Saturday, 31 January 2015

Intip Baca Kuntilanak Rawa Sarewu

Yang ini novel horor kedua yang aku buat, diterbitin di kinomedia dalam bentuk E-book. Tinggal download dan bisa baca dimana saja, kapan saja dan enggak perlu takut buku kita dipinjem orang dan hilang,

Kuntilanak Rawa Sarewu ini kisah nyata lho cynt, :3

Ceritanya di Majalengka sana ada gosip beredar tentang penampakan ibu-ibu yang bawa anak kembar gitu. Jadi tadinya dia lagi hamil anak kembar, dan dia meninggal, arwahnya mungkin penasaran dan sering gangguin orang-orang lewat gitu deeehhhh... nah! inspirasiku datang dari sini, dan diotak-atik sedikit...jadilaaah!!

Ah ya, yang mau download disini saja ---->>>> KUNTILANAK RAWA SAREWU



Penasaran sama cuplikan naskahnya? yuk baca !

***
Ayu menatap lebam di pahanya dengan bingung, lebam itu muncul setelah ia bermimpi tentang sebuah pertengkaran hebat yang berakhir setelah sebuah pot melayang ke tubuhnya. Tepat di kedua pahanya pot itu jatuh, meninggalkan bekas biru kehitaman yang cukup luas.
“Kenapa begini sih ya?” ia berbicara sendiri sambil mengusap-usap lebam misteriusnya.
Mimpi tentang pertemuannya dengan Bara yang membuatnya merasa senang dan jatuh cinta tak ia sesali, ia justru menikmati potongan-potongan kisah itu sebagai kisahnya sendiri. Akan tetapi semua ini mulai terasa mengganggu sejak Ayu mendapatkan lebam-lebam di sekujur tubuhnya.
Hingga detik ini ia tak mengatakan apapun tentang noda-noda kehitaman di permukaan kulitnya, baik Bagas dan jamal serta nenek memang tahu ia sering menjerit-jerit saat mimpi itu datang, tapi perihal lebam yang menjadi bukti akan keganjilan lamunannya itu Ayu belum berniat untuk mengatakannya.
Nenek pasti akan sangat khawatir, Bagas kebingungan dan Jamal merasa bersalah. Ayu mulai berpikir jika semua mimpi yang ia lihat itu ada hubungannya dengan istri mandor yang gentayangan itu, mungkin saja Bara pun adalah nama suaminya yang tak lain adalah mandor perkebunan tebu.
Harusnya Ayu bertanya saja pada Jamal tentang kebenaran dugaannya ini, tapi kembali pada kekhawatirannya tadi. Biar saja keganjilan ini ia pendam sendiri saja, siapa yang tahu beberapa hari lagi ia tak akan mendapatkan mimpi-mimpi aneh dengan bekas asing ini.
“Ah,” desah Ayu.
Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan kaki yang menjuntai ke lantai, direntangkannya kedua tangan sampai Ayu merasa dada lapang dan tidak terlalu sesak. Bagaimanapun ia berusaha untuk tidak mengambil pusing keganjilan ini, tetap saja rasa takut dan bingung membuatnya gelisah.
Bagaimana jika suatu saat nanti lebam-lebam ini menjadi lebih parah dan melukai dirinya lebih dari sekarang? Bagaimana jika mimpinya nanti menuntun Ayu kepada kematiannya sendiri?
“Ah, sudah begini lagi nih,” gumam Ayu dengan nyali yang tiba-tiba menciut.
Udara dingin berputar-putar lagi di sekitar tubuhnya, tiupan udara sedingin es mengusap-usap kulit Ayu seperti jemari yang tak terlihat. Sejak kesurupan tempo hari, disusul beberapa lamunan ekstrim dan kesurupan yang ia alami beberapa waktu kemudian, ia sudah mengenali kondisi dimana tubuhnya akan kedatangan tamu astral.
“Oke, pecahkan pikiran...jangan kosong,”
Ayu bergumam sambil berusaha mengingat salah satu lagu yang ia suka, jika saat belajar atau tengah dihadapkan pada ujian matematika yang memusingkan ia akan dengan cepat mengingat lagu-lagu easy listening, serta membuat konsentrasinya buyar, beda urusannya dengan saat ini.
Ayu malah merasa kepalanya begitu pening karena terlalu memaksakan diri membelokan pikirannya ke arah lain. Sesuatu yang sangat ingin masuk ke dalam kepalanya benar-benar kuat, terus menerus menekan masuk ke dalam tubuh Ayu.
Bukan hanya sakit yang Ayu rasakan, namun rasa dingin yang meliputi seluruh tubuhnya terasa seperti membenamkan dia ke dalam bak berisi es. Perih di sekujur badan, pori-pori kulit seakan ditusuk jarum berulang-ulang, kepala yang berat dan apa ini? Suara apa yang bergema di dalam kepalanya?
“Aaaah!!” jerit Ayu kencang.
Ia menjerit untuk mengurangi sakit di kepalanya, mencoba menghilangkan gaungan suara menyeramkan yang terus terngiang di telinga. Gaungan yang terdengar seperti bergumam dengan suara ekstra rendah, terus menerus dan berulang-ulang.
“Aaahh!!”
“Tolong!! Tolong!!!” ya! Ayu bisa menangkap kata yang terus didengungkan suara di dalam kepalanya itu.
Tolong.
Suara itu meminta tolong, siapa? Kenapa? Dimana?
Tiba-tiba saja Ayu merasa dadanya terasa begitu sakit, seakan diikat dengan tambang besar dan ditarik ke atas dengan sekali sentakan. Kesakitan itu membuat mata Ayu terbeliak hingga pupil matanya terbenam dan menyisakan bagian putih bola mata saja, mulutnya menganga dan tak ada sedikit pun suara yang keluar.
Bathin Ayu menangis, ia kesakitan dan tersiksa. Dadanya seakan mau pecah, gaungan di kepalanya makin menjadi dan tusukan jarum-jarum tak kasat mata itu melengkapi kesakitannya. Ia-lah yang seharusnya meminta tolong!

*** 

Friday, 30 January 2015

Novel Teenlit "Pemuja Rahasia"



Novel Pemuja Rahasia ini naskah yang aku buat selama kurang lebih tiga minggu, mood lagi bagus-bagusnya dan waktu itu aku lagi suka banget sama Taylor Lautner. Karena itu ada salah satu tokoh yang namanya Jacob :3 satunya lagi punya nama Edward karena dia memang ceritanya blasteran gitu dehhh...

