Thursday, 12 February 2015

Cerpen : Ssshh!



Pukul dua dini hari.

Langit diluar sana masih gelap, bintang-bintang yang setia berkelip di langit sana masih terlihat elok, walau sebagian sudah mundur dari pertunjukan semesta. Aku suka berada disini, duduk manis menghadap jendela yang gordennya selalu terbuka, menikmati pemandangan malam sambil ongkang-ongkang kaki, terkadang tumpang kaki juga, tapi tak jarang juga aku hanya berbaring saja. Tapi beberapa kali aku menonton pertunjukan langit malam dengan kepala di bawah, tak begitu buruk walau membuat kepalaku pusing, melihat langit terbalik cukup indah ternyata.

"Kuk-kuuuuk! Kuk-kuuuk!" 

Oh, dengarlah suara burung hantu yang merdu itu. Itu suara Uhu, burung hantu kecil peliharaan teman sekamarku. Dia seekor burung hantu lucu dengan bulu coklat terang, bola mata bulat dan hitam serta gaya uniknya saat memutar kepala 270 derajat, aku kadang menikmati sekali momen itu. Kadang Uhu akan bersuara saat melihat gerakan-gerakan aneh di kebun, saat ada kucing yang lewat diantara pot-pot Jenmanii, atau juga saat ada orang-orang yang melompati pagar pembatas antara kebun bunga di samping kamarku ini dengan halaman tetangga. Uh! mereka iseng sekali, masa main lompat-lompatan dini hari? tak ada waktu yang lain memangnya?

Hei! itu mereka datang lagi! pantas saja Uhu begitu gelisah. Tak punya sopan santun mereka  itu, seenaknya saja menginjak tanaman Sutra Bombay kesayangan Lucia--teman sekamarku, sudah tentu besok Lucia akan marah-marah lagi melihat bunga-bunga yang merambat itu lecek terinjak. Aku sesungguhnya tak tahan mendengar sumpah serapah temanku itu saat mendapati hal-hal yang ia sukai rusak, atau berada di tempat yang tak seharusnya berada. Misalnya saat orang-orang itu tak sengaja salah meletakkan botol obat sakit kepalanya, Lucia sampai membanting-bantingkan benda yang paling dekat dengan tangannya ke sembarang arah, aku juga sampai terkena asbak di dahi. Sakit, aku menangis tapi tak bersuara. 

Saat itu aku benci pada Lucia karena menyakiti aku, tapi setelah sakit kepalanya reda Lucia memelukku dengan penuh kasih, ia bahkan menangis di pundakku dan mengatakan bahwa ia lelah hidup seperti ini. Lucia ingin menghentikan kebiasaannya marah-marah, ia ingin hidup normal seperti wanita muda lainnya, memiliki seorang suami dan punya anak. Ah Lucia, andai aku bisa mencarikanmu lelaki yang baik, yang tak selalu membawamu pergi malam-malam, yang tak selalu membuatmu pulang dengan bau alkohol...

"Lewat sini saja Jon, kita kan biasa lewat sini!" salah satu dari kedua orang asing itu bicara di depan jendela.

"Tapi pintu belakangnya enggak dikunci Mon," sahut yang lain, suaranya lebih kecil. Mungkin karena ia berada di belakang.

Aku memicingkan mata, mencoba mengamati wajah lelaki yang dipanggil 'Mon' itu, kebetulan posisiku duduk berhadapan dengannya. Kami sangat dekat, hanya sekitar satu meter saja, hanya terhalang jarak antara jendela dengan tempat dudukku. Aku bisa melihat kutil di ujung-ujung jari tangannya yang memegangi kisi jendela, jemarinya bulat-bulat seperti pisang Ambon. Kemudian saat aku melihat mukanya ternyata tak jauh berbeda dari perkiraanku sebelumnya, mukanya terlihat tak terurus dengan pori-pori besar yang berminyak, mengkilat tertimpa sinar neon redup dekat jendela. 

"Krek," pintu kamar Lucia terbuka, aku hanya bisa menahan napas dan berdoa.

Orang yang dipanggil 'Jon' sudah berhasil masuk melalui pintu belakang, sekarang sudah masuk di dalam kamar bersamaan dengan Mon, ia masuk dengan mudahnya melalui jendela yang memang tak pernah Lucia kunci. Aku sudah bosan mengingatkannya agar mengunci pintu dan jendela, namun Lucia tak pernah mendengarkan aku, mungkin pengaruh alkohol yang ia tenggak berbotol-botol tiap malam membuat kesadarannya terganggu sepanjang hari, seluruh inderanya juga sekarang tak berfungsi baik. Buktinya ia selalu sempoyongan saat naik tangga, keliru memilih warna pakaian yang akan ia kenakan, tangannya gemetaran hebat, dan juga telinganya sedikit tuli sepertinya. 

Ah Lucia yang cantik, Barbie hidup kesayangan yang selalu memanjakan aku. Walaupun ia adalah gadis manis yang suka clubbing dan doyan mengenakan pakaian seksi yang membuat istri-istri tetangga benci padanya, aku tetap menyayangi dia. Lucia sering mengatakan bahwa aku ini kembarannya, kami sama-sama memiliki manik mata hitam berkilau, kulit yang lembut dan juga nyaman dipeluk. Kalimat terakhir aku yang menerka sendiri,  karena Lucia senang mendekapku erat-erat dan begitulah yang sering dikatakan oleh mereka, om-om nakal yang sering datang kesini dan betah berlama-lama bersama Lucia di atas tempat tidur.

