Tuesday, 27 January 2015

Cerpen Remaja : RAHASIA AYAH & KAMU

 Namanya juga ayah. Sudah tentu laki-laki bukan? Sekalipun panggilannya berbeda-beda. Dari mulai bapak, ayah, abi, papi, atau pipiw sekalipun, tetap saja seorang ayah itu laki-laki. Seperti halnya ayah lainnya, ayahku pun memenuhi kewajibannya untuk menafkahi keluarga. Bekerja keras, mencari uang ekstra, membiayai sekolahku, membiayai semua kebutuhan rumah tangga.
Lalu kenapa ada yang meragukan kelelakian ayahku? Apa harus ia memamerkannya di depan semua orang untuk membuktikan bahwa ayah adalah memang lelaki yang sesungguhnya? Lelaki yang bertanggung jawab, mencintai istrinya dan menyayangi anak-anaknya. Lalu apa lagi? Itu semua ada di dalam diri ayahku!
“Lho, kamu kan anaknya? Masa kamu enggak tahu kerjaan ayah kamu sendiri?” protes Ratna.
Dia bukan temanku. Dia hanya kebetulan satu sekolah dan sebelum gosip aneh tentang ayahku beredar dia tak pernah sekalipun menyapa. Maklum, dia kan populer di sekolah. Dia cucu pemilik perusahaan tembakau terbesar di Banjar, orang yang sangat kaya. Tapi entah kenapa sekarang dia menjadi begitu lengket padaku.
Bukan lengket untuk menjadi temanku, tapi lengket untuk bertanya ini dan itu. Terutama masalah ayahku. Sudah kubilang bukan? Ada gosip yang membuat lingkungan meragukan kelelakian ayah. Sejak saat itu banyak sekali yang tiba-tiba saja mengenal aku. Menyapa aku juga bertanya ini dan itu. Seperti Ratna.



Terus terang saja aku tak suka.

“Sudah aku bilang kan kalau ayahku itu kerjanya jadi satpam di pabrik galendo! Kalau siangnya jadi distributor seblak instant! Memangnya kenapa sih kamu itu tanya-tanya itu terus dari kemarin?” jawabku setengah membentak.
Hatiku gemas sekali ditanya ini dan itu. Apalagi ada embel-embel pertanyaan “Pernah datang ke cafe Galaxy enggak?” atau, “Tahu dancer di cafe Galaxy enggak?”.
Mau apa aku datang ke cafe khusus dewasa itu? Usiaku baru enam belas tahun, masih duduk di kelas XI SMA dan kalaupun usiaku sudah cukup dewasa untuk pergi ke sana, aku tak akan mau! Uang yang ada di dalam kantongku tak akan cukup bahkan untuk membeli secangkir kopi susu! Eh, memangnya ada kopi susu ya di cafe? Entahlah, aku tak tahu!
“Ah, kenapa kamu marah begitu? Aku kan cuma tanya! Kamu enggak perlu bentak-bentak aku!” Ratna tersinggung.
“Iya, tapi pertanyaanmu itu-itu terus dan buat aku kesal! Kalau kamu yang direcoki pertanyaan ini dan itu seperti aku? Kamu juga pasti kesal Ratna!” kubalas dia.
Tatapan Ratna sinis menusuk ulu hatiku. Dia menggunakan tatapannya untuk melihatku dari atas ke bawah, persis seperti sebuah mesin pemindai yang tengah memindai virus atau cacat yang ada di tubuhku. Belum lagi seringaian yang muncul belakangan di bibirnya, membuat aku merasa ada sesuatu yang tak beres dengan idola sekolah yang satu ini.
“Oke, aku tanya baik-baik kok! Sekalipun orang-orang tanya aku terus menerus, aku enggak masalah..dasar sensitif..huh!” setelah menghujamkan lirikan tertajam dan juga dengusan paling keras yang pernah aku dengar, Ratna pun pergi.