Wiii, musim-musimnya Jacob Black kan udah lama banget, berarti ini novel ketinggalan zaman dooong? ya enggak lah! novel yang keluar antara tahun 2013 dan 2014 ini tetep asyik dibaca kapanpun juga. Soalnya kisahnya menembus batas ruang dan waktu...jiaah! enggak percaya? nih baca sedikit penggalan ceritanya yaa..

Kenapa aku milih buat ngajakin ngintip isi novelku yang satu ini? karena ada banyak teman-teman yang sudah baca novel ini nginbox aku dan cerita kalau kisah novel Pemuja Rahasia ini menghibur dan asyik buat dibaca berkali-kali. Hihi, aku jadi GR tingkat kotamadya Banjar deh jadinya! Jadi ceritanya sekarang aku sedikit lebih PD untuk bagi-bagi baca novel ke 9-ku ini. Semoga suka yaa....dan penasaran juga. :p

***
Sesampainya di sekolah aku tak segera masuk ke dalam lingkungan sekolah. Namun lebih dulu mengamati keadaan di sekitar gerbang. Aku takut jika ada Bejo yang menungguku dengan spanduk selamat datang seperti hari Sabtu yang lalu.
Hii, mengerikan sekali!
Kutengok ke kanan dan ke kiri. Tak ada sosok keriting berkulit hitam yang biasa mengikutiku kemanapun aku pergi. Hanya siswa-siswa dari kelas lain, sebagian ada yang mengenalku dan sebagian lagi tak kukenal. Sepertinya Bejo belum datang ke sekolah, atau mungkin dia sudah datang ke sekolah dan tengah menyiapkan sebuah kejutan selamat datang yang tak perlu untukku di dalam sana!
Aduh, kenapa aku jadi berigidik begini ya? Bulu kudukku sampai meremang!
“Kamu Kamila kan? Dari kelas XI ipa 2?” tanya seseorang yang mengenakan emblem khusus untuk anggota OSIS. Aku menganggukkan kepalaku dan sangat bingung. Apalagi kedua siswa yang sama-sama mengenakan emblem OSIS khusus itu malah menyalamiku dengan menahan tawa.
“Selamat ya!!”
“Eh, selamat untuk apa?” tanyaku heran. Mereka tidak menjawab, mereka berdua segera berlalu dari hadapanku dengan menutup mulut masing-masing. Mencoba menahan tawa yang siap meledak.
Kuayunkan langkahku memasuki gerbang sekolah, beberapa siswa yang kebetulan tengah nongkrong di pos satpam sambil mengobrol asyik dengan pak satpam pun menatapku dengan penasaran. Ketika kutengok mereka langsung mengalihkan pandangannya. Berpura-pura asyik dengan hal lain.
Aku pun tidak ambil pusing. Segera kupercepat langkahku agar aku bisa segera sampai ke dalam kelas. Aku tak kuat menahan beban yang memberati punggungku
Iya, beban tatapan dari semua siswa dan siswi yang kulewati. Mereka terus mengamatiku dengan aneh dari atas ke bawah, lalu kembali lagi dari bawah ke atas. Sempat aku fikir jika aku mengenakan pakaian yang salah, atau mungkin kemejaku terbaik. Atau sepatuku berbeda. Tapi tidak begitu juga. Yang ada beberapa malah memberikan ucapan selamat lagi kepadaku.
“Selamat untuk apa sih? memangnya aku kenapa?” tanyaku bingung dan penasaran saat salah satu temanku yang pernah sekelas di kelas X menyalamiku.
“Ah kamu, kayak enggak ngerti saja.. by the way.. semoga langgeng ya!!” jawabnya dengan senyum dikulum. Aku bengong.
“Eh, langgeng apanya? Langgeng sama siapa?” aku makin bingung. Temanku itu menepuk bahuku dan menunjuk ke suatu arah. Ke koridor yang menuju lapangan basket.
“Kenapa? Ada apa disana?”
“Lihat saja sendiri.. so sweet banget deh!!” temanku itu malah menggantungkan jawabannya. Membuatku makin makin makin dan maaakiiin penasaran. Ketika aku melangkah ke arah yang ditunjukkan, semua siswa yang ada disepanjang koridor itu tersenyum-senyum.
Ada yang tersenyum tulus, ada juga yang tersenyum dengan sangat sinis. Sekana-akan apa yang ada di depan sana adalah aibku yang paling besar. Yang paling menarik adalah ada yang senyumnya sangat tersiksa, seperti menahan suatu rasa yang tak bisa ditunda-tunda lagi. Ia meringis dan akhirnya melesat menuju toilet. Dugaanku tepat, dia memang kebelet.
Akhirnya aku sampai di ujung koridor. Dua lapangan basket yang berda,pingan dan dibatasi dengan menggunakan anyaman kawat yang setinggi hampir lima meter. Bukan itu yang mencolok mata, bukan itu pula yang membuat jantungku seakan melompat keluar. Melainkan sebuah spanduk ukuran raksasa yang memuat gambarku dan insert pict gambar Bejo!!!
“Ya ampun! Apa-apaan ini!!!” pekikku panik, sekaligus malu. Apalagi anak klub basket yang super kece tengah memperhatikan poster raksasaku sambil tertawa-tawa.
Ketika mendengar aku menjerit mereka langsung menoleh kepadaku dan terdiam. Mereka memandangku dengan tatapan yang aneh, ada juga yang menertawakanku lagi diam-diam.
“Kamila (XI Ipa 2) telah mencuri hatiku. Doakan kami langgeng ya!! Bejo love Kamila Forever.” Kutelan ludah setelah membaca tulisan berwarna mencolok di bagian bawah poster itu.
Norak sekali!!
Tanpa banyak bicara lagi aku mencabut poster itu dari tempatnya bertakhta di atas sana. Sekali tarikan pun langsung lepas dan menimpa tubuhku yang berdiri tepat di bawahnya.
“Eh, kenapa dicabut Kamila? Kan bagus itu!”
“Serasi lho serasi!!”
“Iya!! Pasang lagi deh!!” goda, eh bukan! ejek anak-anak klub basket padaku. Aku tidak menggubris mereka, dengan kesal dan malu, yang berujung pada menahan tangis aku melipat poster yang terbuat dari sejenis plastik khusus spanduk kampanye itu sembarangan, yang penting menjadi lebih kecil dan mudah kubuang ke tempat sampah.
Tapi posternya terlalu besar dan aku sudah tak bisa berkonsentrasi lagi dengan ejekan dan cibiran semuanya yang ada di lapangan basket ini. Satu per satu air mataku menetes melengkapi rasa Maluku pagi ini.
Sepasang tangan yang putih dan panjang terjulur lalu membantuku melipat poster super besar itu tanpa kuminta. Kurang dari dua menit poster yang memuat fotoku dengan si keriting Bejo itu akhirnya terlipat dengan rapi.
Dengan mata yang masih mencucurkan air mata aku  mendongak untuk melihat wajah orang yang telah menolongku. Yang pertama kulihat adalah name tag dengan tulisan “Edward Smith”.
Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tapi dimana?
Barulah setelah melihat wajahnya secara langsung aku mengingat dimana aku pernah melihat dan mendengar namanya.
Dia satu-satunya siswa indo yang bersekolah di SMA Pusaka. SMA-ku tercinta. Seperti namanya yang mirip dengan nama Edward Cullen, ia pun memiliki kulit yang pucat, dengan rahang persegi dan hidung yang tinggi. Matanya coklat dan ia sekitar dua puluh centi lebih tinggi dari tubuhku yang hanya 165 centimeter.
“Ma-makasih..” ujarku terbata. Edward tersenyum, lalu menepuk lipatan poster di pelukannya,
“Mau dibawa kemana?”
“Eh, ma-mau dibuang saja..”
“Yah, masa dibuang sih? bagus lho posternya!” aku menggeleng keras, sambil menyeka air mataku.
“Enggak! Aku malu, aku mau buang saja. Lagian, kenapa bikin poster yang isinya enggak bener!” curhatku. Edward tertawa dan menoleh kepada anak-anak klub basket yang terdiam melihatnya membantuku membereskan poster.
“Lain kali, jangan bersikap enggak sopan kayak tadi ya. Enggak pantes ada cowok cuma ngetawain cewek yang lagi susah. Jangan jadi pecundang.” Ujarnya tenang, tapi tegas.
Aku mengangkat wajahku dengan suntikan rasa percaya diri yang kudapat dari si bule ganteng yang satu ini.
Ia menyikutku dan mengajakku untuk pergi.

