Saturday, 31 January 2015

Intip Baca Kuntilanak Rawa Sarewu

Yang ini novel horor kedua yang aku buat, diterbitin di kinomedia dalam bentuk E-book. Tinggal download dan bisa baca dimana saja, kapan saja dan enggak perlu takut buku kita dipinjem orang dan hilang,

Kuntilanak Rawa Sarewu ini kisah nyata lho cynt, :3

Ceritanya di Majalengka sana ada gosip beredar tentang penampakan ibu-ibu yang bawa anak kembar gitu. Jadi tadinya dia lagi hamil anak kembar, dan dia meninggal, arwahnya mungkin penasaran dan sering gangguin orang-orang lewat gitu deeehhhh... nah! inspirasiku datang dari sini, dan diotak-atik sedikit...jadilaaah!!

Ah ya, yang mau download disini saja ---->>>> KUNTILANAK RAWA SAREWU



Penasaran sama cuplikan naskahnya? yuk baca !

***
Ayu menatap lebam di pahanya dengan bingung, lebam itu muncul setelah ia bermimpi tentang sebuah pertengkaran hebat yang berakhir setelah sebuah pot melayang ke tubuhnya. Tepat di kedua pahanya pot itu jatuh, meninggalkan bekas biru kehitaman yang cukup luas.
“Kenapa begini sih ya?” ia berbicara sendiri sambil mengusap-usap lebam misteriusnya.
Mimpi tentang pertemuannya dengan Bara yang membuatnya merasa senang dan jatuh cinta tak ia sesali, ia justru menikmati potongan-potongan kisah itu sebagai kisahnya sendiri. Akan tetapi semua ini mulai terasa mengganggu sejak Ayu mendapatkan lebam-lebam di sekujur tubuhnya.
Hingga detik ini ia tak mengatakan apapun tentang noda-noda kehitaman di permukaan kulitnya, baik Bagas dan jamal serta nenek memang tahu ia sering menjerit-jerit saat mimpi itu datang, tapi perihal lebam yang menjadi bukti akan keganjilan lamunannya itu Ayu belum berniat untuk mengatakannya.
Nenek pasti akan sangat khawatir, Bagas kebingungan dan Jamal merasa bersalah. Ayu mulai berpikir jika semua mimpi yang ia lihat itu ada hubungannya dengan istri mandor yang gentayangan itu, mungkin saja Bara pun adalah nama suaminya yang tak lain adalah mandor perkebunan tebu.
Harusnya Ayu bertanya saja pada Jamal tentang kebenaran dugaannya ini, tapi kembali pada kekhawatirannya tadi. Biar saja keganjilan ini ia pendam sendiri saja, siapa yang tahu beberapa hari lagi ia tak akan mendapatkan mimpi-mimpi aneh dengan bekas asing ini.
“Ah,” desah Ayu.
Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan kaki yang menjuntai ke lantai, direntangkannya kedua tangan sampai Ayu merasa dada lapang dan tidak terlalu sesak. Bagaimanapun ia berusaha untuk tidak mengambil pusing keganjilan ini, tetap saja rasa takut dan bingung membuatnya gelisah.
Bagaimana jika suatu saat nanti lebam-lebam ini menjadi lebih parah dan melukai dirinya lebih dari sekarang? Bagaimana jika mimpinya nanti menuntun Ayu kepada kematiannya sendiri?
“Ah, sudah begini lagi nih,” gumam Ayu dengan nyali yang tiba-tiba menciut.
Udara dingin berputar-putar lagi di sekitar tubuhnya, tiupan udara sedingin es mengusap-usap kulit Ayu seperti jemari yang tak terlihat. Sejak kesurupan tempo hari, disusul beberapa lamunan ekstrim dan kesurupan yang ia alami beberapa waktu kemudian, ia sudah mengenali kondisi dimana tubuhnya akan kedatangan tamu astral.
“Oke, pecahkan pikiran...jangan kosong,”
Ayu bergumam sambil berusaha mengingat salah satu lagu yang ia suka, jika saat belajar atau tengah dihadapkan pada ujian matematika yang memusingkan ia akan dengan cepat mengingat lagu-lagu easy listening, serta membuat konsentrasinya buyar, beda urusannya dengan saat ini.
Ayu malah merasa kepalanya begitu pening karena terlalu memaksakan diri membelokan pikirannya ke arah lain. Sesuatu yang sangat ingin masuk ke dalam kepalanya benar-benar kuat, terus menerus menekan masuk ke dalam tubuh Ayu.
Bukan hanya sakit yang Ayu rasakan, namun rasa dingin yang meliputi seluruh tubuhnya terasa seperti membenamkan dia ke dalam bak berisi es. Perih di sekujur badan, pori-pori kulit seakan ditusuk jarum berulang-ulang, kepala yang berat dan apa ini? Suara apa yang bergema di dalam kepalanya?
“Aaaah!!” jerit Ayu kencang.
Ia menjerit untuk mengurangi sakit di kepalanya, mencoba menghilangkan gaungan suara menyeramkan yang terus terngiang di telinga. Gaungan yang terdengar seperti bergumam dengan suara ekstra rendah, terus menerus dan berulang-ulang.
“Aaahh!!”
“Tolong!! Tolong!!!” ya! Ayu bisa menangkap kata yang terus didengungkan suara di dalam kepalanya itu.
Tolong.
Suara itu meminta tolong, siapa? Kenapa? Dimana?
Tiba-tiba saja Ayu merasa dadanya terasa begitu sakit, seakan diikat dengan tambang besar dan ditarik ke atas dengan sekali sentakan. Kesakitan itu membuat mata Ayu terbeliak hingga pupil matanya terbenam dan menyisakan bagian putih bola mata saja, mulutnya menganga dan tak ada sedikit pun suara yang keluar.
Bathin Ayu menangis, ia kesakitan dan tersiksa. Dadanya seakan mau pecah, gaungan di kepalanya makin menjadi dan tusukan jarum-jarum tak kasat mata itu melengkapi kesakitannya. Ia-lah yang seharusnya meminta tolong!

*** 

No comments:

Post a Comment

Model dan Jenis Sepatu Boots Wanita Masa Kini

Model dan Jenis Sepatu Boots Wanita Masa Kini  Model dan Jenis Sepatu Boots Wanita Masa Kini - Boots yang dulunya identik dengan k...