar dari kamar,  meninggalkan aku sendirian dengan laptop yang masih menyala dan hati yang tak enak. Tak enak karena aku tak mau keluar rumah sekarang, aku masih memiliki urusan dengan laptopku yang tak bisa kutinggalkan, akan tetapi aku harus membuktikan pada Ninda jika aku tidak ngenes seperti yang ia pikirkan.
Aku memang tak memiliki pacar, tapi tak berarti aku ini adalah seorang yang kesepian...aku punya semua yang kubutuhkan saat ini. Ah, aku tetap harus keluar rumah untuk membuktikan idealismeku pada Ninda, agar ia tak melulu mengejekku sebagai seorang nerd yang tergila-gila pada laptop dan internet.
Jemariku bergerak mengusap sensoric mouse di permukaan laptop, lalu mematikan sahabat setia dalam suka dan dukaku ini. Tak lama kawan, setelah kutunjukkan bahwa aku bukan jomblo ngenes, kita akan kembali bersama-sama. Kuusap-usap bagian atas laptop yang kutempeli berbagai macam stiker 3D yang lucu-lucu, berat sekali meninggalkan pekerjaan yang belum tuntas. Ah andai saja Ninda si biang rusuh yang chubby itu tidak mengejekku jomblo ngenes!
Setelah mengganti piyama yang kukenakan dengan celana jeans dan blus sebatas paha, kukenakan pashmina sebagai pengganti jilbab instan ala anak SMP yang biasa kukenakan di kostan. Saat aku keluar kamar Ninda menunjukkan wajah yang terlipat rapi, memberengut. Mungkin karena aku terlalu lama.
“Katanya harus dandan yang cantik. Ya aku dandan lah!” elakku sambil tertawa kecil.
Padahal aku tidak berdandan, hanya berganti pakaian dengan yang lebih pantas saja. Aku tidak suka berdandan, pakai bedak dan lipgloss sudah cukup membuat wajahku terlihat segar. Tak perlu lah maskara, blush on atau apalah itu...lagipula perempuan muslim tak boleh tabbaruj bukan?
“Ayo cepat! Pacarku nanti keburu marah!” Ninda benar-benar bersemangat rupanya.
Belum juga kukenakan sepatu flatku dengan benar ia sudah menarikku pergi, entah ia benar-benar ingin menunjukkan asyiknya punya pacar seorang remaja lelaki dan bukan sebuah laptop, atau mungkin karena ia yang tak tahan ingin bertemu dengan pacar barunya itu.
Kami berdua pergi dengan menggunakan angkutan umum, naik angkot. Ninda berbaik hati membayarkan ongkosku, belum juga sempat berterima kasih aku sudah kembali ditarik menuju sebuah tempat. Aku tahu tempat apa ini, sebuah cafe baru yang sering dijadikan tempat nongkrong teman-teman sekampusku. Aku sudah beberapa kali kesini, tempatnya nyaman, Acnya adem dan WIFInya super ngebut.
“Mike!” panggil Ninda dengan suara riang.
Ia melambaikan tangan pada seorang lelaki yang duduk di sudut cafe, lalu menoleh padaku untuk bertanya apakah dandanannya terlihat berlebihan. Aku menggeleng karena tak mengerti seperti apa dandanan yang berlebihan? Biasanya juga Ninda wajahnya ya begitu-begitu saja. Hihi
Lelaki yang mengenakan kaus putih dengan luaran hem tak dikancing itu berdiri, senyumnya merekah saat melihat Ninda datang menghampirinya. Mataku melirik teman Mike yang tengah asyik dengan ponselnya yang ia pegang dengan posisi horizontal, mungkin ia tengah main game.
“Mike, maaf lama! Ah iya, ini dia temanku yang kuomongin tadi,” cerocos Ninda setelah keduanya cipika-cipiki tanpa risih.
“Wah, hai! Aku Mike, dan ini...Yus! bangun dong, ada cewek mau kenalan nih!” Mike menjawil bahu temannya cukup keras, memaksa si gamer menghentikan gamenya sesaat dan berkenalan.
“Hai,” sapanya pendek. Lalu kembali duduk dan asyik lagi dengan ponselnya.
“Ya sudah, kamu sama Yusuf dulu ya? Aku sama Mike mau nyari buku dulu ke toko buku sebelah...”
“Eh tapi...”
“Ahh sudah, jangan jadi jomblo ngenes kamu! Ini ada cowok keren masa enggak mau dijadiin pacar?”
“Tapi Nin, aku bukan jomblo ngenes!”
“Sendirian, gak punya pacar, tiap hari kencan sama laptop melulu...hidup di dunia maya, itu namanya jomblo ngenes sayang. Ayolah...masa remaja itu singkat, kalau enggak pacaran sayang banget! Nanti kamu menyesal!”
Aku terdiam, tak mengatakan apapun lagi untuk menyangkal ucapan Ninda. Gadis yang kukenal saat masa ospek itu memang tak sepenuhnya salah. Masa remaja singkat, harus diisi dengan berbagai macam hal yang menyenangkan, mencari banyak pengalaman hebat yang bisa menjadi cerita berharga di masa depan.
Tapi pengalaman hebat itu tak melulu pacaran bukan?
Suara-suara efek perang terdengar dari ponsel lelaki di sebelahku, ia tetap asyik menggerak-gerakkan telunjuknya di atas layar. Scroll sana-scroll sini, ketuk sana-ketuk sini, sesekali mengumpat gemas dan sesekali berseru senang walau agak ditahan. Aku sama sekali tak diajak bicara walau sepatah katapun.
“Aku sedang apa disini? Aku seperti orang bodoh saja.” Gerutuku super kesal.
Kuputuskan untuk pulang saja, toh aku tak diajak bicara apapun oleh lelaki yang katanya bernama Yusuf ini, Ninda yang pergi bersamaku juga asyik sendiri dengan pacarnya yang anak klub olahraga itu.
“Aku pulang saja ya? Assalamualaikum!” pamitku dengan suara agak keras, takutnya ia tak mendengar ucapanku.
“Loh kok pulang? Kan kita belum ngobrol!”
“Lain kali saja, aku ada kerjaan di kostan. Sudah mepet deadline dan rasanya buat diem-dieman enggak jelas begini rasanya sayang sekali waktuku.” Sahutku segera.
“Ta-tapi...ya sudah aku antar ya?”
“Enggak usah, angkot banyak kok. Tapi makasih ya...” kutolak tawarannya tanpa berpikir panjang.
“Ta-tapi...”