Aku pun mengekor dan merasakan hatiku berbunga-bunga. Senangnya dibela sama Edward! Kapan lagi coba bisa berinteraksi langsung dengan siswa paling populer di kotaku ini!
*** 

Gimana? penasaran dengan kelanjutannya? ini cuplikan bab satu di novel Pemuja Rahasia. Kalau masih penasaran boleh inbox FB aku yaa.. Nuniek Kharisma Rosalina . Ada harga khusus buat kamu yang pesan langsung di aku, oke oke okeee? 

Tuesday, 27 January 2015

Cerpen Remaja : RAHASIA AYAH & KAMU

 Namanya juga ayah. Sudah tentu laki-laki bukan? Sekalipun panggilannya berbeda-beda. Dari mulai bapak, ayah, abi, papi, atau pipiw sekalipun, tetap saja seorang ayah itu laki-laki. Seperti halnya ayah lainnya, ayahku pun memenuhi kewajibannya untuk menafkahi keluarga. Bekerja keras, mencari uang ekstra, membiayai sekolahku, membiayai semua kebutuhan rumah tangga.
Lalu kenapa ada yang meragukan kelelakian ayahku? Apa harus ia memamerkannya di depan semua orang untuk membuktikan bahwa ayah adalah memang lelaki yang sesungguhnya? Lelaki yang bertanggung jawab, mencintai istrinya dan menyayangi anak-anaknya. Lalu apa lagi? Itu semua ada di dalam diri ayahku!
“Lho, kamu kan anaknya? Masa kamu enggak tahu kerjaan ayah kamu sendiri?” protes Ratna.
Dia bukan temanku. Dia hanya kebetulan satu sekolah dan sebelum gosip aneh tentang ayahku beredar dia tak pernah sekalipun menyapa. Maklum, dia kan populer di sekolah. Dia cucu pemilik perusahaan tembakau terbesar di Banjar, orang yang sangat kaya. Tapi entah kenapa sekarang dia menjadi begitu lengket padaku.
Bukan lengket untuk menjadi temanku, tapi lengket untuk bertanya ini dan itu. Terutama masalah ayahku. Sudah kubilang bukan? Ada gosip yang membuat lingkungan meragukan kelelakian ayah. Sejak saat itu banyak sekali yang tiba-tiba saja mengenal aku. Menyapa aku juga bertanya ini dan itu. Seperti Ratna.



Terus terang saja aku tak suka.

“Sudah aku bilang kan kalau ayahku itu kerjanya jadi satpam di pabrik galendo! Kalau siangnya jadi distributor seblak instant! Memangnya kenapa sih kamu itu tanya-tanya itu terus dari kemarin?” jawabku setengah membentak.
Hatiku gemas sekali ditanya ini dan itu. Apalagi ada embel-embel pertanyaan “Pernah datang ke cafe Galaxy enggak?” atau, “Tahu dancer di cafe Galaxy enggak?”.
Mau apa aku datang ke cafe khusus dewasa itu? Usiaku baru enam belas tahun, masih duduk di kelas XI SMA dan kalaupun usiaku sudah cukup dewasa untuk pergi ke sana, aku tak akan mau! Uang yang ada di dalam kantongku tak akan cukup bahkan untuk membeli secangkir kopi susu! Eh, memangnya ada kopi susu ya di cafe? Entahlah, aku tak tahu!
“Ah, kenapa kamu marah begitu? Aku kan cuma tanya! Kamu enggak perlu bentak-bentak aku!” Ratna tersinggung.
“Iya, tapi pertanyaanmu itu-itu terus dan buat aku kesal! Kalau kamu yang direcoki pertanyaan ini dan itu seperti aku? Kamu juga pasti kesal Ratna!” kubalas dia.
Tatapan Ratna sinis menusuk ulu hatiku. Dia menggunakan tatapannya untuk melihatku dari atas ke bawah, persis seperti sebuah mesin pemindai yang tengah memindai virus atau cacat yang ada di tubuhku. Belum lagi seringaian yang muncul belakangan di bibirnya, membuat aku merasa ada sesuatu yang tak beres dengan idola sekolah yang satu ini.
“Oke, aku tanya baik-baik kok! Sekalipun orang-orang tanya aku terus menerus, aku enggak masalah..dasar sensitif..huh!” setelah menghujamkan lirikan tertajam dan juga dengusan paling keras yang pernah aku dengar, Ratna pun pergi.

