Friday, 30 January 2015

Novel Teenlit "Pemuja Rahasia"



Novel Pemuja Rahasia ini naskah yang aku buat selama kurang lebih tiga minggu, mood lagi bagus-bagusnya dan waktu itu aku lagi suka banget sama Taylor Lautner. Karena itu ada salah satu tokoh yang namanya Jacob :3 satunya lagi punya nama Edward karena dia memang ceritanya blasteran gitu dehhh...

Wiii, musim-musimnya Jacob Black kan udah lama banget, berarti ini novel ketinggalan zaman dooong? ya enggak lah! novel yang keluar antara tahun 2013 dan 2014 ini tetep asyik dibaca kapanpun juga. Soalnya kisahnya menembus batas ruang dan waktu...jiaah! enggak percaya? nih baca sedikit penggalan ceritanya yaa..

Kenapa aku milih buat ngajakin ngintip isi novelku yang satu ini? karena ada banyak teman-teman yang sudah baca novel ini nginbox aku dan cerita kalau kisah novel Pemuja Rahasia ini menghibur dan asyik buat dibaca berkali-kali. Hihi, aku jadi GR tingkat kotamadya Banjar deh jadinya! Jadi ceritanya sekarang aku sedikit lebih PD untuk bagi-bagi baca novel ke 9-ku ini. Semoga suka yaa....dan penasaran juga. :p