Aku tak berlama-lama lagi berbasa-basi dengan Yusuf, segera kulangkahkan kaki menuju pintu keluar kafe dan tiba-tiba dari arah berlawanan datang Ninda, ia menangis dan nampak sedih sekali. Kenapa menangis? Tadi saat pergi dengan Mike dia terlihat senang sekali.
“Ayo pulang!” Ninda menarik tanganku sambil tetap menangis.
“Mike ternyata masih jadian sama pacarnya yang dulu. Aku jadi selingkuhannya dan tadi aku dimaki-maki di toko buku. Aku malu!” ceritanya sambil berjalan.
Hatiku ikut sedih mendengar cerita sahabatku ini, walau ia keras kepala dan biang rusuh tapi ia tak berhak dipermalukan seperti itu. Kupaksa untuk menghentikan langkahnya dan kupeluk Ninda barang sebentar, mencoba menunjukkan empatiku dan berharap ia bisa lebih tenang.
“Aku enggak mau jadi jomblo ngenes...aku enggak mau dibilang enggak laku. Aku enggak mau putus dari Mike,” isaknya dalam pelukku.
Aduh Ninda-Ninda, sudah jelas Mike si atlet kampus itu doyan membagi hati, tapi ia lebih rela untuk mengorbankan perasaan daripada harus menyandang status jomblo. Ya ampun Ninda, sepertinya ini adalah saatnya untuk kutanamkan keyakinan bahwa jomblo itu bukan aib, jomblo tak melulu ngenes dan tak pacaran bisa menjadi pilihan terbaik bagi remaja yang ingin maju.
“Hey, ayo kutunjukkan sesuatu.”
“Apa? Laptop kamu? Aku enggak mau pacaran sama laptop!”
“Ahh sudah deh! Ayo ikut saja!”
Sekarang ganti aku yang menarik-narik Ninda agar ikut denganku. Walau ia masih menangis terisak-isak dan masih berceloteh tentang kekhawatirannya menjadi seorang jomblo ngenes, tapi aku yakin setelah ini dia tak akan pernah menolak menjadi seorang jomblo!
“Masa remaja memang singkat Nin, aku setuju sama kamu bahwa masa remaja harus diisi banyak hal yang menyenangkan...tapi bukan pacaran!” kusela ucapan Ninda sebelum ia mengatakan apa yang ingin ia katakan.
Akhirnya Ninda yang masih terisak kembali menutup mulut dan mendengarkan ucapanku. Kami berdua sudah berada di dalam kamar kostanku, berhadapan dengan laptop kesayanganku yang menyala redup berkat anti radiasi. Wallpaper desktop menunjukkan dua ekor anak kucing Persia tengah bermain bola benang, lucunya! Tapi bukan foto kucing yang akan kutunjukkan pada Ninda, melainkan apa yang selama ini kukerjakan dengan menggunakan laptop.
“Apa tuh?” Ninda bertanya dengan kening mengerut.
Kutunjukkan tampilan blog yang kukelola dengan bangga, lalu kubuka halaman khusus admin yang menunjukkan perkembangan traffic blog serta berapa dollar yang kudapat dari kunjungan para pengunjung blogku. Kutunjukkan juga bukti-bukti pembayaran iklan di blogku yang memang cukup lumayan besarnya.
“Itu memangnya bisa diambil uangnya?” tanya Ninda dengan nada tertarik.
Kuanggukkan kepala dengan yakin, lalu kutunjukkan beberapa bukti transaksi penarikan dana dari ATM, “Hasilnya sudah kupakai untuk bayar kostan dan beli diktat kuliah...” ujarku bangga.
“Serius?”
“Apa muka ini menunjukkan ketidakseriusan?” kupasang muka paling serius yang kumiliki. Ninda sampai meringis melihatnya.
“I-iya...aku percaya, tapi...”
“Tapi apa?”
“Kamu tetap saja jomblo...”
“Hey! Kan sudah kubilang kalau masa remaja tak melulu harus pacaran bukan? Lihat aku, kugunakan waktuku untuk mencari uang dengan cara yang mudah dan...halal!”
“Aku tanya deh, apa yang kamu dapat dari pacaran?” Ninda terdiam saat kutanyakan hal itu, matanya malah memerah dan ia terlihat siap untuk kembali menangis. “Pacaran hanya menghabiskan waktu produktif kita, habis untuk chatting-an, smsan, telponan dan jalan-jalan. Boros uang juga kalau terus jalan-jalan kan?”
“Ya iya sih...”
“Belum lagi kalau pacarnya ternyata seperti Mike, doyan membagi hati!” Ninda masih diam.
“Ah ya, aku juga suka buat cerpen dan sudah cukup banyak yang terbit di media cetak, juga di berbagai website kepenulisan. Selain membanggakan, aku juga dapat honor yang lumayan untuk kutabung...”
“..dan untuk catatan, menghabiskan waktuku untuk produktif menulis tak pernah buat aku cemburu dan menangis sakit hati. Jadi stop yaa mengagungkan status pacaran sebagai prestasi masa remaja, karena remaja itu harusnya mengembangkan bakat, bukannya seperti kamu tuhhh!”
“Kaan aku juga pengen ada orang yang sayangin aku, yang peduli sama aku,”
“Lho, aku peduli sama kamu, sayang kamu. Aku sahabat kamu...dan keluarga kamu? Mereka lebih ikhlas sayang sama kamu!”
“Ah, iya juga...”
“Percaya deh Nin, walaupun sekarang kita enggak pacaran dan waktu kita dihabiskan untuk lebih produktif di bidang yang kita suka, kualitas hidup kita akan jadi lebih baik dan suatu hari nanti akan datang jodoh yang tepat!” pungkasku yakin.
Ninda menatapku sejurus, nampak berpikir keras namun akhirnya ia tersenyum dan menghapus air mata. Aku juga merasa puas telah menyampaikan idealismeku selama ini, bahwa aku menolak dikatakan sebagai seorang jomblo ngenes karena aku menikmati single-ku ini.
Tak punya pacar tak berarti bahagia, justru karena sendiri aku lebih bebas untuk melakukan apa yang kusuka dan memperbaiki kualitas pribadiku menjadi lebih baik.
“Jadi jangan bilang jomblo ngenes lagi ya? Kita ini single bermartabat!” selorohku sambil tertawa. Ninda pun ikut tertawa, “Yes! Aku mau move on dan produktif seperti kamu, hidup single bermartabat!!” seru Ninda semangat.
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa membuka mata hati sahabatku ini. Semoga kami tetap istiqamah menjaga niat memperbaiki pribadi dan menjadi remaja berprestasi! Aamiin.