Selepas siswi dengan tinggi lebih dari seratus tujuh puluh centimeter itu pergi, aku pun terdiam sembari meremas lututku. Kutundukkan kepala dan kusesali keadaan saat ini dimana orang-orang yang tengah berada di dalam kantin malah memperhatikan aku. Tatapan mereka berbeda-beda. Ada yang menatap penasaran, ada yang menatap iba, ada juga yang menatap dengan tatapan sinis seperti para peran antagonis dalam sinetron stripping di TV-TV.
“Ayah kamu kerja jadi banci ya?” jantungku seperti berhenti berdetak ketika salah seorang yang tengah menatapku sinis menanyakan hal itu.
Aku mendongak untuk melihat dengan jelas siapa yang telah mengatakan hal itu. Seorang siswa dengan tingkah yang gemulai dan duduk bersama anak perempuan. Ish, gayanya saja menjijikan, masih bisa bertanya seperti itu pula!
“Siapa bilang?” tanyaku sambil menatap tajam kepadanya. “Orang-orang!” si siswa gemulai menjawabku dengan nada yang mencemooh. Sepertinya ia berniat untuk mencari masalah denganku.
“Bukan! Jangan seenaknya saja kamu kalau ngomong!” hardikku kesal.
Gelas kosong yang tadinya berisi lemon ice tea yang sudah kuminum berada dalam genggaman tangan kananku dan siap melayang kapan saja ke muka siswa itu kalau saja dia terus mengatakan hal yang terdengar menggelikan, sekaligus menyakitkan itu.
Tapi nampaknya dia tak mau memperpanjang masalah. Dia lebih memilih untuk melirikku dengan sinis lalu kemudian kembali menghadapkan muka pada gengnya sendiri. Aku pun bersyukur karena sekarang aku bisa melepaskan gelas yang kugenggam sekuat tenaga.
Aku tak mau mencari masalah dan membuatku terkena hukuman dari guru kalau saja benda itu melayang dan melanggar kepala siswa gemulai itu. Sudah tentu kepalanya akan bocor dan aku pun mendapatkan hukuman yang sangat berat. Ah, suasana di dalam kantin sudah tak nyaman lagi. Aku lebih baik segera masuk ke kelas dan bersiap untuk mendapatkan pelajaran berikutnya. Ada pelajaran Biologi yang harus mendapatkan perhatian serta konsentrasiku. Sesaat aku bisa lupa dengan gosip tentang ayah.

***

Tapi tetap saja bayangan ayah yang berbalut busana wanita, dengan make up norak dan suara yang dikecil-kecilkan terbayang di benakku selama sisa pelajaran hari ini. Setiap kali aku berusaha memenuhi kepalaku dengan ingatan yang lain, semakin penuh pula kepalaku dengan gambaran ayah yang menari-nari berpakaian wanita. Hatiku terasa menciut kecil dan aku begitu takut jika itu nyata!
Ayahku bukan waria! Ayahku laki-laki sejati!
“Hei, mau sampai kapan kamu di dalam kelas? Bel sudah dari sepuluh menit yang lalu lho!” teguran Hari membuyarkan lamunanku.
Serta merta aku tergagap dan mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan kelas. Semua bangku yang dimasukkan ke dalam kolong meja. Sudah rapi dan tak ada siapapun kecuali aku dan Hari, ketua kelasku.
“E-eh, iya! Ka-kamu sendiri? Kenapa masih disini?” tanyaku untuk mengalihkan perhatian. Hari mengangkat bahu dan mengedikkan dagunya padaku. Apa maksudnya?
“Maksudnya?”
“Yaa, sejak masuk jam terakhir tadi aku perhatikan kamu..”
“Eh?” aku terbengong. Hari memperhatikan aku? Hari yang bintang sekolah dan memiliki alis tebalnya Siwon SuJu memperhatikan aku? “Habisnya! Kamu itu melamun terus..eh tahu-tahunya sampai jam pulang juga masih saja melamun..” dan wajahku yang bersemburat merah keGRan langsung meredup lagi dan langsung tahu diri.
Iya ya? Untuk apa Hari memperhatikan aku tanpa alasan yang jelas? Dia pun pasti ingin bertanya ini dan itu tentang pekerjaan ayahku. Yaa, tak jauh berbeda dengan orang lain. Aneh sekali sesaat yang lalu aku sampai mengira dia itu menaruh simpati padaku.
“Ah, iya! Aku pulang dulu ya? Ehm..sampai besok..” pamitku berbasa-basi. Kumasukkan buku-bukuku ke dalam tas dan menjejalkannya dengan asal.
Kusampirkan tas di bahuku dan aku pun segera keluar kelas. Tak sedikit pun aku menoleh lagi ke belakang. Aku tak mau melihat Hari memperhatikan aku dengan tatapan yang aneh seperti orang lain. Baik itu dengan tatapan mencemooh, tatapan sinis, atau tatapan iba sekalipun!
Sekolah pun ternyata sudah begitu lengang! Aku sendiri sampai heran bisa-bisanya aku melamun sampai tak sadar diri. Jangan-jangan tadi itu aku pingsan, atau mati suri!
Untunglah rumahku tak jauh dari SMK Hikmah, tempatku menuntut ilmu. Mungkin hanya sekitar lima belas menit atau setengah jam mungkin. Letak SMK-ku ini memang dekat terminal, namun tak ada kendaraan umum yang melewati rumahku. Kalaupun ada ojek, sudah tentu sangat mahal. Aku tak punya cukup uang untuk ongkos pulang pergi, biar saja aku jalan kaki.
Matahari membuat isi otakku bagai mendidih, baru sampai di perempatan saja rasanya aku sudah tak tahan. Mobil-mobil bagus melewatiku dari arah yang berlawanan, lalu berbelok masuk ke Banjar Medical Centre yang memang berhadap-hadapan dengan sekolahku. BMC memang terkenal sebagai rumah sakit yang mewah dengan pelayanan prima, tak heran pasiennya adalah orang-orang berduit semua.
“Dulu juga ayah begitu,” gumamku sambil menyeka peluh.
Rindu juga mengingat kehidupan glamourku dulu, demam saja check suhu badan ke BMC, lalu diantar jemput ke sekolah, uang saku yang berlebihan, jalan-jalan ke Asia Plaza di Tasikmalaya atau saat bosan aku pergi ke Bandung bersama teman satu geng, menghabiskan uang yang kuminta dari ayah dan yaaa begitulah.
“Aku hebat juga ya? Dari yang kolokan setengah mati, berubah mau jalan kaki, uang saku cuma lima ribu, haha!” aku bicara sendiri, juga tertawa sendiri.
Sekarang aku sudah menyeberangi perempatan, melintasi jalan kotor karena noda oli di depan sebuah bengkel truk. Sebelah kananku Islamic Centre megah, sempat kulihat ada Ratna dan teman-temannya tengah berfoto ria dengan tongsis, ada juga pelajar dari sekolah lain yang nongkrong disana.
Beberapa tempat di kota Banjar ini memang terkenal sebagai tempat yang sangat indah, nyaman dan cocok untuk foto narsis. Seperti taman-taman yang ada di sepanjang sungai Citanduy, ada gazebo bagus dengan koral warna-warni yang disusun apik sebagai jalan setapak. Pohon palem botol, cemara yang wangi, serta beberapa desain arsitektur dengan batu alam yang ditempel di dinding pagar pembatas sungai membuat taman di Banjar tak pernah sepi.
“Bahkan di siang sepanas ini,” gumamku sambil segera melintasi belokan yang menjadi jalan masuk bus-bus besar yang akan transit di terminal.
“Coba deh kamu jam sebelas main ke piade! Pasti ada deh tuh yang bikin kamu shock!” ucapan cowok gemulai yang tadi kubentak di kantin terngiang lagi, bukan sekali dua kali ia menekanku dengan kalimat seperti itu.
“Iya, kaget lihat kamu nyari pelanggan disana kan?” serangku kesal, waktu itu.
Aku tahu maksud anak lemah gemulai menyebalkan itu ingin menunjukkan dimana ayah berada saat malam tiba. Piade memang terkenal sebagai tempat nongkrong kupu-kupu malam, berkencan diantara suara kereta yang datang, lonceng stasiun...entahlah, mungkin gelap-gelapannya itu yang membuat mereka suka berada di sekitar stasiun Banjar.