Selepas siswi dengan tinggi lebih dari seratus tujuh puluh centimeter itu pergi, aku pun terdiam sembari meremas lututku. Kutundukkan kepala dan kusesali keadaan saat ini dimana orang-orang yang tengah berada di dalam kantin malah memperhatikan aku. Tatapan mereka berbeda-beda. Ada yang menatap penasaran, ada yang menatap iba, ada juga yang menatap dengan tatapan sinis seperti para peran antagonis dalam sinetron stripping di TV-TV.
“Ayah kamu kerja jadi banci ya?” jantungku seperti berhenti berdetak ketika salah seorang yang tengah menatapku sinis menanyakan hal itu.
Aku mendongak untuk melihat dengan jelas siapa yang telah mengatakan hal itu. Seorang siswa dengan tingkah yang gemulai dan duduk bersama anak perempuan. Ish, gayanya saja menjijikan, masih bisa bertanya seperti itu pula!
“Siapa bilang?” tanyaku sambil menatap tajam kepadanya. “Orang-orang!” si siswa gemulai menjawabku dengan nada yang mencemooh. Sepertinya ia berniat untuk mencari masalah denganku.
“Bukan! Jangan seenaknya saja kamu kalau ngomong!” hardikku kesal.
Gelas kosong yang tadinya berisi lemon ice tea yang sudah kuminum berada dalam genggaman tangan kananku dan siap melayang kapan saja ke muka siswa itu kalau saja dia terus mengatakan hal yang terdengar menggelikan, sekaligus menyakitkan itu.
Tapi nampaknya dia tak mau memperpanjang masalah. Dia lebih memilih untuk melirikku dengan sinis lalu kemudian kembali menghadapkan muka pada gengnya sendiri. Aku pun bersyukur karena sekarang aku bisa melepaskan gelas yang kugenggam sekuat tenaga.
Aku tak mau mencari masalah dan membuatku terkena hukuman dari guru kalau saja benda itu melayang dan melanggar kepala siswa gemulai itu. Sudah tentu kepalanya akan bocor dan aku pun mendapatkan hukuman yang sangat berat. Ah, suasana di dalam kantin sudah tak nyaman lagi. Aku lebih baik segera masuk ke kelas dan bersiap untuk mendapatkan pelajaran berikutnya. Ada pelajaran Biologi yang harus mendapatkan perhatian serta konsentrasiku. Sesaat aku bisa lupa dengan gosip tentang ayah.