Ini kali pertama aku merasa begitu khawatir dengan keberadaan dua orang ini di dalam kamar, padahal di hari-hari sebelumnya aku tak pernah merasa terganggu. Mungkin karena akhir-akhir ini Lucia jadi semakin tempramen padaku, biasanya dia hampir tak pernah membentakku, sekarang dia sering memaki-maki aku, mengata-ngatai aku dan menghajarku. Lucia beringas, tak manis lagi dan aku curiga ini pasti ada hubungannya dengan kedatangan kedua orang tak tahu sopan santun ini.

Lihat? Jon mengambil botol obat sakit kepala Lucia, lalu mengecek isinya. Aku bisa melihat lelaki berjambang berantakan itu tersenyum aneh sambil menunjukkan isi botol kepada Mon, lelaki itu lantas mengeluarkan bungkusan kecil dari dalam saku, tablet-tablet dengan bentuk dan ukuran yang sama dengan obat milik Lucia.

"Bagus, dia minum obatnya terus...gadis pintar," Mon terkekeh.

"Dia tak curiga kenapa obatnya selalu penuh?"

"Namanya sudah teler, siapa yang peduli?" tawa Mon terdengar seperti kuda yang meringkik. Menakutkan.

"Ini dosis terakhir untuk dia kan?"

"Iya, jika semua berjalan sesuai rencana maka besok sore dia bisa tumbang..."

Tumbang? apa maksudnya tumbang?apakah seperti pohon yang ditebang dan jatuh menghantam tanah? ah, kenapa Lucia harus jatuh menghantam tanah? dia memang agak tak sehat belakangan ini, tapi tak berarti ia harus tidur di tanah.

Aku ingin mereka berdua cepat pergi, aku tak suka melihat tingkah kedua orang ini di dalam kamar. Mereka seenaknya membuka-buka lemari, melihat-lihat barang pribadi Lucia. Mon bahkan berani mengeluarkan isi laci terbawah dari lemari kecil di dekat meja rias, lemari dengan laci-laci bergagang sepuhan emas itu berisi pakaian dalam Lucia, brokat, berenda, dan mahal-mahal. Beberapa dibelikan oleh lelaki-lelaki yang sering bersamanya di dalam kamar ini. 

Tapi yang paling banyak adalah pakaian dalam berenda yang diberikan lelaki berdagu lancip dengan hidung bengkok, menurut cerita Lucia dia itu seorang petinggi di perusahaan tekstil, uangnya banyak dan sangat royal. Dia berkali-kali mengajak Lucia untuk menikah, namun Lucia terus menolak dengan tegas, ia tak mau jadi istrinya yang ke empat, ia lebih suka hidup bebas dan mencari lelaki yang paling pas dengan keinginannya. Ah, sebenarnya aku tak suka cara Lucia mencari calon suami, mengizinkan siapapun memeluk tubuhnya saat malam dan membiarkannya pergi saat fajar tiba. 

"Ya sudah, ayo pergi Jon!"

"Kasihan ya? padahal dia cantik..."

"Salah sendiri jual mahal! Padahal bos akan berikan separuh saham pabrik tekstilnya untuk dia. Bodoh! perempuan bodoh!"

"Padahal bos tak perlu lama-lama begini ya? tinggal sewa pembunuh bayaran...beres! Aku juga bersedia untuk jasa itu, asal boleh menikmatinya sebentar..."

"Gila. Itu cara kuno! Bisa cepat ditangkap polisi, tahu!" 

"...dan urusan menikmati, nikmati saja celana renda-renda itu...bawa pulang dan pasang pigura! Haha!" Mon tertawa terbahak. Jon kemudian ikut tertawa sambil memasukkan beberapa buah pakaian dalam Lucia kedalam saku jaket.

Keduanya lantas bergantian keluar melalui jendela yang terbuka lebar, melewati tubuhku yang kaku ketakutan. Aku menahan napas agar tak ada yang curiga dengan keberadaanku, rasanya aku akan mengompol jika terlalu lama dalam situasi seperti ini. Ngompol? 

Tiba-tiba saja Jon menoleh ke belakang, ke arahku! ya Tuhan dia melihatku! dia melihatku!!

Tangannya yang kurus kering dan keriput menjulur, semakin dekat dengan kulitku yang kecoklatan. Ujung telunjuknya yang kasar mulai meraba perutku, melakukan gerakan memutar lembut dan rasanya nyaman--jika Lucia yang melakukannya. Kurang ajar! dia sekarang menusuk-nusukkan telunjuknya di perutku, lalu bergerak ke dada, ke muka dan mengusap-usap wajahku dengan punggung tangan. Menjijikan! Jauhkan tanganmu dari mukaku!

"Hmm, Teddy Bear yang manis..."



*** 

Cerpen ini aku buat setelah baca novel salah satu novel kece milik Kak Ari Keling, ciee Kakak :3 Terinspirasi gitu deeeeh...

Memang belum sebagus tulisan dia sih, cuma kan katanya juga harus mau banyak nulis, banyak belajar...jadi cerita pendek yang aku buat ini salah satu pembelajaran pertama aku, nulis yang lebih dewasa dan enggak kebocah-bocahan lagi. Gimana sudah sedikit dewasa belum? apa maksa? ah...yang penting belajar yaaa, mau usaha. \^^/


4 comments:

  1. Hehehe.
    Makasih.
    Ah ya, masih harus diperhatikan benar jika menggunakan Pov1. Sebab tidak sebebas PoV 3.
    .

    ReplyDelete
  2. Makasih udah mampir, \^^/

    iya, harus banyak baca, nulis, evaluasi lagi...
    siap aja aku kepoin lagi :3

    ReplyDelete
  3. Testing mi.. satu, satu, satu aku sayang ibu...

    ReplyDelete
  4. Ayo banyak baca Angel, biar Smart :3

    ReplyDelete