Ayah yang baik, ayah yang lembut, ayah yang bertanggung jawab. Lelaki yang bekerja keras demi mencapai jabatan tinggi di perusahaan, mendapatkan gaji besar dan aneka tunjangan. Dihormati karena kejujurannya dan loyalitasnya, hidup bahagia.
Sayangnya ada yang tak suka dengan cara kerja ayah yang begitu jujur dan menjungkalkannya dari posisi yang ayah tempati. Ayah juga dipecat dengan tuduhan yang tidak-tidak. Tragisnya lagi, ayah mendapatkan blacklist sehingga tak bisa melamar pekerjaan ke perusahaan lainnya.
Aku mempercepat langkah mengitari terminal Banjar melalui jalan kecil di belakang terminal, yang bersebelahan dengan pinggiran sungai. Disini banyak pohon dan aku bisa cukup fresh dengan kesejukannya. Aku bisa mempercepat langkahku dan sampai di jalan yang akan membawaku pulang.
“Hufft...” kuhembuskan nafas sambil berhenti sejenak. Mengatur nafas dan mengumpulkan tenaga untuk kembali berjalan menuju rumah.
Aku ingat blok ini, disini ada teman lamaku yang bernama Risa. Kami selalu bermain bersama, saat ayahku masih memiliki jabatan. Tapi setelah ayah mendapatkan musibah, keluarga Risa melarangku untuk berteman dengannya. Risa pun menjadi berubah dan tak pernah menyapaku lagi.
Aish, sakitnya masih terasa ternyata. Betapa kedudukan menjadi alasan utama semua orang berada dekat denganku.
Kutarik nafas dalam dan kutekan sakitku kuat-kuat. Bangkrutnya ayah sudah dua tahun berlalu dan sekarang kami sudah bisa membiasakan hidup dengan uang yang seadanya. Uang saku lima ribu sehari memang jauh dari cukup. Tapi tak apa! Sungguh!
“Eh, itu ayah kan?” gumamku saat melihat beberapa orang pria di seberang jalan. Agak jauh dari tempatku jadi pandanganku tak begitu jelas. Begitu juga mereka.
Salah seorangnya memiliki perawakan yang begitu mirip dengan ayah, namun ia tak mengenakan seragam perusahaan seblak instant yang selalu dikenakan ayah dua tahun belakangan ini. Ayah seperti terburu-buru dan membuatku curiga.
Kulangkahkan kakiku menyeberangi jalan dan kupercepat ayunan langkahku untuk mengimbangi langkah para pria yang tinggi-tinggi itu. Mereka berjalan menuju sebuah rumah besar yang gerbangnya tertutup rapat.
“Eh, neng mau kemana?” tiba-tiba saja seorang lelaki menarik lenganku, membuat langkahku terhenti. “Mau ke rumah itu,” sahutku polos.
Lelaki yang mengenakan pakaian ala preman itu menatapku dengan kening mengerut, lalu melayangkan pandangannya ke rumah bagus nan mewah itu. Tiba-tiba beberapa mobil polisi datang dan beberapa yang turun mendekati orang yang memegangiku.
“Kamu tunggu disini neng, tempat itu berbahaya dan sudah lama jadi target polisi...” dan tungkaiku langsung lemas.
Kejadiannya begitu cepat dan orang-orang berseragam itu merangsek masuk ke dalam rumah bagus. Tak lama orang-orang di dalamnya keluar dengan tangan diborgol, termasuk ayah!
“Ayah! Ayah!” panggilku sambil berusaha mendekati ayah, namun seorang petugas melarangku mendekat.
Yakin sekali aku melihat ayah menatap ke arahku, kulambaikan tanganku dan berharap ia mau mendekat, namun tak bisa. Petugas lain mendorong ayah masuk ke dalam mobil tahanan.
“Kenapa ini Pak? Ada apa ini?” tanyaku dengan air mata yang mulai merembes, polisi yang memegangiku menatap dengan iba. “Ini rumah germo prostitusi sesama jenis, dan kami sudah curiga jika rumah ini sering digunakan sebagai tempat pembuatan video porno untuk kaum penyuka sesama jenis...”
“Ta-tapi ayah saya bu-bukan...dia-dia...”
“Semoga saja Ayah kamu tidak terlibat ya nak? Semoga dia hanya dijebak,” petugas bertubuh tinggi itu berusaha menenangkan aku. Beberapa saat ia menepuk bahuku dengan lembut, persis tepukan ayah.
“Baiklah, kami harus segera pergi, cepat pulang dan berdoa saja,”
“I-iya,” sahutku setengah mendesis. Antara sadar dan tidak aku hanya bisa mengangguk, lalu berbalik arah. Aku harus pulang ke rumah tapi entahah...nampaknya aku lupa dimana letak rumahku.
“Karin, kok nangis?” tanya Hari.
Aku kaget setengah mati melihat ketua kelasku itu ternyata berdiri di belakang, memperhatikan aku dengan satu plastik kelapa muda alpukat khas Perempatan Djarum. Ia duduk di atas Soul hitamnya yang distandar samping.
“Enggak kok!” elakku sambil segera berjalan.
Aku sadar jika aku berjalan tak tentu arah, rumahku yang kini kecil dan kumuh ada di ujung jalan sana. Tapi aku tak mau ke rumah dulu, aku tak tahan dan tak tega melihat wajah kuyu ibu yang menantiku pulang sekolah. Tidak.
“Hey, mau kemana sih?” Hari malah membuntuti aku yang berjalan berlawanan arah dengan jalan pulang.
“Kemana saja,” sahutku sambil menahan tangis.
“Eh tadi kenapa ya banyak polisi?” Hari malah menanyakan hal yang tak ingin kujawab.
Aku menggeleng sambil menyusut mukaku dengan jilbab putih yang kukenakan. Hari melihat itu dan mencegat langkahku dengan memarkirkan Soulnya melintang di badan jalan.
“Yuk naik!” perintahnya tegas.
Kutatap wajahnya sekilas, tak ada gambaran cowok iseng dan suka mesum di tatapan Hari. Aku malah melihat ketulusan dan tanggung jawab disana, aku suka melihatnya, “Ayo mau ikut enggak? Kayaknya sih kamu butuh teman!”
“Memang, cuma aku...kan, nanti kamu malu,”
“Ckk ayo!” Hari menarik tanganku dan setengah memaksa agar aku segera duduk di boncengannya.