***

Tapi tetap saja bayangan ayah yang berbalut busana wanita, dengan make up norak dan suara yang dikecil-kecilkan terbayang di benakku selama sisa pelajaran hari ini. Setiap kali aku berusaha memenuhi kepalaku dengan ingatan yang lain, semakin penuh pula kepalaku dengan gambaran ayah yang menari-nari berpakaian wanita. Hatiku terasa menciut kecil dan aku begitu takut jika itu nyata!
Ayahku bukan waria! Ayahku laki-laki sejati!
“Hei, mau sampai kapan kamu di dalam kelas? Bel sudah dari sepuluh menit yang lalu lho!” teguran Hari membuyarkan lamunanku.
Serta merta aku tergagap dan mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan kelas. Semua bangku yang dimasukkan ke dalam kolong meja. Sudah rapi dan tak ada siapapun kecuali aku dan Hari, ketua kelasku.
“E-eh, iya! Ka-kamu sendiri? Kenapa masih disini?” tanyaku untuk mengalihkan perhatian. Hari mengangkat bahu dan mengedikkan dagunya padaku. Apa maksudnya?
“Maksudnya?”
“Yaa, sejak masuk jam terakhir tadi aku perhatikan kamu..”
“Eh?” aku terbengong. Hari memperhatikan aku? Hari yang bintang sekolah dan memiliki alis tebalnya Siwon SuJu memperhatikan aku? “Habisnya! Kamu itu melamun terus..eh tahu-tahunya sampai jam pulang juga masih saja melamun..” dan wajahku yang bersemburat merah keGRan langsung meredup lagi dan langsung tahu diri.
Iya ya? Untuk apa Hari memperhatikan aku tanpa alasan yang jelas? Dia pun pasti ingin bertanya ini dan itu tentang pekerjaan ayahku. Yaa, tak jauh berbeda dengan orang lain. Aneh sekali sesaat yang lalu aku sampai mengira dia itu menaruh simpati padaku.
“Ah, iya! Aku pulang dulu ya? Ehm..sampai besok..” pamitku berbasa-basi. Kumasukkan buku-bukuku ke dalam tas dan menjejalkannya dengan asal.
Kusampirkan tas di bahuku dan aku pun segera keluar kelas. Tak sedikit pun aku menoleh lagi ke belakang. Aku tak mau melihat Hari memperhatikan aku dengan tatapan yang aneh seperti orang lain. Baik itu dengan tatapan mencemooh, tatapan sinis, atau tatapan iba sekalipun!
Sekolah pun ternyata sudah begitu lengang! Aku sendiri sampai heran bisa-bisanya aku melamun sampai tak sadar diri. Jangan-jangan tadi itu aku pingsan, atau mati suri!
Untunglah rumahku tak jauh dari SMK Hikmah, tempatku menuntut ilmu. Mungkin hanya sekitar lima belas menit atau setengah jam mungkin. Letak SMK-ku ini memang dekat terminal, namun tak ada kendaraan umum yang melewati rumahku. Kalaupun ada ojek, sudah tentu sangat mahal. Aku tak punya cukup uang untuk ongkos pulang pergi, biar saja aku jalan kaki.
Matahari membuat isi otakku bagai mendidih, baru sampai di perempatan saja rasanya aku sudah tak tahan. Mobil-mobil bagus melewatiku dari arah yang berlawanan, lalu berbelok masuk ke Banjar Medical Centre yang memang berhadap-hadapan dengan sekolahku. BMC memang terkenal sebagai rumah sakit yang mewah dengan pelayanan prima, tak heran pasiennya adalah orang-orang berduit semua.
“Dulu juga ayah begitu,” gumamku sambil menyeka peluh.
Rindu juga mengingat kehidupan glamourku dulu, demam saja check suhu badan ke BMC, lalu diantar jemput ke sekolah, uang saku yang berlebihan, jalan-jalan ke Asia Plaza di Tasikmalaya atau saat bosan aku pergi ke Bandung bersama teman satu geng, menghabiskan uang yang kuminta dari ayah dan yaaa begitulah.
“Aku hebat juga ya? Dari yang kolokan setengah mati, berubah mau jalan kaki, uang saku cuma lima ribu, haha!” aku bicara sendiri, juga tertawa sendiri.
Sekarang aku sudah menyeberangi perempatan, melintasi jalan kotor karena noda oli di depan sebuah bengkel truk. Sebelah kananku Islamic Centre megah, sempat kulihat ada Ratna dan teman-temannya tengah berfoto ria dengan tongsis, ada juga pelajar dari sekolah lain yang nongkrong disana.
Beberapa tempat di kota Banjar ini memang terkenal sebagai tempat yang sangat indah, nyaman dan cocok untuk foto narsis. Seperti taman-taman yang ada di sepanjang sungai Citanduy, ada gazebo bagus dengan koral warna-warni yang disusun apik sebagai jalan setapak. Pohon palem botol, cemara yang wangi, serta beberapa desain arsitektur dengan batu alam yang ditempel di dinding pagar pembatas sungai membuat taman di Banjar tak pernah sepi.
“Bahkan di siang sepanas ini,” gumamku sambil segera melintasi belokan yang menjadi jalan masuk bus-bus besar yang akan transit di terminal.
“Coba deh kamu jam sebelas main ke piade! Pasti ada deh tuh yang bikin kamu shock!” ucapan cowok gemulai yang tadi kubentak di kantin terngiang lagi, bukan sekali dua kali ia menekanku dengan kalimat seperti itu.
“Iya, kaget lihat kamu nyari pelanggan disana kan?” serangku kesal, waktu itu.
Aku tahu maksud anak lemah gemulai menyebalkan itu ingin menunjukkan dimana ayah berada saat malam tiba. Piade memang terkenal sebagai tempat nongkrong kupu-kupu malam, berkencan diantara suara kereta yang datang, lonceng stasiun...entahlah, mungkin gelap-gelapannya itu yang membuat mereka suka berada di sekitar stasiun Banjar.

