Thursday, 16 April 2015

Cerpen Remaja : Buku Tulis Yang Menguning


"Suatu saat nanti aku pasti akan diisi tulisan yang penting!" seru sebuah buku tulis yang baru dikeluarkan dari kardus.

Ia bersampul mengkilat dengan gambar karikatur yang lucu, aroma kertasnya segar seperti wangi hujan di hutan pinus. Buku yang lain, sampulnya hitam dengan motif batik yang gagah, hanya tersenyum mendengar celoteh si buku baru.

"Tergantung siapa yang membelimu nanti,"

"Maksudnya?"

"Jika yang membelimu gadis kecil yang cengeng, kamu pasti akan lebih sering menangis..."

"Kenapa?"

"Dia pasti akan mengisi lembaran dirimu dengan tulisan-tulisan cengeng dan berderai air mata. Entah itu masalah yang benar-benar harus ditangisi, atau sekedar masalah sepele sekalipun." sahut si buku hitam.

Buku baru nampak bingung, mungkin khawatir jika ia akan dibeli oleh seorang anak perempuan yang cengeng dan lebay. Ia tak mau, ia diciptakan untuk anak perempuan yang manis, yang ceria dan penuh semangat untuk hidup. Mana mungkin anak yang cengeng akan memilihnya? 

"Anak yang cengeng pasti akan memilih buku yang itu!" si buku baru menunjuk ke rak seberang.

Disana berjejer tumpukan notes beraneka ukuran, tiap-tiap buku catatan memiliki sampul yang berlapis plastik mika. Beberapa dari notes itu memang dicetak dengan gambar sampul boneka-boneka berwajah sendu. Nuansa warnanya juga gloomy, sangat cengeng dan kelam bukan? cocok untuk para drama queen.

Buku hitam dengan corak batik tertawa kecil, menggeleng dan menoleh ke arah si buku baru yang memasang wajah khawatir,

"Jangan salah, anak perempuan yang suka drama itu biasanya berkedok gadis yang ceria. Mereka suka memilih barang-barang yang berwarna ceria, berkilauan dan aromanya segar."

"Kenapa kamu menakuti aku?"

"Aku tidak menakuti kamu."

lalu hening.

Kedua buku itu terdiam, juga buku-buku lain, mereka semua ikut diam tak bergerak dan menahan napas masing-masing. Ada pengunjung yang datang, sepasang gadis kembar dengan overall jeans yang lucu dan rambut keriting yang dihiasi bando Hello Kitty. Manisnya!

Mereka mengelilingi rak pensil dan aneka pulpen hias, sempat beradu argumen tentang pulpen hias mana yang paling lucu. Yang satu bersikeras jika pulpen dengan hiasan bunga berputar saat ditiup adalah pulpen paling keren, namun yang satunya yakin sekali jika pulpen lentur yang ia pegang adalah pulpen paling cool sejagad raya.

Namun kemudian keduanya kembali akur saat menemukan pensil mekanik Princess, keduanya memekik girang bersamaan dan masing-masing membawa satu. Sekalipun sempat bersitegang tentang pulpen yang paling keren, tapi urusan yang manis-manis rupanya masih sehati.

Keduanya lantas membayar di kasir dan pergi.

Selepas kepergiannya si buku baru mengeluh, ia berharap jika salah satu dari kedua anak cantik itu mengambilnya, padahal pensil Princess dan ia yang bersampul manis sudah sangat cocok! Buku bersampul hitam tertawa simpul.

"Baru berapa detik kamu dipajang, wajar jika belum ada yang melirik," ujarnya.

"Nanti juga laku kok, kamu itu model terbaru..." tambahnya.

"Kamu sendiri? sudah berapa lama dipajang?" si buku baru tiba-tiba saja kepo. "Entahlah, aku tak menghitung hari..."

"Seminggu? Sebulan?"

"Aku tak tahu." pungkas si buku bersampul hitam tegas.

Buku baru diam dan menutup mulut, ia kaget dibentak seperti itu. Sekarang ia lebih memilih untuk membayangkan seperti apa rupa calon majikan yang akan membawanya pulang. Mungkin anaknya gemuk dan chubby, seperti ilustrasi sampulnya yang memang gemuk dan berpipi tembam. Tapi bisa juga kebalikannya, anak berpipi tirus dan tubuhnya tinggi kurus.  Tak apa, anak yang kurus juga banyak yang lucu kok!