Antara sadar dan tidak aku menaiki boncengan Hari, berdua bersamanya melintasi jalan raya yang membawa kami berdua melewati Lapangan Bakhti yang kini berubah menjadi Taman Bakhti. Tempat untuk berolahraga, bersepeda, mengasuh anak, pacaran sambil mencicipi aneka macam cemilan khas kota Banjar.
Ada booth sebak instant disini, seblak instant yang menurut ayah adalah tempatnya bekerja saat ini. Seblak instant yang rasanya sangat pedas, sepedas kenyataan yang menamparku saat ini.
Pernah mendengar seblak? Kerupuk mentah yang direbus sampai empuk dan ditiriskan, lalu digoreng bersama aneka bumbu khas yang pedas lalu dicampur berbagai macam campuran. Dari mulai telur orak-arik, sosis, ayam suwir, sampai ceker dan gabungan aneka pasta. Ah, lupakan. Aku tak mau makan seblak lagi setelah kejadian ini.
“Kita mau kemana?” tanyaku setengah berteriak.
“Lihat saja nanti,” sahut Hari tanpa mengurangi kecepatan kendaraannya.
Kami sudah melewati jalan Perintis Kemerdekaan, melewati toserba, alun-alun kota Banjar, pendopo Walikota di seberangnya dan terus melaju cepat menuju arah pasar kota. Aku mulai mendapat gambaran, mungkin Hari akan mengajakku ke Dobo.
Benar saja, ia mengajakku ke bendungan Dobo. Tempat yang asyik untuk wisata kuliner sambil menikmati pemandangan indah. Letak bendungannya sangat tinggi dan air yang jatuh menjadi terlihat seperti air terjun berwarna coklat susu yang sangat nyaman dilihat.
“Kamu mau makan enggak?” tanya Hari sambil melirik saung-saung makan sepanjang sisi bendungan. Aku menggeleng.
Aku bukan tak mau mengisi perut, hanya saja uangku tinggal seribu rupiah dan itu untuk tambahan uang jajanku besok. Biar saja sekarang aku cukup menikmati indahnya Dobo, sambil sesekali berkhayal andai suatu saat aku bisa bekerja di kompleks perkantoran yang letaknya di seberang bendungan.
Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy. Bangunannya bagus-bagus, mobil yang diparkir pun bagus-bagus. Sudah tentu gajinya pun bisa mencukupi kehidupan sehari-hari, aku pasti bisa membuat ayah dan ibu hidup layak lagi, tak akan ada lagi gosip ayah yang bekerja sebagai...
“Beruntung tadi disana sepi Karin,” aku menoleh, Hari memulai percakapan dengan suara pelan, cenderung menyesal.
“Apa?”
“Seenggaknya orang lain enggak akan ada yang recokin kamu di kelas tentang itu...”
“Ka-kamu ngomong apa?” aku tetap bertanya dengan rasa takut yang menjalar di tubuhku.
Hari pun mendengar gosip tentang ayahku, ia juga melhat penangkapan ayah tadi. Kupalingkan wajahku, kulemparkan pandangan ke aliran sungai Citanduy yang masih berawarna coklat susu. Malu sekali rasanya, entah malu karena apa.
Bukan malu karena aku jatuh sedemikian miskin dan sekarang hidup sangat susah, tak juga malu dengan cibiran teman satu sekolah yang mengatakan aku anak waria dan lain sebagainya. Namun mungkin aku malu karena Hari tahu keadaannya lebih daripada aku yang anak dari pembuat gosip heboh itu sendiri.
“Aku hanya ingin mendukung kamu Karin,” suara Hari terdengar sangat lembut dan yakin. Juga tulus.
“Aku tahu betapa beratnya hidup yang kamu rasakan, aku tahu bagaimana perasaan kamu dibully seperti itu di sekolah,”
“Aku ingin menemani kamu, menjaga kamu. Pinjemin bahu andai kamu butuh tempat untuk nangis, untuk bersandar...”
“Kamu enggak usah sok baik sama aku. Aku memang sekarang jatuh miskin dan nyaris enggak mungkin kembali seperti dulu. Ayahku mungkin akan dipenjara dan aku akan dapat tekanan dari sana-sini, tapi aku cukup kuat!” selaku dengan nada tinggi.
Aku membentak Hari karena aku tak mau ia mengira aku lemah, jujur aku senang mendengar ia mengatakan semua kalimat itu. Semua kalimat yang telah meluncur dari bibir tipisnya itu membuat aku mengira ia tulus peduli padaku, tapi entahlah. Aku tak akan merasa nyaman dengan ketulusannya. Seisi sekolah pasti akan ikut mengolok-oloknya.
“Tapi berdua akan jauh lebih kuat. Dulu aku enggak bisa bilang sayang ke kamu, aku enggak bisa bilang aku akan jaga dan buat kamu senyum saat hidup kamu masih berkecukupan...”
“...namun sekarang, disaat kamu tengah berada di titik sakit terendah yang enggak bisa kamu tahan lagi, aku ingin buktikan kalau aku akan buat kamu kuat kembali, bikin kamu ketawa lagi,”
“Sekarang Karin, kuharap kamu tahu aku tulus,” aku hanya bisa melongo mendengar kalimat-kalimat penuh makna yang Hari ucapkan padaku.
Antara percaya dan tidak percaya. Aku memang sangat putus asa, juga malu, aku membutuhkan seseorang yang bisa melindungiku, membelaku, membuatku merasa disayangi seperti gadis lain. Tapi Hari? Dia seorang idola, mana mau ia melakukan itu semua untukku?
“Tapi ayahku Hari, dia...dia kerja jadi waria, dia jadi...ah!”
“Itu dia, aku juga akan temani kamu dan lindungi kamu dari teman-teman. Kamu bisa cerita semua unek-unek kamu sama aku juga!”
“Tapi kenapa enggak kamu lakuin itu sejak gosip itu muncul? Kamu enggak ada saat itu...”
“Waktu itu kan aku belum berani ungkap perasaanku sama kamu, aku...” kuangkat tangan kananku tepat di depan muka Hari, berusaha menyunggingkan senyuman padanya.
“Enggak usah beralasan Hari, aku terlalu kecewa untuk alasan. Cukup dengan semua gosip tentang Ayah yang ternyata benar, aku enggak mau mempersulit hidup aku lagi,”
“Tapi aku kan enggak bakalan mempersulit kamu! Aku itu mau bantu kamu lewatin masa sulit ini Karin!” Hari bersikukuh. Wajahnya serius dan aku tahu itu.