Ayah yang baik, ayah yang lembut, ayah yang bertanggung jawab. Lelaki yang bekerja keras demi mencapai jabatan tinggi di perusahaan, mendapatkan gaji besar dan aneka tunjangan. Dihormati karena kejujurannya dan loyalitasnya, hidup bahagia.
Sayangnya ada yang tak suka dengan cara kerja ayah yang begitu jujur dan menjungkalkannya dari posisi yang ayah tempati. Ayah juga dipecat dengan tuduhan yang tidak-tidak. Tragisnya lagi, ayah mendapatkan blacklist sehingga tak bisa melamar pekerjaan ke perusahaan lainnya.
Aku mempercepat langkah mengitari terminal Banjar melalui jalan kecil di belakang terminal, yang bersebelahan dengan pinggiran sungai. Disini banyak pohon dan aku bisa cukup fresh dengan kesejukannya. Aku bisa mempercepat langkahku dan sampai di jalan yang akan membawaku pulang.
“Hufft...” kuhembuskan nafas sambil berhenti sejenak. Mengatur nafas dan mengumpulkan tenaga untuk kembali berjalan menuju rumah.
Aku ingat blok ini, disini ada teman lamaku yang bernama Risa. Kami selalu bermain bersama, saat ayahku masih memiliki jabatan. Tapi setelah ayah mendapatkan musibah, keluarga Risa melarangku untuk berteman dengannya. Risa pun menjadi berubah dan tak pernah menyapaku lagi.
Aish, sakitnya masih terasa ternyata. Betapa kedudukan menjadi alasan utama semua orang berada dekat denganku.
Kutarik nafas dalam dan kutekan sakitku kuat-kuat. Bangkrutnya ayah sudah dua tahun berlalu dan sekarang kami sudah bisa membiasakan hidup dengan uang yang seadanya. Uang saku lima ribu sehari memang jauh dari cukup. Tapi tak apa! Sungguh!
“Eh, itu ayah kan?” gumamku saat melihat beberapa orang pria di seberang jalan. Agak jauh dari tempatku jadi pandanganku tak begitu jelas. Begitu juga mereka.
Salah seorangnya memiliki perawakan yang begitu mirip dengan ayah, namun ia tak mengenakan seragam perusahaan seblak instant yang selalu dikenakan ayah dua tahun belakangan ini. Ayah seperti terburu-buru dan membuatku curiga.
Kulangkahkan kakiku menyeberangi jalan dan kupercepat ayunan langkahku untuk mengimbangi langkah para pria yang tinggi-tinggi itu. Mereka berjalan menuju sebuah rumah besar yang gerbangnya tertutup rapat.
“Eh, neng mau kemana?” tiba-tiba saja seorang lelaki menarik lenganku, membuat langkahku terhenti. “Mau ke rumah itu,” sahutku polos.
Lelaki yang mengenakan pakaian ala preman itu menatapku dengan kening mengerut, lalu melayangkan pandangannya ke rumah bagus nan mewah itu. Tiba-tiba beberapa mobil polisi datang dan beberapa yang turun mendekati orang yang memegangiku.
“Kamu tunggu disini neng, tempat itu berbahaya dan sudah lama jadi target polisi...” dan tungkaiku langsung lemas.
Kejadiannya begitu cepat dan orang-orang berseragam itu merangsek masuk ke dalam rumah bagus. Tak lama orang-orang di dalamnya keluar dengan tangan diborgol, termasuk ayah!
“Ayah! Ayah!” panggilku sambil berusaha mendekati ayah, namun seorang petugas melarangku mendekat.
Yakin sekali aku melihat ayah menatap ke arahku, kulambaikan tanganku dan berharap ia mau mendekat, namun tak bisa. Petugas lain mendorong ayah masuk ke dalam mobil tahanan.
“Kenapa ini Pak? Ada apa ini?” tanyaku dengan air mata yang mulai merembes, polisi yang memegangiku menatap dengan iba. “Ini rumah germo prostitusi sesama jenis, dan kami sudah curiga jika rumah ini sering digunakan sebagai tempat pembuatan video porno untuk kaum penyuka sesama jenis...”
“Ta-tapi ayah saya bu-bukan...dia-dia...”