Friday, 1 May 2015

TikTok



Tiktoktiktok

Jarum merah bergerak perlahan berputar ke kanan sampai tiba waktunya selesai
Sesekali si jarum merah beradu temu dengan si jarum hitam panjang
Menghabiskan sedetik usianya bersama dia

Tiktoktiktok

Ah, si jarum merah harus pergi
menyapu waktu sekali lagi
Detaknya melemah saat menjauh dari si jarum hitam panjang

Tiktoktiktok

Jarum merah memekik marah namun mulutnya bungkam
Betapa waktu tak adil padanya yang setia
Jarum hitam pendek bertegur jarum hitam panjang

Tiktoktiktok

Lama sekali mereka bersama?
Sementara jarum merah masih bergerak sendiri
Menyapu waktu menanti detiknya bersapa bersama si jarum hitam panjang lagi

Banjar, 01052015



_________
Benar lho, pribadi dan minat seseorang itu dipengaruhi lingkungannya. Termasuk aku, akhir-akhir ini aku bergabung sama teman-teman HK (Hirawling Kingdom) yang kocak dan rame gelaaak! aku jadi ketularan ceria dan positif buat menjalani hari-hariku yang selama ini suram, wkssss :3

Disaat yang bersamaan aku juga dekat sama teman-teman GPSP (Goresan Pena Sang Penulis), mereka bikin tulisan puitis yang oke banget. Banyak postingan puisi tiap hari dan sedikit demi sedikit aku jadi ketularan bikin puisi. Hihi

Padahal aku dulu paling anti bikin puisi, gak bisaaaa! -..-

Nah itu di atas itu puisi pertamaku yang aku publish, aaakkkkk! tau deh ah maknanya cemana, hohoho!
                                                                                                    

Apartemen Dijual Di Jakarta Selatan Harga Bisa Nego

Apartemen Dijual Di Jakarta Selatan Harga Bisa Nego - Ingin membeli apartemen dengan harga terbaik? Jangan khawatir karena saat ini ...