Tak lama masuk lagi beberapa orang pelanggan, mengenakan seragam ala kantoran dan wajahnya serius. Melihat mereka masuk membuat wajah si buku bersampul hitam cerah, ia seperti menemukan harapan yang baru, harapan untuk dipilih dan dibawa pulang tentunya.

Benar saja! Orang-orang dengan seragam itu mengambil si sampul hitam. Ia tersenyum bahagia saat tangan salah satu orang itu membawanya ke kasir.

"Selamat tinggal!" bisiknya dengan mata berbinar.

Si buku baru tersenyum tipis, ikut bahagia melihatnya sudah menemukan tuan. Akan tetapi ia sedih juga, siapa yang akan menemaninya bicara sekarang? Buku-buku di sebelahnya terlihat lebih suka bicara dengan sesamanya, buku dengan sampul Angry Birds, riuh suaranya, mencicit. 

Seharian itu banyak pengunjung datang dan pergi, ada yang membeli banyak barang, ada juga yang hanya satu dua saja. Ada juga yang hanya datang untuk melihat-lihat, foto-foto dengan produk yang unik, bahkan ada juga kleptomania yang lihai mengamankan pensil-pensil mahal ke dalam tas masing-masing.

Buku-buku Angry Birds hampir habis stoknya, juga buku gambar dengan motif serupa di rak bawah juga tinggal beberapa buah saja. Buku lain dengan motif yang jelek-jelek juga banyak peminatnya, bahkan kebanyakan yang membelinya adalah anak-anak remaja. Huh, kenapa selera mereka buruk sekali?

"Buku yang sampulnya sedih malah dibeli anak-anak yang wajahnya ceria. Kenapa sih mereka?" keluh si buku baru--ah, mungkin sekarang bukan buku baru lagi, ia sudah lebih dari seminggu berada disini.

Tiap hari si buku dengan sampul lucu itu hanya bisa iri, ia iri dan penasaran kenapa buku lain lebih laku ketimbang dia? padahal si buku bersampul hitam itu bilang jika ia adalah buku keluaran baru. Kenapa tetap tak ada yang suka?

Sebulan kemudian si buku bersampul lucu itu dipindahkan ke rak paling bawah, si buku baru merasa senang, siapa yang tahu sekarang dengan posisinya yang lebih mudah dijangkau ia bisa cepat menemukan majikan. 

Tapi ternyata sia-sia saja, ia tetap dilewati tangan-tangan mungil yang mencari buku. Ia tetap dipandang sebelah mata anak-anak remaja yang mencari catatan. Apalagi orang kantoran, mereka hanya suka buku-buku dengan sampul batik yang tebal.

Hingga berbulan-bulan kemudian, si buku baru mulai berubah warna. Ia berdebu, ia kusam dan lembarannya menguning.

Ia mulai merasa menyesal, ia lebih baik dimiliki oleh seorang gadis cengeng daripada seperti ini...menguning dan menanti masa dimana buku-buku yang tak kunjung laku dimusnahkan. Dibakar.


Banjar 16/04/2015

5 comments:

  1. Ini kalo dimanusiakan, Gadis yang mengkeriput.

    ReplyDelete
  2. Harus denger lagunya Efek rumah kaca - Jangan bakar buku. haha

    ReplyDelete
  3. Kelam juga ya ceritanya. Berasa nonton Toy Story, tapi tokoh utamanya buku. Nice Try, Unik.

    ReplyDelete
  4. Kayak abang ya bang? mengkeriput :3

    oke, aku cari lagunya sekarang deh Erdi.. :D

    hoho,
    tadinya gak gini endingnya..cuma males nulis jadi dibikin plot twist aja Ris, :3

    ReplyDelete
  5. ceritanya menarik sekali, penyesalan memang selalu datang terlambat

    ReplyDelete

Begini Jadinya Kalo Sadako Keluar di TV Indonesia

Begini Jadinya Kalo Sadako Keluar di TV Indonesia - Habis Nonton The Rings, tetiba kepikiran gimana jadinya kalo Sadako keluar dar...