“Semoga saja Ayah kamu tidak terlibat ya nak? Semoga dia hanya dijebak,” petugas bertubuh tinggi itu berusaha menenangkan aku. Beberapa saat ia menepuk bahuku dengan lembut, persis tepukan ayah.
“Baiklah, kami harus segera pergi, cepat pulang dan berdoa saja,”
“I-iya,” sahutku setengah mendesis. Antara sadar dan tidak aku hanya bisa mengangguk, lalu berbalik arah. Aku harus pulang ke rumah tapi entahah...nampaknya aku lupa dimana letak rumahku.
“Karin, kok nangis?” tanya Hari.
Aku kaget setengah mati melihat ketua kelasku itu ternyata berdiri di belakang, memperhatikan aku dengan satu plastik kelapa muda alpukat khas Perempatan Djarum. Ia duduk di atas Soul hitamnya yang distandar samping.
“Enggak kok!” elakku sambil segera berjalan.
Aku sadar jika aku berjalan tak tentu arah, rumahku yang kini kecil dan kumuh ada di ujung jalan sana. Tapi aku tak mau ke rumah dulu, aku tak tahan dan tak tega melihat wajah kuyu ibu yang menantiku pulang sekolah. Tidak.
“Hey, mau kemana sih?” Hari malah membuntuti aku yang berjalan berlawanan arah dengan jalan pulang.
“Kemana saja,” sahutku sambil menahan tangis.
“Eh tadi kenapa ya banyak polisi?” Hari malah menanyakan hal yang tak ingin kujawab.
Aku menggeleng sambil menyusut mukaku dengan jilbab putih yang kukenakan. Hari melihat itu dan mencegat langkahku dengan memarkirkan Soulnya melintang di badan jalan.
“Yuk naik!” perintahnya tegas.
Kutatap wajahnya sekilas, tak ada gambaran cowok iseng dan suka mesum di tatapan Hari. Aku malah melihat ketulusan dan tanggung jawab disana, aku suka melihatnya, “Ayo mau ikut enggak? Kayaknya sih kamu butuh teman!”
“Memang, cuma aku...kan, nanti kamu malu,”
“Ckk ayo!” Hari menarik tanganku dan setengah memaksa agar aku segera duduk di boncengannya.
Antara sadar dan tidak aku menaiki boncengan Hari, berdua bersamanya melintasi jalan raya yang membawa kami berdua melewati Lapangan Bakhti yang kini berubah menjadi Taman Bakhti. Tempat untuk berolahraga, bersepeda, mengasuh anak, pacaran sambil mencicipi aneka macam cemilan khas kota Banjar.
Ada booth sebak instant disini, seblak instant yang menurut ayah adalah tempatnya bekerja saat ini. Seblak instant yang rasanya sangat pedas, sepedas kenyataan yang menamparku saat ini.
Pernah mendengar seblak? Kerupuk mentah yang direbus sampai empuk dan ditiriskan, lalu digoreng bersama aneka bumbu khas yang pedas lalu dicampur berbagai macam campuran. Dari mulai telur orak-arik, sosis, ayam suwir, sampai ceker dan gabungan aneka pasta. Ah, lupakan. Aku tak mau makan seblak lagi setelah kejadian ini.
“Kita mau kemana?” tanyaku setengah berteriak.
“Lihat saja nanti,” sahut Hari tanpa mengurangi kecepatan kendaraannya.
Kami sudah melewati jalan Perintis Kemerdekaan, melewati toserba, alun-alun kota Banjar, pendopo Walikota di seberangnya dan terus melaju cepat menuju arah pasar kota. Aku mulai mendapat gambaran, mungkin Hari akan mengajakku ke Dobo.
Benar saja, ia mengajakku ke bendungan Dobo. Tempat yang asyik untuk wisata kuliner sambil menikmati pemandangan indah. Letak bendungannya sangat tinggi dan air yang jatuh menjadi terlihat seperti air terjun berwarna coklat susu yang sangat nyaman dilihat.
“Kamu mau makan enggak?” tanya Hari sambil melirik saung-saung makan sepanjang sisi bendungan. Aku menggeleng.
Aku bukan tak mau mengisi perut, hanya saja uangku tinggal seribu rupiah dan itu untuk tambahan uang jajanku besok. Biar saja sekarang aku cukup menikmati indahnya Dobo, sambil sesekali berkhayal andai suatu saat aku bisa bekerja di kompleks perkantoran yang letaknya di seberang bendungan.
Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy. Bangunannya bagus-bagus, mobil yang diparkir pun bagus-bagus. Sudah tentu gajinya pun bisa mencukupi kehidupan sehari-hari, aku pasti bisa membuat ayah dan ibu hidup layak lagi, tak akan ada lagi gosip ayah yang bekerja sebagai...
“Beruntung tadi disana sepi Karin,” aku menoleh, Hari memulai percakapan dengan suara pelan, cenderung menyesal.
“Apa?”
“Seenggaknya orang lain enggak akan ada yang recokin kamu di kelas tentang itu...”
“Ka-kamu ngomong apa?” aku tetap bertanya dengan rasa takut yang menjalar di tubuhku.
Hari pun mendengar gosip tentang ayahku, ia juga melhat penangkapan ayah tadi. Kupalingkan wajahku, kulemparkan pandangan ke aliran sungai Citanduy yang masih berawarna coklat susu. Malu sekali rasanya, entah malu karena apa.
Bukan malu karena aku jatuh sedemikian miskin dan sekarang hidup sangat susah, tak juga malu dengan cibiran teman satu sekolah yang mengatakan aku anak waria dan lain sebagainya. Namun mungkin aku malu karena Hari tahu keadaannya lebih daripada aku yang anak dari pembuat gosip heboh itu sendiri.
“Aku hanya ingin mendukung kamu Karin,” suara Hari terdengar sangat lembut dan yakin. Juga tulus.
“Aku tahu betapa beratnya hidup yang kamu rasakan, aku tahu bagaimana perasaan kamu dibully seperti itu di sekolah,”
“Aku ingin menemani kamu, menjaga kamu. Pinjemin bahu andai kamu butuh tempat untuk nangis, untuk bersandar...”
“Kamu enggak usah sok baik sama aku. Aku memang sekarang jatuh miskin dan nyaris enggak mungkin kembali seperti dulu. Ayahku mungkin akan dipenjara dan aku akan dapat tekanan dari sana-sini, tapi aku cukup kuat!” selaku dengan nada tinggi.
Aku membentak Hari karena aku tak mau ia mengira aku lemah, jujur aku senang mendengar ia mengatakan semua kalimat itu. Semua kalimat yang telah meluncur dari bibir tipisnya itu membuat aku mengira ia tulus peduli padaku, tapi entahlah. Aku tak akan merasa nyaman dengan ketulusannya. Seisi sekolah pasti akan ikut mengolok-oloknya.
“Tapi berdua akan jauh lebih kuat. Dulu aku enggak bisa bilang sayang ke kamu, aku enggak bisa bilang aku akan jaga dan buat kamu senyum saat hidup kamu masih berkecukupan...”
“...namun sekarang, disaat kamu tengah berada di titik sakit terendah yang enggak bisa kamu tahan lagi, aku ingin buktikan kalau aku akan buat kamu kuat kembali, bikin kamu ketawa lagi,”
“Sekarang Karin, kuharap kamu tahu aku tulus,” aku hanya bisa melongo mendengar kalimat-kalimat penuh makna yang Hari ucapkan padaku.
Antara percaya dan tidak percaya. Aku memang sangat putus asa, juga malu, aku membutuhkan seseorang yang bisa melindungiku, membelaku, membuatku merasa disayangi seperti gadis lain. Tapi Hari? Dia seorang idola, mana mau ia melakukan itu semua untukku?
“Tapi ayahku Hari, dia...dia kerja jadi waria, dia jadi...ah!”
“Itu dia, aku juga akan temani kamu dan lindungi kamu dari teman-teman. Kamu bisa cerita semua unek-unek kamu sama aku juga!”
“Tapi kenapa enggak kamu lakuin itu sejak gosip itu muncul? Kamu enggak ada saat itu...”
“Waktu itu kan aku belum berani ungkap perasaanku sama kamu, aku...” kuangkat tangan kananku tepat di depan muka Hari, berusaha menyunggingkan senyuman padanya.
“Enggak usah beralasan Hari, aku terlalu kecewa untuk alasan. Cukup dengan semua gosip tentang Ayah yang ternyata benar, aku enggak mau mempersulit hidup aku lagi,”
“Tapi aku kan enggak bakalan mempersulit kamu! Aku itu mau bantu kamu lewatin masa sulit ini Karin!” Hari bersikukuh. Wajahnya serius dan aku tahu itu.