Hanya saja rasanya sangat ganjil tiba-tiba ada seseorang yang berkata bahwa ia akan menemani dan melindungiku dengan sepenuh hati. Apalagi dalam keadaanku yang begini kacau. Bangkrut dan jatuh miskin, ayah yang bekerja menjadi penjaja cinta transgender dan ditambah lagi sekarang ia ditangkap polisi karena terlibat pembuatan film terlarang...
“Kumohon Karin, jangan biarkan aku terus menahan perasaan ini...izinkan aku menyayangi dan melindungi kamu!”
“Sudahlah Hari, saat ini aku belum siap untuk masukin kamu ke dalam hidup aku. Entahlah, hatiku belum yakin...” Hari terlihat ingin membantahku, namun segera kulajutkan kalimatku.
“...buktikan saja padaku jika apa yang kamu katakan itu benar, biarkan hatiku siap,” pungkasku tegas. Tak ada lagi tangis di mataku, aku jadi lupa untuk menangis.
“Ini bukan penolakan kan?”
“Bukan,” sahutku tersenyum.

Tiba-tiba saja Hari menyodorkan es kelapa dalam plastik yang ternyata masih ia bawa. Menyuruhku meminumnya, namun aku menolak sambil memalingkan muka. Aku teringat ayah.
“Minum dulu, aku beli ini buat kamu. Aku ikutin kamu dari sekolah, jalan sendirian panas-panas...”
“Kamu nguntit aku?”
“Eh enggak! Aku...” wajah Hari jadi pucat pasi mendengar tudinganku. Melihat ekspresinya yang aneh membuat ujung bibirku terangkat sedikit, aku tertawa dan mengambil es dari pegangan Hari.
Kuminum sedikit dan rasanya sangat menyegarkan. Air kelapa yang segar dicampur gula aren asli, serutan kelapa muda dan alpukat membuat es kelapa muda ini terasa sangat legit dan nikmat. Terutama karena es ini pemberian lelaki setampan Siwon Suju yang menyukaiku.
“Aku ingat Ayah,” kalimat itu meluncur mulus tanpa kusadari, Hari langsung menoleh ke arahku dan tersenyum.
“Kalau kamu mau ketemu, aku bisa antar,”
“Mana bisa! Yang ada kita kena marah polisi!”
“Ya enggak, yakin saja!”
“Ah,” aku mengerutkan kening, yakin sekali dia jika tak akan ada Polisi yang mengusir kami karena ingin bertemu salah satu tersangka.
“Yang tadi ngomong sama kamu itu Ayahku, dia pasti izinin kita ketemu Ayah kamu...” ada rasa bahagia dan lega mendengar yang baru saja Hari ucapkan, sekaligus miris.
Ayah dari orang yang menyukaiku adalah orang terhormat yang menangkap ayah disaat ia melakukan pekerjaan yang tak terhormat. Tapi...bagaimanapun, dia ayahku. Ayah yang tetap berusaha mencari pekerjaan diantara putus asa yang menghujam bathinnya.
Aku tetap bangga pada ayah, aku tetap menghormatinya, aku tetap menyayanginya. Apapun yang ia lakukan, seperti apapun dia saat ini, aku tetap akan memanggilnya AYAH.
“Tapi janji, jangan nangis...kita hadapi semua dengan senyuman, aku akan temani kamu!” Hari mengusap pipiku, mengusap air mata yang meleleh tanpa kusadari.
Kudongakkan wajah dan kusunggingkan sebuah senyum, penuh terima kasih.
Hari datang di saat yang sungguh tepat, kuharap hatiku akan segera terbiasa dan mau menerimanya dengan baik. Aku yakin dia tulus, aku pun sangat yakin hidupku akan lebih baik bersama seseorang lagi yang mendukungku, seperti Hari.
Inti dari semua kejadian ini adalah selalu kuat dan yakin akan perubahan yang akan datang. Perubahan yang akan membuat hidup menjadi lebih baik. Semoga setelah kejadian ini ayah bisa segera menemukan pekerjaan baru.
Memulai hidup baru, lembaran baru...yang lebih bahagia.