***
Sesampainya di sekolah aku tak segera masuk ke dalam lingkungan sekolah. Namun lebih dulu mengamati keadaan di sekitar gerbang. Aku takut jika ada Bejo yang menungguku dengan spanduk selamat datang seperti hari Sabtu yang lalu.
Hii, mengerikan sekali!
Kutengok ke kanan dan ke kiri. Tak ada sosok keriting berkulit hitam yang biasa mengikutiku kemanapun aku pergi. Hanya siswa-siswa dari kelas lain, sebagian ada yang mengenalku dan sebagian lagi tak kukenal. Sepertinya Bejo belum datang ke sekolah, atau mungkin dia sudah datang ke sekolah dan tengah menyiapkan sebuah kejutan selamat datang yang tak perlu untukku di dalam sana!
Aduh, kenapa aku jadi berigidik begini ya? Bulu kudukku sampai meremang!
“Kamu Kamila kan? Dari kelas XI ipa 2?” tanya seseorang yang mengenakan emblem khusus untuk anggota OSIS. Aku menganggukkan kepalaku dan sangat bingung. Apalagi kedua siswa yang sama-sama mengenakan emblem OSIS khusus itu malah menyalamiku dengan menahan tawa.
“Selamat ya!!”
“Eh, selamat untuk apa?” tanyaku heran. Mereka tidak menjawab, mereka berdua segera berlalu dari hadapanku dengan menutup mulut masing-masing. Mencoba menahan tawa yang siap meledak.
Kuayunkan langkahku memasuki gerbang sekolah, beberapa siswa yang kebetulan tengah nongkrong di pos satpam sambil mengobrol asyik dengan pak satpam pun menatapku dengan penasaran. Ketika kutengok mereka langsung mengalihkan pandangannya. Berpura-pura asyik dengan hal lain.
Aku pun tidak ambil pusing. Segera kupercepat langkahku agar aku bisa segera sampai ke dalam kelas. Aku tak kuat menahan beban yang memberati punggungku
Iya, beban tatapan dari semua siswa dan siswi yang kulewati. Mereka terus mengamatiku dengan aneh dari atas ke bawah, lalu kembali lagi dari bawah ke atas. Sempat aku fikir jika aku mengenakan pakaian yang salah, atau mungkin kemejaku terbaik. Atau sepatuku berbeda. Tapi tidak begitu juga. Yang ada beberapa malah memberikan ucapan selamat lagi kepadaku.
“Selamat untuk apa sih? memangnya aku kenapa?” tanyaku bingung dan penasaran saat salah satu temanku yang pernah sekelas di kelas X menyalamiku.
“Ah kamu, kayak enggak ngerti saja.. by the way.. semoga langgeng ya!!” jawabnya dengan senyum dikulum. Aku bengong.
“Eh, langgeng apanya? Langgeng sama siapa?” aku makin bingung. Temanku itu menepuk bahuku dan menunjuk ke suatu arah. Ke koridor yang menuju lapangan basket.
“Kenapa? Ada apa disana?”
“Lihat saja sendiri.. so sweet banget deh!!” temanku itu malah menggantungkan jawabannya. Membuatku makin makin makin dan maaakiiin penasaran. Ketika aku melangkah ke arah yang ditunjukkan, semua siswa yang ada disepanjang koridor itu tersenyum-senyum.
Ada yang tersenyum tulus, ada juga yang tersenyum dengan sangat sinis. Sekana-akan apa yang ada di depan sana adalah aibku yang paling besar. Yang paling menarik adalah ada yang senyumnya sangat tersiksa, seperti menahan suatu rasa yang tak bisa ditunda-tunda lagi. Ia meringis dan akhirnya melesat menuju toilet. Dugaanku tepat, dia memang kebelet.
Akhirnya aku sampai di ujung koridor. Dua lapangan basket yang berda,pingan dan dibatasi dengan menggunakan anyaman kawat yang setinggi hampir lima meter. Bukan itu yang mencolok mata, bukan itu pula yang membuat jantungku seakan melompat keluar. Melainkan sebuah spanduk ukuran raksasa yang memuat gambarku dan insert pict gambar Bejo!!!
“Ya ampun! Apa-apaan ini!!!” pekikku panik, sekaligus malu. Apalagi anak klub basket yang super kece tengah memperhatikan poster raksasaku sambil tertawa-tawa.
Ketika mendengar aku menjerit mereka langsung menoleh kepadaku dan terdiam. Mereka memandangku dengan tatapan yang aneh, ada juga yang menertawakanku lagi diam-diam.
“Kamila (XI Ipa 2) telah mencuri hatiku. Doakan kami langgeng ya!! Bejo love Kamila Forever.” Kutelan ludah setelah membaca tulisan berwarna mencolok di bagian bawah poster itu.
Norak sekali!!
Tanpa banyak bicara lagi aku mencabut poster itu dari tempatnya bertakhta di atas sana. Sekali tarikan pun langsung lepas dan menimpa tubuhku yang berdiri tepat di bawahnya.
“Eh, kenapa dicabut Kamila? Kan bagus itu!”
“Serasi lho serasi!!”
“Iya!! Pasang lagi deh!!” goda, eh bukan! ejek anak-anak klub basket padaku. Aku tidak menggubris mereka, dengan kesal dan malu, yang berujung pada menahan tangis aku melipat poster yang terbuat dari sejenis plastik khusus spanduk kampanye itu sembarangan, yang penting menjadi lebih kecil dan mudah kubuang ke tempat sampah.
Tapi posternya terlalu besar dan aku sudah tak bisa berkonsentrasi lagi dengan ejekan dan cibiran semuanya yang ada di lapangan basket ini. Satu per satu air mataku menetes melengkapi rasa Maluku pagi ini.
Sepasang tangan yang putih dan panjang terjulur lalu membantuku melipat poster super besar itu tanpa kuminta. Kurang dari dua menit poster yang memuat fotoku dengan si keriting Bejo itu akhirnya terlipat dengan rapi.
Dengan mata yang masih mencucurkan air mata aku  mendongak untuk melihat wajah orang yang telah menolongku. Yang pertama kulihat adalah name tag dengan tulisan “Edward Smith”.
Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tapi dimana?
Barulah setelah melihat wajahnya secara langsung aku mengingat dimana aku pernah melihat dan mendengar namanya.
Dia satu-satunya siswa indo yang bersekolah di SMA Pusaka. SMA-ku tercinta. Seperti namanya yang mirip dengan nama Edward Cullen, ia pun memiliki kulit yang pucat, dengan rahang persegi dan hidung yang tinggi. Matanya coklat dan ia sekitar dua puluh centi lebih tinggi dari tubuhku yang hanya 165 centimeter.
“Ma-makasih..” ujarku terbata. Edward tersenyum, lalu menepuk lipatan poster di pelukannya,
“Mau dibawa kemana?”
“Eh, ma-mau dibuang saja..”
“Yah, masa dibuang sih? bagus lho posternya!” aku menggeleng keras, sambil menyeka air mataku.
“Enggak! Aku malu, aku mau buang saja. Lagian, kenapa bikin poster yang isinya enggak bener!” curhatku. Edward tertawa dan menoleh kepada anak-anak klub basket yang terdiam melihatnya membantuku membereskan poster.
“Lain kali, jangan bersikap enggak sopan kayak tadi ya. Enggak pantes ada cowok cuma ngetawain cewek yang lagi susah. Jangan jadi pecundang.” Ujarnya tenang, tapi tegas.
Aku mengangkat wajahku dengan suntikan rasa percaya diri yang kudapat dari si bule ganteng yang satu ini.
Ia menyikutku dan mengajakku untuk pergi.

Aku pun mengekor dan merasakan hatiku berbunga-bunga. Senangnya dibela sama Edward! Kapan lagi coba bisa berinteraksi langsung dengan siswa paling populer di kotaku ini!
*** 

Gimana? penasaran dengan kelanjutannya? ini cuplikan bab satu di novel Pemuja Rahasia. Kalau masih penasaran boleh inbox FB aku yaa.. Nuniek Kharisma Rosalina . Ada harga khusus buat kamu yang pesan langsung di aku, oke oke okeee? 

No comments:

Post a Comment

60 Tahun Astra Untuk Indonesia

60 Tahun Astra Untuk Indonesia - Belakangan ini kita disuguhi berita yang mengerikan, dimana hutan di Indonesia semakin gundul dan mengkha...