Hanya saja rasanya sangat ganjil tiba-tiba ada seseorang yang berkata bahwa ia akan menemani dan melindungiku dengan sepenuh hati. Apalagi dalam keadaanku yang begini kacau. Bangkrut dan jatuh miskin, ayah yang bekerja menjadi penjaja cinta transgender dan ditambah lagi sekarang ia ditangkap polisi karena terlibat pembuatan film terlarang...
“Kumohon Karin, jangan biarkan aku terus menahan perasaan ini...izinkan aku menyayangi dan melindungi kamu!”
“Sudahlah Hari, saat ini aku belum siap untuk masukin kamu ke dalam hidup aku. Entahlah, hatiku belum yakin...” Hari terlihat ingin membantahku, namun segera kulajutkan kalimatku.
“...buktikan saja padaku jika apa yang kamu katakan itu benar, biarkan hatiku siap,” pungkasku tegas. Tak ada lagi tangis di mataku, aku jadi lupa untuk menangis.
“Ini bukan penolakan kan?”
“Bukan,” sahutku tersenyum.

Tiba-tiba saja Hari menyodorkan es kelapa dalam plastik yang ternyata masih ia bawa. Menyuruhku meminumnya, namun aku menolak sambil memalingkan muka. Aku teringat ayah.
“Minum dulu, aku beli ini buat kamu. Aku ikutin kamu dari sekolah, jalan sendirian panas-panas...”
“Kamu nguntit aku?”
“Eh enggak! Aku...” wajah Hari jadi pucat pasi mendengar tudinganku. Melihat ekspresinya yang aneh membuat ujung bibirku terangkat sedikit, aku tertawa dan mengambil es dari pegangan Hari.
Kuminum sedikit dan rasanya sangat menyegarkan. Air kelapa yang segar dicampur gula aren asli, serutan kelapa muda dan alpukat membuat es kelapa muda ini terasa sangat legit dan nikmat. Terutama karena es ini pemberian lelaki setampan Siwon Suju yang menyukaiku.
“Aku ingat Ayah,” kalimat itu meluncur mulus tanpa kusadari, Hari langsung menoleh ke arahku dan tersenyum.
“Kalau kamu mau ketemu, aku bisa antar,”
“Mana bisa! Yang ada kita kena marah polisi!”
“Ya enggak, yakin saja!”
“Ah,” aku mengerutkan kening, yakin sekali dia jika tak akan ada Polisi yang mengusir kami karena ingin bertemu salah satu tersangka.
“Yang tadi ngomong sama kamu itu Ayahku, dia pasti izinin kita ketemu Ayah kamu...” ada rasa bahagia dan lega mendengar yang baru saja Hari ucapkan, sekaligus miris.
Ayah dari orang yang menyukaiku adalah orang terhormat yang menangkap ayah disaat ia melakukan pekerjaan yang tak terhormat. Tapi...bagaimanapun, dia ayahku. Ayah yang tetap berusaha mencari pekerjaan diantara putus asa yang menghujam bathinnya.
Aku tetap bangga pada ayah, aku tetap menghormatinya, aku tetap menyayanginya. Apapun yang ia lakukan, seperti apapun dia saat ini, aku tetap akan memanggilnya AYAH.
“Tapi janji, jangan nangis...kita hadapi semua dengan senyuman, aku akan temani kamu!” Hari mengusap pipiku, mengusap air mata yang meleleh tanpa kusadari.
Kudongakkan wajah dan kusunggingkan sebuah senyum, penuh terima kasih.
Hari datang di saat yang sungguh tepat, kuharap hatiku akan segera terbiasa dan mau menerimanya dengan baik. Aku yakin dia tulus, aku pun sangat yakin hidupku akan lebih baik bersama seseorang lagi yang mendukungku, seperti Hari.
Inti dari semua kejadian ini adalah selalu kuat dan yakin akan perubahan yang akan datang. Perubahan yang akan membuat hidup menjadi lebih baik. Semoga setelah kejadian ini ayah bisa segera menemukan pekerjaan baru.
Memulai hidup baru, lembaran baru...yang lebih bahagia.

TAMAT

No comments:

Post a Comment

Model dan Jenis Sepatu Boots Wanita Masa Kini

Model dan Jenis Sepatu Boots Wanita Masa Kini  Model dan Jenis Sepatu Boots Wanita Masa Kini - Boots yang dulunya identik dengan k...