TAMAT

Saturday, 17 January 2015

Info Workshop Elexmedia

Sering berkhayal? Sering menulis? Mungkin kamu berbakat jadi penulis novel romance~ kiki emoticon Yuk ikuti acara Gathering & Fun Writing Workshop Romance Novel “Berbagi Cinta Lewat Kata” pada hari Sabtu 14 Februari 2015.

Simak detilnya pada gambar berikut ini atau klik http://ow.ly/Hm0xW



Hanya 50 peserta terpilih yang bisa mengikuti workshop ini dan naskah hasil workshop terbaik akan diterbitkan oleh Elex Media Komputindo.#EventBuku#ElexMedia30

Siapa yang mau ikutan workshop kepenulisan yang diadain Elex Media?

Nih infonya masih hangat banget!

dan cuma lima puluh orang aja lho yang sinopsis dan outlinenya terpilih. Teman-teman sih sudah pada kirim, aku sendiri masih bengong aja nyari ide darimana buat bikin outline romance yang cetar. Soalnya kalau pakai romance yang mainstream kayaknya kurang greget gitu lho...

Tapi ya gampang lah, sekarang bagi infonya saja dulu, Siapa tahu ada teman-teman yang belum tahu...

" ...

Hanya 50 peserta terpilih yang bisa mengikuti workshop ini dan naskah hasil workshop terbaik akan diterbitkan oleh Elex Media Komputindo.

WAKTU & TEMPAT
Sabtu, 14 Februari 2015
Function Hall Gramedia Matraman
Jl. Matraman Raya No. 46 – 50, Jakarta


Syarat dan ketentuan berlaku:
- Buat outline dan sinopsis lengkap maksimal 10 halaman untuk naskah novel bergenre romance.
- Kirimkan ke afri@elexmedia.co.id atau dita@elexmedia.co.id dengan subjek “WorkshopPenulisanNovel_Nama_Judul Naskah”
- Outline dikirim paling lambat Rabu, 28 Januari 2015 pukul 24.00.
- Nama peserta yang terpilih akan diumumkan Jumat, 6 Februari 2015 di www.elexmedia.co.id dan akan dihubungi secara personal via email.
- Peserta yang terpilih wajib membayar biaya workshop sebesar Rp 50.000 (informasi pembayaran workshop selanjutnya akan diberitahukan via portal Elex Media Komputindo)
- Segala informasi tentang workshop bisa dilihat di www.elexmedia.co.id, Facebook “Novel Elex Media” dan Twitter @elexmedia.
..."

Wednesday, 7 January 2015

Cara Nulis Novel Itu Gimana Sih?



Aku memang bukan penulis yang udah ngetop sampai ke pelosok negeri, aku juga bukan novelis yang buku novel dengan namaku di sampulnya masuk jajaran bestseller di berbagai toko buku Nasional. Tapi enggak ada salahnya kan kalau aku coba kasih beberapa tips dan trik yang dijamin jitu saat menulis novel.

Novel yang kusebut anak-anakku :)


Teruuuuus gimana sih cara buat novel? awal bikin novel itu kayak gimana? enggak perlu jauh-jauh bayangin sampai harus naik kereta dari satu stasiun ke stasiun berikutnya tanpa alasan yang jelas, karena pengen dapat feelnya JK.Rowling saat bikin Harry Potter, atau bahkan sampai ngerencanain penyekapan anak tetangga yang bandel dan tampangnya nyebelin karena pengen menjiwai novel tentang serba-serbi psikopat, no no no! bukan begitu! Yang ada malah jadi kriminal -_-

Cara menulis novel itu cuma satu, nulis! ya iya, apa lagi coba? kalau cuma niat sih semua orang juga bisa. Niat nulis novel lah, niat nulis cerpen sastra lah, niat bangun pagi, niat lebih produktif, niat jadi pacar siaga...tapi kalau cuma niat, percuma! udah kayak omongan cowok jomblo kebelet nikah tau enggak? 

Jangan bilang kalo kamu enggak bisa nulis karena enggak ada alat buat nulisnya kayak laptop atau komputer. That's not a big deal, kamu bisa nulis di buku dulu...semua penulis pasti pernah ngerasain bikin naskah novel di atas kertas, momen-momen gold saat ngerasain pegel tangan karena nulis sebuku penuh, terus pas dipindah ke komputer bikin mata melotot, merah-merah dan kepala pusing, tapi pas novel itu dikirim ke penerbit dan ternyata diACC, wow really worth it! Tapi enggak jarang juga ditolak sana-sini, revisi ini itu, akhirnya diterima...adaa...yang tetep enggak diterima juga, adaa...

Jangan bilang juga enggak bisa nulis novel karena enggak ada yang dukung kamu buat nulis, enggak perlu dukungan siapapun untuk nulis buku atau nulis apapun itu. Menulis itu tentang kamu, tentang kepercayaan diri kamu, keyakinan kamu, kemauan kamu untuk mengeluarkan ide brilian dalam kepala kamu! Kalo sudah berhasil bikin tulisan yang oke banget dan bikin orang lain sadar akan makna tulisan kamu itu, maka nantinya orang-orang yang tadinya enggak dukung kamu nulis pasti akhirnya ngedukung juga.

Jangan malas! jangan kalah sama mood! bikin deadline yang harus dipatuhi, harus disiplin. Kalo mulai malas buat nulis, ingat deadline dan paksakan diri menulis, nanti mood kamu bakalan asyik buat diajak nulis dengan sendirinya.

Nah, itu beberapa cara menulis novel yang bisa dicoba.
Niat, Nulis, Paksakan!

Untuk hasil yang manis, harus selalu ada perjuangan untuk dapetinnya kan?

Jangan lupa buat tonton trailer novel terbaruku di Youtube yah..


Harganya cuma 29k, bawa uang 30k ke Indomaret sudah dapet novelnya lho! dapat kembalian pula!

Rekomendasi Tempat Kerja yang Cocok Buat Kamu yang Kreatif Tapi Bosenan

Rekomendasi Tempat Kerja yang Cocok Buat Kamu yang Kreatif Tapi Bosenan  - Kamu freshgraduate? Atau baru keluar dari perusahaan karena ribu...